[Boys Meet What?] An Awkward Neighbor – Oneshot

boys-meet-what-an-awkward-neighbor-oneshot

AN AWKWARD NEIGHBOR

Author: ARA

Genre: Romance, Comedy

Length: Oneshot

Rating: Teen

Cast:

Min Suga

Lee Haeyon (OC)

BTS Member

Disclaimer: Fanfiction ini murni hasil khayalan saya. No offense apapun itu apabila ada yang tidak berkenan dalam fanfiction ini. BTS belong to God.

Summary:

Semua hal bodoh terjadi padaku ketika berada di hadapannya. Aku tidak bisa mengendalikan aura kecanggungan yang selalu meliputi kami setiap kali kami menginjakkan kaki di tempat yang sama dan di waktu yang sama.

 

*Lee Haeyon POV*

Berdiri tepat di depan sebuah bangunan bertingkat dimana bibiku tinggal. Begitu masuk, flat ini ternyata tidak terlalu besar, aku bisa menghitung hanya ada sepuluh pintu di dalamnya. Sialnya, flat milik bibiku berada di lantai empat. Ha, bukan masalah jika aku datang dengan tangan kosong akan tetapi aku membawa satu koper besar dengan satu tas jinjing yang begitu berat. Terpaksa aku harus naik turun dua kali.

Dengan rasa kemenangan yang seolah olah baru saja kuraih dari laga Olimpiade, kuberhasil menganggkat semua barangku ke lantai 3. Lalu sebuah suara yang familiar berdenting. Ketika aku berbalik, seseorang keluar dari lift dan menatapku heran. Cerdas. Aku tidak sadar bahkan ada lift disini.

“Haha, apa yang aku lakukan? Bodoh,” gerutuku tertawa renyah.

Flat yang dituju bernomorkan 6 yaitu pintu ke-2 dari ujung. Janggalnya, ruangan di sebelah flat bibiku nampak lebih luas. Entahlah. Aku baru tersadar terdapat sebuah electronic door lock yang tertempel di dinding.

“Kenapa Imo tidak memberiku passwordnya?” gerutuku lagi.

Ponselku mati karena kehabisan baterai. Sejak tadi tidak ada satu penjagapun yang aku lihat di lobby. Sehingga tak ada satupun orang yang bisa kutanya. Kemudian aku memutuskan untuk duduk di atas koper karena aku begitu lelah untuk untuk membongkar koper mengambil power bank  setelah mengangkat koper seberat 8 kg ke lantai 4.

Tak lama terlihat segerombolan pria yang berjalan keluar lift dan menuju ke arahku. Tidak begitu jelas terlihat wajahnya karena aku tidak memakai kacamata. Masih terus kuperhatikan apa mereka tinggal di sebelah flat milik bibiku? Seiring melangkah mendekat, lagi-lagi aku bertanya pada diriku. Apa aku salah liat? Mereka seperti…

“Oh annyeong. Kamu Lee Haeyeon keponakannya Lee Eunbi?” tanya seorang pria yang nampak berumur pertengahan 30 jalan mendahului yang lainnya.

“Anyyeonghaseo. Ya, saya Lee Haeyeon. Apa Imo menitipkan pesan pada Paman?” tanyaku.

“Ya, dia menitipkan sebuah amplop. Tunggu sebentar ya,” tuturnya ramah seraya memasuki flat besar di sebelahku.

Sekelompok pria yang kulihat diujung koridor tadi sudah berada tepat di hadapanku.

BTS! BANGTAN SEONYONDAN! BOY GROUP yang sedang memuncaki berbagai music chart tahun ini.

Kali ini aku tidak salah, aku bisa melihat mereka dengan sangat jelas dari jarak kurang dari dua meter.

Tertegun. Aku tidak tau sebodoh apa ekspresiku tapi ya, aku tidak bergeming melihat mereka.

“Haeyeon-ssi, ini dia,” seru pria berumur 30-an itu dari dalam ruangan menyerahkan sebuah amplop.

“Oh ya, te-terima kasih,” jawabku terkejut dan bingung.

Sekelompok pria tadi satu persatu memasuki ruangan dimana pria berumur 30an tadi keluar menemuiku. Masih dengan rasa tidak percaya, kumiringkan sedikit kepalaku melihat ke dalam ruangan memastikan apa yang baru saja aku lihat.

“Kaget ya? Tidak apa, anggap saja kami tetangga biasa. Saya Ryu Dongguk, manajer mereka,” katanya.

Aku mengangguk malu menjawabnya.

Lelah. Rasanya bukan main berdiri di bus selama 45 menit dari kampus. Kakiku keram, perutku mulas. Aku tidak tahan lagi, aku berlari menuju lift flat dan menekan tombol tutup. Namun seseorang tiba-tiba berlari memberi isyarat untuk tidak menutup pintu lift. Dari ujung mata, bisa kulihat dia adalah Suga. Ya! Hanya ada kami berdua di lift. Dengan rasa penasaran, aku meliriknya.

Berekspresi datar, menunduk melihat layar ponsel miliknya. Aku kecewa. Kenapa dia tidak menyapaku? Ah, apa dia bilang terima kasih sebelumnya? Aku rasa tidak.

Tiba-tiba rasa sakit perutku menjadi-jadi. Aku baru ingat sudah dua hari ini pencernaanku kurang lancar. Tolonglah cepat sampai. Aku sudah tidak sanggup menahannya. Dan benar saja, bau angin tak sedap menyeruak. Aku mohon aku mohon semoga dia tidak menciumnya. Sambil memegang perut, aku milirik Suga yang berubah ekspresi dengan menyerngitkan hidung dan menoleh ke arahku. Aku kembali menunduk tak berani melihat matanya. Ketika pintu lift terbuka, Suga berjalan mendahuluiku sedangkan aku menunggunya sampai masuk ke flat kemudian baru berlari menuju flatku.

Gila, kenapa aku sudah melakukan hal-hal bodoh di depannya yang belum pernah terjadi selama hidupku. Kenapa?

Berendam di bathup ketika tubuhku begitu letih membangkitkan suasana hati menjadi baik. Kemudian aku menggulung rambut dengan handuk dan membalutkan diriku dengan setelan baju handuk.

Kulangkahkan kaki menuju balkon, menghirup udara sore yang segar dengan pemandangan taman di bawahnya. Bersenandung sambil menjemur pakaian yang baru saja kucuci tentunya. Mataku menyapu sekeliling dan bertemu dengan beberapa pasang mata tertegun memandangiku dari balkon sebelah.

Membeku, melihat mereka yang juga sedang menatapku.

Apa yang baru saja aku lakukan? Aku melihat diriku yang masih memakai setelan baju handuk dan dengan sehelai handuk yang masih terlilit di kepalaku. Ditambah lagi pasti mereka melihat pakaian dalam yang sedang aku jemur.

“Haish,” keluhku segera mengambil kembali pakaian yang kujemur dan masuk ke dalam ruangan.

Bodoh. Aku lupa bahwa ada tujuh pria berdarah panas di sebelah flat ini. Mereka melihatku seperti ini? Aaaak. Kubenamkan wajahku pada bantal sofa dan meringkuk menahan malu. Bisa kupastikan saat ini mereka sedang menertawaiku. Ya, samar-samar bisa kudengar tawa mereka.

Secangkir kopi menemani malamku untuk menyelesaikan semua deadline. Udara musim gugur yang segar berhembus melalui balkon dimana aku menghabiskan waktuku saat ini. Meletakkan kacamataku di atas meja berkayu lalu berdiam diri menikmati suasana malam.

Terdengar bunyi pintu kaca yang berderit. Salah seorang penghuni flat sebelah nampaknya ingin menghirup udara segar juga. Seketika pria yang sedang menggenggam buku pelajaran Bahasa Mandarin itu menoleh ke arahku dan bereaksi canggung. Ia menampakkan gelagat untuk kembali masuk ke dalam.

“Aku sudah selesai kok,” ujarku tersenyum pada Jeon Jungkook.

Dia hanya mengangguk dan menggigit bibirnya mengisyaratkan tak enak hati.

“Sudah larut malam, jangan di luar terlalu lama,” kataku sambil membereskan laptop dan buku-buku.

“Aku baru selesai latihan tetapi ada tugas yang dikumpulkan besok. Jadi harus kukerjakan,” ujarnya yang membuatku sedikit kaget karena ia merespon perkataanku.

“Susah?” tanyaku melirik Jungkook.

Dia hanya tersenyum meringis.

Sesungguhnya aku kasihan padanya. Pasti begitu melelahkan tapi masih harus dituntut mengerjakan kewajiban lainnya.

“Mau aku bantu? Kebetulan aku suka Bahasa Mandarin,” tawarku.

Matanya terbelalak lalu nampak sedikit ragu menerima tawaranku. Namun akhirnya ia setuju.

Kukerjakan semua soal dan pemberian penjelasan pada jawaban di buku Jungkook dalam waktu satu jam. Setelahnya, Joen Jungkook berterimakasih serta menjadi lebih ramah dan tidak canggung lagi. Bahkan Jeon Jungkook masuk ke dalam ruangan dan mengucapkan selamat tidur. Memang agak canggung di awal karena statusnya sebagai seorang artis tetapi sekarang aku merasa dia hanya seperti dongsaeng yang tinggal di sebelah rumahku.

Menonton tv di rumah ketika hujan deras mengguyur kota adalah hiburan terbaik. Terlebih, program tv di hari Minggu malam bermandikan film box office. Tidak ada alasan bagiku untuk mengeluhkan hujan. Akan tetapi kesenanganku ini tidak bertahan lama, sebuah petir menghantam dengan keras lalu seketika suasana menjadi gelap. Tentu aku terkejut. Aku terdiam, berpikir apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tau dimana ponselku, apalagi mencari senter. Lalu kuputuskan untuk berjalan dalam kegelapan, keluar menuju pintu flat.

Sungguh aku mati ketakutan. Tanpa pikir panjang, aku memencet bel flat di sebelahku.

“Apa ada Jeon Jungkook?” tanyaku panik pada Suga yang membukakan pintu. Entah mengapa hanya Jeon Jungkook nama yang kuingat.

“Belum pulang,” jawabnya datar.

“Ahjussi?”

“Mereka berdua masih di kantor,” jawabnya.

“Ada apa?” lanjutnya yang melihatku kebingungan.

“Listrik di flatku tiba-tiba saja mati. Aku bingung. Aku tidak tau dimana bibiku menyimpan senter, aku juga tidak tau dimana aku meletakkan ponselku,” kataku khawatir.

“Tunggu sebentar,” serunya seraya kembali masuk.

Tidak lama, ia kembali membawa senter dan memasuki flat milik bibiku.

Aku bersyukur ada orang yang masih peduli padaku di saat saat seperti ini.

Dengan langkah yang mantap, ia berjalan di depanku mencari sakering listrik. Dan aku hanya bisa mengekor di balik punggungnya.

Suga mulai menganalisis apa yang sudah terjadi dengan menyenteri sakering tersebut.

“Konslet, jangan bilang kamu tadi nyalain tv ya?” selorohnya.

Anggukku polos.

Suga menghela nafas mendengar jawabanku.

Kemudian Suga membantuku mencari lilin atau lampu emergency.

Hujan tidak kunjung reda, suara petir tiba-tiba menggelegar disertai kilatannya yang menakutkan. Aku yang sedang meraba-raba membuka laci lemari, spontan menarik lengan Suga yang berada disamping. Jantungku berdetak kencang, sungguh aku merasa ketakutan. Setelah sepersekian detik, aku baru sadar bahwa tanganku masih memegang erat lengannya. Dengan polosnya aku melihat Suga yang sedang melihat ke arahku juga.

“Takut,” curahku lirih.

Lalu ia menggeser posisinya menghalangi pintu kaca balkon dan menutupi diriku dari kilat petir yang kembali memecah kesunyian kami.

“Ok, kita lupain soal lilinnya. Kita ke flat ku sambil menunggu teknisi datang,”ujarnya menenangkan kali ini.

—-

Pemandangan pagi hari nampak lebih sempurna ketika melihat Suga bermain basket di taman belakang flat. Suga memang tidak setampan Taehyung atau Jin tapi entah mengapa ada karisma di dalam dirinya yang bisa membuat perempuan terpikat. Apalagi setelah ia menunjukkan sosoknya yang perhatian ketika insiden mati listrik itu, aku makin jatuh hati. Melihatnya dari atas balkon begini saja sudah membuatku senang.

Aku pikir hanya aku yang bisa mengawasinya sepihak, ternyata seketika Suga mendongak ke atas. Mata kami bertemu. Ya Tuhan, aku ketahuan! Dia tau aku memerhatikannya sejak tadi?

“Kenapa tidak senyam senyum lagi, Noona?” seloroh Jungkook dari balkon sebelah mengagetkanku.

“Ketauan ya?” lanjutnya menggodaku.

“Ha?” responku berlaga bodoh.

“Dari kami bertujuh siapa yang paling Noona suka?”

“Suga,”

“Eh…” lanjutku yang terkejut dengan jawaban spontanku.

Jeon Jungkook tidak sendiri, ternyata ada Taehyung yang sedang berdiri dibalik pintu kaca balkon. Dia juga tersenyum meledekku.

Entah mengapa aku begitu hobi mengerjakan tugas di balkon walaupun udara musim gugur sangat dingin. Mungkin karena tidak ada balkon di kamar asramaku.

Dengan daya konsentrasi penuh, semua bagianku untuk tugas kelompok hampir selesai setelah tiga jam duduk di atas kursi kayu. Di tengah-tengah penyelesaian tugas, ponselku berdering.

Betapa kesalnya aku bahwa terdapat perubahan konsep dalam tugas. Tentu aku marah-marah. Kenapa ketua kelompokku ini tiba-tiba berubah pikiran setelah mencapai kesepakatan bersama? Kenapa hanya aku yang protes? Oh ya tentu saja karena hanya aku yang sudah mengerjakan semuanya.

“Terserahlah,” sahutku menutup telepon. Begitu kesalnya, kertas konsep yang baru saja aku salin dari percakapan kami aku buat lecak lalu asal melemparkannya. Langsung aku terkesiap kertas itu menyangkut di jemuran para pria tersebut yang berisikan pakaian dalam mereka.

“Haa bodoh! Aku menuliskan namaku di kertas!”

“Aaaaaaaak kenapa ini kejadian lagi?”

Mungkin  apabila aku memanggil Jeon Jungkook dengan berbisik, dia akan keluar?

“Aku berbisik memanggil Jungkook dari balkon.

Seseorang membuka pintu kaca balkon. Dan dia bukan Jungkook. Begitu tau, aku langsung mengendap-ngendap kembali masuk ke dalam dan segera menuju koridor flat untuk memencet bel flat mereka. Akan tetapi, sesampainya aku di depan pintu, aku hanya mondar-mandir tidak jelas. Aku ragu, apa mungkin kubiarkan saja? Aaaak tapi aku tidak punya salinan konsep tugas yang baru!

“Tapi bagaimana kalau aku nanti ditertawakan lagi?” pikirku.

Jungkook tiba-tiba muncul membuka pintu memegang kantung sampah.

Padanganku menyapu seisi ruangan yang nampak dari luar dan melihat Suga tepat di belakang sana sedang memegang gumpalan kertas yang aku lempar tadi. Kedelapan pasang mata pria di flat tersebut menatapku bingung. Lalu Suga berjalan ke arahku.

“Tersangkut diantara pakaian dalam kami,” celetuknya memberikan kertas tersebut padaku.

“Aku minta maaf,” kataku membungkuk lalu pergi begitu saja. Cepat-cepat kututup pintu dan menguping apa reaksi mereka terhadap hal ini.

Tawa mereka menggelegar. Bisa kudengar semuanya dengan jelas dari atas balkon.

“Ya~ kenapa dia begitu lucu?”

“Lumayan jadi hiburan,”

“Sepertinya dia takut sama Yoongi Hyung,”

Semua celotehan dan dugaan mereka, aku bisa mendengarnya. Apa yang kalian bicarakan? Hentikan.

Bye bye, Image.

Seseorang memencet bel ketika aku sedang memasak. Masih mengenakan apron, kubukakan pintu.

Sedikit terkejut karena Suga berdiri di hadapanku.

“Ini kontak teknisi untuk berjaga-jaga kalau ada masalah lagi di rumah. Kalau mereka datang, kamu cukup mengawasi mereka dari dekat pintu, pastikan pintu kamarmu dikunci dan selalu kondisikan pintu flatmu terbuka. Satu lagi. Jangan menyalakan tv ketika hujan,” jelasnya tiba-tiba panjang lebar.

Rasanya ini kalimat terpanjangnya yang pernah ia katakan padaku.

Tidak begitu paham kenapa dia tiba-tiba menjelaskan ini padaku.

“Memangnya kenapa?” tanyaku bingung.

“Kami mau pergi selama seminggu. Aku cuma ingetin kamu untuk hati-hati.”

Suasana hening sejenak. Suga pamit mengakhiri kemudian berjalan meninggalkanku.

“Suga-ssi, terimakasih,” ucapku walaupun ia terus berjalan dan tidak merespon ucapanku.

Kenapa tiba-tiba dia berubah menjadi manis seperti ini? Aku yakin wajahku tidak akan berhenti tersenyum ketika memikirkan hal ini. Jangan-jangan dia menyukaiku?

Seketika aku teringat pada kejadian saat aku mempermalukan diriku sendiri di hadapannya. Insiden pertemuan hari pertama, bau anginku di lift, ketahuan memandanginya dari jauh, kertas tugasku yang tersangkut di pakaian dalamnya. Ah gila, bisa-bisanya aku mengkhayal dia menyukaiku? Rasanya aku sudah tidak punya harga diri lagi di depan mereka.

Ruang tv penuh dengan buah tangan yang dibawa bibiku dari Busan. Kami sibuk membuka kardus-kardus berisikan makanan, snack, souvenir, dan lainnya. Tidak hanya itu, setelahnya aku harus membantunya membungkus kembali  oleh-oleh tersebut  untuk diberikan kepada orang-orang terdekat.

Bibi memintaku untuk memberikan salah satu bungkusan yang besar pada Dongguk Ahjussi, langsung saja kuberlari ke kamar lalu membuka lemari baju. Telunjukku mencari baju mana yang bagus untuk aku pakai.

“Okay, aku harus terlihat senatural mungkin tapi tetap terlihat menarik,” gumamku mengangguk memilih setelan yang tepat.

Aku memilih baju terusan sedengkul berwarna biru langit. Sederhana, tapi manis. Setelah itu aku menata poni dan rambutku yang seleher agar terlihat rapi. Tidak lupa aku memakai bedak, sedikit lip tint, dan mungkin sedikit eye shadow. Maskara? Ehm sepertinya, blush on saja.

Berlebihan? Aku rasa tidak. Apa salahnya sedikit berdandan ketika mengunjungi tetanggamu?

Bibiku hanya menatapku bingung begitu keluar dari kamar.

Baiklah, aku harus terlihat sesantai mungkin. Jangan gugup! Fighting!

Begitu aku memencet bel, Taehyung muncul membukakan pintu lalu menyapaku ramah.

“Annyeonghaseyo,  ini ada oleh-oleh dari bibiku,”

“Wah terima kasih banyak,” ucap Taehyung  sambil kuserahkan oleh-olehnya.

Harusnya dia mengajakku masuk, ya kan? Tapi ternyata dia hanya tersenyum melihat-lihat buah tangan yang kuberi.

“Kalau begitu aku permisi dulu,” pamitu. Kecewa. Untuk apa aku berdandan begini?

Aku hanya bisa berbalik dan berjalan lesu meninggalkan Taehyung.

Dongguk Ahjussi yang tiba-tiba menyelorokkan kepalanya dari balik pintu memanggilku masuk ke dalam. Tentu saja aku menghampirinya dengan senang hati. Ahjussi mempersilakan aku masuk selagi memberikan buah tangan yang mereka bawa dari show tour.

Dan benar saja, ketujuh personil BTS lengkap sedang duduk di ruang tv. Bukankah ini jackpot?

Ahjussi mempersilakan duduk kemudian dengan sigap mereka bergeser dan meluangkan tempat bagiku di sofa.

Tiba-tiba aku merasa gugup dan tidak bisa berpikir dengan benar bahkan hanya menjawab pertanyaan Jungkook.

Tiba-tiba Bibiku memasuki flat BTS.

“Haeyon tadi lupa seharusnya dia juga membawa ini untuk kalian,” ujar bibiku memberikan oleh-oleh yang tertinggal.

“Waaaah terima kasih banyak,” jawab Ahjussi Dongguk.

“Noona habis darimana?” lanjut Jungkook bertanya padaku.

“Kenapa?” tanyaku penuh harap.

“Kelihatan rapi hehe,” jawabnya polos.

Rapi? Ini bukan jawaban yang aku harapkan. Tidak ada kata lain apa? Cantik misalnya?

“Haeyon tidak dari mana-mana kok. Tadi setelah kusuruh  memberikan oleh-oleh ini, dia langsung masuk kamar dan berpenampilan rapi,” celoteh Bibiku.

Habislah aku! Apa yang barusan Bibiku katakan? Kenapa? Kenapa harus bilang seperti itu?

“Oooow,” seru beberapa anggota BTS menggodaku.

“Hei sudah, tidak lihat wajah Haeyon memerah?” bela Ahjussi.

“Ehm, kami permisi dulu. Terima kasih juga oleh-olehnya. Annyeonghaseyo,” ujarku tiba-tiba berdiri dan menarik lengan bibiku.

“Eh tunggu kita makan bersama saja!” usul Ahjussi.

“Siapa yang ingin pulang? Imo baru memesan chicken dan pizza untuk kita semua,” kata bibi padaku yang malah duduk bergabung bersama mereka.

Lagi –lagi aku mematung karena malu.

“Ayo Noona, sini duduk!” ajak Jungkook.

Sebenarnya bukan situasi seperti ini yang aku harapkan. Aku merasa seperti orang luar angkasa yang tidak mengerti arti obrolan dan tawa mereka semua.

“Oh ya, kamu suudah berkenalandengan mereka semua? sepertinya hanya Jungkook yang kamu kenal,” ujar Imo di tengah-tengah pembicaraan.

Refleks, aku menoleh sesaat pada Suga yang duduk tepat di sebelahku.

“Gadis Korea mana yang tidak kenal mereka?” gumamku.

“Ohya maaf belum pernah memperkenalkan diri. Namaku Lee Haeyon. Panggil saja Haeyon,” sapaku gugup.

“Oh ya, Haeyon Noona seumuran dengan V dan Jimin Hyung,” tambah Jungkook.

Bibi mengucapkan rasa terima kasihnya karena telah membantuku ketika ada insiden listrik konslet saat itu.

“Setelah itu, dia meneleponku jam 12 malam. Haeyon cerita panjang lebar kalau Suga sudah banyak membantunya. Awalnya dia bahkan takut dengan Suga tapi sekarang Haeyon sangat menyukaimu. Pokoknya dia tiba-tiba suka chatting dan membicarakan tentangmu,” bongkar Bibi.

Oh harga diriku. Ini gila. Ini benar-benar gila. Mereka membicarakan aku di depanku?

Geudeyo?” tanya Suga tersenyum.

“OH! Yang di balkon kan?!” V menoleh pada Jungkook.

Jungkook sumringah tidak enak hati padaku. Lalu aku hanya memilih tertawa getir dan melahap pizza memenuhi mulutku.

“Suga-ssi, menurutmu Haeyon bagaimana?” seloroh Bibiku bertanya tentang hal yang benar-benar membuatku terkejut. Tenggorokanku begitu saja tercekat.

Sejujurnya aku penasaran dengan jawabannya, akan tetapi aku takut  jika jawabannya memalukan.

“Lucu,” jawabnya singkat, cepat tanpa bertele-tele.

“Oooooooooow,” ketujuh pria selain Suga bersorak.

LUCU? Jantungku rasanya seperti sedang menuruni lintasan jet coaster yang curam. Rasanya ingin meledak. Aku senang sekali. Hei, ada berapa banyak gadis yang dia akui lucu, huh?

“Anjingku di rumah juga lucu. Lucu bagaimana maksudnya?” goda Namjoon.

Mereka terkekeh mendengarnya.

Jot otteyo?” potong Suga tiba-tiba mengagetkanku. Dia tepat berada di hadapan mukaku,  menyandarkan bahunya ke lengan sofa agar bisa melihat ekspresi wajahku.

Apa? Apa yang kamu maksud dengan bagaimana pendapatku tentangmu? Gila. Tidak seharusnya dia menyerang hati seorang gadis dengan tembakan pertanyaan maut seperti ini. Bahkan sepersekian detik yang lalu ketika ia menatapku, bisa kurasakan semburat darah mewarnai rona merah wajahku, bahkan jantungku berdegup sangat kencang.

Aku kembali terbatuk-batuk. Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa.

Susana hening, semua mata tertuju padaku, menyunggingkan senyum menggoda.

“Manis,” jawabku spontan.

“Aaaaaaaaaaak,” sorak BTS heboh.

Sontak bisa kulihat dari ujung mata, Suga tidak dapat menahan senyuman di bibirnya.

Tak terasa kami berbincang-bincang hingga larut. Aku tenggelam dalam kebahagiaan sederhana ini. Setidaknya, aku berharap malam terakhir ini bisa meninggalkan kesan indah bagi kami.

Matahari masih sedikit bersembunyi, belum menampakkan sinarnya yang terang. Supir taxi memasukkan koper dan barang-barangku yang lain ke dalam bagasi. Jungkook yang masih mengenakan baju tidurnya menemani bibiku mengantar kepulanganku.

Terasa janggal, seperti ada yang tertinggal. Aku berekspektasi terlalu tinggi, tetapi aku tidak sanggup menahan diriku untuk tidak mendongakkan kepalaku. Agak terkejut, ternyata Suga sedang memandangi kami dari atas balkon. Aku menyimpulkan senyum padanya. Kemudian ia membalas dengan senyuman pula. Senyuman yang mungkin akan terakhir kali aku lihat seketika mencubit hatiku. Agak nyeri rasanya.

Mimpi indahku berakhir sampai disini. Entah apakah kami akan bertemu lagi di lain waktu. Entah apakah kami semua bisa saling menyapa seperti ini lagi. Entah apakah mereka mengingatku. Yang jelas, tidak mungkin aku melupakan setiap detik momen bersama kalian. Semoga kalian semakin sukses tanpa melupakan sejatinya kalian adalah manusia biasa. Tetaplah menjadi pribadi yang hangat.

 

Advertisements

25 thoughts on “[Boys Meet What?] An Awkward Neighbor – Oneshot

  1. Thamie

    Aaahhh…bikin baper…ngebayangin klo jadi haeyon, berasa kaya menang lotre…ceritanya bikin hati tergelitik gimana gituuu, bikin meleleh…bayangin aenyuman cool suga…😍😍😍

    Liked by 1 person

  2. Naera

    Aaaaaaaa gemes , gokil dan manis banget jalan ceritanya😄😄😘😘😘😘, berandai2 kalaau dilanjutin ceritanya
    Baca ff ini bikin ikutan jatuh cinta sama suga💋

    Liked by 1 person

  3. darapida

    campur aduk perasaan waktu bacanya, sweet tp sad jg.. aaaaaaaa.. author bagus banget ff nya, bahasanya enak dibaca ngga bertele-tele..
    lanjut thor hehe
    fighting

    Like

  4. Yuki Chan

    tentu saja nanti aku mampir 🙂 btw aku suka gaya bahasa author. Ajarin aku dong :3 aku juga lagi belajar bikin ff hehe eh author punya fb ga? Biar kita bisa kontekan gitu? Wkwk oh ya semoga sukses juga buat skripsinya dan semoga bisa wisuda tahun ini

    Like

    1. Halooo yuki, ok nanti aku posting di disini lagi hoho tapi belum tau kapan karena lagi sibuk skripsian wkwk btw makasiiih banyak udah baca dan respon ff ku 😁 mampir mampir lagi ya kalo aku udah posting sequelnya ehe 😉

      Like

      1. Yuki Chan

        tentu saja nanti aku mampir 🙂 btw aku suka gaya bahasa author. Ajarin aku dong :3 aku juga lagi belajar bikin ff hehe eh author punya fb ga? Biar kita bisa kontekan gitu? Wkwk oh ya semoga sukses juga buat skripsinya dan semoga bisa wisuda tahun ini

        Like

  5. Yuki Chan

    authorniiimm ah syumpah ini keren banget huhuhu *mewek karna endingnya gantung :’v* pokoknya harus ada sequel. Harus! *maksa* *digampar author :”v

    Like

  6. kim taehyung puspitasari

    AAaaahhh melelleh akutuh thor ampe senyum2 sendiri ^^ suga tuh emang serem2 tapi manis gimana gituh >< jungkook enak banget pr nya di kerjain sama haeyon 😉 pengen jadi haeyon nya sehari aja bisa ga ?:v
    /tapi gamungkin si:v/
    Keep writing author-nim ^^

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s