[BTS FF Freelance ] I Will Try It – (Twoshoot #1)

will

[BTS FF Freelance] I Will Try It? (Twoshoots #1)

Tittle : I Will Try It.

Author : Min AeGi

Genre : AU, Fluff not too much, Romance, Bromance, Worklife, Life, Comedy.

Rating : PG17

Length : TWOSHOOT #1

Disclaimer : asli ff ini yang ngarang Min AeGi tanpa ngopi-ngopi dimana pun. Para cast selain OC adalah ciptaan Sang Maha Kuasa dan BIGHIT tentu saja. Don’t be a silent reader, do not copy mine.

Cast : Min Yoon Gi (BTS), OC Yoon Ji Yoon, Jung Hoseok (BTS), OC Mama, OC Min Ji Ae, Park Jimin (BTS), Kim Nam Joon(BTS), Kim Seok Jin (BTS) Jeon Jungkook (BTS), Kim Taehyung (BTS). BTS’ members will appear in series.

Preface for the all shoot {BANG!!}

Pergilah kencan buta.—

— ia tadi mengumpat padamu, dia baru mengenalmu tapi mana kesopanannya?? –

— cepat, jangan sampai aku mengatakan kau mesum untuk kedua kalinya –

— Perasaan ku sakit, kenapa dia membuatku jatuh cinta begini di saat terakhir aku akan berjodoh dengan Min yang lain?? –

— Ingat Ji Yoon, dia bukan orang yang bisa kau cintai. Turuti saja mama, untuk menerima kencan buta kali ini, kau akan bahagia nantinya. Ucapku dalam hati. –

— AH, aku menggeleng-gelengkan kepalaku, apa yang ku pikirkan hanya Min Yoon Gi barusan, Hey sadarlah di depan mu ada calon mu, —

— Aku tak mampu menatap orang yang berdiri disana, tak ada Yoon Gi disana. Genangan air mataku turun perlahan –

— “Hik, hik YOONGIII.. hik hik…” dia berhasil membuatku cegukan.

 

Intro : Yoon Ji Yoon gadis lugu, tertutup, yang baik dalam menggambar, bekerja sebagai arsitek sudah 5 tahun. Yoon Gi partner kerja baru Ji Yoon, Jung Hoseok teman baik Ji Yoon, Mama Jiyoon yang baik, Park Jimin adik sepupu Yoon Gi dari Busan, Kim Taehyung seorang desainer baju kenalan baik Min Yoon Gi, Jeon Jungkook kawan baru Yoon Gi di kantor yang baik, Kim Nam Joon adik tingkat Yoon Gi saat di kampus dulu yang rela melakukan apapun demi wanita sssht Nam Joon nya playboy. Kim Seok Jin paman Ji Yoon, Min Ji Ae.

Yoongi adalah pria yang tak terlihat bila berada di tengah salju karna ia memiliki kulit yang putih, manis bila tersenyum, perduli terhadap sesama, dan menyakitkan kalo ngasih komentar, Begitulah dirinya setelah aku mengenalnya.

Begini, awalnya aku mengenal Yonngi. Semakin lama aku mengenalnya semakin terasa pula getaran cinta yang entah datang dari mana. Karna Yoongi tidak suka padaku, setahu ku. Pertemuan kami terjadi tanpa kesengajaan dan berakibat fatal yaitu di pelaminan. Banyak sabotase di dalam pertemuan kami. Happy reading!!

All in OC’s POV.

Aku menutup jendela ruang kerjaku dan segera membersihkan kantor kecilku yang sedari tadi ku gunakan untuk menggambar bangunan mall yang harus segera di selesaikan, bukan hal yang sulit untukku dan partner kerja baruku Yoongi yang memiliki nama keluarga Min. Aku bersiap keluar ruangan sebelum handphone ku berdering tertera dilayar handphone bertuliskan mama.

“halo ma… ada apa??” tanyaku.

“halo, sayang… bagaimana keadaan mu??” Tanya mama basa-basi. Tak seperti biasanya mama memanggilku sayang apalagi menanyakan kabarku. Apa mama sekarang mulai mengkhawatirkanku karna aku masih betah untuk sendiri?? Itulah aku yang selalu sendiri berada di rumah, menjalani kehidupanku yang monoton kantor-rumah bersama satu-satunya penyemangat hidupku, mama di umurku yang sudah hampir memasuki kepala tiga ini. Setidaknya sudah Sembilan tahun aku tidak menjalin hubungan special dengan siapapun, karna aku sibuk mencari uang sebagai punggung keluarga. Yeah begitulah sebagai anak satu-satunya yang ditinggal meninggal ayahnya setelah lulus SMA, lalu dua tahun menjalin asmara akhirnya aku di tinggal juga karna alasan yang tak masuk akal, aku tidak kaya, dan tidak mau melakukan kontak fisik (berpegangan tangan) dengan nya, waktu itu aku sedang berusaha menghilangkan trauma ku, dan untungnya sekarang trauma kontak fisik itu berangsur membaik, berkat bantuan mama, I Love You Ma.

“baik, tumben mama Tanya kabar…” tanyaku curiga.

“penuhi permintaan mama yang terakhir ini….. mama tak akan meminta yang lain lagi….” ucap mama dengan suara serak sedih hampir menangis memintaku untuk memenuhi permintaannya.

“yang terakhir?? Hehehe mama,” aku tertawa hampa. “aku ga suka deh mama bercanda kayak gini…. Iya deh aku penuhi semua permintaan mama…” ucapku lemas langsung di sambut senang oleh mama.

“bener??” Tanya mama memastikan. “iya” jawabku.

“ya sudah, besok hari liburkan?? Pergilah kencan buta. Mama sudah membuat janji dengan teman baik mama yang baru saja pindah dari Daegu. Anak laki-lakinya seumuran sama kamu, dia juga masih jomblo.”

Daegu????” ucapku sambil menutup pintu ruang kerjaku.

Ada bos dan Yoongi yang lewat di depan ku, aku membungkuk pada Bos sebagai tanda hormat.

“Heemh… iya.. sampai ketemu di rumah ma. Kita bicara lagi dirumah.” Ucapku buru-buru dan kumatikan ponsel ku. Aku ingin bertanya tentang Daegu padanya, mungkin saja dia yang akan ikut kencan buta dengan ku besok, tapi itu hanya pemikiran konyolku saja.

Segera ku berlari pada sosok putih pucat itu setelah bos menghilang meninggalkannya di ujung lorong, dia berdiri mematung disana.

“YOONGI…!!” Kejutku dan malah berakhir kacau, kopi yang ia bawa tumpah mengenai baju dan celananya.

“Shit!!” umpatnya lalu memandangku tajam.

“YAA…ish!! Kau ini kenapa?? Gila ya!!??” umpatnya lagi penuh rasa kesal, tiba-tiba aku cegukan.

“hik.. hik.. mi hik…mian.. hik…”

eu… Wae ?? kau cegukan…??” dia masih bertanya, aku hanya mengangguk masih tercekik. Inilah kelemahanku, aku selalu cegukan saat benar-benar shock, mungkin kah ini tanda-tanda aku punya penyakit serius. Ah tidak, aku yakin aku baik-baik saja. Aku masih cegukan, lalu Yoongi pergi meninggalkan ku berdiri di lorong sendirian dengan cegukan yang suaranya menggema di kantor lantai lima yang sudah mulai kosong ini.

“ini, minumlah.” Ia datang segera padaku. Ternyata ia mengambilkan air minum untukku. Lalu dia mengajakku untuk duduk di sofa di ruang kerjanya. Aku memperhatikan suasana ruang kerjanya yang nyaman ini, heeeumm….

Gwenchana??” tanyanya sambil membereskan gulungan lembar kerjanya tanpa menolehkan pandangannya padaku. Aku tak menjawabnya, aku terkesima melihat kantor yang baru sebulan lalu di pakai nya bekerja, dan karna baru pertama kali ini juga aku masuk ke ruang kerjanya, aku terpesona pada tempat ini, bersih dan nyaman. Sebagai anak baru memanglah ia harus rajin begini, tapi omong-omong berapa usianya? kenapa dia berbicara informal padaku, aku yakin dia lebih muda dari ku pikirku, wajahnya imut dan manis memang tapi aku sempat shock karna umpatannya tadi.

Gwenchannyago ” *ku Tanya apa kau baik-baik saja* in informal way. Dia mulai melihat padaku menyadarkan ku dari lamunanku

“heuh… aku baik….” Aku menoleh padanya spontan

“kau melamun?? Wah,,, sepertinya kau banyak masalah akhir-akhir ini…” ucapnya sok tahu tapi ada benarnya sih sedikit, tentang kencan buta, ah iya aku mau Tanya dimana dia berasal.

“masalah pertama karna kau mengagetkanku, kedua kau menumpahkan kopiku di bajuku dan ketiga kau tak menghiraukan ku,” dia merinci kejadian tadi sambil berjalan ke arahku. ternyata masalah ku yang dia maksud itu adalah tentang kejadian barusan, heeeumm aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

“begitukah partner??? Saat partner lain membutuhkan perhatianmu, maka perhatikanlah dia..” omelnya membuat kepalaku pening.

“euust.. kau ini cerewet sekali ternyata. Kau tau aku ini senior disini jadi kau harus….”

SSShhtt… dia menempelkan telunjuknya pada bibirku – O.O –,beraninya dia??  menyuruhku untuk diam. Lalu dia berjalan sedikit menjauh dariku dengan senyuman manis menyambut suara yang di dengarnya lewat ponselnya. Manis juga bibirnya. Hush, pikiran apa ini?? Ingat dia tadi mengumpat padamu, dia baru mengenalmu tapi mana kesopanannya?? aku bicara pada pikiranku sendiri.

“Iya.. eoh… oppa sedang di kantor.. Wae???” dia berjalan bolak-balik di sekitar mejanya macem setrikaan, “oppa baik.. kau rindu pada oppa?? Apalagi oppa…. Oppa ingin sekali memelukmu sekarang juga… tapi kau kan ada di luar negeri sekarang.”

Percakapannya membuatku bergidik. Apa dia tahu kalau aku ini jomblo dan dia sedang memanas-manasiku dengan menelpon pacarnya yang berada di luar negeri?? Heuh dasar pamer.

“eoh, arasseo… oppa akan makan banyak… kau juga yaa… kau harus gendut saat pulang nanti, sampai oppa tak kuat menggendongmu lagi… apa?? Kau ingin jadi model??? Aa… arasseo… jaga berat badanmu yaa… annyeong…Ji Ae sayaang!!” dia mengakhiri pembicaraan di telponnya dengan nada saaangat manis, membuatku mual mendengarkannya.

“kau lihat apa?? Kenapa cengar-cengir begitu??? Jelek..” ledeknya melihatku tersenyum miring.

“Mwo?? Kurang ajar kau…” ucapku, ingin ku lempar vas bunga di atas meja ini ke kepalanya.

Tiba-tiba dia membawa gulungan kertas dari atas mejanya dengan kedua tangannya lalu memberikannya padaku menurutku itu bukan memberikan tapi sedikit melempar, dia berdiri tepat di depanku sekarang.

“ini….. kau bisa melihatnya untuk referensi kita.” Ucapnya malas.

“untuk apa kita kan punya target-target untuk…” aku menghentikan ucapanku, karna aku gugup saat dia tiba-tiba mendekat dan membungkukkan tubuhnya padaku, aku mencium aroma wangi parfumnya yang ada di sekitar tengkuknya. Jantungku berdetak kencang, deg-deg–deg

“Minggir.. kau menduduki tasku, baju gantiku ada di sana.” Ucapnya membuatku spontan berdiri dan mendorong tubuhnya, karna dia tidak mengubah posisi berdirinya, jadi posisi kita seperti sedang berpelukan tapi secara kilat. {Heuh T.T kurang *apa an sih author}

“Kau ini mesum ya….” Hina nya lagi sambil menegapkan kembali badannya dan memegangi badannya seakan salahku interaksi dadakan itu terjadi. “K kenapa jadi aku yang mesum?? Jelas-jelas kau duluan yang mendekatiku. Kenapa jadi aku yang salah?? Memangnya aku sengaja menduduki tasmu??” balasku.

“kalau ingin di peluk bilang saja. Tak usah mencari-cari kesempatan.” Ujarnya merendahkan.

“apa kau bilang!!!” aku ingin sekali memarahinya, menamparnya atau memukulnya dengan sepatu highheels ku.

“Aku memang jomblo tapi aku tak serendah yang kau ucapkan.” Untuk pertama kalinya Aku meneteskan air mataku di depan seseorang yang baru aku kenal.

“Keluar. Aku ingin ganti baju.” Ucapnya santai sambil menunjukkan lipatan rapi kaos hitamnya. Aku hanya tertegun mendengar dia berkata sesantai itu, apa dia batu yang tak punya hati? Dia tidak meminta maaf? Oh rupanya di ingin mulai peperangan dengan ku, baiklah aku terima.

“cepat, jangan sampai aku mengatakan kau mesum untuk kedua kalinya.” Ancamnya. Aku langsung berlari keluar ruangan dan masuk ke ruanganku yang tertutup tadi lalu membanting pintunya keras-keras.

“APA INI???!!” kubuang lalu ku injak-injak gulungan kertas darinya itu dilantai.

Butuh beberapa menit bagiku untuk mengatur nafasku, dan ku usap air mataku kasar. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?? Kenapa sifatnya begitu aneh, wajah dan sifatnya bahkan tak sama sama sekali. Ku kira sifatnya manis, semanis senyumnya.

“Huft…” ku kibas-kibaskan rambutku karna suhu udara di sekitar ku terasa panas. “haruskah aku meminta maaf padanya?? Atas perlakuanku tadi??” spontan ku pegang kedua lenganku mengingat pelukan tadi, itu adalah pendekatan fisik ku pertama kali dengan seorang namja. Ku kernyitkan dahiku, aku berfikir keras, aku bingung, aku mondar-mandir tak bisa tenang, lalu memandang ruangan Yoongi dari jendela, tak ada tanda kehidupan disana, ku tutup kembali rapat-rapat gordennya.

“kenapa aku yang minta maaf? Dia yang salah bukan aku. Aku hanya akan meminta maaf soal kopi.” Ucapku dan ku urungkan niatku untuk bertanya padanya, lagipula aku juga sudah lupa ingin bertanya apa.

“Ji yoon aaa… kau ada di dalam..??” tok tok tok. Seseorang memanggilku dari luar dan mengketuk-ketuk pintu ruang kerjaku. Ku intip dari samping korden jendela. Hoseok, mau apalagi dia? Batin ku. Lalu ku tutup gordennya aku membenahi dandananku setelah menangis. Dia adalah teman akrabku yang juga bekerja di tahun yang sama denganku, dia baik, tapi kadang orangnya terlalu bersemangat, dia orang yang lucu. Aku hendak membuka pintu untuknya, tapi suaranya tak lagi ku dengar lalu kuputuskan untuk mengintipnya lagi.

OMO… 0.0” aku terkejut melihat Hoseok menempelkan seluruh badannya ke jendela besar ruang kerjaku. Ku buka pintu, dan menyambutnya dengan cekikikan.

Yaa.. kau itu terlalu bersemangat mengintipku. Pergilah dari sana.. ” perintahku, lalu dia berdiri dan membenahi penampilannya dengan rapi.

“eoh.. ku kira kau tak ada di sana, jadi kuputuskan untuk mengintip dan menguping mu di dalam sana, takut terjadi apa-apa.” Jelasnya sambil melihat YoonGi berjalan melewati kami dengan mengenakan jaket dan pakaian serba hitam tanpa menoleh apalagi menyapa kami, dia berlalu pergi untuk pulang. Apa Hoseok melihat kami berdua di ruangan Yoongi tadi??

“hehehe… anniya.. tak ada apa-apa.” Ucapku.

“ayo ku antar kau pulang. Ah.. aku akan mentraktirmu dulu sebelum itu.. ayo!!” ajaknya semangat. Aku hanya manggut-manggut lalu kita berjalan beriringan menuju ke restoran yang telah dia booking. Dia berhutang padaku karna dia pernah kekurangan uang saat dia mentraktir teman-teman sekantor ke sebuah restoran di saat perayaan ulang tahunnya kemarin.

“duduk lah. Aku akan mentraktir mu hari ini… yeaayy…!!” serunya sendiri sambil menarik dan mempersilahkan aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Aku hanya bisa tersenyum “Gumawo”,

“hutang mu sudah lunas. Jadi tak usah repot-repot mentraktirku lagi seperti ini, simpan saja uang gajian mu untuk masa depan mu kelak.” Ucapku sambil meminum air putih.

“Tapi masa depan ku itu kau..” ucap Hoseok… Byur.. air yang ku minum muncrat dari mulutku dan membasahi taplak meja.

Ah mian.. tapi aku sudah di jodohkan, besok aku akan ikut kencan buta dengan seorang anak dari teman ibuku.” Ucapku dan dia mengerti arah pembicaraan ku. Aku menolaknya, nampak wajah sedih dari muka lonjongnya.

Di restoran, kami memakan makanan-makanan lezat yang telah kami pesan. Setelah itu Hoseok menunjukkan kebolehannya menghibur para tamu restoran meskipun tak di bayar, mungkin itu luapan kesedihannya karna ku tolak dia bernyanyi lagu nya ‘Homme-Aku masih bisa makan’. Aku terhibur karna Hoseok yang bermarga Jung itu menyanyi dan menari di restoran yang memiliki live cafe di sana. Untungnya Hoseok orangnya dewasa, pengertian dan ceria jadi aku masih bisa berteman baik dengannya walaupun aku sudah menolaknya barusan.  

Ddrrrrt – ddrrrrrt – drrrtttttttt  handphone ku berbunyi saat Hoseok menyanyi dengan hebohnya, dia seperti melambaikan tangan padaku mengajakku untuk menyanyi bersamanya, tapi ku tolak dia dengan menunjukkan ponselku yang berdering padanya, “aku mengangkat telfon dari mama ku dulu…”

Aku keluar menuju balkon restoran, “Halo Mama,”

“kamu dimana nak?? Kok belum pulang??”

“aku lagi makan sama temenku, dia yang mentraktirku.”

“oh, temen cowok apa cewek??”

“cowok, kita Cuma temen biasa kok ma… temen kantor biasa. Udah ya mah… aku ini mau pulang.. aku tutup dulu.. nanti lagi” segera ku tutup pembicaraan ku, karna mama pasti membahas nya sangat lama di telfon, apalagi dia tahu kalau aku sedang bersama seorang cowok.

Di jalan kampung yang sepi menuju rumah ku, aku berjalan seorang diri di malam hari. Sengaja aku meminta Hoseok untuk menurunkanku di ujung gang karna aku sungkan padanya. Terlalu merepotkan nanti jadinya. Hari yang melelahkan, aku meregangkan otot-otot di leherku tiba-tiba aku mendengar suara aneh di tikungan jalan menuju rumahku.

Krusekkk sshreek ssshreekk bruk srheekk sshreek….

Terdengar suara aneh dari tempat sampah, suara apa itu?? Kenapa aku jadi merinding begini, di jalan yang sepi ini, siapa yang akan keluar malam-malam begini?? Muncul pikiran-pikiran aneh di kepalaku, aku memberanikan diri untuk mencari tau, aku berjinjit lalu mengendap-endap layaknya maling.

“Hyung jahat sekali membuang barang-barang kesayanganku.” Terdengar samar suara serak-serak basah seorang bocah laki-laki. Semakin dekat aku melihat ternyata benar hanya seorang bocah yang kebingungan mengorek-orek sampah mencari sesuatu. Kasihan sekali, aku mendekat padanya.

“Hey bocah, lagi apa??” tanyaku sopan.

“Ah,, annyeong haseiyyo Nuna…   aku mencari barang ku di sampah. Hyung ku membuang mereka semua.” Jelasnya hampir menangis, imut sekali bocah ini. Ingin rasanya ku menenangkannya dengan memeluknya.

“barang apa?? Tega sekali Hyung mu itu ck??” ucapku memihak padanya.

“SUDAH KETEMU BELUM VIDEO BIRU MU PARK JIMIN???” terdengar teriakan cempreng dari seseorang lantai dua sebuah rumah di tikungan gang ini.

“ISH, menjijikkan sekali dia.” Komentarku. Si bocah hanya mengernyitkan dahi melihatku berkomentar seperti itu.

“Siapa namamu bocah??” tanyaku dengan tersenyum.

“Park Jimin…” jawabnya polos.

“P… P.. park jimin??” ucapku gagap aku sungguh terkejut, ternyata bocah polos ini. Belum selesai aku bergelut dengan pikiranku tiba-tiba seseorang memanggil Jimin.

“YAA paark JIMIIIIN…” panggil pria itu terus menerus dari dalam rumah yang dilingkari pagar tembok kokoh berlantai dua itu, dia membuka gerbang rumahnya untuk mencari bocah yang ada di hadapanku ini.

Haaaaaaet.. aku cegukan lagi. Suara itu ternyata adalah suara Min Yoon Gi.

“Hyuuuung…” bocah itu berlari menuju YoonGi, Hyung nya.

“hik-hik-hik….” aku cegukan lagi.

“Jimin-ah ambilkan minum.” Perintah Yoongi.

“Tidak-tidak perlu, aku takut terjadi apa-apa nanti padaku,” cegahku. “tak kusangka kau adalah orang mesum, dan kau mengajari adikmu….”

“YAA enak saja kalau bicara… aku menjaganya dengan baik agar menjadi anak baik. Awas kau jika menyebarkan berita tak benar tentangku dan keluargaku.” Ancamnya lagi.

“Hyung sudah ketemu!! ” seru jimin menunjukkan Video robot-robotan berjudul BLUE.

“ayo kita main kan game ini, maafkan hyung yah, hyung tidak sengaja membuangnya tadi saat bersih-bersih.” Ucap YoonGi lembut meminta maaf lalu mengusuk kepala adiknya yang selisih 1 senti darinya itu, Jimin hanya mengangguk tersenyum sumringah.

“Ayo Nuna, mampir.” Ajak Jimin, aku hanya mematung melihat YoonGi memasuki rumah.

“ah Tidak, aku harus pulang, besok ada acara.” Jawabku menolak Jimin dengan sopan.

“sudah pulanglah sana. Kau pasti lelah setelah menari dan menyanyi bersama hoseok tadi,” ucapnya sambil mengeluarkan kepalanya saja. Aku terkejut, dia tahu dari mana?? Aku rasa dia tadi tak ada di mana pun aku berada. Apa dia mata-mata??.

Dia menutup pagar lalu masuk kedalam rumahnya. Cegukanku sudah hiilang dengan sendirinya.

aku pulang dengan kepala tertunduk, aku merasa malu padanya. Setelah berjalan sangat lambat aku sudah berada di depan rumah ku.

“APA?? YoonGi tetanggaku??” aku baru sadar bahwa YoonGi pindah di sebelah rumahku.

Yoongi’s POV

Aku baru keluar dari ruang kerja ku dan aku melihat Jiyoon dan Hoseok berbincang-bincang sangat akrab. Apa peduliku, aku hanya melewati mereka berdua tanpa berinteraksi dengan mereka. Meskipun aku sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan pada Jiyoon, aku terlalu kasar padanya tadi, dan tentang pelukan itu ah, aku kira dia akan baik-baik saja. Setelah keluar gedung kantor aku berjalan di sekitar bangunan besar dan tinggi, aku tak tahu dimana ini yang jelas aku hanya ingin jalan-jalan menyusuri jalan ke rumah baru ku yang ada di Seoul karna aku baru saja pindah dari Daegu. Cukup lama aku berjalan aku melihat Jiyeon dan Hoseok makan malam bersama, dan mereka bersenang-senang di kafe itu.

“kenapa aku berdiri disini??” ucapku membuyarkan lamunanku menatap keserasian mereka.

Di rumah baru ku aku tinggal dengan ibu, dan adik ku bernama Park Jimin, dia memang bukan adik kandung melainkan adik sepupu yang telah kami anggap sebagai adik tengah dan adik bungsuku sedang pergi berobat.

“Nak, lihatlah calon mu ini, dia cantik dan terlihat menawan bukan??” ucap eomma sambil menunjukkan foto pada ku, UHUK… aku yang sedang makan langsung terbatuk.

“benarkah ini dia??” ucapku tak percaya.

“Jiyoon, namanya. Kau kenal??”

“dia teman kantorku. Malu aku! Apa eomma memberi keluarga mereka fotoku??” tanyaku.

“Belum, ibu tak bisa menemukan foto mu satu pun.” Keluh eomma

“Jangan eomma, aku belum siap. Aku akan menemui eommanya besok, atau aku akan menelpon eommanya sekarang.” Ucapku terburu-buru mencari ponsel eomma.

“Jadi kau menyetujui perjodohan ini??” Tanya eomma dengan ekspresi senang. Aku mengangguk dengan mantab. Aku menggeser-geser layar ponsel eomma dan akhirnya ketemu juga, Jiyoon Mama.

annyeong haseiyyo, Jiyoon-ie mama. Saya Min Yoongi”

“SIAPA? Min Yoongi?? Calon menantuku??” ucap suara di sebrang sana sangat senang.

“ah Nae, saya kira Jiyoon belum pulang benarkan??” tebakku.

“iya benar, dia sedang keluar dengan teman kantornya.” Ucap mama hati-hati. Heuh Jung Hoseok batinku.

“Ah, itu bagus, karna saya akan lebih leluasa mengutarakan apa maksud saya menelpon Jiyoon-ie mama.”

“panggil mama saja, aku sudah menganggapmu sebagai mantuku karna keberanian mu menelpon ku tanpa mengetahui wajahmu.”

“aih, maaf mama aku harus mencari pekerjaan waktu itu, untuk masa depan kita. Baiklah besok mama boleh melihat wajah calon mantu mama ini, mampirlah kami akan memindahkan barang-barang kami ke rumah.” Ucapku dengan pedenya

“hehehe, mama hanya bercanda tadi. Tentu mama akan mampir, jadi apa tujuan mu tadi nak??”

“euhm,,, begini. Aku minta tolong. Tolong rahasiakan identitas diriku dari Jiyoon, karna kami teman sekantor, aku ingin mendekatinya secara natural. Mama bisa membantuku kan?? Berpura-puralah untuk ku. Aku juga serius ingin menikah tahun ini, saya berharap bulan depan kami bisa menikah.” Aku memohon pada mama Jiyoon.

“saya juga butuh waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, jadi aku harap mama bisa mengerti. Besok kami akan sangat repot mengurus perpindahan adikku dari Busan. Tapi tolong beri tahu Jiyoon bahwa keluargaku yang pindah berasal dari Daegu bukan dari Busan jika Jiyoon bertanya pada mama, dan jangan beritahu namaku, panggil saja terserah mama.” Jelasku panjang lebar, aku benar-benar gugup sebenarnya menghadapi Jiyoon, aku benar-benar butuh waktu, aku tak pernah mendekati wanita lagi selepas SMA, jadi saat aku mengetahui Jiyoon jomblo tadi aku merasa senang karna aku bukanlah satu-satunya orang yang jomblo saat ini.

“mama mengerti, baiklah mama akan menamai mu tuan Min saja. Yoongi tolong berikan telpon ini pada eomma mu.. mama ingin bicara padanya..”

“terima kasih mama. Ini eomma,.” Ucapku lalu memberikan telponnya pada eomma.

“Hyung, kemana video biru ku?? Videogame kesayangku, awas saja kalau hilang gara-gara hyung membuangnya, aku tidak akan tinggal diam.” Ucap Jimin mendekati Yoongi yang duduk di kursi meja makan hendak meneruskan makanannya,

“ah, hyung lupa, mungkin hyung tak sengaja membuangnya di tempat sampah.” Jawabku mengingat-ingat videogame robot entahlah apa itu millik Jimin. Dia langsung keluar mencari barang-barang kesayangnya itu di tempat sampah depan rumah.

Yoongi’s POV off.

 

SEE ya the next shoot !! Kiss Bye copying SeokJin Oppa. Sorry for the too high goal ☺… #plakk.

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance ] I Will Try It – (Twoshoot #1)

  1. Parkdongseob29

    Ceritanya lucu dan ngga biasa thor.. Keren(y)
    Aku cuma mau bilang, lebih teliti lagi dalam memilih kata, dirapiin lagi penulisannya, selebihnya udah oke. Author 대빡!!((;

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s