[BTS FF Freelance] Secret of you – (Chapter 2)

bisa

Title : SECRET of You (chapter 2)

Author : White Butterfly

Cast : Kim Taehyung (BTS), Ryu Sujeong (Lovelyz), Park Jimin (BTS), Kim Jiyeon (KEI Lovelyz),

~Kim Nam Joon (BTS), Min Yoongi (BTS), Kim Seok Jin (BTS)~

~Taehyung eomma (Kim Sung Ryung), OC Park Daebak~

~OCs (Shin Nara/ Song Takgu><Nam Jaehyung, Kang Sae Woo><Joo Chae il)~

LENGTH : Short story (chapter 2), FICLET 4000-/+

GENRE : AU, AT, FAMILY, School life, drama?.

RATING : PG17/G

Desclaimer : Cerita ini saya buat hanya untuk kesenangan belaka, nama-nama artis di atas adalah milik Agensi mereka. Terima kasih untuk yang sudah rela meminjamkan nama, buat OCs yang namanya di bold, jangan shock yaaa… xixixi (coution : the TYPOS spread everywhere )

{KOMEN YAAAA……… maaf karna kemunculan chapter pertama berjarak sangat jauh dari chapter ke dua… karna author tidak dapat berita apapun dari email. Jadi author kehilangan versi asli “secret of you” yang sudah author buat. Sekali lagi, author minta maaf dan terima kasih. Author harap FF ini bisa d terima dengan baik, walau rada rancu }.

 

Saat dunia Taehyung terasa sempit karna tekanan dari eommanya dengan perjodohan itu, tanpa sadar kehadiran Jimin memberi beberapa petunjuk yang menjurus pada sebuah rahasia mengenai jati diri Taehyung.

 

Taehyung dan eommanya harus pindah rumah ke kota. Eomma nya Taehyung mengatakan bahwa Jimin adalah pemilik rumah mereka sekarang jadi mereka berdua harus pergi dari sana pemberian dari pamannya, eomma Taehyung menyangka bahwa Jimin hanya datang dengan seorang paman yang bernama Park Daebak, bukan dia adalah appanya Jimin.

Flashback SECRET of You (Chapter 1)

“ah iya benar, aku lupa tidak memberitahu sujeong.” Segera ia mencari handphone nya diseluruh saku yang ada di bajunya, namun tak ketemu.

“kau jangan memberitahu dia. Aku sudah memutuskan kau akan menikah dengan gadis yang bisa menolong kita.” Hape taehyung sudah berada di genggaman eomma nya.

~~~~~

Bagai tersambar petir di hari yang cerah. Taehyung harus menerima kenyataan pahit bahwa ia harus pergi jauh dari sisi Sujeong selamanya.

“Eomma, apa Taehyung juga harus pindah sekolah??” Tanya Tae pada eomma nya yang sedang menyetrika seragam anak semata wayangnya untuk di pakai sekolah di hari pertama setelah liburan musim panas.

“tidak Taetae ku sayang. Kau harus terus bersekolah disana sampai lulus nanti, tapi kau harus berangkat lebih pagi kesana, tak apa kan??” jawab Eomma dengan lembut.

“O… tak apa…” jawabnya singkat dengan mengelus dada dan meringis lebar sangat lega, petirnya juga hilang seketika.

“oh, iya… nanti, kau akan punya teman kelas baru sepertinya. Coba dekati dia.” Pinta eomma tiba-tiba.

“apa-apa an eomma ku ini. Apa eomma peramal?? Ah, iya… apa eomma ingin aku menjadi Playboy?? Eomma bukannya ingin aku menikah dengan gadis pilihan eomma. Dan sekarang aku di suruh mendekati teman baru di sekolah. Ckckck… bagaimana??” Tanya Taehyung sambil mengangkat alis sebelah,

“iya, itu yang eomma maksud. Dia yang akan menikah dengan mu. Dia akan pindah ke sekolah mu, meskipun dia pintar, cantik, manis dan sempurna, Ia gadis penurut, tidak sepertimu yang sering membangkang pada ibu, di suruh pulang malah terus main sama siapa itu su- su- siapa itulah. Berbaik hatilah padanya.” Jelas eomma panjang lebar, Tae hanya mematung di ambang pintu memperhatikannya dengan seksama. Taehyung melihat sebuah amplop tanpa nama berwarna coklat dibawah kakinya, ia memungut surat misterius itu dan memasukkannya dalam tas secara diam-diam. Karna surat itu berada di teras bukannya di kotak surat depan rumah jadi mungkin saja surat itu berasal dari penipu, ia berencana akan membuangnya agar eommanya tidak ambil pusing dengan surat itu.

“iya tahu, Taehyung emang g punya ayah dan g sesempurna dia. Tapi seenggaknya eomma puaskan liburan kemarin Taehyung udah nurutin perkataan Eomma, kan??” omongan Taehyung  tidak digubris Eomma nya. Taehyung membatin, ‘kenapa ibu membenci sujeong yang bahkan ibu tak pernah melihatnya sekali pun.’

“baiklah, aku berangkat.” Ucapnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Eomma tidak menyahut dan hanya memandang anaknya pergi menjauh.

“TAEHYUUUNG…” teriak Eomma dari dalam rumah. Menghentikan langkah kaki Taehyung, ia pun senyum-senyum sendiri,

“Wae?? Apa eomma masih belum siap aku tinggal sekolah?? Apa eomma masih merindukanku??” Tanya Taehyung dengan pedenya.

“nak, tidak peduli betapa rindunya eomma dan betapa tampannya dirimu, tapi eomma tidak akan tega kalau anaknya di hina dijalanan karna kau tak memakai baju. Pakailah bajumu ini nak. Lihatlah tubuhmu itu” Ucap eomma, Taehyung segera berlari dan menyambar seragam atasannya. Lalu ia pun pamit sekali lagi pada eomma tapi kali ini eomma mendaratkan kecupan hangat di kening Taehyung,

“jangan bikin masalah di sekolah, sekolah yang bener. Okey??” pinta eomma, Taehyung hanya memberi senyum dan aegyo terbaik untuk sang eomma. Dia pun segera berangkat sambil berlari mengejar bis dan melambaikan tangan pada eommanya dari jauh.

 

***Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan musim panas. Selama liburan itu Taehyung merasa sangat kesepian, Taehyung eomma melarangnya untuk pergi kemana pun, handphone nya juga disita karna nilai ujiannya kemarin berwarna merah semua padahal tidak biasanya ia seperti itu, eomma menyalahkan nilai jeleknya itu karna Tae terlalu banyak bermain dengan Sujeong sahabat karib Tae selama ini. Dan parahnya lagi ia harus selalu menemani eomma dan membenahi rumah baru mereka yang perlu di dekorasi ulang.

Tapi eomma nya sangat suka bercerita tentang drama terbaru yang amat ia tunggu yaitu Hwarang the Beginning. Benar-benar, menyedihkan, MENYEBALKAN –liburan tapi tidak kemanapun dan malah menjadi pembantu tak di bayar . Entah apa yang membuat eomma Tae kini overprotective pada nya. Tapi, Tae sangat senang sekali karna hari ini ia bisa kembali bersekolah, dan yang terpenting ia bisa bertemu sujeong tiap harinya. Tae pun jadi senyum-senyum sendiri di dalam bis menuju sekolah,

“pak pak berhenti…” ucap tae terburu-buru sambil bangkit dan menekan bel di dalam bis. Sekolahnya hampir saja terlewati karna ia sibuk melamun hal-hal yang ingin di lakukannya bersama Sujeong.

“Huft… untung saja” gumamnya sambil mengelus dada.

Di depan sekolah ia berjalan ringan namun pasti menuju ke kelas, saat sampai di dalam kelasnya ia menyapa banyak teman-teman kelas yang amat ia rindukan. Seperti biasanya dia pun duduk di bangku paling pojok dekat jendela, cahaya matahari pagi bersinar dengan cerahnya, menerpa wajah tampan nan cute nya . Taehyung nampak mulai bosan kerna sosok yang di tunggu-tunggu tidak muncul juga.

Dia teringat dengan surat misterius yang ia temukan tadi pagi, ia membuka surat itu dengan penuh penasaran. Amplopnya berwarna coklat serta tanpa nama, didalamnya terdapat secarik kertas yang terlipat, ia mulai membuka dan membaca surat itu.

“seharusnya foto ini bisa menjadi milik nya (anakmu), karna ayahnya merindukan keluarganya.”

Dan ternyata surat itu bukanlah sebuah surat biasa melainkan sebuah foto seseorang yang bagian wajahnya telah di rusak entah dengan benda tajam seperti bolpoin.

“surat sepertinya untuk eomma, tapi orang iseng mana yang mengirim hal yang tidak masuk akal seperti ini?? Bukannya appa sudah meninggal. Lagian foto ini g jelas, mana bisa aku mempercai pengirim surat ini.” Gumamnya lalu meremas dan memasukkan benda itu dalam saku celananya.

“ah.. menyebalkan, membosankan, aku tidur saja. Aku tidak perduli.” ia menaruh kepalanya keatas meja menghadap jendela, matanya mulai terpejam.

—-“KIM TAEHYUNG. BANGUN!!! Memalukan, masih pagi tapi kau sudah mengantuk?? Apa yang kau lakukan selama liburan?? Hanya tidur??” omel Mr. Kim beliau datang bersama siswa baru berambut cepak berwarna coklat, badannya lumayan pendek sih untuk ukuran cowok, tapi sepertinya Taehyung pernah kenal itu anak, dimana yah??. Guru sangar yang berusan mengomeli Taehyung itu bernama panjang Kim Namjoon, beliau adalah guru bahasa Inggris tercerewet di sekolah ku, aku bahkan sering kesulitan memahami bahasa inggris nya yang bisa di bilang Black. Dan bagiku suara beratnya terdengar sangat berat dan jauh -menjauh dan akhirnya aku sering tertidur di kelas.

Aku pun mengangangkat kepalaku enteng dan menoleh kesampingku,

“eh, udah dateng?? Kamu telat??” sapa Taehyung pada Sujeong.

“hm… enggak, aku dateng pagi-pagi kok,” jawab Sujeong dan berkonsentrasi pada pertanyaan-pertanyaan Taehyung.

“bo-ong, aku dateng pagi juga kok, tapi kamu g ada.”

“aku g bo-ong, aku tadi dateng pagi-pagi tapi, tiba-tiba ini nih Jiyeon Unni ngajak aku ngintai cowok pindahan kata nya sih dia cowok impiannya dia” jelas Sujeong.

Taehyung menoleh kearah gadis yang di tunjuk Sujeong -Jiyeon, gadis itu menoleh dan melambaikan tangan pada Tae dengan manis.

“dia anak baru??” Taehyung nunjuk Jiyeon dengan mata melotot saking shoknya.

Pletak, suara kepala Taehyung yang di pukul bolpoin sama Sujeong,

“ah sakit!!” pekik Taehyung.

“lagian sih, dia itu temen kelas kita oppa, sebulan sebelum kita liburan musim panas emang dia g sekolah karna dia sakit. Masa gitu aja udah lupa kalo dia sekelas sama kita.” Gerutu Sujeong.

“oh aku kira dia murid baru. Jadi murid barunya cowok?? Mati gue.” Ucap Taehyung sambil melihat keberadaan satu-satunya siswa berseragam, berambut coklat yang berdiri di depan kelas hendak memperkenalkan diri.

“emang mati loe…” suara berat Mr. Kim menyahut dari belakang mereka berdua dan menjewer telinga keduanya menuju ke lapangan, tak hanya cerewet Mr. Kim juga terkenal tegas.

“kalian berdiri disini sampai satu jam, paham!!” sentak Mr. Kim

“paham pak!” jawab keduanya keras dan kompak agar Mr. Kim segera meninggalkan mereka. Mr. kim meninggalkan lapangan.

~~~Mr. Kim masuk kelas mereka yang mulai ramai seperti hutan karna ditinggal oleh beliau, padahal mereka kedatangan teman baru yang katanya sih unyu-unyu.

“baiklah anak-anak, kita perkenalkan teman kita yang baru saja pindah dari sekolah ‘S’.” ucap Mr. Kim menyita perhatian teman-teman di kelas.

“wah sekolah mahal tuh, pasti dia kaya raya. ——lihat aja penampilan nya, kinclong banget kayak piring yang baru di cuci pake S**l***t.”

“kenapa dia mirip boyband… duh mau deh jadi pacarnya.” Ucap salah seorang siswi.

“seneng deh punya temen kelas baru yang kece kayak begini.” murid-murid nyeletuk hal-hal aneh tentang penampilan Jimin yang bisa dibilang mirip Idol.

“be quiet, please!! Biarkan teman baru kalian memperkenalkan diri nya. Ayo Jimin, introduce yourself please! ” Mr. Kim mempersilahkan.

“Thank you Mr. Kim…. Annyeong, namaku Park Jimin, aku pindah kesini karna keluargaku. Aku dari sekolah ‘S’ . semoga kalian bisa berteman baik dengan ku terima kasih.”

Jiyeon yang sedari tadi memandang Jimin pun di tunjuk oleh Mr. Kim.

“hey, Jiyeon-ie. Are you Okey??? What are you smilling at??” omel Mr. Kim pada muridnya yang sedang tidak konsentrasi.

“ah, Mr. Kim, saya akan duduk di sebelah Jiyeon saja,” selat Jimin

“oh begitu?? Baiklah, sana duduk. I’m bout to start the lesson. Please don’t make mess around, Okay. Go…” Usir Mr. Kim. Dibalas dengan anggukan mantap Jimin.

Sesampainya di bangku belakang sebelah bangku Taehyung, Jimin menyapa Jiyeon.

“hei, boleh aku duduk??” Tanya Jimin sopan.

“hei, duduklah sebelum Mr. Kim menanyai mu menggunakan bahasa Inggrisnya.” Jawab Jiyeon mengiyakan.

“ide bagus” jimin pun duduk di samping Jiyeon dengan tenang.

“kamu tadi di pintu ngapain??” bisik Jimin pada Jiyeon yang senyum-senyum sendiri. Jiyeon mengernyitkan dahi dan menoleh pada Jimin yang sudah memandangi Jiyeon sedari tadi tanpa Jiyeon sadari. Wajah Jiyeon memerah, sepertinya dia malu karna ketahuan Jimin, dia tadi ngintip ke ruang guru ngajak Sujeong, tapi kenapa cuma Jiyeon yang kelihatan. Jiyeon benar-benar malu dan tak bisa berkata apapun selain menundukkan kepala.

Di lapangan, setelah Mr. Kim meninggalkan mereka. Obrolan pun berlanjut dan mereka mencari tempat berteduh dan duduk disana menikmati angin segar.

“yaa… hari itu, apa yang kau inginkan dari ku??” Tanya Tae memulai pembicaraan.

“oh, waktu itu. Bukan apa-apa… Oppa, kenapa Oppa kayaknya terkejut gitu kalo anak barunya itu cowok??” Tanya Sujeong mengalihkan pembicaraan.

“hehehe,,, jujur. Hari ini adalah hari pertama kita sekolah kan??”

“iya Oppa, aku tahu. Kayak ada sesuatu deh. Oppa bilang aja, g usah di empet, nanti ampasnya keluar.”

“apa-apa an ih… jorok banget…”

“hahahah,.,., mian Oppa, aku bercanda, ayo cepet bilang makanya…”

“Sujeong ah. Eomma ku akan segera menikahkan aku dengan gadis kaya raya. Karna keluarga kami terlilit hutang.” Ucap taehyung perlahan tak tega mengatakan yang sejujurnya pada Sujeong. Kejujuran itu benar-benar membuat sujeong bersedih, wajah bulat nya kini memerah karna menahan air matanya yang hampir jatuh. Taehyung hanya memperhatikan ekspresi Sujeong dengan tenang.

“gadis itu berencana pindah ke sekolah ini hari ini. Tapi aku ga nyangka, kalo dia bukan gadis, tapi malah cowok… sedih aku” Taehyung melucu.

“g lucu oppa!!” ucap Sujeong sambil memukul ringan lengan Taehyung, Sujeong pun menyingkuri badan Taehyung untuk menghapus air matanya.

“lihat aku.” Taehyung memegang bahu sujeong dan menatap kedua matanya.

“Maaf, hari itu Oppa g bisa nepatin janji Oppa ke Sujeong. Oppa inget banget kalo hari itu sebenernya hari peringatan pertemanan ke enam kita, Oppa ingin mengatakan sesuatu hari itu tapi karna telfon dari eomma yang nangis saat itu, Oppa langsung mengurungkan niat Oppa dan masih nunggu waktu yang tepat buat ngungkapinnya.” Jelas Taehyung.

“Liburan kemarin Oppa pindah rumah ke kota, tadi pagi aja nge—bis kesini, dan Oppa dapat hukuman g boleh main hape, g boleh keluar rumah itu semua Oppa lakoni karna Oppa merasa banyak bersalah ke eomma. Juga karna eomma adalah satu-satunya wanita dan keluarga yang Oppa miliki saat ini, dan Oppa g mau menyakitinya. Jujur Taehyung kehilangan Sujeong saat liburan kemarin . Maafin Tae ya?? Di maafin kan??” ucapnya.

“ Iya Oppa aku maafin kok. trus perjodohan mu gimana??”

“oh iya lupa. Aku takut sebenernya sama perjodohan itu. Aku dipaksa, perjodohan itu karna janji kakek pada temennya. Mereka kan udah meninggal seharusnya harus dibatalkan perjanjian itu. AAHH.. kenapa bisa jadi gini!!” Teriak Taehyung marah.

“Sabar ya Tae,” ucap Sujeong berusaha menenangkan. Tangan sujeong menepuk-nepuk pundak Taehyung, dan tiba-tiba kepala Taehyung bersandar ke pundak Sujeong. Saat itulah mereka menyadari perasaan masing-masing.

Terdengar derap langkah kaki sangat keras dari arah belakang mereka. Taehyung dan Sujeong takut ketahuan lalu berlarian kembali menuju tengah lapangan, mereka kira yang datang adalah guru atau semacamnya ternyata bukan, malah tak ada siapapun. #heoh nafas mereka terengah-engah dan hendak kembali menuju tempat sebelumnya.

“HOY…. Ngapain kalian kesana. Cepat BALIK KE KELAAASS.” Terdengar suara lantang Min ssaem meneriaki mereka dari arah sekolah menggunakan toa kecil di tangan. Beliau adalah guru olah raga kami yang unik, uniknya adalah beliau sangat jago dan cepat dalam pertandingan basket namun diluar itu beliau adalah orang yang sangat dan benar-benar pemalas, kalo tidak ngajar, maka beliau akan tidur ataupun berselonjor kaki di manapun ada tempat datar, di kursi, di sofa, di matras, di lantai dan dimanapun, meskipun begitu beliau orangnya sangat suportif, ramah dan suka membantu wanita yang cantik-cantik  orang lain maksudnya .

Min ssaem segera mendekati kami yang berlari kecil menuju gedung sekolah.

“Taehyung-ah,” Panggil Min ssaem,

Sujeong pamit meninggalkan aku dengan melambaikan tangan, aku mengiyakan.

“nae, ssaem… ada apa??” tanyaku tenang.

“Sekarang. Kau harus memperbagus gerakanmu di pertandingan Bola Basket selanjutnya. kau tahu, hadiahnya adalah beasiswa dan uang tunai yang sangat banyak untuk setiap pemain. Bener deh swag *eh swear” ucap Min ssaem sambil menunjukkan dua jarinya tanda sumpah.

“benarkah ssaem?? Anda tidak bercanda??” Tanya Taehyung tidak percaya, bagaimana bisa ssaem yang biasanya jarang bicara ini menawari ku tawaran luar biasa ini,

“kau tak percaya padaku?? Lihatlah sendiri brosurnya, nih.” Ucapnya sambil memberikan secarik kertas berisikan info yang tadi ssaem katakan,

“Kalau kau benar-benar menginginkannya, pergilah ke sekolah setiap sore aku akan berada disana melatih pemain yang lain. Aku tahu kau butuh uang untuk menyelamatkan harga diri dan keluargamu, aku juga pernah memiliki keadaan seperti mu –ya Imma. Bedanya, tak ada perjodohan untukku saat itu. Aneh, lagipula Ini bukan lagi jamannya Joseon tapi kenapa masih ada perjodohan??” kritik ssaem, Min ssaem seperti bisa membaca pikiranku, beliaupun bergumam seperti itu lalu meninggalkan aku mematung disana sendirian,

“YYAAAAk, MASUK KELAS SANAA!!!” teriak ssaem menggunakan toa yang tadi, mengagetkan ku dan membuatku lari menuju ke kelas.

Di kelas, sudah tidak ada Mr. Kim karna jam pelajarannya sudah habis. Taehyung hanya berjalan dengan malas di koridor menuju kelas nya, terdengar sayu-sayu suara rebut teman kelasnya yang hampir menjadi hutan rimba, sangat bising tapi taehyung suka itu, dia pun jadi sangat bersemangat untuk bergabung, saat Taehyung membuka pintu kelasnya dan hampir ikut nimbrung gerombolan ramai teman-temannya, kedua kakinya terhenti karna melihat teman-temannya sangat senang bermain dengan teman baru, yang bahkan Taehyung tidak tahu dan tidak peduli siapa namanya. Sujeong yang menyadari keberadaanTaehyung di ambang pintupun melambaikan tangan pada nya dan menyuruhnya untuk ikut masuk. Taehyung menggelengkan kepala menolak ajakan Sujeong, sujeong merengut karna penolakan itu dan alhasil taehyung tertawa kecil melihat tingkah imut Sujeong.

“Ayo duduk, Kim ssaem sudah hampir masuk kelas ini,” sujeong menghampiri dan menggandeng tangan Taehyung menuju bangku mereka. Teman kelas merekapun menyoraki kejadian singkat itu, karna tidak biasanya mereka menunjukkan kedekatan dengan bergandengan tangan walaupun mereka memang dekat.

“apa kalian berpacaran sekarang??” Tanya salah satu teman kelas mereka.

Keduanya saling bertatapan dan mata mereka beradu seperti mengisyaratkan dan berdebat sesuatu, pemandangan yang bikin geli.

“apa-apaan ih kalian bikin baper aja.” Celetuk siswi yang lain tidak tahan melihat keduanya.

Kei dan Jimin yang duduk di bangku samping mereka hanya memperhatikan, Jimin mengernyitkan dahi seperti terbebani sesuatu, sedang Kei nampak tersipu dan sedikit cemburu atas keromantisan yang di buat Taehyung dan Sujeong.

“Ekhem, semua nya… hari ini adalah hari special buat kita karna kita jadian hari ini…” ucap taehyung mantap. Seketika kelas jadi ramai lagi karna pengakuan Taehyung barusan, banyak yang memberi selamat pada kedua sejoli yang baru jadian itu ada juga yang terpaku di kursi masing-masing termasuk Jimin, Kei mah udah pergi aja meluk si Sujeong dan ngasih selamat karna Kei adalah sahabat karib Sujeong, jadi Kei itu yang selalu jadi tempat curhat Sujeong tentang Taehyung, fashion, pelajaran dan lain-lain.

Ceklek, suara daun pintu terbuka memunculkan sosok laki-laki berbadan bidang masuk kedalam kelas dan di ikuti oleh gadis muda, cantik, berkulit putih berambut hitam dan bermata coklat. Seketika kelas menjadi senyap dan tertata rapi.

Beliau adalah Kim Seok Jin ssaem beliau adalah kepala sekolah, dan mengajar sastra di kelas Taehyung. beliau selalu datang tepat waktu tapi kali ini beliau datang sangat terlambat, kelas akan berakhir lima belas menit lagi. Taehyung juga kesulitan dalam belajar sastra, guru-guru disini tidak seru semuanya tegas dan disiplin batin Taehyung, seperti bisa membaca batin Taehyung lewat guratan wajahnya yang kini tengah cemberut Kim ssaem bertanya pada Taehyung.

“Ssaem tahu, kau sedang malas melihat Kim ssaem karna kemarin nilai mu jelek, iya kan Taehyung,???”

Anggukan kepala mantap dari Taehyung otomatis menyadarkan si empunya kepala yang sebenarnya sedang melamun tadi. “A… Annyo ssaem…… maaf saya sedang kurang enak badan. Tapi saya bisa mengatasinya sendiri ssaem…” Taehyung beralasan tiba-tiba membuat teman kelasnya bereaksi, “Ah, benarkah??”

“baiklah, hari ini tak ada pelajaran ssaem hanya akan memperkenalkan teman baru kalian yang sangat luar biasa ini. Dia pintar dan baik, tadi ssaem sudah mengobrol banyak dengan dia dan eomma nya, dia berencana melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ssaem harap kalian bisa saling membantu ya…… terutama kau Taehyung karna kemarin nilai mu jelek… kau harus sering-sering belajar dengannya, tidak masalah kan Shin haksaeng??” Ucap Kim ssaem membuat teman sekelas gaduh, murid baru itu hanya mengiyakan lewat anggukan kepala.

“sudah-sudah, diperhatikan ke depan, silahkan perkenalkan diri mu haksaeng.” Kim ssaem mempersilahkan,

“terima kasih Kim ssaem, Annyeong chingudeul, nama ku Shin Nara. Aku pindah kesini karna orang tuaku yang meminta, sebelumnya aku hanya homeschooling, jadi aku tak pernah keluar rumah, aku juga tidak bisa olah raga apapun.” Ucap Nara.

“aku bisa, biar aku ajari,” celetuk seorang siswa dengan pedenya.

“tidak, biar Taehyung saja.” Sambung Kim ssaem tiba-tiba membuat kelas berasa krik-krik.

“baiklah carilah tempat duduk, depan Ryu Sujeong itu kosong, pergilah kesana. Baiklah selamat siang, semoga hari kalian bahagia. Kelas dibubarkan.” Pamit Kim ssaem.

Kelaspun langsung ricuh tepat setelah Kim ssaem menutup pintu dari luar. Kami sangat senang karna baru kali ini beliau membubarkan kelas dengan cepat, mungkin beliau sibuk begitulah.

“Sujeong ah, Kaja.” Ajak Taehyung sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya dan sampah-sampah dari sanapun ikut terjatuh berserakan banyak sekali mulai dari bungkus permen dari merek L, A sampai Z, serta beberapa kertas yang di remas tangan ada yang berwarna putih dan coklat.

“oppa banyak sekali sampah nya.” Sujeong terheran dan ia memungut sebuah sampah yang menurutnya aneh.

“ini sampah apa??” Tanya sujeong ingin tahu.

“ah itu, entahlah ada orang iseng yang menaruh itu tadi pagi di rumahku. Buang saja, tidak penting.” Ucap taehyung remeh.

“kenapa oppa tidak percaya mungkin saja ini dari seseorang yang kenal dengan keluargamu.” Ucap Sujeong.

“hah, sudahlah… buang saja, aku tak akan mencari tahu siapa orang yang mengirim itu. Biar teman-teman kelas yang membuang itu.” Ucap Taehyung saat melihat beberapa temannya melakukan tugas piket di kelasnya. Seluruh murid di kelas sudah banyak yang meninggalkan kelas, yang bertahan hanya Jiyeon-Jimin yang masih dalam posisi duduk tegap mematung sejak pertanyaan Jimin tadi yang membuat Jiyeon malu tak karuan, Taehyung-Sujeong yang mengobrol di belakang kursi hendak keluar kelas, Nara yang sudah melewati pintu keluar, dan tiga orang teman kelas yang piket.

Taehyung POV

Hari sudah semakin sore dan teduh. Aku berjalan sejajar dengan Sujeong menuju taman sekolah kami karna ajakannya, dia ingin membicarakan sesuatu katanya. Taman sekolah kami memang dekat dengan lapangan basket, kami duduk di bangku yang dekat pohon rindang agar kita tidak kepanasan.

“Taehyung Oppa… aku tahu kalo Nara itu calon mu kan??” Tanya Sujeong dengan mimik muka serius.

“benarkah?? Bagaimana kau tau???” jawab Taehyung dengan pura-pura shock.

“tadi kan oppa udah bilang ke aku, di lapangan…”

“Iya, itu dia. Tapi kenapa dia lumayan yah??”

“hah?? Oppa jahat. Udah aku pulang dulu.” Sujeong merajuk.

“hey, Sujeong-ah,,,, jangan ngambek nanti makin bullet mukanya :D” Ucap Taehyung sembarangan. Merasakan aku tidak mengikuti langkahnya dia pun balik dan menghampiriku.

“kenapa?? Kangen??” godaku

“Oppa ada janjian??” tanyanya

“iya, sama………” jawab Taehyung menggantung

“Shin Nara??” tebaknya.

“bukan, sama Min ssaem. Sepertinya kau harus pulang sendiri hari ini, rumahmu dekat kan? Tak perlu ku antar kan?? Sudah bisa sendiri kan?? Oh iya bersiap-siaplah jadi team cheerleader untuk menyemangati ku. Aku akan mengikuti pertandingan ini,” ucapku sambil menunjukkan selebaran yang Min ssaem berikan tadi.

“Oppa sudah izin ke eomma nya Oppa??” dia mengingatkanku untuk meminta izin pada eomma-ku, sungguh gadis yang baik.

“oh iya lupa, sebentar. Ku telpon eomma” aku segera menelponnya.

“hal………ooo, pulsa ku habis” ucapku sambil tersenyum manis pada Sujeong.

“bisa ku pinjam Handphone mu??” pintaku

“ah,, boleh. Tapi kalo nanti sudah nyambung ke telpon eomma mu langsung sapa suaranya ya… biar tahu kalo yang telpon itu anaknya tercinta.” Ucapnya sambil tersenyum lebar dan menyerahkan handphone nya padaku, aku hanya mengangguk tapi dalam hatiku bertanya-tanya ‘emangnya ada apa sih’.

Tuuut—tuuut—tuuut…… bunyi telpon sedang menyambungkan.

“halo, ada apa gadis tak tau malu, sore-sore begini mau mencari masalah dengan ku??” ucap suara di sebrang sana terdengar seperti monster yang memperingati mangsannya, suara itu adalah suara ibuku. Sungguh menakutkan.

Aku menyimpulkan senyum di ujung bibirku menahan perihnya hatiku mendengar perkataan yang begitu tak ingin ku dengar. Aku bisa membayangkan betapa sakitnya perasaan Sujeong tiap kali ia harus kena marah oleh ibuku. Sungguh aku merasa bersalah pada Sujeong.

“eomma ini aku Taehyung.”

“taehyung?? kenapa?? Aku tidak akan mengizinkanmu untuk bermain dengan gadis pemilik handphone ini mengerti??!!.” Ucap eomma tegas.

“eoh, arasseo… aku minta izin untuk ikut latihan basket sampe malam di sekolah, yang melatih Min ssaem… baiklah. Sampai ketemu nanti di rumah.” Ucapku langsung memutus sambungan telpon.

“nih, makasih. Nanti aku traktir sesuatu buat pulsa nya… kau pulanglah… nanti orang tua mu mencari mu.” Ucapku sedikit mengusir dan mengembalikan handphone.

“oppa apa kita akan baik-baik saja memiliki hubungan seperti ini??” Tanya Sujeong, sepertinya pertanyaan ini sudah ia pendam sejak tadi, aku hanya memberikan senyum terbaikku dan berkata

“kita lihat saja nanti, Oppa cuma mau kita bersama selamanya.”

Author POV

Plakk, sebuah pukulan kertas gulung mendarat tepat di kepala belakang Taehyung, membuat orang yang kena pukul menoleh mencari pelaku penindasan. Taehyung clingukan kesana-sini, ia memalingkan pandangannya dari sujeong sejenak berusaha menemukan orang yang memukulnya tapi tak ketemu. Saat ia menoleh ke tempat sujeong tadi tiba-tiba Sujeong berubah

“MIN SSAEM…. Kaget aku.” Ucapku spontan.

“eh, elu tu belum jadi apa-apa aja udah cinta-cinta an kesana kemari. Mau jadi playboy lu hah?? Sujeong lah Nara lah…. Ayo ikut ssaem..” omel ssaem.

“lah ssaem, sujeong kemana??”

“udah gua suruh pulang. Kenapa setiap ngadepin elu gue g bisa bersikap manis?? Jadi gue elu- gue elu gini??” Tanya Min ssaem kebingungan, Taehyung hanya bisa ngangkat bahu. Sesampainya di lapangan basket,

“ssaem, saya g terlambat kan??” Ucap seorang siswa baru bernama Jimin

“oh… jimin-ie… sini.” Ajak Min ssaem dengan manis.

“ssaem, g usah bersikap sok ke-manis-an entar diabetes.” Celetuk Taehyung menyindir ssaemnya

“eh ngomong apa an lu??” Tanya Min ssaem sok budeg Taehyung hanya tersenyum sangat lebar dan geleng-geleng kepala, biar masalah g makin ribet.

“Udah… kumpul semua?? Baiklah, ssaem akan mulai membagi lawan latihan kalian, Song Takgu><Nam Jaehyung, Kang Sae Woo><Joo Chae il, Kim Taehyung><Park Jimin.” Jelas Min ssaem sambil menunjuk-nunjuk anak buah nya  anak didiknya maksudnya.

Tak ada yang berani melawan titah Min ssaem saat ini karna niat mereka udah bulat yaitu pingin dapat hadiah-hadiah menarik itu.

“main yang bener” ucap Min ssaem kalem.

Lima menit latihan dimulai setelah sesi pemanasan, Min ssaem memperhatikan dengan sangat jeli beberapa kali beliau mengernyitkan gigi melihat permainan mereka yang tak sesuai dengan yang Min ssaem harapkan. PRRRIIIIIIITT. Suara peluit nyaring Min ssaem berbunyi tanda permainan di hentikan.

“WOY TAEHYUNG-JIMIN SINI!!!! SEMUANYA KUMPUUUL!!!.” Teriak Min ssaem menggunakan Toa kecil yang setia menemaninya. Semua nya serentak mendekat ke sumber suara. Mereka di persilahkan duduk di lantai sedangkan ssaem duduk di kursi.

“kenapa?? Kalian punya masalah pribadi?? Atau kalian g niat ikut kompetisi ini?? Jawab!!” Tanya Min ssaem tegas.

“Niat Ssaem!!” jawab ke enam anak.

“tapi kenapa kalian tadi main banyak kekurangannya? kayak orang tawuran, dorong sana-dorong sini, jatuhin sana-jatuhin sini. Emangnya ini pertandingan ibu-ibu yang bisanya main curang?? Okey, karna ini baru sesi latihan pertama. Dinginkan dulu badan kalian. setelah itu kita ada sesi ‘PERKENALAN’ cukup nama, tanggal lahir, alamat, hobi, dan cita-cita. Ada waktu dua menit sebelum sesi perkenalan di mulai..” ucap Min ssaem sambil menyetel alarm di handphonenya kemudian beliau menyilangkan kaki, menyandarkan kepala, melipat tangan, dan terakhir menutup mata.

Tim baru Min ssaem, akankah mereka berhasil?? Sesi pertama latihan saja sudah banyak yang terluka dan berdarah, mereka bagai terbagi menjadi dua kubu. Kubu plus adalah kubu Taehyung, Chae Il, dan Takgu(rata-rata jadi pemain cadangan dan factor keberuntungan), dan kubu plus-plus di isi oleh Jimin, Jaehyung, Sae Woo (rata-rata kubu ini adalah pemain penyerang dan penembak terhandal di klubnya dulu, badan mereka juga lumayan W.O.W)

Dua menit telah berlalu, Min ssaem bangundan memulai sesi perkenalan, semua anggota di kumpulkan di tengah lapangan dan saling berhadapan, mereka disuruh membawa bola basket peranak di tangan.

Kelima anggota basket sudah berkenalan, kini anggota terakhir yaitu Jimin harus memperkenalkan dirinya.

“ayo, yang terakhir kau Jimin. Jangan terlalu lama karna sudah terlalu larut bagi kalian yang harus pulang pakai bis” Suruh Min ssaem.

“Park Jimin, 13 october 1995,” jimin memulai perkenalan

“Tanggal kematian ayahku.” Ucap Taehyung dengan watados (wajah tanpa dosa[kalo ada yang Tanya])

“jalan sakura nomor 12,” lanjut Jimin.

“Oh jadi kau menempati rumah Taehyung??” Tanya Chae il menyelat. Dijawab dengan anggukan pelan Jimin.

“hobi menari, cita-cita ku pekerja kantoran.” Ucap Jimin.

“Seberapa bagus tarian mu??” Tanya Takgu penasaran.

“Menarilah karna kau dari sekolah S yang terkenal dengan seni tarinya, Jaehyun akan mengiringimu dengan beatbox kami akan menontonmu.” Ucap Sae Woo dan di setujui oleh yang lain dan Jimin setuju. Jimin mulai membuat panggungnya sendiri di tengah lapangan itu.

Prok prok prok.. semua nya menyaksikan dan memberi tapuk tangan yang sangat meriah untuk penampilan dadakan Jimin, dan Jimin sangat bangga dan senang malam itu.

“Wah tarian mu sangat bagus. Tapi kenapa kau malah ingin jadi pekerja kantoran??” Tanya Min ssaem. Jimin hanya bisa garuk-garuk kepala tak bisa menjawab pertanyaan ssaem yang ringan itu.

“karna aku harap saat lulus nanti aku bisa hidup sendiri dengan bahagia dengan bekerja seperti itu.” Jawab Jimin ragu-ragu.

“Baiklah. Kita harus mengakhiri malam yang istimewa ini. Besok latihan lagi. ingat apa pesan-pesanku tadi. Kalian harus Kompak. Harus apa jawab yang keras??!!” Seru Min Ssaem.

“KOMPAK.” Jawab mereka serentak.

“JoohA… Kaja Go Home!!” ucap ssaem campur-campur. Semua bubar dan pulang ke rumah masing-masing.

Taehyung pulang menggunakan bis, Jimin masih ada di depan sekolah seperti sedang menunggu seseorang. Rumah Jimin sebenarnya sangat dekat dari sekolah, entah kenapa malam itu ia nampak gelisah dan seperti memikirkan sesuatu.

“Annyeong Jimin ah!!!!”

Siapa tuh yang nyapa jimin malem-malem??? Hiiiii… Mungkin mbak kunti. Okay,, ampe sini dulu yeaaahhh…. Annyyeeooounggg….

Next chapter.

>“YAA!! IREONAAAA!!! Sudah pagi. Ayo kita akan telat nanti. Jam pertama pelajaran Mr. Kim. Kau tau bagaimana marahnya dia kalau kau berulah lagi kan… ayo!! Bangun…” tiba-tiba didepan mataku sudah ada Jimin

>Jimin menapuk-napuk pipiku berkali-kali supaya aku tersadar.

>”a a aku ingin masuk” “ini bunga untukmu”

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s