[BTS FF Freelance] Oppa – (Oneshoot)

cover-oppa

Oppa

Author by
Rijiyo (Jiyo)

Main Cast:

[BTS’s] Jeon Jungkook

[OC’s] Jeon Ara

Oneshoot | Family, Sad | General

.

Let’s Enjoy it. Don’t take any copy without permissions.
Plagiarism are forbidden.

Semua cast milik saya, orang tuanya, dan Tuhan 😀

.

Keluarga adalah saat kehidupan di mulai yang membuat cinta tidak pernah berakhir… .

.

.

.

Jeon Jungkook.

Dia adalah Oppa-ku.

 

Kami menjadi saudara saat orang tua kami yang sama-sama berstatus orang tua tunggal memutuskan untuk menikah. Awalnya aku sangat membenci ayah tiriku karena kupikir dia telah merebut ibuku dari ayah kandungku yang padahal sudah meninggal saat itu. Aku bahkan hampir tidak pernah bicara—apalagi tersenyum—karena aku memang  sangat membencinya.

 

Tapi setelah aku melihat seorang anak laki-laki yang tersenyum ramah padaku, berbicara lembut padaku, dan mengajakku bercanda juga bercerita panjang lebar… perlahan-lahan semua itu berubah.

 

Dialah Jeon Jungkook. Oppa-ku… .

 

Aku tidak tahu mantra apa yang ia gunakan saat itu sehingga ia bisa membuatku tertawa lepas. Aku bahkan sangat tahu kalau ia adalah anak kandung dari ayah tiri yang sangat kubenci, dan seharusnya aku juga membencinya. Tapi aku tidak bisa menyangkal pada diri sendiri kalau dia itu hatinya memang terlalu baik untuk disakiti.

 

Ia bisa mengembalikan kebahagiaan Nam Ara—ralat!—Jeon Ara kecil yang sempat hilang karena kepergian ayahnya. Dia begitu hebat sampai bisa membuat tangisan Jeon Ara kecil terhenti. Padahal orang lain pun belum tentu bisa melakukannya.

 

Dia ajaib….

 

Moodmaker….

 

“Ara, kenapa kamu tidak mau makan?”

 

“Tidak mau!”

 

“Bagaimana kalau nanti kamu sakit? Ibu pasti akan sedih. Aku juga akan sedih.”

 

“Ibu jahat! Kamu juga jahat! Aku tidak mau makan!”

 

“Ara, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Ibu baik. Dia sangat menyayangimu. Percayalah padaku.”

 

“Kenapa aku harus percaya padamu?”

 

“Karena aku Oppa-mu.”

 

Aku pasti akan berhenti merajuk saat ia mengatakan kalimat itu.

 

“Karena aku Oppa-mu.”

 

Kalimat yang  sangat menenangkan. Terlebih jika ia yang mengatakannya untukku. Hanya untukku.

 

Oppa.

 

Dia pria kecil yang lucu. Dia selalu berada di sisiku dan siap kapanpun aku memerlukan perlindungan. Dia seperti tidak takut pada apapun kalau itu menyangkut aku. Dia bagaikan perisai bagi seorang gadis lemah dan cengeng sepertiku.

 

My Superhero.…

 

“Ara, kenapa kamu menangis?”

 

“Jimin dan Hoseok.…”

 

“Kenapa? Apa lagi yang dilakukan dua bocah tengil itu padamu?”

 

“Mereka mengambil susu pisangku.…”

 

“Lalu kenapa lututmu berdarah?”

 

“Mereka mendorongku, Oppa….”

 

“Apa?! Di mana mereka sekarang?! Biar kuberi pelajaran anak-anak nakal itu!”

 

Lalu keesokan harinya, orang tua kami dipanggil ke sekolah karena Jungkook Oppa memukul Hoseok dan Jimin, lalu mendorong mereka berdua hingga menangis. Tapi semenjak itu, Hoseok dan Jimin jadi tidak pernah menggangguku lagi.

 

Oppa.

 

Dia selalu memesona di mataku dengan kepolosan dan kelucuannya saat itu. Ia pria kecil dengan pipi gemuk dan mata yang bulat. Entah mengapa—untuk ukuranku saat itu—aku beranggapan bahwa dia bocah kecil yang tampan.

 

My Prince….

 

Oppa, kalau sudah besar nanti kamu akan menikahi gadis seperti apa?”

 

“Seperti apa, ya? Mungkin yang cantik dan pintar memasak seperti ibu. Kamu sendiri bagaimana?”

 

“Aku ingin menikahi pria baik dan lucu seperti Oppa.”

 

“Ah, kamu ini.”

 

Kami semakin dekat saat masing-masing dari kami mulai tumbuh menjadi dua orang remaja. Oppa juga tumbuh dengan begitu cepat. Dia tumbuh menjulang sangat tinggi untuk ukuran remaja seusianya. Dia juga sudah bisa merawat diri dan kuakui jadi semakin tampan. Pipi gendutnya perlahan menjadi agak tirus, dan rambut hitam pekatnya selalu tampak berkilau dengan bau gel yang sangat maskulin. Oleh karena itu, aku semakin menganguminya.

 

My Charming Oppa.…

 

“Ara, katakan kalau aku tampan.”

 

“Kamu tampan.”

 

“Hah? Hanya itu? Katakan yang tulus, dong.”

 

Oppa, kamu sangat-sangat-sangat tampan. Tidak ada pria yang lebih tampan darimu di dunia ini.”

 

“Benarkah?”

 

Oppa, tidak kukatakan pun oppa pasti juga tahu kalau oppa itu memang sangat tampan.”

 

“Ah, kamu berlebihan. Kalau begitu, kamu adalah adikku yang sangat-sangat-sangat cantik.”

 

Dia mengacak rambutku pelan sambil menunjukkan senyumnya yang selalu berhasil membuatku meleleh. Dia akan selalu melakukannya setiap dia merasa gemas padaku. Dan, aku suka itu.

 

Bertemu dan bercakap dengannya untuk yang kesekian kali rasanya masih seperti kemarin. Begitu membekas diingatan, menempel begitu kuat di saraf otak, seakan memori itu terlalu berharga untuk dilupakan. Setiap detil ingatanku tentangnya layaknya bermili-mili tinta yang menempel pada secarik perkamen. Kendati dicoba untuk dihapus sedemikian rupa, namun nyatanya kenangan itu masih tetap ada, hanya tertutupi oleh beberapa coretan.

 

Waktu berlalu bagaikan lembar cerita di atas kertas pada sebuah buku. Setiap dibalik, akan menampilkan cerita yang lain. Dibalik akan ada cerita lain lagi dan lain lagi. Terus berlanjut sampai menemui titik akhir. Begitupun dengan kami. Hari demi hari, tahun demi tahun telah berlalu. Sekarang Jungkook Oppa sudah menjadi pria dewasa. Semakin hari dia semakin sibuk dengan kuliahnya, dan akupun juga sibuk dengan sekolahku yang mulai memasuki tahun ketiga. Namun disaat seperti ini, Tuhan memberi kami kejutan dengan tiba-tiba mendatangkan sebuah CINTA.

 

Jungkook Oppa sering bercerita padaku soal perasaannya kepada seorang gadis yang identitasnya selalu ia rahasiakan. Andaikan aku memiliki kekuatan untuk membaca pikiran, aku ingin sekali mengetahui siapa gadis yang sukses mambuat Oppa-ku tersenyum sepanjang hari. Aku sangat ingin tahu seberapa istimewanya gadis itu dibanding aku.

 

“Ara, apa yang disukai wanita saat seorang pria akan menyatakan cintanya?”

 

“Apa, ya?”

 

“Kata-kata romantis, mungkin? Seperti puisi? Ah, tidak. Kurasa itu terlalu menjijikkan.”

 

Oppa?”

 

“Bagaimana kalau surat? Ah, tidak. Itu terlalu kuno.”

 

Oppa….”

 

“Benar! Aku harus mengajaknya kencan.”

 

Oppa!”

 

“Ya? Kenapa kamu berteriak?”

 

“Apa maksudmu? Oppa sungguhan jatuh cinta pada seseorang?”

 

“Hm! Jadi, kamu harus menolongku, Ara. Kira-kira aku harus bagaimana?”

 

“….”

 

“Jeon Ara?”

 

“…. Kurasa Oppa memang harus mengajaknya berkencan.”

 

“Nah, apa kubilang? Terima kasih, Ara.”

 

Aku tidak bisa berkata apapun saat itu. Isi kepalaku kosong dan otakku seakan berhenti berfungsi. Lidahku terasa kelu dan hatiku pecah berkeping-keping. Aku seperti tidak rela Oppa-ku menyukai gadis lain. Aku terlalu takut. Aku takut kalau nanti dia akan melupakanku, lalu meninggalkanku. Aku takut. Aku takut kehilangan Oppa-ku.

 

Hidup itu hanya tinggal permasalahan waktu. Kita punya banyak opsi untuk menjalaninya. Dan terkadang, dari sekian opsi yang begitu baik, kita hanya diperbolehkan memilih satu. Hanya satu untuk kelanjutan cerita di kehidupan kita. Hidup itu juga masalah pilihan. Jika kita tidak memilih salah satu, maka kita akan kehilangan banyak hal. Terkadang kita memang tak harus memiliki apa yang kita inginkan.

 

Oppa, maaf aku mencintaimu.”

 

Saat Jungkook Oppa sedang memakai jaket di kamar, aku langsung memeluknya dari belakang. Aku tahu saat ini dia sedang bersiap-siap untuk acara kencannya dengan gadis itu. Dia tampak terkejut, dan langsung membalikkan badan. Menatapku dalam-dalam dengan pandangan tidak mengerti.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Aku tidak mau kamu berkencan dengan siapa pun. Aku tidak mau kamu pacaran dengan gadis lain. Aku tidak mau kamu melupakanku, Oppa.…”

 

“Ara….”

 

Oppa, aku mencintaimu dan aku tidak mau kehilanganmu.”

 

Aku memeluknya lagi dengan erat, tapi dia malah melepaskan pelukanku dengan paksa—membuatku sangat kecewa.

 

“Dengarkan aku, Ara. Kamu tidak boleh berkata seperti itu.”

 

“Aku memang menyukaimu!”

 

“Tapi kita ini saudara.”

 

“Lalu apa masalahnya? Kita hanya saudara angkat, tidak ada ikatan darah.”

 

Jungkook Oppa menghela napas, lalu mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. “Mungkin itu hanya sebatas rasa sayang pada kakak.”

 

“Tidak! Aku benar-benar mencintaimu dan aku cemburu kalau melihatmu akan berkencan!”

 

“Ara, kenapa kamu masih tidak mengerti? Meskipun kita tidak ada ikatan darah, tapi orang tua kita bersatu, dan kita sudah menjadi saudara. Aku juga sangat mencintaimu melebihi apapun, tapi rasa cintaku padamu itu tidak bermakna lebih dari seorang kakak.”

 

Air mataku tumpah saat ini juga. Hatiku sakit mendengar penjelasan Jungkook Oppa yang seakan memojokkanku. Seolah mengatakan kalau aku bersalah dan tidak seharusnya melakukan hal ini.

 

“Ara, kamu mungkin hanya salah mengartikan rasa sayangmu padaku. Aku Oppa-mu, dan kamu adalah adikku. Kita akan menjadi tua, tapi sampai saat itu kita akan tetap bersaudara.”

 

Oppa.…”

 

“Tidak ada ikatan cinta yang lebih abadi daripada keluarga. Aku dan dia bisa saja putus suatu hari nanti, tapi tidak dengan kita. Ara, memang seperti inilah kehidupan. Bahkan di dalam keluarga pun ada yang tidak sempurna. Keluarga bisa memanusiakanmu sampai terkadang membuatmu lupa akan dirimu sendiri.”

 

“.…”

 

“Matahari yang sebesar itu pun perlu bulan untuk bisa menerangi setiap sudut bumi. Begitu pun aku. Aku juga tidak bisa hidup tanpamu. Tapi di sini dalam arti yang berbeda. Kamu mengerti sekarang?”

 

Air mataku semakin deras. Aku paham—sangat paham. Aku benci kalau Oppa berkata benar. Aku benci kalau aku salah. Tapi aku akan lebih benci kalau Oppa tidak bisa memperbaiki kesalahanku ini. Aku sadar kalau aku memang berlebihan. Aku egois. Meskipun kami memang tidak memiliki hubungan darah, tapi sekarang kami sudah menjadi saudara. Aku tidak bisa membecinya atas teori ini, sungguh. Waktu membuat kami jadi begitu dekat hingga aku menganggapnya lebih dari saudara. Aku tidak punya alasan untuk menyimpan rasa benci sedikit pun padanya. Jungkook Oppa adalah saudaraku sejak kecil dan aku tidak boleh meminta apapun lebih dari itu. Rasa takut kehilangannya begitu besar hingga aku melupakan batasanku sebagai adik. Aku merasa tersudut. Malu atas perbuatanku sendiri.

 

Jungkook Oppa meraih tubuhku. Mendekapku dengan begitu erat. Aroma sampo dan parfum menguar jadi satu dalam tubuhnya, membuatku merasa nyaman.

“Kamu tahu, Ara? Hidup ini seperti piano. Berwarna putih dan hitam. Namun, ketika Tuhan yang memainkannya, semuanya akan menjadi indah.”

 

“Maafkan aku, Oppa. Aku… aku menyesal.”

 

“Keluarga bermakna tidak ada kata meninggalkan dan melupakan. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan kemana-mana.”

 

Aku tahu. Jungkook Oppa memang tidak akan pergi kemana pun. Sejauh apapun, sesulit apapun, dia akan tetap berada di sisiku. Sekarang aku tahu kalau Tuhan itu sangat baik. Karena Dia mengirimkan padaku seorang kakak yang bahkan lebih hangat daripada matahari.

 

Aku menyayanginya….

 

Oppa.

 

Lima tahun telah berlalu. Tak terasa ia sudah lama menjalin hubungan dengan Jieun Eonni—gadis yang dulu sering ia rahasiakan namanya dariku. Jieun Eonni sangat cantik, rambutnya panjang, dan tubuhnya mungil. Dulu aku sangat canggung saat bersamanya karena biar bagaimanapun rasa sakit itu masih tetap ada. Tapi, tak bisa dipungkiri kalau akhirnya aku juga bisa dekat dengannya karena dia memang sangat baik. Dia juga sering membelikanku makanan enak dan mengajakku nonton bioskop.

 

Hari ini, Jungkook Oppa menikah. Pria itu tampak keren dengan jas putih dan dasi kupu-kupu di kerah lehernya. Aku sampai takjub, tidak percaya kalau aku punya Oppa setampan ini. Jieun Eonni juga cantik dengan gaun panjang dan make up natural, ia juga membawa sebuket bunga di tangannya. Dibelakangnya ada puluhan anak kecil yang menaburkan bunga mawar di altar, dan beberapa dari mereka ada yang memegangi gaun panjangnya. Begitu cantik, begitu sempurna berdiri di samping Oppa-ku. Aku hanya bisa tersenyum lega. Akhirnya Oppa-ku menemukan cinta sejatinya.

 

Mereka berdua memutuskan untuk tinggal di luar negeri.

 

Bukan karena kemauan mereka, tapi karena perusahaan Jungkook Oppa yang dipindahtugaskan di negeri Paman Sam itu. Aku sedih lagi, tapi aku tahu kalau aku tidak boleh mengulangi masa-masa dulu. Aku kembali tersenyum sambil mengingat saat beberapa bulan yang lalu, di mana Jungkook Oppa bilang padaku kalau dia mau menikah, dia seperti minta restu dariku. Aku sempat putus asa, aku berpikir… aku benar-benar akan kehilangan dirinya. Tapi aku juga harus bersikap dewasa. Jungkook Oppa juga ingin bahagia dengan seseorang yang ia cintai. Aku tahu kalau waktunya bukan hanya dihabiskan untuk menyayangiku saja.

 

Hingga akhirnya, aku mengatakan, “Kalau Oppa bahagia, aku juga bahagia.”

 

Seperti yang pernah kukatakan dulu, hidup itu hanya tinggal permasalahan waktu. Kita punya banyak opsi untuk menjalaninya. Dan terkadang, dari sekian opsi yang begitu baik, kita hanya diperbolehkan memilih satu. Hanya satu untuk kelanjutan cerita di kehidupan kita.

 

Aku sudah sangat senang saat Jungkook Oppa menjadi saudaraku, karena sampai kapan pun ikatan saudara itu tidak akan pernah putus.

 

Jungkook Oppa….

 

Menurutku, itulah fungsi dari kakak laki-laki. Untuk membantu adik perempuan mereka ketika dunia mereka runtuh.

 

Hari ini adalah ulang tahunku. Biasanya Jungkook Oppa akan memberiku kejutan dengan memberi boneka Teddy Bear raksasa atau jalan-jalan ke Lotte World seharian penuh. Tapi, tahun ini sungguh berbeda. Meskipun aku sedang disibukkan dengan tugas kuliah, tapi aku masih tetap tidak bisa melupakan setiap kenangan masa kecilku dengannya. Tentu saja! Semenjak kepergiannya, dia tidak pernah mengirim kabar sama sekali.

 

Itulah yang paling kutakuti.

 

Dia melupakanku.

 

“Ara, ada surat untukmu.”

 

Malam harinya, ibu melongok dari balik pintu kamar dan memberiku sebuah amplop. Setelah menerimanya, ibu langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku membuka surat itu. Tumben sekali aku dapat surat. Apa ini dari penggemar rahasiaku? Tapi sejak kapan aku punya penggemar?

 

Mataku langsung terbelalak.

 

Ini bukan dari penggemar.

 

Tapi dari Jungkook Oppa!

 

Tak sadar, aku pun melompat-lompat di kasur seperti orang gila. Kemudian, aku mencium dan memeluk surat itu—jangan ditiru!—dengan penuh kerinduan. Akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Pasti Oppa mau bercerita tentang istrinya bla-bla-bla, di sini bla-bla-bla, Amerika bla-bla-bla, aku bla-bla-bla, dan bla-bla-bla lainnya. Dia pasti melupakan ulang tahunku.

 

Aku membuka surat itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

 

Tapi, aku langsung tersenyum saat melihat tulisan yang seperti cakaran ayam itu memenuhi kertas….

 

Malaikat itu nyata. Aku punya satu dan aku menyebutnya Jeon Ara.

Aku sayang kepadamu. Selamat ulang tahun ^^

 

_Si Tampan Jeon Jungkook_

 

.

.

.

 

Sekarang aku tahu, sampai kapan pun Jungkook Oppa tidak akan pernah melupakan hari ulang tahun adik kesayangannya.

 

Terimakasih, Oppa

.

.

.

Masa-masa terbaik dalam hidup adalah saat kita mampu menyelesaikan masalah sendiri, namu masa-masa tersuram dalam hidup adalah saat kita menyalahkan orang lain atas masalah yang kita hadapi. Karena pada dasarnya, hidup ini untuk memberi, bukan meminta—Jiyo

.

.

.

_Fin_

 

Advertisements

7 thoughts on “[BTS FF Freelance] Oppa – (Oneshoot)

  1. kim taehyung puspitasari

    Kereeeeen banget thor ^^ jungkook oppanya manis banget ^^ jadi pengen punya kaka laki2 :v jeon ara kamu sangat2 beruntung bisa punya kaka macem jungkook :” keep writing author-nim ^^

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s