[BTS FF Freelance] Secret of You – (Chapter 3)

yooowwasso

Title : SECRET of You (Chapter 3) #1-4

Author : White Butterfly

Cast : Kim Taehyung (BTS), Ryu Sujeong (Lovelyz), Park Jimin (BTS), Kim Jiyeon (KEI Lovelyz), Kim Nam Joon (BTS), Min Yoongi (BTS), Kim Seok Jin (BTS), Park Daebak, Taehyung eomma (Kim Sung Ryung), Park Myung Eun (JIN Lovelyz) and OCs Shin Nara – Nam Jaehyung.

LENGTH : Chaptered

GENRE : AU, AT, FAMILY, Life, School life, drama, Bromance, fluff, comedy, HURT.

RATING : PG 17 / G.

Desclaimer : Cerita ini saya buat hanya untuk kesenangan sementara , nama-nama artis di atas adalah milik Agensi mereka. Semua alur cerita ini adalah fiksi belaka. Maaf kan bila ada salah, karna kurang perhatian Min Yoongi… najis.. siapa loe?? Kenal juga enggak. G manggil gua oppa lagi, minta di kelarin idupnya kayaknya nih author abal-abal. * tiba-tiba Yoongi dateng bawa golok….. Ampun oppaaa….!!! Lari sembunyi dari kenyataan. Ada kekeliruan di Secret of you chapter 1 di bagian cast tertulis PD-nim Park Daebak, sebenarnya hanya Park Daebak saja  jusunghamnida *bow 3 times.

Huft… akhirnya bisa sampe chapter 3 meski di awal pengiriman chapter 1 terjadi semacam kesalah pahaman akhirnya Secret of You chapter 3 bisa terposting juga, Gumawo, Gamsahabnida membungkuk penuh hormat. Saranghamnida Adminers *Kiss bye.

{KOMEN YAAAA………}

Taehyung’s POV

Sesampainya dirumah, aku melepas sepatu dan kaos kaki, melempar tas ke sofa, dan segera ke kamar mandi untuk ganti baju. Setelah keluar dari kamar mandi aku mencari-cari eomma.

eomma na paegobpa…. Uri eomma oditchi??” tak ada jawaban dari eomma tapi aku mendengar suara sesenggukan dari dalam rumah. Kenapa eomma tak menjawabku? Tak seperti biasanya, eomma ku selalu ceria menyambutku pulang dari manapun. Dari sebrang ruangan tv tempat eomma berada aku melihatnya sedang memegang sebuah foto lalu cepat-cepat ia masukkan sebuah foto yang taka sing bagiku kedalam saku bajunya saat aku mulai mendekat.

“hu hu hu hu…. Srrroooott… ah… perihnya mataku.” Eomma menghapus air matanya dengan bajunya sambil sesekali mendongak ke arah tv menonton tayangan drama kesayangannya Hwarang. Aku duduk di lantai sambil meletakkan kepalaku di paha eomma.

“eomma, aku lapar… ah… eomma masak apa??” Tanyaku dengan nada manja. Eomma ku suka jika aku melakukan aegyo padanya.

“Auhhh.. ckckck… anakku lapar sepulang latihan basket. Ini eomma sedang memotong bawang untuk makan malam mu, eomma masak dulu ya… malam ini menunya nasi goreng.” Ucapnya sambil bergegas pergi ke dapur.

arasseo… jangan terlalu pedas eomma, kalau tidak aku tidak mau makan…” ucapku, membuat eomma menatapku tajam tiba-tiba. Tak seperti biasanya eomma ku dulu penyabar dan lembut, tapi kenapa sekarang aku seperti melihat seseorang yang lain dalam diri eomma.

“YAK..!! anak siapa kau?!?!?!… berani-beraninya mengancam tidak mau makan. Awas kalau tidak makan, akan ku pastikan aku tak akan mau memasak untukmu lagi… heuh…” ancam eomma terlalu menakutkan.

anniya eomma,” aku menciut dan memelukknya dari belakang untuk meminta maaf. “Eommaa… Aku tak akan mengancam seperti itu lagi… Mianhae… aku hanya bercanda tadi…” ucap Taehyung sambil memberikan senyuman khas yang ku punya seperti biasa.

“jangan perlihatkan gigimu jika tersenyum, aku tak suka melihatnya.” Ucap eomma. Kali ini Eomma membenci senyuman kotakku, sejak kapan?? Aku mengernyitkan dahiku.

“Nae,” lalu ku tutup rapat-rapat bibirku dan menjauh dari eomma di dapur. Heuh,,, aku sangat terheran dengan eomma hari ini. Tadi pagi dia sangat ceria seperti biasa. Tapi kenapa malam ini aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada eomma dan membuatnya berubah. Aku tiduran di sofa ruang tengah, aku meringkuk msekipun hawanya tidak dingin sama sekali, lalu mengapit kedua telapak tangan ku ke pahaku, menutup rapat mataku, dan aku tertidur.

“YAA!! IREONAAAA!!! Sudah pagi. Ayo kita akan telat nanti. Jam pertama hari ini adalah pelajaran Bahasa Inggris nya Mr. Kim. Kau tau bagaimana marahnya dia kalau dia tahu bahwa kau berulah lagi kan… ayo!! Bangun…” aku membuka mata dan pandangan mataku tertuju pada sosok Jimin yang sudah berpakaian seragam sekolah lengkap sangat rapi.

“sedang apa kau di rumahku…???!!!” ucapku terhenyak. Sssshtt… telunjuknya menempel di bibirku. IIISSShhh.. pekikku sambil menepis telunjuknya bantetnya yang bertengger di bibir seksi ku. “KAU INI…” sentakku sambil mengangkat tangan hendak menamparnya, membuat mata sipitnya terpaksa membulat karna terkejut.

“Mian… aku hanya ingin jadi kakak mu Taehyung. Dan perkenalkan uri appa…” ucapnya sambil membuka tangannnya menyambut seorang pria paruh baya yang datang dari luar rumah, wajahnya tertutupi sinar hingga aku tak bisa melihat dengan jelas.

“tidak, aku tak punya appa.” Elakku tak percaya.

“Ya!! Bodoh!! Sadarlah aku dan kau itu bersaudara. Dia appa kita..!!” ucapnya memaksaku untuk sadar.

“tidak aku tidak punya appa.” Elakku lagi.

“tidak tidak tidak tidak…” aku menyangkalnya berkali-kali tapi dia menepuk-nepuk pipiku, aku berusaha menepis tangannya. Jimin dan aku akhirnya saling tampar menampar, ia memaksaku untuk sadar “sadarlah… sadarlah… sadarlah…” Vyung Vyung Vyung tangan ku menapuk-napuk udara kosong di depan wajahku dengan penuh tenaga.

“Taehyung-ah sadarlah. Taehyung, sadar, sadar…” sebuah tangan menampar pipiku hingga aku terjatuh dari sofa.

“Aaauch… eomma.” Aku membuka mataku, ternyata aku hanya bermimpi.

“kau mengigau lagi Taehyung, kalau kau mengigau pasti ada sesuatu yang mengganjal di pikiran mu? ada apa?? Apa ada masalah??” Tanya eomma sambil mendudukkan ku di sofa.

A-a-anniya eomma, na gwenchana…” Ucapku berbohong sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tak terasa gatal. Sebenarnya pagi ini aku menemukan sesuatu yang besar, tentang appa. Benarkah appa tidak meninggal?? Tapi kenapa aku memimpikan Jimin?? Ada hubungan apa aku dengan nya??

~~ selepas latihan Basket Di depan sekolah.

Jimin pov

“Annyeong Jimin-ah!!!” sapa Park Daebak appa dari belakang punggung sambil tersenyum.

“oh… Appa….” Aku membalikkan badanku lalu membalas sapaannya dengan tersenyum pula membuat pandangan mata ku semakin pudar dan ku merasa hidungku memesek, karna mataku sangat sipit dan hidungku tidak mancung seperti appa.

“woah, anakku sudah mau lulus SMA nih….” Ucap appa bangga sambil bertepuk tangan kecil.

“apa yang appa lakukan disini?” tanyaku sambil melihat sekeliling, “Appa ingin jalan-jalan sama anakku… kenapa??” tanya Park appa.

“ah, tak apa. Aku kira appa kesini karna Taehyung.” ucapku sambil menyisiri rambutnya dengan tangan.

“tidak, appa kesini karna mu. hehehehe” Jawab appa sambil meniru gaya menyisir rambutku juga. Appa selalu mengikuti gayaku, menyisir rambut dengan tangan, bertingkah imut, dan hanya itu kurasa.

Annyeonghaseiyo… Jimin abonim….” Sapa Min ssaem setelah kami melangkah beberapa langkah dari depan gerbang sekolah.

oh annyeonghaseiyo, nugu seiyo??” Tanya appa heran pada sosok mungil, putih, berpakaian olahraga lengkap dengan jaket tersampir rapih di pundaknya, pokoknya serba putih serba putih.

“saya guru olahraga di sekolah Jimin, anda bisa memanggil saya Mim ssaem. Hari ini anak anda menunjukkan bakat-bakat yang dia miliki, keren sekali. Skill basket nya bagus dan ternyata dia juga bisa menari. Tariannya sangat bagus, saya sungguh terkesan. Saya harap Jimin bisa mendapat prestasi yang baik dengan pindah ke sekolah ini. Ngomong-ngomong anda belum pernah mampir ke sekolah, bukan??” Tanya Min ssaem tiba-tiba. Min ssaem berbicara sambil menyamai langkah dengan kami.

ah, ye… belum… baiklah lain kali saya akan mengunjungi sekolah.” Ucap appa terheran melihat Min ssaem.

“ah nae…. Kalau begitu saya pamit dulu, ini rumah saya. Silahkan mampir lain waktu.” Ucap Min ssaem sambil membungkuk sopan lalu pergi dari pandangan kami, ternyata rumahnya sangat dekat, tapi kenapa saat berangkat Min ssaem seperti terburu-buru bahkan kelelahan batinku.

“ah, nae ssaem gamsahabnida….” Ucap Jimin sambil membungkuk juga berbarengan dengan appa. Kami berdua pun berjalan beriringan pulang.

“dia guru mu?? Kenapa masih terlihat sangat muda?? Ah orang jaman sekarang semakin tua tapi wajahnya semakin muda.. ckckck… Kaja.” Ucap appa sambil merangkul Jimin pulang di ketiak appa.

 

Di rumah Jimin.

“appa… kenapa appa membeli rumah ini atas namaku??” Tanya ku sambil duduk menyilangkan kaki kiri keatas kaki kanan di atas kursi ruang tamu.

“karna, kau anakku.” Ucap ayah sambil merubah posisi duduknya menyilangkan kaki kanannya ke kaki kiri. Begitulah kebiasaan kami dari dulu saat mengobrol santai seperti ini.

“Bukankah hak rumah ini milik Taehyung dan eommanya??” Tanya ku lagi.

“kata siapa. Siapa suruh eommanya Taehyung memberi rumah ini secara tiba-tiba pada ayah. Padahal hari itu kan ayah Cuma minta kita bersatu menjadi keluarga lagi. Kita berempat.” Ucap ayah sambil memanyunkan bibir.

“apa yang terjadi pada hari itu??” Tanya ku ingin tahu.

“maukah kau ku ceritakan?” Tanya apaa sambil mengembangkan senyum khasnya, heummm senyum appa benar-benar dimiliki Taehyung. Saat dikelas tadi Taehyung sering tersenyum menatap dan berbicara pada Sujeong. Aku mengangguk

Jimin pov off

Flashback seminggu sebelum liburan sekolah musim panas kemarin.

Dddrrt drrrtt drrrttt.

Handphone eomma bergetar tanda ada seseorang yang menelpon.

“Ah siapa ini yang mengganggu hari indahku mempercantik diri?? Kurang kerjaan sekali…” omel eomma sebal. Dengan malas eomma meraih handphone di meja samping ranjangnya, ia tampak menjaga irisan buah tomat itu agar tak jatuh dari wajah cantiknya.

yeobosseo??” sapa eomma terlebih dahulu.

“Kim Sung Ryung ssi??” Tanya suara pria di sebrang sana.

“Nae… anda siapa??” Tanya eomma sembari mengingat-ingat suara siapa itu.

“ini aku?? Taehyung-ie appa…” jawab pria tersebut.

“MWO??” eomma terkejut hingga irisan-irisan tomat itu jatuh dari wajahnya. “Nugu?? Maaf salah sambung!!” ucap eomma cepat-cepat.

“Sung Ryung-ie… mian… jangan dimatikan dulu. Aku ingin kita bertemu sekali saja. Aku bahkan belum pernah melihat putraku sama sekali sejak ia lahir. Ku mohon….” Pinta pria tersebut memelas.

“ah geurae geurae arasseo. Siang ini, di taman yang dulu. Kau ingat kan?? Awas sampai telat!!” ancam eomma.

“tentu aku ingat. Baiklah, sampai nanti.” Ucap pria itu sangat senang. Eomma langsung mematikan sambungan telepon tanpa basa-basi.

Sesampainya di tempat bertemu, eomma menunggu di sebuah kursi yang tersedia di depan mini market dan berlindung dari teriknya matahari di bawah payung besar.

“ck…. Lama sekali pria itu… menjengkelkan.” Ucap eomma menyaduk-nyaduk kaki meja didepannya. Dari kejauhan nampak seorang pria separuh baya berlarian dari seberang jalan hingga kemeja biru gelap nya basah karna keringatnya.

“oh… sung Ryung-iee…. Annyeong…!!!” ucap pria yang di tunggu eomma sambil melambaikan tangan pada eomma. Tapi eomma hanya tetap pada posisi legendarisnya tangan terlipat ke dada dan menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya. Pria tersebut segera menyebrangi jalan untuk dapat bertemu eomma.

“Annyeong… Sung Ryung-ie… senang bertemu dengan mu lagi… bagaimana kabarmu.” Sapa pria tersebut pada eomma yang kini sudah merubah posisi duduknya dengan menopang dagunya “duduklah.” Suruh eomma secara dingin dan terkesan terseret malas. Raut muka eomma terlihat sangat tak bersemangat memandang perawakan pria yang sudah mulai keriput, rambutnya mulai di tumbuhi uban-uban, dan selalu menampakkan senyum yang berbentuk kotak itu.

“tapi Sung ryung-ie. Taman yang kau maksud ternyata sudah menjadi mini market yah.. aku sampai salah tempat tadi… aku pergi jauh ke utara lalu kembali lagi kesini, dan untungnya aku melihat mu sudah duduk di sini.” Pria itu curhat pada eomma tapi eomma malah berdehem mengkode si pria agar bersegera mengatakan apa maksud nya mengajak eomma keluar di siang hari yang panas ini.

“langsung saja, Sung ryung-ah, aku ingin menikah dengan mu lagi, setelah perceraian kita dulu yang kau putuskan secara sepihak, kau tahu aku sangat merindukanmu dan aku merasa bersalah setelah tahu bahwa kau telah melahirkan anak kandungku dan aku tak tahu menahu tentang kehamilanmu. Maka dari itu terimalah ini…” Pria itu mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah yang berisikan sebuah cincin pernikahan yang cantik. Pandangan eomma tertuju pada cincin kawin itu lalu pandangan mata eomma menerawang jauh ke masa lalu keduanya.

Eomma adalah gadis lugu, cantik dan penurut yang dengan senang hati mau menikahi Park Daebak, pria kedua pilihan appa nya saat usianya masih di awal 20 an. Pernikahan itu disaksikan oleh ayah, keluarga, dan seorang teman karib kakek bermarga Shin yang sebenarnya tertarik untuk menikahkan anaknya dengan eomma demi keuntungan materi yang di dapat nanti, karna kakek adalah pengusaha kaya di Daegu. Eomma tinggal di rumah yang ia tempati bersama appa di pinggiran kota Seoul. Singkat cerita kakek meninggal karna penyakit jantung, tapi anehnya eomma tidak mendapat harta warisan sama sekali setelah kematian kakek. Tak tahu apa yang harus eomma lakukan, hutang keluarga di limpahkan pada eomma karna appa tak mau bekerja setelah menikah karna oppa sebenarnya benci terhadap perjodohan ini, appa hanya menghabiskan waktu di rumah dengan meminum-minuman keras, menjual barang-barang elektronik mereka lalu kembali dengan botol-botol minuman keras hasil penjualan barang-barang elektronik itu. Appa selalu memanggil-manggil nama seorang wanita bermarga park, eomma tahu appa memiliki wanita idaman lain di hati appa. Eomma melayangkan gugatan cerai pada appa karna appa pulang dengan membawa seorang bayi merah setelah kepergian appa tiba-tiba pada malam sebelumnya. Eomma merahasiakan kehamilannya yang berumur dua bulan saat mengandung Taehyung saat itu dan mengusir appa dari rumah bersama dengan bayi yang baru lahir itu, saat itu tanggal 13 Oktober. Eomma melanjutkan hidupnya dengan Taehyung hingga taehyung besar, tapi tetap hutang itu masih belum lunas. Hingga eomma harus bekerja serabutan untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Eomma sama sekali tidak tertarik dengan tawaran appa untuk menikah kedua kalinya setelah mengingat masa lalu itu.

“aku ingin kita tinggal disana, di rumah kita awal menikah dulu, rupanya kau masih merawat rumah kita dan tinggal disana, membesarkan Taehyung juga. Aku senang mengetahuinya… aku ingin melihat Taehyung sekali saja. Bagaimana kalau kita menikah lagi dan punya anak selain Taehyung. sehingga kita bisa menjadi keluarga bahagia…. Bagaimana??” Tanya pria itu. Eomma hanya memberikan senyum yang sulit di artikan artinya.

“baiklah datanglah besok ke rumah, sendirian.” Suruh eomma.

“Kau pasti harus mengetahui keadaan sekitar sebelum kau pindah iyakan?? Aku pulang dulu…” ucap eomma lalu pergi tanpa menghiraukan Daebak di belakangnya.

Flashback off

“lalu apa yang appa lakukan besoknya, apa appa mengunjungi mereka??” Tanya Jimin tak sabar.

“aku tentu datang” ucap appa dengan menundukkan kepala. “appa lanjutkan ceritanya, waktu itu.”

Flashback on

Seorang pria yang terlihat gembira hari itu telah mempersiapkan dirinya dengan rapi, wangi  dan tak lupa seikat bunga untuk orang yang akan ia temui

hari itu,

TOK TOK TOK

Tak ada jawaban dari si penghuni rumah, si pria kembali mengetuk pintu tiga kali dengan sabar ia menunggu. Akhirnya pintu rumah itu terbuka hanya sejengkal,

“a aku ingin masuk.” Pinta si pria gugup. “ini bunga untukmu.” Pria itu menyerahkan seikat bunga yang telah ia persiapkan.

“jangan!! Kau di situ saja.” Ucap eomma sedikit keras, tubuh langsingnya berusaha menghalangi pintu itu terbuka lebar. “tidak, aku tak perlu bunga.”

Ini, tanda tangani ini lalu pergilah. Dan kau boleh pindah ke rumah ini dengan tenang. Cepat tanda tangani ini.” Sung Ryung menyerahkan beberapa lembar surat pengalihan hak milik rumah lewat celah pintu yang ukurannya sejengkal tangan itu.

“sudah kau tanda tangani??.”

“eoh… tapi kenapa Sung Ryung-ah?? Aku mengerti kau pasti terkejut dengan permintaan ku kemarin, benarkan?? Tapi kenapa Sung Ryung-ah?? Apakah pintunya rusak??” Tanya pria itu.

“Sudah tak ada waktu, sekarang kau harus melihat-lihat lingkungan sekitarmu. Oh iya minggu depan kau bisa membawa semua barang-barangmu kesini, aku juga akan pindah ke kota tepat saat kau pindah ke sini.”

“rumah siapa yang kau tempati??” Tanya pria itu heran.

“kau tak perlu tahu.” Jawab eomma judes, eomma membanting pintu tepat di depan muka appa.

“Aku hanya ingin menebus kesalahanku karna telah meninggalkanmu dan janinmu waktu itu. Aku sadar sekarang aku punya keluarga yang harus aku lindungi, walau kau dan taehyung tak mau menerimaku. Lihat saja aku akan terus berusaha mendapatkan kalian.” ucap appa mantap sambil pergi dari depan rumah.

Flashback off.

Jimin pov

“Jadi intinya adalah appa belum berhasil mendapatkan hati eomma seutuhnya.” aku menyimpulkan dan di akui oleh appa dengan anggukan pelan. Aku hanya tersenyum pada appa untuk menghibur hatinya. ‘jangan khawatir appa, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku pastikan itu.’

“aaa… appa sudah melakukan my first bighit….” Ucap appa sambil tersenyun dan mengelus-elus dagunya seperti puas dengan hasil kerjanya.

“maksud appa tembakan besar pertama apa?? Appa??” tanyaku heran.

“Tadi pagi-pagi buta…. Appa mengirimkan foto lama appa yang disimpan eomma di rumah ini, sayang muka appa di foto itu sudah tidak terlihat didepan rumah mereka di Seoul, Sung Ryung sangat kecewa padaku saat itu hingga ia meluapkan kemarahannya pada mukaku yang dia rusak dengan benda tajam, untung hanya foto.” Terang appa membuatku sungguh terkejut, jadi foto yang di buang Taehyung saat di kelas itu adalah foto appa.

“wah, sayangnya foto itu hanya Taehyung yang tahu. Dan dia sudah membuangnya.” Jawabku.

“APA?? Membuangnya?? Tapi tenang saja, meski ia membuang itu Taehyung pasti akan terus memikirkannya… kita lihat saja nanti.” Ucap appa percaya diri.

Jimin pov off.

Itulah sebabnya rumah Taehyung di chapter 1 sudah sah menjadi milik Jimin. Di rumah Taehyung.

@Taehyung’s House in the next morning.

“Eomma, tentang gadis yang akan menolong kita itu. Aku sudah mengetahui namanya, namanya Nara. Shin Nara.” ucapku

“Ku dengar dia gadis cerdas yang mengikuti kelas akselerasi homeschooling, apa eomma benar??” Tanya eomma memastikan. “kalau tidak salah umurnya masih 16 tahun. Berapa umur mu Taehyung?? 17?? 18??”

“benar kata eomma tentang homeschoolingnya, tapi aku tak tahu kalau dia juga mengikuti kelas akselerasi.” Taehyung mengernyitkan dahinya seakan ada sebuah ingatan yang berjalan-jalan di kepalanya.

“AH Eomma,, WAE?? WAE??” Taehyung teriak-teriak, mengejutkan eomma yang duduk di sampingnya.

“Dia lebih muda dariku tapi kenapa dia yang terpilih untuk mengajariku pelajaran Ujian Nasional?? bagaimana bisa aku kalah dari maknae di kelas?? Ah aku malu…” ucap Taehyung mengacak-acak rambutnya tak karuan lalu eomma menjewer telinga Taehyung karna gregetan.

“aaa Aaa.. eomma sakiiit… ampun-ampun….” Taehyung merengek minta ampun atas sikapnya tadi.

“kenapa kau berteriak seakan dunia mau kiamat?? Hah?? Telinga eomma sampai sakit mendengar mu teriak tadi, tau??” ucap eomma dan melepaskan jeweran pada Taehyung.

Taehyung mengelus-elus telinga nya karna jeweran eommanya. “lebih baik aku belajar bersama, Sujeong, Jiyeon, Jimin ataupun Jaehyung yang seumuran denganku dari pada harus belajar dengan anak muda seperti Nara.” Keluh Taehyung.

 

First time at Nara’s Homie.

“Nara… Dipanggil mama mu di ruang keluarga,” ucap sekretaris pribadi mama nya Nara, Park Myung Eun. Membuyarkan konsentrasi belajar Nara di kamarnya yang luas dan mewah. Sejak eun onni menjadi sekretaris di rumah ini Nara merasa bahwa ada orang yang peduli padanya di rumah ini, Nara sangat menyukai eun eonni karna dia satu-satunya orang yang akan mengingatkan akan kebaikan dan menceritakan tentang Daehan oppa, oppa ku padaku yang sudah almarhum. Hubungan kami sangat dekat seperti saudara kandung tapi kami menyembunyikan semua ini dari mama dan papa, karna Eun eonni yang meminta.

“Wae eonni??…. Apa ada masalah??? bukannya mama ada urusan di Australia??” Tanya Nara sebal lalu beranjak dari meja belajarnya yang penuh dengan tempelan catatan di setiap sisinya, mendekati Eun eonni di samping pintu.

“turuti saja mama mu, ayo…” ajak eun eonni dengan menarik lembut lengan kecil Nara keluar kamar, Nara hanya mengikuti eonninya dengan menyeret langkah kakinya.

Mama sudah duduk di sofa menunggu Nara dengan menikmati secangkir kopi dengan tenangnya, menatap haru foto keluarganya yang terpajang di dinding ruang keluarga yang luas dan bercat putih itu.

“Nyonya, nona Nara sudah datang.” Ucap Eun dengan nada sopan. Mama mengatur posisi dan perasaannya menjadi lebih tenang, membuatnya nampak anggun meskipun di usianya kini yang terbilang sudah tidak muda lagi.

“suruh dia duduk di sampingku,” ucap mama, suasana di rumah ini terasa hening dan kaku. Nara sudah terbiasa karna terpaksa. Nara duduk di samping mama setelah Eun eonni mempersilahkan dengan sopan kepada Nara.

“Mama ingin agar kamu bisa bertahan dengan Taehyung, Mama yakin kamu tahu maksud Mama.” Ucap Mama tanpa basa-basi lagi.

“Pura-pura mencintai Taehyung lalu meninggalkan dia setelah perjanjian ini selesai dan kita bisa pergi dari Negara Korea. Jika aku berhasil menikah dengan Taehyung maka harta warisan kakeknya Taehyung akan secara utuh aku miliki, begitu maksud Mama??” Tanya Nara dengan mengangkat alis sebelah, pandangan matanya kosong seakan ia keberatan dengan rencana yang telah di buat Mama nya. Mama hanya mengangguk senang.

“tapi apa yang akan terjadi jika aku tak bisa mendapatkan Taehyung??” Tanya Nara kritis. Membuat Mama menoleh dan menatap tajam Nara lalu berkata dengan nada mengancam.
“maka kau tidak akan mendapat apapun. Dan kau akan kehilangan segalanya, Mama, Papa dan fasilitas-fasilitas mewah yang kau miliki sekarang akan lenyap dari genggaman tangan mu. Kamu mau itu terjadi pada mu Nara-ssi??” Mama berucap hingga masuk ke pikiran Nara yang di landa perang, antara memilih bertahan hinggaa akhir atau menyerah. Nara mengangguk pelan dan membuat Mama menyunggingkan senyum. ‘Aku sudah kehilangan semuanya Mama. Kapan mama sadar. Aku butuh kamu yang dulu yang menyayangi ku, kakak dan juga appa. Nara hanya bisa menangis sesenggukan di kamar luasnya sendirian. Nara mengintip ke luar jendela besar kamarnya, nampak ada seorang anak laki-laki yang memegang bola basket di tangannya dan menyorotkan sinar lampu senter ke arahnya tepat kearah wajahnya.

“OUCH… Jaehyung Oppa” pekik Nara segera menutup mulutnya takut terdengar oleh orang rumah. Seorang satpam berjalan-jalan sekitar rumah dan mendapati sinar lampu senter itu di tembok rumah yang mewah Nara. “HOY… MALING Ya!!” teriak satpam membuat Jaehyung beringsutan mencari tempat aman. Nara hanya tertawa setengah menangis karna tingkah konyol anak lelaki yang kini menjadi teman kelasnya itu.

Di sekolah.

Sebuah tangan menutup mata Taehyung dari arah belakang punggungnya saat ia melamun di pinggiran lapangan basket, membuatnya terhenyak kaget dan meronta-ronta ingin melepaskan tangan itu dari penglihatan mata Taehyung.

“Yaaa… siapa ini… lepaskan… siapa kau?? Lepaskan!! Aku sedang tak ingin bercanda…” ucap Taehyung dengan nada super kesal. Tangan itu telepas membuat Taehyung menoleh pada sosok yang ada di belakangnya.

“Annyeong…. Taehyung-ah…..” sapa Nara.

“apa yang kau lakukan barusan?? Mengejutkan sekali…” ucap Taehyung masih dengan nada agak kesal setelah tau Nara yang melakukannya.

“begitukah?? Kau pasti sedang memikirkan sesuatu… boleh ku tahu kau sedang memikirkan apa??” Tanya Nara sambil mengarahkan badannya menatap wajah tampan Taehyung meskipun sedang merengut.

“tak perlu, aku tak suka dekat-dekat dengan mu.” Ucap Taehyung cuek lalu beranjak dari tempat duduknya. Nara mengikuti langkah kaki Taehyung belakangnya sampai menuju tengah lapangan basket yang menjadi the center of school itu, ada anak basket termasuk Jimin di pojok lapangan itu sedang merencanakan eksekusi pertandingan selanjutnya. Taehyung menghentikan langkah kakinya lalu membalikkan badannya dengan tiba-tiba, Bbrruuk jidat Nara menabrak dada Taehyung cukup keras hingga membuatnya hampir terjatuh untungnya dengan sigap Taehyung menangkapnya, kejadian itu di saksikan oleh banyak pasang mata. Taehyung benar-benar tidak sengaja menabrak Nara.

“Gwenchana.” tanya Taehyung masih memeluk dan memandang Nara dari jarak dekat.

“ah, Gwenchana…” jawab Nara gugup. Taehyung merasa tak enak dengan posisi seperti ini di tengah lapangan begitu juga dengan Nara, ia melepas Nara dengan segera dan Nara pun membalikkan badannya.

“dasar Magnae, gitu aja langsung jatuh.” Gumam Taehyung sambil menyeringai.

**Shoot sebuah bola basket melesat lurus mengenai kepala Nara hingga membuat dia pingsan oleh seseorang.

“Nara….!!” ucap taehyung sontak mendekati tubuh nara yang telah terjatuh di lantai lapangan basket siang itu. Tubuh Nara di gendong ala bridal style oleh Taehyung.

Di ruang UKS telah berkumpul beberapa orang, Nara si korban, Taehyung saksi mata, Jimin saksi mata, Min ssaem pengadil dan Jaehyung,

“Kenapa Jaehyung oppa juga ikut.” Tanya Nara bingung.

“dia yang melempar,” tunjuk telunjuk imut Jimin kea rah Jaehyung yang mematung melihat Nara.

“benarkah??” Tanya Taehyung manatap mata sipit Jimin, tak percaya ‘setahuku dia murid baik dan teladan’ batin Taehyung.

“Jimin melihatnya, jadi sudah ketahuan siapa yang harus bertanggung jawab sekarang. Cepat minta maaf lah pada Nara ssi, Jaehyung ssi.” Perintah Min ssaem. Jaehyung segera mendekat ke ranjang Nara sebelum Min ssaem berubah pikiran dan melaporkan masalah ini pada Kepsek Kim.

“tak perlu ssaem,,, ini pasti karna ketidak sengajaan, aku sudah tidak apa-apa.”

“tidak, aku perlu meminta maaf pada mu. Tapi bolehkah aku berbicara hanya berdua dengan Nara.” ucap Jaehyung menatap dalam mata Nara.

“heum, baiklah” dengus ssaem.”kami pergi dulu, minta maaf lah yang baik.” Ucap ssaem sambil menepuk tiga kali pundak kekar Jaehyung. Lalu menggiring dua bocah, Jimin dan Taehyung keluar ruangan. Di dalam ruangan hanya ada Jaehyung dan Nara sekarang. Hanya ada keheningan di antara mereka, hingga Nara berani membuka suara.

“kenapa Oppa melakukannya??” Tanya Nara kebingungan.

“Karna oppa tak terima Taehyung menyentuhmu.” Ucap Jaehyung yang memiliki perawakan mirip Taehyung ini, namun wajahnya cenderung manis sedangkan wajah Taehyung cenderung imut dan seksi secara bersamaan. Nara hanya terdiam dan menunduk mendengar penjelasan Jaehyung barusan.

“apa Mama mu merencanakan sesuatu untuk mu?? Apa Mama mu bekerja sama dengan sekolah?? Kau biasanya cerita padaku.” Serang Jaehyung pada Nara dengan rentetan pertanyaan yang membuat Nara bungkam.

“bicaralah padaku!! Kenapa kamu jadi pendiam seperti ini??!! Hah!!.” Paksa Jaehyung sambil mengguncang pundak Nara.

“Mengertilah, aku juga tak ingin ini terjadi, perjodohan ini, atau bersekolah di sini, maaf Oppa aku belum bisa membiarkan mu tahu apa rencana keluargaku kali ini, ini kesempatanku untuk balas dendam pada dunia.” Ucap Nara berapi-api.

“Nara..” jaehyung hanya bisa terduduk mendengar ucapan Nara. Jaehyung benar-benar merasa kehilangan Cinta pertamanya yang polos dan baik hati, yang sekarang tumbuh semakin cantik namun memiliki amarah yang tak bisa di hentikan.

 

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s