[Boys Meet What?] Alice – Oneshot

2016-24-12-13-21-06

ALICE

Title: Alice

Author: Ryujin4

Cast: BTS Member, Alice [OC], Jeon Jungmin [OC]

Genre: School, Life, Comedy, Songfic, Horror, Angst, Childhood, Kingdom, AU

Lenght: Oneshot

Rating: PG 15

Desclaimer:

Member BTS milik bersama, OC dan jalan cerita milik Author. Dilarang plagiat! Mohon maaf bila masih banyak kesalahan dalam penulisan. Selamat membaca…

Alice? Ingin tahu siapa itu Alice? Inilah Alice dalam berbagai versi

 

#1st : New Friend

Bel istirahat berteriak nyaring. Para murid mulai bersorak bahagia. Tentu saja, siapa yang mau tinggal berlama-lama dengan jam pelajaran yang sangat membosankan itu?

“Pelajaran hari ini cukup sampai disini. Jangan lupa kerjakan tugas tadi dan kumpulkan besok pagi”

Guru Kim melenggang pergi dari ruangan kelas. Dan dengan segera, murid-murid berhambur keluar dari kelas. Hampir semuanya pergi ke kantin untuk mengisi perut atau keperpustakaan, sekedar mencari atau mengembalikan buku. Khas anak SMA pada umumnya. Tapi ada juga yang tetap berada didalam kelas karena alasan tertentu. Misalnya, mendekati si anak pindahan dari Kanada yang sedang duduk membaca buku. Inilah yang dilakukan Kim Taehyung.

“Hello,Alice” sapa Taehyung. Ia menarik sebuah kursi untuk diposisikan disamping Alice, si anak pindahan itu. Alice menghentikan kegiatan membacanya. Ia menatap Taehyung dan tersenyum.

“Hello”

“Eumm, My name is Taehyung. Kim Taehyung. Ah, you from Canada?,” ucap Taehyung yang tampak terbata. Yah, bagaimanapun juga setidaknya ia sedikit mampu berbahasa Inggris. Walaupun masih pas-pasan,sih.

“Yes”

“Nice to meet you, Alice. And.. eumm”

“Ah, can i and you is friend? Let’s friend together. You want,Alice?,” kata Taehyung setelah berpikir lumayan lama, yang sontak saja membuat Alice tertawa geli. Anak itu sepertinya agak memaksakan kemampuan bahasa Inggrisnya.

“Of course,” kata Alice. “Astaga, kau ini lucu sekali Kim Taehyung”

“Eh?,” Taehyung lantas terkejut. Ia meyakinkan dirinya bahwa telinganya masih cukup normal untuk mendengar apa yang Alice katakan tadi. Tapi, yang tadi itu-

“Aku bisa berbicara bahasa Korea,Tae. Ibuku orang Korea,kok.”

“Ah, hahaha aku baru tahu”

Alice masih terkekeh, “Tentu kau baru tahu. Kau kan tadi baru datang saat guru Kim selesai memperkenalkanku. Pasti kau tahu namaku dari temanmu,kan?”

 

#2nd : Jeon’s Baby

Drrrrttt…

Ponsel Jungmin bergetar, tanda seseorang sedang meneleponnya. Gadis itu melihat siapa gerangan yang berani-beraninya mengganggu waktu santainya yang berharga.

Sialan,Jeon Jungkook

“Hey, tolong aku. Argh, aku tak tau harus bagaimana,” kata lelaki diujung telepon ketika Alice barusaja menerima telepon itu.

“Bicara apa,sih? Kau sedang mabuk rumus matematika,ya?” Serius. Kalau dia bukan adik ‘kesayangan’ nya, sudah ia tolak panggilannya sejak tadi.

“Aku bingung dengan ini semua, tapi aku.. menemukan bayi. B-A-Y-I,kak!”

“APA KATAMU?” Teriak gadis berambut coklat itu. “Katakan padaku, bayi siapa itu,Jung?”

“Ya aku tidak tahu. Aku menemukannya dijalan sepi tadi,” katanya. “Jadi.. aku bawa pulang,nih?”

“Gila,ya? Kalau ibu dan ayah tahu bagaimana? Dan juga, bagaimana jika ada orang yang mencari bayi itu dan mengira kita menculiknya?”

“Tapi,kak!”

 

“Yang ini,kan?” Jungkook menunjukkan benda berbentuk kotak dan silinder itu pada Jungmin. Tadinya ia ingin menyerahkan itu pada Jungmin, tapi sang kakak menolaknya.

“Kau yang membuat,Jung. Aku sibuk mengurusnya dulu,” ucapan Jungmin tadi membuat orang yang disuruh kian merengut. Ah, menyebalkan!

 

Jungkook menyerahkan botol silinder yang berisi susu formula itu pada sang kakak. Jungmin yang saat itu tengah menggendong seorang bayi segera menerimanya. Ya, itu bayi yang Jungkook temukan tadi.

“Jung, pastikan kita tak mendapat masalah setelah ini.”

“Iya iya. Aku yang jelaskan ke ibu dan ayah nanti,” kata Jungkook sambil memerhatikan wajah bayi itu. “Ah, dia lucu sekali. Aku jadi ingin dipanggil ayah.”

“Kau tahu,Jung? Aku bahkan masih berpikir bahwa kau masih bayi, bukan anak SMA. Bagaimana mungkin kau dipanggil ayah?” Jungmin tertawa, sedangkan Jungkook hanya hanya mendengus kesal.

“Omong-omong, bayi ini tak kita beri nama,kak?

“Eum, aku bahkan tak memikirkan hal itu. Kau punya nama yang bagus,Jung?”

“Alice. Kita namakan Alice saja bagaimana?”

“Alice?” tanya Jungmin yang disambut anggukan cepat dari Jungkook.

 

#3rd : His Love Story

Pertemuan singkat dan berjalan sangat cepat

Tidak disangka aku langsung terhipnotis olehmu

 

Namanya Alice, kalau Jimin tak salah ingat. Dia gadis yang manis. Maniknya coklat terang, senada dengan rambut ikal sebahunya. Gadis itu bilang, mereka memiliki ketertarikan yang sama dalam olahraga. Tentu Jimin senang. Pasalnya, kapan lagi ia memiliki teman main basket yang cantik sepertinya?

Kala itu, mereka tengah beristirahat dikursi dekat lapangan basket, disisi sungai Han. Mengistirahatkan diri setelah bermain basket selama sekitar satu jam.

“Alice, kau dari jurusan apa?”

“Aku sastra Inggris,” jawabnya. “Kau sendiri?”

“Oh, aku mengambil Matematika.” Membuat Alice lantas terkagum. “Woah kau pasti pintar sekali,ya?”

 

Pertemuan singkat yang berlangsung sangat cepat

Meskipun tak lama, hal itu telah membuat hidupku bahagia

 

Jimin bermain basket sendirian sore itu. Ini sudah hari keempat sejak pertemuannya dengan Alice. Namun gadis itu tak lagi muncul sekedar beradu basket dengannya lagi. Padahal Jimin ingin bertemu dengannya lagi. Ah, mungkin Alice sedang banyak tugas, pikirnya.

“Hey,Jim!”

Jimin tersenyum senang, Alice sedang melambai padanya dibalik  pagar lapangan. Tanpa berpikir panjang, lelaki itu menghampiri pujaan hatinya. Tapi ia sadar ada orang lain bersama gadis itu.

“Maaf,Jim. Aku sedang sangat sibuk sampai tidak bisa bermain denganmu lagi. Mungkin lain kali aku akan mengalahkanmu” Alice mengakhiri ucapannya dengan tawa. Jimin hanya mengacungkan jempolnya. Ah, pria itu pasti kekasihnya.

“Yasudah, sampai jumpa,Jim” kata gadis itu. “Ayo,Tae”

 

Meskipun tak lama, hal itu telah membuat hidupku bahagia

Pertemuan singkat yang berlangsung sangat cepat

 

#4th : Haunted House

 

“Yaampun, tadi itu parah sekali hahaha”

“Astaga, aku sungguh tak akan kesana lagi”

“Hey, tenanglah,Jung Hoseok. Hantunya tak sampai kemari kok hahaha”

“Sumpah, Hoseok parah. Bisa kupastikan teriakannya terdengar sampai luar”

 

Empat anak muda itu sedang duduk kursi kafe. Salah satu dari mereka hanya merengut kesal, sementara yang lainnya teratawa bahagia. Lebih tepatnya sih bahagia karena bisa mengejek lelaki bernama Jung Hoseok itu.

“Berhenti meledekku. Aku ketakutan tahu” kata Hoseok seraya bersiap menyiram tiga manusia didepannya itu dengan jus jeruk miliknya. “Kalau diantara kalian tertinggal sendirian juga pasti sama saja denganku”

“Okay okay, Calm down Hoseok” Taehyung mengusap pelan pundak sahabatnya itu. “Tapi kau tahu kalau hantu-hantu diwahana tadi hanya hantu palsu. Masa masih takut,sih?”

“Pokoknya aku tidak mau masuk wahana itu lagi”

“Ah, Hoseok hyung payah”

“Diam kau,Jungkook. Kau masih bocah SMA, tidak mengerti apa-apa”. Bukannya takut, yang dibentak malah tertawa mengejek.

“Lagipula, siapa yang tidak takut kalau hantu nya memegangi kakimu. Dan juga, dia berpura-pura mau menggigit kakiku. Hah, apa-apaan dia. Ah ya Jungmin, kau kan bilang hantunya hanya didalam pagar. Kenapa dia keluar,huh?”

Mendengar itu, Jungmin hanya mengangkat bahu. “Entah. Setahuku di wahana rumah hantu tadi tidak ada kontak fisik, hanya uji nyali”

“Tunggu”

Semua perhatian tertuju pada Jungkook. Ia tampak memikirkan sesuatu. Sementara Jungmin, Taehyung dan Hoseok tetap menanti ucapannya.

“Temannya temanku bilang diwahana itu ada hantu aslinya, hantu wanita. Namanya Alice,katanya. Awalnya aku tak percaya. Tapi mungkinkah-“

“APA?! YANG BENAR SAJA?” teriak ketiga orang lainnya hampir bersamaan.

“Oh, aku bisa gila” ucap Hoseok lemah.

 

#5th : Missing You

 

Aku merindukannya. Terhitung setahun sejak saat itu. Ah, ini bahkan lebih dari sekedar rindu. Apa ya? Tak ada definisi yang pas untuk menjelaskan semua perasaan ini. Yang pasti, sekarang aku dalam perjalanan untuk menemuinya.

Aku mengendarai mobil sambil sesekali menatap buket bunga mawar putih kesukaan gadis itu yang kutaruh dikursi sebelahku. Dia pasti suka.

Masih kuingat saat kami bertukar cincin kawin dan mengucap janji satu sama lain. Aku bisa melihat ibu dan ayah yang tersenyum bahagia melihat anak lelaki mereka telah menemukan pendampingnya. Begitu juga dengan orang tua Alice, gadis yang sangat kucintai itu.

Saat itu aku benar-benar bahagia. Berputar dalam memoriku saat itu, bagaimana aku menyatakan perasaanku pada Alice ketika kami masih kuliah. Lucunya, ia sempat menolakku bahkan menjauhiku kalau mau tahu. Eits, jangan panggil aku Kim Seokjin kalau aku langsung menyerah. Gadis blasteran Kanada-Korea itu perlahan dapat aku taklukkan dengan pesonaku. Ah, kenangan yang sangat indah.

 

Kini, aku berada dihadapannya. Aku tersenyum. Ini pertama kali aku menemuinya lagi, sejak setahun yang lalu tentu saja. Dengan sepenuh hati kuserahkan bunga ditanganku.

“Bunga favoritmu,Alice. Bunga yang cantik sepertimu”

Aku tahu dia pasti tersenyum. Senyum yang sangat kurindukan. Senyum yang dahulu sering kulihat. Aku sangat merindukan senyum itu. Tapi tak bisa. Tak akan bisa. Setelah kecelakaan hebat yang kami alami saat mengendarai mobil pernikahan yang menuju rumah keluarga Alice. Kecelakaan yang merenggut nyawanya. Tapi tidak denganku. Aku mengalami koma yang panjang. Jujur saja, aku baru terbagun dari koma sekitar beberapa hari yang lalu. Tapi baru hari ini aku memiliki cukup kekuatan untuk menemui Alice. Kuharap ia tak marah karena aku datang terlambat.

Menyedihkan bahwa kecelakaan itu harus terjadi. Terhitung baru beberapa jam setelah mengucap janji suci. Beberapa jam setelah kami terikat pernikahan. Beberapa jam saat aku menjadi suami, dan Alice menjadi istri. Ini lucu, tapi kami bahkan belum sempat pada acara membuka kado yang kami tunggu-tunggu.

“Alice, maaf aku datang terlambat. Tapi, terima kasih telah menjadi hal terindah dalam hidup Kim Seokjin”

Aku mengusap nisan dimana nama gadis itu tercetak disana. Bagaimanapun, Alice yang kucintai sudah tak dapat kutemui secara nyata. Sampai kapanpun.

“Aku.. bahagia dapat bertemu denganmu lagi. Kau.. juga,kan?”

 

#6th : Doctor

 

“Kali ini apa,Kim Namjoon? Jatuh dari balkon? Terkena bola baseball? Terperosok ke selokan?  Atau tersandung kakimu sendiri?”

Perawat itu hafal betul kebiasaan pasien dihadapannya ini. Ceroboh. Satu kata yang mewakili segalanya tentang anak lelaki bernama Kim Namjoon, siswa kelas 2 di SD Haesung. Terakhir kali, ia datang tergopoh-gopoh keruang UKS dengan pelipis berdarah. Dia bilang itu karena terkena bola basket yang ia pantulkan sendiri dengan terlalu keras. Alasannya..

“Habisnya, mereka bilang aku tidak jago olahraga. Ya aku mau membuktikannya saja. Tapi bolanya malah jatuh mengenai kepalaku.”

Namjoon tertunduk malu. Bukannya dia cengeng atau apa. Tapi ibunya selalu bilang kalau ia terluka maka harus langsung diobati, supaya tidak infeksi katanya. Makanya ia langsung menuju UKS setiap ia terluka.

“Aku.. tersandung batu dihalaman. Lututku berdarah,” aku Namjoon masih dengan kepala tertunduk. Perawat itu hanya menggelengkan kepala selagi mengambil kotak obat. Lantas segera mengobati luka anak itu.

“Sudah kubilang kan kalau kau harus hati-hati”

Tapi kegiatan itu berhenti ketika ada suara ketukan pintu dan seseorang yang mengucap kata ‘permisi’.

“Oh, kau pasti pengganti dokter Jung,kan?” kata perawat yang sedang mengobati luka Namjoon.

“Iya. Perkenalkan aku dokter sekolah yang baru. Namaku Alice Lee. Kuharap kita bisa bekerja sama perawat Kim” Dokter wanita itu tersenyum. Sangat cantik. Bahkan Namjoon pun terpesona.

“Hey imut, kau kenapa?” Alice menghampiri Namjoon yang duduk diranjang UKS. “Yaampun, pasti lututmu sakit sekali,ya?”

“Tidak. Aku tidak kesakitan,kok” Namjoon nyengir. Memperlihatkan deretan gigi putihnya. “Woah, kau jagoan,ya” Alice mengusap surai pendek milik Namjoon.

“Dokter..”

“Ya?”

“Dokter sangat cantik. Aku suka dokter Lee”

Mendengarnya, pipi Alice memanas. “A-apa?”

 

#7th : The Princess

Kerajaan saat itu sedang diliputi rasa khawatir. Kabarnya sang putri mahkota kabur dari istana. Semua prajurit dikerahkan kepenjuru wilayah untuk mencari sang putri. Sayembara pun diadakan dengan imbalan yang membuat siapapun tergiur.

“Siapapun yang berhasil membawa putri Alice kembali ke istana dengan selamat, akan mendapat satu peti emas dan dibebaskan dari pajak kerajaan”

 

Hari mulai petang. Min Yoongi masih berjalan menyusuri hutan. Sesekali kakinya oleng karena tak kuat membawa beban berat dalam waktu lama. Terhitung dua jam Yoongi menggendong gadis itu dipunggungnya. Hey, bahkan ia tak yakin punggungnya masih berada pada posisinya. Sampai akhirnya ia putuskan untuk beristirahat. Dibawah pohon yang menjulang tinggi Yoongi menyandarkan dirinya, pun gadis cantik itu. Yoongi menilik sang gadis. Dia masih belum sadar. Sekejap, rasa lelah berganti menjadi kantuk. Membawa pemuda Min itu perlahan ditarik kealam mimpinya.

Yoongi sedang berburu rusa ketika itu. Mata panahnya telah ia arahkan pada seekor rusa yang sedang melahap rumput hijau dihutan. Sampai suara teriakan minta tolong itu terdengar, saat itu pula Yoongi membidik sasaran yang salah. Tentu saja rusa tadi melarikan diri. Tapi lelaki itu lebih penasaran dengan teriakan itu.

Seorang gadis berlari menghindar dari kejaran seekor babi liar. Tanpa berpikir panjang, Yoongi kembali mengarahkan busurnya. Trash! Trash! Dua bidikan cukup untuk membuat binatang itu benar-benar tak bergerak.

Gadis itu berhenti berlari. Ia melihat Yoongi menghampirinya. Tapi agaknya ia tak cukup kuat untuk sekedar mengucap terima kasih karena detik berikutnya ia jatuh pingsan.

 

Sinar mentari mulai menyapa. Yoongi mengerjap pelan, berusaha menormalkan penglihatannya yang masih buram. Ia regangkan tubuhnya seraya menguap pelan.

“Oh, tuan kau sudah bangun?”

Yoongi menjawabnya dengan gumaman. Ia sudah sadar rupanya.

“Terima kasih telah menyelamatkanku kemarin,Tuan..”

“Yoongi. Kau bisa memanggilku Yoongi,” kata Yoongi kemudian bangkit dari posisinya. Diikuti sang gadis yang kini berdiri sejajar dengannya.

“Ayo” Yoongi berjalan mendahului sang gadis yang tengah mengerutkan keningnya. “Ayo? Kemana?”

“Tentu saja istanamu.. Putri Alice”

Mendengar kalimat itu, gadis itu terdiam. Istana? Itu tempat yang tak akan ia datangi lagi. Tak akan pernah.

“Kau.. mau menukarku dengan emas-emas itu? Begitukah?”

Yoongi berbalik, menatap Alice yang kini berada sekitar lima langkah dari tempatnya berdiri.

“Tidak”

“Kalau begitu, jangan bawa aku kesana. Aku tak mau dijodohkan dengan Kim Seokjin. Izinkan aku tinggal sementara denganmu.”

“Dan mereka akan membunuhku karena mengira aku menculikmu?”

“Kalau begitu ayo pergi sejauh mungkin dan..” Alice menjeda perkataannya, kemudian melanjutkan “Mari kita menikah,Tuan Yoongi”

 

-Fin-

Advertisements

6 thoughts on “[Boys Meet What?] Alice – Oneshot

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s