[Boys Meet What?] As Bitter As Tannat – Vignette

asbitterastannat

As Bitter As Tannat

presented for BTSFFI’s 5th event — “Boys Meet What?”

story by  roseblanche

casts Jeon Jungkook (BTS) & Han Hyejin (OC)

genre AU, Slice of Life, Romance

rating PG-15

length Vignette

.

“When Boys Meet Their Past Lover”

.

Entah kapan terakhir kali Jungkook terbawa perasaan ini, ia tidak ingat.

Suatu perasaan aneh—tertarik, penasaran, dan terpesona—semua bercampur menjadi satu tatkala netranya menangkap sosok yang sedang duduk menempati meja untuk dua orang, tepat di samping jendela kaca besar . Sinar matahari menyinari wajah serta rambut cokelatnya, memberikan kesan kabur namun cantik bagi Jungkook. Siluet anggun yang tercipta juga tak kalah membuatnya merasakan desiran dalam dada.

Hingga pada detik kesekian ia memandang, Jungkook menyadari satu hal.

Jungkook bangkit dari kursi bar yang sedari tadi ia tempati, dengan tidak lupa menyelipkan beberapa lembar won di bawah segelas Chardonnay yang telah habis diteguknya. Tungkainya melangkah perlahan, sampai ketika ia telah cukup dekat dengan wanita itu, ia mulai merasa yakin bahwa firasatnya benar.

“Hyejin?”

Panggilan tersebut sontak membuat wanita itu mendongak menatapnya.

Pada saat yang bersamaan pula, Jungkook tersenyum. Dari cara wanita itu mengangkat kepalanya saja, Jungkook sudah tahu bahwa ia tak salah orang.

Awalnya wanita itu hanya memandang Jungkook dalam diam. Kedua pasang mata saling beradu, tanpa seorang pun membuka percakapan. Lebih tepatnya, Jungkook memberikan waktu bagi wanita tersebut untuk mengingat.

Detik berikutnya, kedua netra wanita itu mulai menyipit—mulai terbersit satu persatu memori yang telah lama ia biarkan begitu saja. Perlahan namun pasti, ingatannya kembali. Wanita itu mulai mengenali sang pria.

“Jeon … Jungkook?” ujar wanita itu terbata. “Hei, kau Jungkook, kan?”

Dan Jungkook menjawabnya dengan sebuah anggukan. Ia cukup merasa lega karena wanita itu masih mengingatnya walaupun mereka tak bertemu kendati waktu yang panjang telah terlewat.

Jungkook menatap wanita itu lekat-lekat—wanita berwajah manis yang telah dikenalnya sejak ia menginjak bangku sekolah menengah akhir. Wanita bernama Han Hyejin, sang primadona sekolah.

“Boleh aku duduk?”

Hyejin terdiam sejemang—otaknya masih berputar—lantaran orang yang sudah menghilang dari hidupnya selama belasan tahun terakhir tiba-tiba muncul begitu saja di hadapannya. Akhirnya, wanita itu mengangguk.

Setelah duduk, Jungkook tidak tahu harus berbuat apa, atau lebih tepatnya membuka pembicaraan dengan topik apa.

Sebenarnya Jungkook bukanlah tipe orang yang senang berbasa-basi seperti halnya sekedar menanyakan kabar dan yang lain-lain, tetapi sepertinya untuk saat ini ia benar-benar kekurangan bahan pembicaraan.

“Jadi …, bagaimana kabarmu?”

Rasanya agak canggung, bila Jungkook boleh jujur. Meskipun belasan tahun lalu mereka begitu dekat dan akrab, namun waktu yang panjang dapat merubah segalanya. Jungkook mengira bahwa wanita itu akan menjawab kalau ia baik-baik saja—layaknya kebanyakan orang jika mendapatkan pertanyaan seperti itu—tetapi Hyejin hanya diam.

“Hyejin?”

“Yah, lumayan ….”

“Lumayan?”

Hyejin kembali tidak menjawab, hanya menyunggingkan sebuah senyum kecil lantaran kedua matanya menatap kosong ke arah meja.

Sedangkan Jungkook sendiri—ia masih begitu terpana. Melihat senyuman manis milik Hyejin seorang membuat Jungkook bernostalgia akan masa-masa sekolahnya, dimana untuk kali pertama ia merasakan perasaan itu.

Perasaan tak tertahankan yang tak dapat disangkalnya—kebanyakan orang menyebutnya ‘jatuh cinta’.

Ia tak pernah bisa mengelak jika ia telah jatuh cinta pada Hyejin. Wanita itu telah mencuri hatinya selama bertahun-tahun—entah sudah berapa lama tepatnya, Jungkook juga tidak tahu.

Lagi-lagi Hyejing bungkam, hingga Jungkook menghembuskan nafasnya perlahan dan menyandarkan punggungnya pada kursi. Tak ada kegiatan lain selain kedua maniknya yang terus menatap Hyejin lekat-lekat, memperhatikan setiap lekukan wajah dari makhluk ciptaan Tuhan yang dinilainya paling indah itu.

Masih cantik, seperti dulu.

Jungkook mengakui satu hal. Meskipun ia harus memandangi Hyejin selama berjam-jam pula, ia tak akan bosan. Walau nyatanya Hyejin tak bersuara, dan hanya sesekali memainkan rambut atau pun mengetuk jari-jarinya di atas meja—seperti yang sedang dilakukan wanita itu saat ini—Jungkook sanggup memandanginya sampai wanita itu akan berteriak dan dengan wajah yang merah padam, dan meminta Jungkook untuk berhenti menatapnya seperti itu.

Namun, itu dulu saat masa SMA.

Sekarang, wanita itu bahkan tak berkutik. Yang terdengar oleh indera rungu Jungkook sedari tadi hanya suara ketukan kuku-kuku Hyejin pada meja.

Namun, ada sesuatu yang janggal di mata Jungkook, tatkala ia melihat ke arah jari-jari lentik itu.

“Kau tidak mengenakan cincin pernikahanmu?”

Ketukan itu langsung berhenti, diikuti dengan pandangan lemah tepat ke arah kedua mata sang pria. Wanita itu tersenyum, tetapi senyum getirlah yang tersungging.

“Sebenarnya—jujur, aku tidak suka membicarakan hal ini dengan sembarang orang, tapi … kurasa kau bukan orang sembarangan, eh?”

Jungkook mengerutkan kedua alisnya, tidak mengerti dengan maksud arah pembicaraan Hyejin—

Well, aku bercerai.”

—dan pada akhirnya kerutan itu berubah menjadi kedua alis yang terangkat, diikuti dengan dua mata membelalak. Namun, hanya untuk dua detik.

“Oh, ma—maaf,” ujar Jungkook, merasa tidak enak.

Wanita itu hanya mengangkat bahu, kemudian menyeruput segelas wine yang telah dibiarkan sedari tadi.

“Itu Tannat?”

“Ya.”

Jungkook kembali mengulas senyum kecil, menyadari bahwa selera wanita itu ternyata sama sekali tak berubah sejak dulu. Saat perayaan kelulusan, Jungkook beserta teman sepermainannya yang berjumlah sembilan orang berpesta kecil-kecilan di rumah Jimin. Dan saat itulah kali pertama ia merasakan likuid berbau khas yang membuat Jungkook langsung jatuh cinta sejak teguk pertama.

Rata-rata dari mereka menyukai jenis yang manis, seperti Moscato atau pun Traminer Riesling. Namun berbeda dengan Hyejin—gadis itu lebih memilih Tannat yang pahit dan dapat membuat lidah terasa kering.

Tiba-tiba saja, Jungkook seakan tersadar sendiri—terbangun dari lamunannya. Ia mengerjap beberapa kali, bertanya-tanya mengapa pikirannya bisa melantur sampai ke sana.

“Jungkook, kau baik-baik saja?”

Jungkook menggeleng singkat, kemudian bersuara, “Kenapa kau bercerai dengan Seokjin?”

Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar sendiri dari bibir Jungkook. Setahu Jungkook, teman dekatnya yang menyandang status sebagai pasangan hidup Hyejin selama belasan tahun ini adalah pria yang baik. Saat masih berada di jenjang akhir sekolah pun, banyak yang mengagumi sosok Kim Seokjin, tak terkecuali para siswi dan juga guru.

Selain karena tampan, kepribadiannya juga baik dan bisa diandalkan, bahkan sempat ada banyak siswi yang berebut tempat di hati Seokjin.

Tapi, kenapa sekarang …

“Oh, jangan menanyakannya. Itu memalukan,” erang Hyejin.

Huh?”

“Kau pasti akan menertawakanku.”

“Tidak akan,” ujar Jungkook tersenyum, berusaha meyakinkan sang wanita.

Hyejin menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan—mencoba menimbang-nimbang sesaat sebelum ia menjawab,

“Ia selingkuh—”

Mendengar dua kata itu, Jungkook tahu benar kalau kenyataan tersebut bukanlah sesuatu yang pantas untuk ditertawakan. Namun, Jungkook juga tahu apa alasan Hyejin berpendapat begitu.

Ya, Jungkook mengerti.

“—well, persis sama seperti yang dulu pernah kulakukan padamu. Bukankah begitu, Jungkook?”

Jungkook kembali terdiam—lebih tepatnya memilih untuk tidak bersuara.

Sebenarnya menurut Jungkook, hal itu sangat disayangkan. Pernikahan mereka sudah berlangsung sangat lama, bahkan usia mereka sudah hampir mencapai paruh baya.

Jungkook merasa, mungkin ia tahu penyebabnya.

Hyejin dan Seokjin sudah hampir memasuki usia setengah abad, namun Hyejin tak kunjung menghasilkan keturunan. Mungkin itulah alasan Seokjin mulai mengincar wanita lain. Karena Seokjin sendiri juga pernah mengeluhkan masalah ini pada dirinya beberapa tahun yang lalu.

Hanya saja, Jungkook merasa tak ingin membahas hal itu sekarang—rasanya tak pantas. Terlebih lagi Hyejin sedang terlihat tidak dalam suasana hati yang baik.

“Lalu, perban apa yang di pergelangan tanganmu itu?”

Jungkook baru saja menyadarinya ketika Hyejin sedikit membenarkan pergelangan tangan kemejanya yang terlipat. Dan alhasil, wanita itu mendengus.

“Menurutmu? Memangnya apa lagi?” jawabnya kesal.

Jungkook mencoba memutar otak, mengumpulkan seluruh asumsi yang membuatnya sedikit ragu, hingga dengan setengah berbisik ia menebak, “Kau … menyayat tanganmu sendiri?”

“Aku sudah tak ingin hidup, kau tahu? Semuanya sudah berantakan—”

“Hei, jangan bodoh.”

“Bukan aku yang bodoh. Kehidupan inilah yang bodoh. Semuanya terlalu rumit sampai rasanya aku ingin minum racun saja, atau menjerat leherku sendiri di—”

“Hyejin!”

“Apa?!”

Sontak Hyejin langsung tersadar bersamaan dengan keluarnya teriakan itu dari mulutnya, bahwa padangan beberapa orang langsung teralihkan dan mereka berdua menjadi pusat perhatian. Bahkan, ada seorang pelayan yang memasang wajah tak enak dan mengisyaratkannya untuk tidak membuat keributan.

Hyejin kembali menghembuskan nafasnya kasar, kemudian menyandarkan punggung pada kursi.

“Baiklah, baiklah. Aku yang bodoh.”

Dalam hati, tentu Jungkook merasa iba pula. Sakit dan perih yang dialami wanita itu—seolah dapat dirasakan pula oleh Jungkook. Meskipun dahulu ia pernah dicampakkan oleh wanita itu, Jungkook tidak bisa mengelak jika ia memang tidak bisa membencinya.

“Tapi, soal keinginanku untuk mati tadi, aku tidak main-main.”

Suara Hyejin mulai parau, terdengar jelas oleh Jungkook.

“Aku benar-benar ingin meninggalkan hidupku yang sekarang, hanya saja—entahlah. Aku tidak tahu ini sebuah keberuntungan atau tidak, tetapi sepertinya aku tidak punya cukup keberanian untuk melakukan hal-hal tadi.”

Mendengar itu membuat Jungkook sedikit merasa lega. Sekarang ia merutuki dirinya sendiri, karena seharusnya ia ingat—sejak dulu Hyejin memanglah tipikal orang bermulut besar.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

“Entahlah,” jawab Hyejin pelan. “Mungkin aku akan menjalani sisa hidupku seperti biasa, lalu meninggal secara alamiah. Soal Seokjin akan kembali padaku atau tidak, aku tidak peduli lagi.”

Well, itu lebih baik.”

Jungkook tersenyum memandang Hyejin yang kini hanya bisa mendengus tertawa sambil balas menatapnya. Melihat kedua mata cantik itu kembali membuat Jungkook teringat akan masa-masa dulu, akan kenangan-kenangan yang belum terhapus. Memori-memori berharga yang terekam jelas dalam ingatannya.

Benar saja. Bagaimana Jungkook bisa menghapusnya kalau sudah menyangkut Hyejin? Bahkan seumur hidup pun ia merasa tak akan pernah bisa melupakan wanita itu.

“Tetapi, jujur saja aku punya satu keinginan.”

“Apa?”

“Kau tahu yang dinamakan reinkarnasi?”

“Terlahir kembali?”

“Ya, terlahir kembali,” jawab Hyejin. “Menurutmu, mungkinkah kita akan terlahir kembali suatu saat nanti?”

Jungkook bertanya-tanya dalam hati, mengapa Hyejin menanyakan hal aneh seperti itu. Ia bahkan sama sekali tak pernah berpikir bahwa hidupnya akan terulang lagi dalam waktu yang berbeda.

“Aku tidak tahu.”

Hanya itu yang bisa terlontar dari mulut Jungkook, karena pada dasarnya ia memang tidak tahu apakah hal itu memang bisa terjadi.

Mendengar jawaban itu, wanita di hadapannya tersenyum miring, setelah itu arah pandangannya teralihkan ke arah jendela kaca besar yang membatasi mereka berdua dari jalan raya.

“Setidaknya jika aku terlahir kembali, aku ingin mengubah satu hal.”

“Apa itu?”

Hyejin menghela nafas pelan, kemudian memasang sebuah senyum tipis di bibirnya sambil berucap, “Tidak lagi menjadi orang bodoh.”

Jungkook agak tertegun, cukup tidak menyangka dengan jawaban Hyejin. Tetapi, ia lebih memilih untuk diam dan membiarkan Hyejin melanjutkan kata-katanya.

“Aku berharap aku tidak cukup bodoh untuk meninggalkan orang baik sepertimu—hanya untuk seorang pria berengsek berwajah tampan, Jungkook,” ucap Hyejin pelan. Kini pandangannya teralih kembali ke arah Jungkook, menatap pria itu lekat-lekat dengan sebuah senyuman lemah.

Wanita itu merasa, mungkin memang sudah saatnya ia mengutarakan semuanya. Semua hal tak terungkap yang selama ini menjadi ganjalan antara dirinya dengan Jungkook. Karena satu hal, ada penyesalan dalam lubuk hati terdalamnya.

“Maafkan aku. Bahkan pada saat itu, aku belum sempat minta maaf padamu.”

Sebenarnya Jungkook merasa agak geli lantaran kata-kata itu keluar dari mulut Hyejin. Pasalnya, mana ada seseorang yang minta maaf pada pasangannya setelah orang itu mendua hati? Tetapi, Jungkook tetap saja lebih memilih untuk tutup mulut.

Hyejin menyentuh tangan Jungkook tergeletak di atas meja—membuat kedua netra Jungkook melebar akan perlakuan tiba-tiba itu.

Dan dalam waktu sedetik saja, debaran jantungnya sudah tak dapat ia kendalikan.

“Aku minta maaf, Jungkook. Aku benar-benar minta maaf, untuk semuanya.”

Untuk saat ini, Jungkook benar-benar tidak bisa berkata-kata, dan keheningan pun kembali melanda.

Mendengar kata-kata yang telah terucap, Jungkook terlampau ingin untuk memeluk wanita itu. Membawa Hyejin kembali ke dalam dekapannya setelah belasan tahun tak berjumpa, melepas semua rindu, dan mengulang segala kenangan yang pernah dilewati oleh mereka berdua. Ya, hanya mereka.

That’s okay. Lagipula, semuanya sudah terlewat.”

Meski Jungkook berkata seperti itu, tetapi Jungkook juga tahu—ini salah. Benar-benar salah.

Jungkook merasa beruntung, karena ia masih punya cukup kesadaran yang membuatnya bertahan. Bertahan dari perasaan menggebu, walau ia tahu bahwa wanita itu masih menjadi candunya, baik dulu mau pun sekarang.

Hanya saja, meskipun Jungkook sadar jika pada akhirnya bisa gila karena terus menahan perasaan ini, tetap saja ia tidak bisa.

Karena Jungkook adalah orang yang tahu diri, dan ia juga tahu bahwa keadaan sudah berbeda—dimana ia sendiri telah mempunyai suatu harta tak ternilai yang disebut keluarga. Keluarga yang ia bangun selama belasan tahun terakhir.

“Omong-omong, bagaimana denganmu? Apa yang kau harapkan jika kau terlahir kembali?”

Apa yang ia harapkan?

Jungkook tidak membalas tatapan Hyejin. Ia hanya menatap kosong ke arah meja, menatap ke arah segelas Tannat milik Hyejin yang masih tersisa setengah.

Jujur, Jungkook ingin membiarkan perasaan ini berjalan apa adanya, namun rasa sakit itu tidak terelakkan. Rasa sakit karena ingin memiliki untuk yang kesekian kalinya, namun takdir melarang. Ia juga sempat berpikir untuk melepaskan perasaannya, tetapi ia tidak bisa.

Perasaan ini terlalu kuat, terlalu rumit, terlalu mengikat—hingga rasa ‘jatuh cinta’ yang seharusnya manis itu menjadi pahit, getir. Seperti segelas Tannat yang kini ada di hadapannya.

Semenjak dulu, Jungkook selalu bermimpi untuk menjadi pendamping hidup Hyejin. Mengucapkan janji sehidup semati di hadapan pendeta, mengukir perjalanan hidup romantis bersama.

Namun, apa jadinya bila yang dinamakan jatuh cinta itu telah bercampur dengan obsesi?

“Aku berharap …”

Kini, Jungkook tahu.

Seberapa pun ia telah jatuh cinta pada Hyejin, pada akhirnya perasaan itu akan menyakiti dirinya sendiri. Dan meskipun ia merasakan yang namanya pilu, ia tetap tidak bisa berhenti. Membuatnya merasa ketakutan, karena telah terjerat dalam sesuatu yang dinamakan candu.

.

.

.

“… aku hidup di waktu yang berbeda dengan dirimu. Dan aku harap aku tidak pernah mengenalmu, Hyejin.”

 

fin.

-oOo-

Advertisements

One thought on “[Boys Meet What?] As Bitter As Tannat – Vignette

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s