[Boys Meet What?] Colors – Oneshot

COLORS

©haeminchan

BTS’ Rap Monster x OC’s Kitagawa Inori
Soulmate!AU, Angst, Slice of Life
a
PG-15 one-shot story

Kim Namjoon belongs to God and himself. But this fiction belongs to me, inspired by silentpeaches.tumblr.com soulmate AU story ideas.

BOYS MEET SOULMATE.

ENJOY.

.

.

Biru adalah warna langit yang dipantulkan kembali oleh laut dengan peranannya sebagai kaca raksasa bagi sosok cantiknya di hari yang begitu cerah.

.

.

Kedua netra yang terpatri indah di paras cantik itu masih setia tertutup dengan sempurna. Deru napas tenangnya berembus dan menguap di udara. Bercampur dengan partikel-partikel lain. Terbang, terbawa angin laut yang ia yakini dapat menyampaikan segala macam pesan, jauh ke belahan lain di bumi tempatnya berpijak saat ini. Jauh ke bagian tertinggi dari langit yang terbentang luas di atas kepalanya saat ini.

Suara deburan ombak yang menggema memenuhi seluruh indra pendengaraannya, sesaat terasa seperti alunan musik yang begitu menenangkan tapi di sisi lain juga terdengar begitu menyedihkan. Mengiris hatinya jauh lebih banyak dari yang ia duga. Karena di sini, tepat di sisi laut ini, bukan hanya senandung dari Sang Lautlah yang terus menerus mendera setiap inci benak dan alam bawah sadarnya. Tapi sebuah suara berat, bernada cukup datar, yang terdengar begitu lelah sekaligus antusias, terus-menerus berputar di sudut otaknya bagai kaset rusak. Mengantarkan jutaan jenis perasaan ke dalam relung hati kecilnya yang sudah tak terselamatkan lagi.

.

“A-Apa kau juga bisa melihat itu? Warna-warna yang bermekaran seperti kelopak bunga itu di mataku? Apa kau bisa melihatnya?”

.

“Aku ingin melihatnya … sungguh-sungguh ingin melihatnya. Sayangnya, hari itu aku tidak memiliki kemampuan itu, Kak.”

Sang Gadis menggumam lirih. Nada bicaranya terdengar begitu sedih kendati senyum yang begitu manis dan hangat masih terukir dengan jelas di bibirnya.

.

“Baiklah, kalau begitu, sekarang aku akan menceritakan semuanya padamu. Tak perlu khawatir dan dengarkan baik-baik apa yang akan kuajarkan padamu.”

.

Gadis itu membuka kelopak matanya dengan perlahan. Kini, iris kelam yang berseri-seri itu siap untuk menyambut warna yang tumpah memenuhi seluruh pandangannya. Pikirannya masih terus terbang dan berputar-putar pada hari dimana kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.

Bertemu dengan belahan jiwa yang selama ini sudah ia relakan merupakan sebuah kejutan yang begitu menyesakkan bagi Sang Gadis. Bukan karena ia tidak menyukai Sang Belahan Jiwa. Bukan pula karena ia adalah salah satu dari orang-orang yang berusaha menentang kehendak Sang Pencipta tentang seluruh takdir mengenai belahan jiwa ini. Tapi karena ia takut. Ia takut kalau Sang Belahan Jiwa akan kecewa pada gadis sepertinya. Gadis buta yang bahkan tidak bisa melakukan segalanya dengan benar tanpa bantuan orang lain. Gadis buta yang tidak akan bisa mengenali Sang Belahan Jiwa karena ia tidak bisa—dan tidak akan mengerti—mekarnya bunga warna-warni yang diceritakan Sang Belahan Jiwa padanya.

.

“Pertama, warna yang banyak mengikuti kisah kita. Warna biru. Kelak, saat kau mendapatkan kembali penglihatanmu, jangan lupa untuk kembali ke laut saat hari cerah dan melihat warna ini. Karena biru adalah—”

.

“—warna yang sangat cantik dan menggambarkan sosokmu yang terlihat begitu tenang walau aku tahu … kau pasti hidup dalam ketakutan yang sangat pekat.”

Kitagawa Inori—gadis dengan iris kelam itu—kembali menggumam seiring dengan suara dalam otaknya menyampaikan serentetan kata yang mulai dipahaminya. Kembali memejamkan mata dan menahan isak tangis yang akan lolos dari tenggorokannya, Inori mencoba untuk menenangkan dirinya sejenak sebelum mengembuskan napas dan kembali membuka matanya.

“Terima kasih karena sudah mengizinkanku melihat seperti apa warna biru itu, Kak Namjoon,” dan biru pun secara perlahan pergi menjauh dari penglihatannya. Terbang bersama angin menuju ke langit tertinggi yang takkan pernah berada dalam jangkauannya. “Dia memang warna yang begitu cantik.”

.

.

Hijau adalah warna rerumputan di bawah jemari kakimu. Warna yang memberi begitu banyak kekuatan dan kehidupan pada dunia.

.

.

Gadis bersurai cokelat sepundak itu kembali melanjutkan langkah ragunya ke dalam padang rumput yang telah menjadi ranah bermainnya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Ia tidak pernah tahu bahwa hamparan rumput bak permadani yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah suatu tempat yang seindah ini. Namjoon mungkin sering bercerita bahwa pemuda yang satu tahun lebih tua darinya itu seringkali merasa iri karena Inori bisa bermain dengan sepenuh hati di tempat seindah ini. Bahwa pemuda itu seringkali berharap ia bisa datang ke tempat ini lebih cepat lagi. Karena tempat indah ini begitu banyak memberikan inspirasi untuk musik yang tengah digarapnya. Karena tempat indah ini akan sering mempertemukan dirinya dengan sosok yang begitu cantik dan bahagia di depan matanya.

.

“Aku sungguh-sungguh iri padamu, Kitagawa Inori. Tempat ini begitu menakjubkan. Banyak sekali jenis musik yang bisa kuhasilkan hanya dengan duduk diam di tempat seperti ini. Kudengar, kau seringkali merangkai sebuah langkah berirama di sini … apa kau juga mendengar musik dari Sang Rumput hijau itu sama sepertiku?”

.

“Kau benar, Kak. Aku bisa mendengar musik dari Sang Rumput itu memenuhi pendengaranku dengan begitu jelas.”

Inori mendongak dan melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru padang rumput yang selalu berhasil memberikan suntikan energi dan melipatgandakan kebahagiaan yang dirasakannya. Senyum yang sejak tadi menghilang seiring dengan perginya warna biru dari pandangannya kini kembali menyambangi wajah gadis Jepang itu. Terpatri dengan lebih lebar, lebih tulus, dan penuh kebahagiaan.

Melemparkan sepatunya ke berbagai arah, Inori pun berlari dengan langkah ringan melintasi hamparan rumput hijau yang seolah-olah tercipta hanya untuk menghapus kesedihannya. Membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti alunan irama dari gemerisik suara dedaunan dan rerumputan yang saling beradu. Membiarkan setiap bagian tubuhnya terbang dan mengalir mengikuti angin yang begitu lembut membelai wajahnya. Membiarkan senyum yang begitu indah merekah dengan apik di paras cantiknya.

.

Warna hijau mungkin merupakan salah satu warna yang akan sering kau temui selain warna biru. Karena warna ini akan selalu ada di manapun kau berpijak. Memberikan setiap embusan napas kehidupan bagi bumi dan kita semua dengan bagian-bagian kecil dalam dedaunan dan rerumputan di sekitarmu. Ingatlah selalu—”

.

“—bahwa hidup akan menjadi hampa dan kehilangan napasnya tanpa warna hijau. Karena itulah aku selalu beranggapan bahwa hijau adalah warna yang memberimu kekuatan … dan kebahagiaan.”

Gerakan yang begitu anggun dari gadis itu pun perlahan berhenti. Deru napasnya terengahnya, keringat yang mulai membanjiri wajahnya, tetap tidak dapat menghapus senyuman yang masih setia terukir dengan begitu indah di bibirnya. Netra beningnya mencoba untuk menyimpan jutaan memori mengenai warna yang selalu berhasil membawa kebahagiaan bagi hidupnya. Menyapu setiap sudut yang tertangkap oleh iris kelamnya.

“Terima kasih karena telah membiarkanku melihat warna kehidupan ini, Kak Namjoon.” Inori mengambil napas dalam-dalam dan memejamkan matanya. Dan setelahnya, Sang Rumput pun perlahan kehilangan warnanya. Meninggalkan seorang Kitagawa Inori dengan segala bentuk kebahagiaan, yang akan bertahan lama di dalam hatinya. “Aku tak akan melupakannya.”

.

.

Kuning adalah warna Sang Mentari yang selalu menyambut harimu dengan senyuman dan meninggalkanmu dengan kehangatan berwarna jingga kala senja menyapa Sang Malam.

.

.

Gadis Jepang itu kembali melanjutkan langkahnya ke puncak bukit. Memunggungi Sang Mentari yang perlahan kembali ke peraduannya. Membiarkan warna kuning dan sedikit jingga bercampur memenuhi langit senja. Hari ini, selama dua kali secara berturut-turut, ia telah kehilangan kemampuan untuk melihat warna—biru dan hijau. Dua rangkaian kejadian yang sesungguhnya membuatnya takut. Apakah dengan kehilangan kemampuan untuk melihat warna secara perlahan akan membawanya kembali pada dunia yang gelap dan hitam pekat?

Karena ia tidak ingin kembali ke sana. Tidak tanpa adanya sosok Namjoon yang akan kembali menemaninya seperti sediakala.

“Kak Namjoon … aku datang lagi …,” gadis itu menghentikan langkahnya di depan sebuah pusara batu dan mencoba untuk menahan bulir-bulir bening yang berusaha untuk keluar dari kedua matanya. Bibirnya bergetar. Kata-kata yang telah ia rangkai di benaknya perlahan menghilang. Lenyap bersama angin sepoi-sepoi yang seolah mencoba untuk menenangkannya. Mengucapkan bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Mengikuti ke arah perginya Sang Angin yang membelai wajahnya, kini kedua iris kelamnya dipertemukan oleh tumpahan warna kuning yang bercampur dengan warna jingga yang amat menawan. Terasa begitu indah, hangat, dan menyedihkan di saat yang bersamaan.

.

“Kak … senja, yang pernah kau ceritakan padaku, seperti apa rupanya? Apakah dia juga secantik dan seharum bunga mawar?”

Namjoon mengalihkan pandangannya dari langit senja yang terbentang di depannya dan menoleh ke arah gadis di sampingnya. Sebuah senyum hangat pun terbit di wajahnya.

“Ya, dia sama cantiknya dengan mawar merah yang ada di genggamanmu … dia juga secerah dan sehangat senyumanmu. Tapi entah mengapa, bagiku, warna kuning pada senja juga terasa menyedihkan.”

“Kenapa?”

“Karena senja adalah—”

.

“—saat di mana matahari mengorbankan hidupnya agar rembulan dapat hidup dan bersinar dengan lebih indah di atas sana.”

Inori menangis. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini tumpah. Membuat pandangan matanya semakin buram seiring dengan semakin kaburnya warna kuning dan hangatnya sinar matahari yang membalut tubuhnya.

.

.

Merah adalah warna dari bunga mawar kesukaanmu—yang begitu cantik dan harum, tapi merah juga warna pekatnya darah yang begitu anyir dan memualkan.

.

.

“Kak Namjoon …,” suara Sang Gadis kembali menggema di bukit yang kini terlihat monokromatis. Semuanya berwarna hitam, putih, dan abu. Kecuali pada kelopak-kelopak dari bunga yang masih bertengger dengan manis di genggaman Inori.

Mawar merah.

Bunga yang selalu menjadi bunga favorit Inori. Karena baginya, mawar merah adalah bunga yang akan selalu mengingatkan Inori pada pertemuan pertamanya dengan seorang Kim Namjoon. Pertemuan pertama dengan sedikit benturan dan kelopak mawar yang tercecer ke segala arah. Pertemuan pertama paling ceroboh, paling konyol, dan tak terlupakan oleh Inori.

Gadis Jepang itu mengusap kasar air mata yang masih meleleh di kedua pipinya dan menggenggam erat-erat mawar merahnya. Membiarkan tangannya tergores oleh duri-duri yang sengaja tak ia bersihkan dari tangkai mawar tersebut. Membuat aliran-aliran kecil cairan berwarna merah di tangannya semakin banyak dan terasa perih.

Inori mendudukkan tubuhnya di depan pusara yang begitu sering ia datangi akhir-akhir ini dan menaruh para mawar itu di sana.

“Dunia monokromatis … hitam, putih, dan abu-abu … sebenarnya dunia yang seperti apa? Apakah ketika aku tidak bisa lagi melihat warna-warna yang Kakak ajarkan padaku ini, aku akan masuk ke dalam dunia monokromatis yang sama seperti apa yang Kakak lihat sebelum bertemu denganku? Atau aku akan kembali ke dunia yang gelap—yang selama ini kutempati seumur hidupku?”

Gadis berdarah Jepang itu mengangkat tangannya yang mulai memerah. Membiarkan cairan kental yang mengalir secara perlahan dari telapak tangannya terjatuh ke tanah. Ke atas mawar merah yang ada di bawahnya. Pikirannya kacau. Selalu seperti ini. Inori membenci sosok lemahnya ini.

.

 “Aku tahu aku juga ceroboh, tapi itu bukanlah alasan kalau aku tidak bisa menjaga diriku atau orang di sekitarku dengan baik. Kau tahu? Kecerobohan justru membuatku lebih ahli dalam mengobati luka. Jadi, serahkan saja padaku.”

.

Ingatan mengenai Namjoon kembali memenuhi otaknya. Membuat dadanya terasa sesak akan perasaan rindunya pada sosok Kim Namjoon.

Bukankah menjadi seorang yang sebatang kara dalam gelapnya dunia dan tanpa teman adalah hidup yang selama ini ia jalani? Tapi mengapa kali ini, ia merasa ketakutan seperti ini?

.

“Mawar dan darah memang memiliki warna merah yang sama, tapi keduanya memiliki aroma yang berbeda. Benar-benar unik bukan? Warna merah pada mawar memiliki aroma yang begitu harum, sementara warna merah pada darah memiliki aroma anyir yang memualkan. Sama seperti segala hal yang terjadi di dunia kita. Sebuah dunia, memang selalu memiliki dua sisi yang bergitu berbeda. Baik dan buruk. Benar dan salah. Terang dan gelap. Putih dan hitam. Dan manusia, dengan begitu serakahnya—selalu mengharapkan sisi teranglah yang akan mendatangi hidup mereka. Melupakan adanya sisi gelap, yang akan selalu mengikuti jalan hidup mereka.”

Namjoon membalutkan perban ke luka-luka yang ada di telapak tangan Inori, mengulas senyum tipis dan kembali berkata, “Padahal kedua sisi yang selalu datang dalam hidup manusia—baik dan buruk, semuanya memiliki peranan yang begitu penting. Sisi-sisi baik dan buruk itu akan membuat manusia menjadi sosok yang lebih dewasa dan memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lainnya. Karena dari tiap-tiap kebaikan dan keburukan yang menyelimuti hidup merekalah yang melahirkan berbagai emosi yang membedakan manusia dengan robot. Untuk itu Inori, jangan pernah takut dengan kekurangan yang ada pada hidupmu, dengan kegelapan yang selalu mengikuti jalan hidupmu. Karena Tuhan pasti memiliki milyaran rencana terbaik untuk membuat hidupmu lebih bahagia.”

.

Gadis Jepang itu bangkit dari duduknya. Menarik tubuhnya menuruni bukit tempat seseorang paling berharga dalam hidupnya beristirahat, untuk selama-lamanya. Berbagai macam warna yang begitu indah, yang menjadi hadiah terakhir dari Kim Namjoon untuknya, kini telah pergi meninggalkan pandangannya. Dunia yang kini menjadi tempat tinggalnya, memang tidak seindah sebelumnya. Tapi, ia telah menjalani sebuah kehidupan dalam pekatnya kegelapan abadi sebelumnya, jadi, menjalani hidup dalam dunia monokromatis—hitam, putih, dan abu-abu—tidak akan lagi membuat Inori ketakutan.

Karena bagaimanapun juga, ia tidak lagi sendirian. Namjoon akan selalu hidup di dalam hatinya, bersama dirinya, dan menuntunnya dengan memberikan begitu banyak pemandangan indah, yang begitu bermakna dalam hidupnya.

.

.

Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk menyaksikan warna-warna yang indah ini, Kak Namjoon. Aku akan menjalani hidupku dan menjaga pemberianmu dengan baik.

Terima kasih, dan aku akan selalu merindukanmu.

.

.

END.

Advertisements

4 thoughts on “[Boys Meet What?] Colors – Oneshot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s