[Boys Meet What?] Zero – Oneshot

1_1

ZERO

By Almareis

For challenge  : Boys Meet What?

Kim Taehyung (BTS), Rei (OC), Kim Seokjin (BTS)

Oneshot | Life, Brotherhood |G

I just have OC and the plot

~Hampir semua orang di dunia ini menganggapnya sama dengan kosong atau malah tidak ada, tidak perlu ada, tapi itu tidak benar.. karena dia ada.~

“Mengapa kau memanggilnya Z?”

Mata ini hanya mampu menatapi langit. Langit indah berhiasakan cahaya dan debu-bebu berkilau penuh warna yang jauh di atas sana. Kulihatnya terasa semakin dekat karena biasan air yang perih di mataku ini. Memang perih, sangat perih. Tapi aku pun tak ingin melewatkannya untuk yang terakhir kalinya. Tinta-tinta cat yang tumpah di langit itu.

~~~

Sesaat aku merasa bingung dengan semua yang terjadi saat ini. Dan mengapa pula dia membawaku ke dermaga yang gelap gulita begini? Aku pun tahu tak akan ada lagi orang yang berlalu-lalang di sini. Terlebih karena tak ada satu pun cahaya lampu yang kulihat sejauh mata memandang. Tapi gadis itu tetap bersikeras mengajakku kemari.

Bau air asin bahkan tercium begitu keras sekalipun kakiku berada sangat jauh di atas kolam air raksasa ini. Aku menurunkan tatapanku sedikit ke bawah dan melihat betapa tingginya tempatku berada dari permukaan air. Sangat tinggi. Membuatku sempat berpikir aku mungkin akan mati jika terjun bebas dari tempatku berpijak ini.

“Kau tidak berencana membunuhku, kan?”

“Apa yang kau bicarakan? Tentu saja tidak!” ia terkekeh menertawaiku di belakang. Aku hanya ikut tertawa menanaggapinya.

Mataku sama sekali tidak melihat padanya, tapi dapat kudengar langkah kaki yang semakin keras mendekatiku. Dan kini aku tahu dia berdiri tepat di sebelahku. Ia duduk dan menjulurkan kakinya dengan santai seakan tak peduli dengan ‘tempat apa ini’.

“Menara ini cukup tinggi.. dan sama sekali tak ada pagar pembatasnya. Kenapa kau membawaku ke sini?” aku melontarkan satu pertanyaan lagi padanya.

“Kenapa, ya?” jemari lembutnya mendadak menggapai tangan dan menarikku seakan meminta untuk ikut duduk di sebelahnya. Sementara matanya masih terfokus pada entah benda apa yang tengah ia lihat. Aku sedikit tidak mengerti, tetapi aku memilih untuk mencoba memahaminya, kemudian duduk.

“Kau tahu keadaan di Tokyo seakan kota itu tak pernah tidur?”

“Ha?” aku yang bahkan belum duduk dengan benar ini langsung mengalihkan pandangan padanya.

Mata coklatnya yang berkilau memantulkan cahaya itu menatap nanar ke bawah. “Kota besar seperti itu.. pasti tercemar polusi cahaya.”

“Polusi cahaya?”

“Terlalu banyak lampu yang hidup sehingga menghalangi pandanganmu ke angkasa.”

Aku merasa semakin bingung. “Angkas-s..” aku mengerti ketika menyebut kata itu, ia pun masih menatap ‘benda’ itu. Tanpa sengaja aku melirik pada apa yang dimaksudnya. mataku terbelalak dan kata-kataku terhenti sampai di sana.

“Indah sekali,” hanya itu yang bisa kuucapkan ketika melihat apa yang ada di depan mataku.

“Milky Way. Jalur Susu. Namanya Jalur Susu. Itu adalah tempat kita tinggal.”

“Kenapa diberi nama seperti itu?”

“Orang-orang dahulu melihatnya seperti aliran susu yang ditumpahkan di langit.”

Aku tersenyum kecil membayangkannya. “Aku lebih melihat ini seperti.. tumpahan tinta cat berwarna-warni.”

Kami tertawa gelak karena ucapanku yang entah di mana lucunya.

“Apa yang penuh warna itu?” aku melanjutkan pertanyaanku dengan menunjuk kumpulan entah asap atau debu di antara bintang-bintang yang baru aku sadari ternyata tidak hanya berwarna kuning.

“Debu-debu penuh warna itu adalah Nebula. Cikal bakalnya bintang. Tidak bisa dipercaya, bukan?”

“Bagaimana bisa?”

“Kuasa Tuhan.”

Aku masih merasa takjub dengan segala hal yang kutemui saat ini. Semua hal ini. Sekalipun selalu bernaung di atas kepala, aku tak pernah melihat bahkan menyadari keberadaannya. Dan itu pun membuatku kagum sekaligus curiga dengan gadis itu. Apa dia sengaja membawaku kemari untuk melihat ini?

“Hei Z.. Kenapa kau.. bisa tahu tentang semua itu? tentang bintang-bintang itu?”

Tidak seperti sebelumnya, kali ini ia menoleh padaku. “Di Tokyo aku mengambil mata kuliah tentang angkasa dan perbintangan. Tidak salah, bukan?”

“Pantas saja.. tapi kenapa?”

“Tidak semua orang mengetahui akan betapa menakjubkannya ini,” ucapnya kemudian menatap lagi ke bawah. Menatapi bayangan sendiri yang dibentuk air tenang di antara kakinya.

Sesaat kami terdiam saling menikmati keindahan ‘di atas dan di bawah’ yang memanjakan mata. Meski masih tak ingin berpaling dari ‘tinta-tinta’ ini, mataku masih iseng melirik Z dengan gaun putih dan rambut coklat pendeknya itu. Rambutnya yang masih dihiasi bunga putih itu mengganggu pikiranku.

“Kenapa kau masih menyematkan bunga itu dikepalamu? Kupikir sudah cukup cosplaymu sebagai Ouse Kurosawa saat acara itu.”

“Kau tahu, kan, V? dia adalah bos di video game Project Zero yang menjadi favoritku. Dan sesungguhnya aku juga sangat menyukai bunga ini.”

Pikiranku kini teringat kembali akan pertemuan pertamaku dengannya. Memang tidak biasa. Di sela-sela waktu liburan, aku dan yang lainnya menyempatkan diri untuk mengunjungi event cosplay di Tokyo. Di sanalah aku melihatnya. Sesosok gadis berkostum serba putih yang lebih mirip malaikat ketimbang hantu gentayangan yang diperankannya. Tidak sedikit pun berkata atau sekedar berkumpul dengan orang-orang di sana. Tapi satu hal yang menarik perhatian kami untuk mendekat adalah bunga-bunga putih itu. Mungkin tidak sama, tapi mengingatkan kami akan sesuatu.

Awalnya ada sedikit perasaan tidak biasa ketika melihatnya. Dia ada di sana dan sendirian. Namun, orang-orang di sekitarnya bertingkah seakan ia tidak ada dan tidak pula melihatnya. Apa yang salah darinya?

Dia hanyalah jurnalis yang kesepian. Sekalipun selalu berada di tengah keramaian, ia selalu merasa hampa. Tak ada seorang pun untuknya. Aku tahu dia ada. Dan Jin-hyung juga melihatnya. Sekarang ia ada di sini. Di tempat ini. Di kota yang kami pun tahu tidak berada di negara yang sama dengan asalnya. Dengan alasan pencarian, ia mengunjungi tempat ini. Dan entah apa hubungannya, tetapi ia juga menemuiku. Menemui kami.

“Kenapa kau tidak mengganti bunga itu dengan bunga yang lain? Ya.. tidak harus di kepalamu juga,” ingatanku kembali pada saat ini dan spontan aku mengeluarkan pertanyaan semacam itu padanya.

“Dengan apa? Memangnya kau tahu bunga apa yang cocok denganku?”

Aku yakin ia tidak dapat menebak apa yang ada di benakku, meski aku pun yakin ia tahu apa yang kumaksud. “Liatris ungu?”

Masih dengan senyum kecil terlukis di wajah, mataku beralih padanya, menunggu tanggapan darinya. Walau dari awal ia memang sama sekali tidak menunjukan ekspresi apapun yang berarti, kupikir aku bisa melihat jelas perubahan raut wajahnya itu. Matanya yang sayu terlihat semakin gelisah.

“Jin-Hyung.. Aku tahu itu sudah lama sekali..” ujarku lirih. Tatapanku membelok darinya. Aku tahu apa yang dia pikirkan.

Dia dan kami mungkin sudah berusaha untuk bertahan. Dia yang mengusahakan kebahagiaan kami. Namun, kini semua kebahagian itu memang sudah musnah. Aku tidak mau. Aku tak ingin mengingat mengapa ia terbaring di rumah sakit. Aku tak berniat tahu bagaimana jejak ban itu bisa terbentuk. Aku tak ingin tahu mengapa kertas itu tak habis terbakar. Atau aku tak mau lagi mendengar apapun yang hangus oleh kobaran api.

Aku terhanyut dalam kepedihan. Hatiku ini sudah remuk dan tak kuat lagi menahan benturan. Aku ingin menangis, tapi aku tak mampu lagi melakukannya. Yang bisa kulakukan hanyalah menatap langit biru ini. Langit biru dengan tinta bercahaya yang mulai memudar. Menunggu mentari yang perlahan naik menyembunyikan mereka semua. Dan tanpa kusadari bahuku sudah menjadi tempatnya bersandar.

“Bagaimana cara mengucapkannya?..Tae.. Hyung?..”mendadak ia bertanya.

“Kau salah.”

Angin lembut berhembus meniupi helai-demi-helai rambutnya dan menerbangkan bunga-bunga itu. Menanggalkannya dari rambut gadis itu. Dengan masih menyandingkan kepala di pundakku ini, ia perlahan menutup mata. Ia tidak peduli. Ia hanya memejamkan mata. Menitikan air mata. “Aku tidak mengerti bahasa Korea.”

~~~

“Bukankah Rei berarti nol? Kosong? ..Tidak ada?”

“Dia ada. Dan dia nyata.”

Mataku memperhatikan setiap benda yang sekedar lewat dari dalam mobil ini. Semuanya seakan bergerak mendekatiku, kemudian pergi begitu saja. Tidak meninggalkan kesan apapun seolah itu tak pernah terjadi. Kualihkan pandanganku yang malas ke arah interior mobil ini. Setelah sekian lama dan kurasa tak banyak yang berubah. Selain mungkin suara berisik dari terompet atau tawa keras cekikikan yang acap kali kudengar dari mereka. Ya, mereka. Dan saat ini. Pada waktu ini. Di waktu yang sama. Hanya si pengemudi yang tersisa. Setidaknya yang masih bisa kulihat.

Berkali-kali kucoba menghubunginya. Sejak siang tadi. Setelah kejadian mengerikan tadi. Hingga saat ini, hanya jejeran daftar panggilan tak terjawab yang kudapati di layar ponselku. Panggilan yang bahkan tak satu pun dijawab olehnya. Kakak. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak tahu mengapa ia tidak menjawabku. Di saat aku mungkin sangat membutuhkannya.

“Tidak bisa dipercaya..” dan selanjutnya aku yang sudah terlampau kecewa padanya, melayangkan ponsel itu hingga terlempar ke sisi lain ruang kecil ini. Benda itu rusak sekalipun sudah tidak penting lagi bagiku. Aku ingin meracau dan terus menggerutu. Aku ingin menghujat dan mengutuki takdir ini, tapi semua seakan aku sudah tidak punya hak untuk itu. tidak sama sekali. Aku hanya bisa menyesali segalanya.

“Ada apa denganmu dan Z?” kata-katanya mengejutkanku yang tengah termenung. Aku terlalu terbawa dan merasa hampa, sampai aku tidak sadar dengan keberadaan Jin-Hyung yang ‘masih’ duduk di kursi pengemudi di depanku.

“Kenapa Hyung ikut-ikutan memanggilnya begitu?” aku menyahutinya dengan nada yang terkesan ketus, tapi aku tidak bermaksud melakukannya.

Dari kursi di belakang sini bisa terlihat jelas reaksinya yang kemudian menghela nafas. Menandakan dirinya yang juga merana.

“Z mungkin tidak bersikap baik pada kita semua, tapi dia memperlakukan kita seperti dia memperlakukan orang terdekatnya.”

“Selain Jungkook, dia menanggapi kalian dengan begitu.”

“Tapi baginya tak ada yang benar-benar begitu.”

Aku merasakan hentakan keras saat mobil ini direm. Dia menghentikan laju kendaraan ini tiba-tiba. Meringkuk pada stang mobil dan terdiam sejenak. Suaranya yang menarik nafas terdengar saru dari sini.

“Z.. pernah bertanya padaku, pada kita,” ia bergumam.

“Apa?”

“Seandainya kau adalah bangsawan yang terjebak di kerajaan dan terdesak oleh musuh, jalan mana yang akan kau pilih? Apa yang kau harap temui di ujung jalan nanti?”

“Aku tidak tahu,” aku hanya menjawab ala kadarnya saja.

“Kau masih bisa terbang tinggi. Bahkan sampai menyentuh matahari sekalipun. Tapi aku akan hanya akan tetap berlari. Berlari dalam labirin ini.”

“Jin-Hyung.”

“Aku sudah selesai. Semua permasalahan ini. Aku tak butuh siapa pun lagi. Gadis itu adalah yang terakhir. Walau aku sendiri mungkin tak sanggup, dia sudah membuka jalan terakhir untukku. Hanya aku yang tidak yakin pada diriku sendiri.” Setelah itu ia tak berkata-kata lagi. Dan aku tak lagi melihat padanya.

Sudah terlalu bengkak untuk bisa membukanya dengan benar, aku mencoba melihat ke atas langit dari jendela kecil ini, berharap setidaknya dapat melihat lagi cat-cat itu. Namun,  semua tidak seperti yang kuharapkan.

“Kau benar, Z,” polusi cahaya sialan ini membuatku tak dapat melihat apa-apa.

Aku ingin menitikan setetes saja air mata ketika mengingat kata-kata Z di malam itu, tetapi sekali lagi mataku sudah tidak sanggup lagi. Seakan air mataku sudah terkuras habis saat itu. Aku hanya tak ingin mengingatnya lagi. Aku tidak ingin mengingat bagaimana gadis itu melihatku. Bagaimana Z menatapku.

Tak pernah sekali pun aku melihatnya seperti itu. Tidak, sampai hari itu. Mata yang biasanya hanya kosong atau lesu itu. Ia sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun. Memang tidak, tetapi caranya menatapku saat itu sudah cukup mengatakan apa yang sedang dipikirkannya. Entah apakah ia mengetahuinya atau tidak. Tatapannya itu benar-benar menusuk hatiku.

Sangat menyayat perasaanku. Meremukan seluruh isi hatiku. Tubuhnya tak sedikit pun bergerak. Namun, ia melihatku dengan sebegitu dalamnya. Hanya tatapan mata yang berhasil menggetarkan bulu romaku. Membuatku merasa seakan ia menampari diriku berkali-kali. Memukuli sekujur tubuhku dengan sangat kerasnya. Kemudian menyumpahiku dan meludahi wajahku yang sudah terlalu kotor oleh cairan ini. Cairan berwarna merah kental yang aku pun dibuat takut olehnya.

Tangan kaku yang sudah berlumuran darah ini tak mampu meraih apapun. Bahkan hanya untuk menggapai tubuh dan membersihkannya agar ia tak perlu melihatku seperti ini. Tapi semua sudah tidak berguna. Dan ia berdiri terpaku di hadapanku. Nafasku sesak tak tentu nada menyadari akan hal itu. hingga suara ini terdengar sangat jelas memecah keheningan yang sempat datang sebelum ia muncul.

Aku tak ingin ini semua terjadi. Aku tak pernah berniat menyakiti siapa pun. Sekalipun itu adalah bajingan sialan yang memang tak pantas untuk hidup. Aku tidak ingin kau melihatnya. Aku tidak ingin kau menghunuskan tatapan mengerikan itu padaku.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” bisikku pelan masih menahan tangis. Berdesah, mencoba menyingkirkannya dari pikiran.

“Kau kejam sekali..” aku terisak. Dan pada akhirnya aku kembali menangis. Meski aku sudah yakin tak akan bisa melakukannya lagi. Ia membuat air mata lagi membendung di kelopakku. Bulir-bulir air mata itu kembali jatuh, menghujani wajahku.

Aku hanya bisa memeluki tubuh sendiri. Menundukan kepala dan berusaha sebisa mungkin menghapus aliran air yang seolah tak berkesudahan ini. Lengan pakaianku sudah terlalu basah untuk bisa menyerapnya lagi. Akan tetapi, wajahku ini masih lembap olehnya. Masih tak berhenti air mataku menetes.

#

Aku di sini. Melihat ke atas langit yang senja mulai menggelap. Samar-samar cahaya sang surya padam dan perlahan hilang dari padangan mata. Berganti dengan warna biru yang semakin lama semakin menua dan tak tersisa lagi cahaya yang dapat kulihat. Selain bercak-bercak cat itu. Debu-debu itu. Tanganku mencoba meraihnya. Berharap sesuatu yang jelas tak akan pernah mungkin terjadi. Tak akan pernah sampai. Mataku menutup pelan menahan perih. Gelembung-gelembung penuh udara menyeruak keluar dari mulut dan hidungku yang sudah tak bisa menarik nafas lagi. Dan tanganku kembali padaku. Aku hanya dapat diam. Kali ini. Apakah ini akhirnya?

Yang ada di pikiranku saat ini hanya kau. Hanya dirimu. Aku sudah tidak menghiraukan lagi akan apa yang telah terjadi. Apa yang sudah kulakukan. Jalan mana yang faktanya telah kuambil. Ataupun di mana aku berada sekarang. Hanya kau. Z.

Aku hanya dapat membayangkan apa yang akan kau perbuat saat ini. Atau mungkin aku tahu apa yang kau lakukan saat ini.

Di ujung jalan ini, mungkin kau sudah mengakhiri segalanya. Mungkin Jin-Hyung sudah menemukanmu kembali. Atau tidak sama sekali. Mungkin Jin-Hyung sudah cukup putus asa, dan tak sanggup lagi untuk bertahan. Tapi aku tahu yang kau lakukan untuknya. Hanya satu hal yang kuyakini tentangmu.

Aku tahu. Aku tahu kau menghampiri cermin terakhir yang ia lihat. Aku tahu kau membawa sesuatu bersama dirimu. Aku tahu kau menarik bunga Lili putih itu dari vasnya yang mungil. Dan aku tahu kau mengganti bunga itu dengan bunga yang kau maksud. Bunga ungu kecil itu. Kau menggantinya dengan Liatris mungil itu. Aku menyadari dengan hal itu, kau sudah menunjukan jalan yang lurus padanya. Jalan yang menjadi pencarian terakhirnya. Kau sudah meyakinkannya. Kau sudah mengakhirinya.

“Mengapa kau memanggilnya Z? Mengapa kau menyebutnya ZERO?” aku ingat ketika Jin-Hyung menanyakan hal itu padaku.

Sesungguhnya ini bukan tentang bagaimana aku memanggilmu atau bagaimana kalian semua memanggilku. Ini semua hanyalah tentang bagaimana kau terhadap kami semua. Bagaimana kau kepada kami. Bagaimana aku memandang dirimu.

Rei. Zero. Nol. Hampir semua orang di dunia ini menganggapnya sama dengan kosong atau malah tidak ada, tidak perlu ada. Tapi itu tidak benar. Karena dia ada. Walau tidak disadari keberadaannya. Walau ia adalah yang terakhir. Namun, ialah salah satu yang terpenting.

Z, Zero. Bagaimana aku menggambarkanmu. Kau yang bahkan orang-orang tidak tahu apakah kau ini sebenarnya. Tapi aku tahu, aku meyakininya. Hanya kau. Kau adalah sesuatu yang buruk dan juga baik. Kau negatif, tapi juga positif. Kau gelap, juga terang. Kau hitam, juga putih. Kau mendampingin kami semua, tetapi kau tidak terikat. Kau adalah ilusi yang nyata. Kau tidak terdefinisi.

Kau membuatku berada di tempat tertinggi, tapi kau juga yang membuatku jatuh hingga ke tempat terendah. Seperti saat ini. Seperti saat di mana aku saat ini. Pertanyaanmu tentang bangsawan itu. Jin-Hyung tidak sepenuhnya benar, tapi ia juga tidak salah. Aku masih dapat terbang tinggi, bahkan mencapai titik tertinggi hingga menyentuh matahari, tapi kini aku terjatuh. Jauh sampai pada titik terendah dari semua ini. Titik terendah di mana tak ada lagi yang dapat kuperbuat. Titik di bawah permukaan air jernih ini. Titik nol.

Kau membuatku bahagia, tapi kau juga yang membuatku sedih tak karuan. Bagaimana aku bisa berada di atas menara itu. Bagaimana aku bisa ada di bawah air ini. Nebula. Langit. Cahaya. Dan semua cat, tinta itu. Aku ingin menggapainya untuk terakhir kalinya. Tapi satu hal yang pasti untukmu. Aku telah kehilangan sayapku.

Mungkin kau masih bisa memberi titik terang dari pencarian Jin-Hyung. Walau bagaimanapun kau sudah menyelamatkannya. Tapi aku adalah sesuatu yang jauh dari itu semua. Aku takkan pernah ada di titik itu. Aku ada di sini. Di titik tergelap dari dunia. Aku adalah sesuatu yang berakhir negatif karena lingkungannya. Aku hanyalah puncak bagian terburuk dari cerita ini. Dan aku sudah tenggelam dalam kegelapan ini.

Mungkin aku akan tahu. Ketika fajar menjelang dan kau berjalan-jalan di pesisir pantai dengan bertelanjang kaki. Mengenakan gaun putih seperti yang biasa kau gunakan sebelum peristiwa itu, dan membiarkannya dihembuskan oleh angin-angin lembut yang ditiup dari lautan. Mencoba menepis terik sinar mentari yang begitu menyilaukan dengan satu tangan, meski kau tahu ia akan tetap masuk melalui celah yang dibuat jemarimu.

Aku tahu kau berhenti untuk melihat sesuatu. Sesuatu yang sama sekali tidak kontras dengan pemandangan di tempatmu berada. Kau menyelipkan rambutmu yang sedikit mengusik pada celah di atas telingamu dan meraih benda itu. Setangkai bulu berwarna hitam pekat yang hanyut terbawa ombak. Kau memegangnya tanpa peduli dari mana ia berasal, seakan kau sudah mengetahui jawabannya. Seakan kau tahu.

Aku tahu kau mengangkat guratan di sekitar bibirmu, membentuk senyum kecil yang berakhir tawa. Begitu keras hingga memekakan telinga. Kau yang menertawaiku atas semua kesalahan yang telah kuperbuat. Kau yang menertawai diriku atas pertanyaan ini. Atas takdir ini.

Aku pun tahu. Di saat yang sama, matamu mulai kau sipitkan. Menahan cairan-cairan yang  mengumpul di sana. Aku tahu kau menahan tangis. Hingga akhirnya kau menjerit dan tak kuasa lagi meneteskan ribuat butir air dari matamu. Kau kini jatuh berlutut. Mengangkat tinggi-tinggi wajahmu dan menangis sekeras-kerasnya. Nafasmu yang sesak tak tentu nada jelas terdengar. Sementara bulu itu masih erat kau genggam. Kau tertawa, tapi juga menangis. Menangisi diriku yang penuh kesalahan ini.

Setelah semua yang telah terjadi. Setelah teman-temanku yang sudah berakhir. Setelah perdebatan itu. Kejadian mengerikan itu. aku tahu aku sudah melakukan terlalu banyak kesalahan. Terhadapmu dan yang lainnya. Aku yang tak bisa melakukan apa-apa. Aku yang telah gagal. Bahkan hanya untuk menjagamu. Aku yang sudah membuatmu sangat kecewa. Aku yang bahkan tidak tahu untuk apa lagi penyesalan ini.

Di ujung jalan ini pun aku menemukanmu.  Di ujung jalan ini, kau masih terduduk di sana. Menangisi segala yang telah kau ketahui. Menangisi pencarianmu yang telah mencapai titik akhir. Menangisi satu-satunya hal yang kau miliki. Hal terakhir yang masih ada untukmu. Kau yang merintih. Menarik nafas dalam-dalam. Dan memekik menyebut diriku ini.. KAKAKMU.

Maafkan aku.

Maafkan aku.

Maafkan aku, Rei..

Maafkan aku..

SAUDARIKU.

~fin~

Advertisements

6 thoughts on “[Boys Meet What?] Zero – Oneshot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s