[Vignette] Seluas Samudra

d82f011cb585dd09a8fa58b12c0ba404.jpg

Seluas Samudra

BTS’s Min Yoongi & Park Jimin / OC

Vignette / Sad / Teen

.by l18hee

.

Bolehkah aku berkata kalau rasa sayangku padanya seluas samudra?

.

Follow my wattpad @l18hee

.

Min Yoongi sudah berubah.

Min Yoongi benar-benar sudah berubah.

Bukan dalam kasaran fisik atau tampangnya, melainkan sikap yang menguar dari dalam dirinya. Dia masih dingin, namun kadarnya bertambah sekian banyak; makin tak peduli, makin kasar. Rahangnya sering terlihat tegang karena himpitan emosi yang ia tahan dengan dua bagian deret gigi yang saling beradu‒atas dan bawah. Kelopak matanya terlalu sering disipitkan, hampir terlihat seperti garis. Keningnya berkerut tak terkendali, di mana pun, kapan pun dia merasa jengah akan sesuatu‒yang mana kelewat sering ia lakukan.

Hari ini ia melakukannya lagi, pergi keluar rumah berbekal hoodie marun pemberianku. Ah, setidaknya di atas ketidakpeduliaanya sekarang, ia tak lantas membuang apa yang pernah kuberikan padanya. Mungkin norak, tapi aku cukup senang.

“Min Yoongi,” aku memanggil, dia tak menjawab. Entah sudah berapa kali kami begini, namun tak ada rasa bosan bagiku untuk memulainya lagi. Aku tak akan pernah bisa meninggalkannya sendiri, kendati di sisi lain ia justru tak melirikku sama sekali.

Kaki Yoongi terus terayun menyusuri tepi jalan yang hanya disinari cahaya lampu remang. Susah payah kuimbangi langkahnya, walau yang terjadi adalah aku berada satu langkah lebih lambat ketimbang dirinya. “Min Yoongi, ayo pulang.”

Dia meludah sembarangan, menganggapku angin lalu. Tangannya mengepal kuat sementara bibirnya mengeluarkan bisik kasar, “Berengsek, dia pikir dia siapa? Menantangku bertemu di gang kecil? Bah, pengecut busuk.”

Terkadang aku bingung kenapa kebanyakan remaja lelaki masih saja kurang bisa mengontrol emosi, mereka sangat gemar saling unjuk kekuatan kepalan tangan. Sebagai seorang wanita, pada dasarnya aku tak terlalu suka hal yang berbau kekerasan. Tapi rasa sayangku pada Yoongi seakan menarikku maju, terus mengikutinya tanpa peduli apa efek yang akan merembet padaku.

Otakku terus berputar, mencari cara agar Yoongi tidak datang ke gang sempit pinggiran kota. Hatiku tidak bisa melihat memar luka di tubuhnya, apalagi darah.

“Min Yoongi, sejak kapan kau tidak lagi mendengarkanku?” seruku frustasi. Inginnya aku menarik lengannya dan bergegas menyeretnya pulang. Tapi, memangnya seberapa banyak kuasa yang kupunya untuk melakukan hal tersebut? Satu-satunya yang bisa membawa Yoongi pulang adalah kemauan dirinya sendiri.

“Min Yoongi!” Aku menghardik dan lagi-lagi ia meludah, kali ini disertai decihan risih. Maniknya memicing tak suka. Ada keangkuhan bercampur emosi yang memeluknya begitu erat.

“Min Yoongi.” Saat ini bukan aku yang memanggilnya, melainkan seorang lelaki tinggi jangkung dengan sebuah tongkat bisbol di tangannya. Dia berada di ujung gang, memasang tampang paling remeh yang dipunya. “Berani juga kau kemari.”

Rahangku terkatup takut. Melangkah mundur satu langkah agar presensiku tertutupi tubuh Yoongi.

“Oh, sudah kuduga rumor pengecutmu bukan bualan.” Yoongi terkekeh melihat dua orang lagi yang muncul, masing-masing dengan tongkat kayu dalam genggaman. Yang merasa diremehkan langsung geram, tanpa aba-aba menerjang maju untuk memulai perkelahian.

Aku melangkah mundur lebih jauh, tidak bisa melihat Yoongi-ku yang semula kokoh berdiri dan beradu kepalan tangan mendadak dihantam kayu tepat di bahu kanan. Ini curang, jelas sangat curang. Tiga lawan satu, tiga bersenjata dan satu bertangan kosong. Aku berseru sekian kali, tak ada yang mencoba mendengarku. Mereka terlalu sibuk menggunakan jubah pengecut dan main pukul-pukulan seakan semua masalah tak akan selesai jika tidak dengan kekerasan.

Yoongi terlalu angkuh, aku tahu. Harusya dia pergi saja setelah tahu tenaganya tak akan cukup untuk melawan tiga lelaki jangkung dengan kayu sialan tadi. Darah sudah keluar dari mulutnya dan dibeberapa bagian yang tergores paku kayu. Ditutup dengan beberapa cipratan ludah dari tiga orang paling pengecut yang kulihat, Yoongi tersungkur di tanah.

“Min Yoongi.” Aku yang semula bersembunyi langsung menghampiri lelaki itu. “Min Yoongi,” panggilku takut. Tanganku gemetar menyentuh rambutnya, “Kubilang pulang saja.”

Yoongi terbatuk beberapa saat, keryitan yang tercipta menandakan batuknya yang barusan memberi efek sakit. “Maaf,” lirihnya dan aku tahu bahwa menangis di saat seperti ini bukanlah sebuah kesalahan.

“Min Yoongi!”

Aku menoleh cepat pada seorang lelaki dengan napas terengah. Itu Park Jimin, aku tahu dia akan mendengarkanku untuk menyusul kemari.

Jimin memandangku sendu, seakan meminta maaf karena datang terlalu lambat. Kugelengkan kepalaku sebagai tanda bahwa itu tak masalah. Melihatnya muncul saja sudah menjadi sebuah syukur bagiku. Lalu Jimin memapah karibnya untuk berdiri.

Ah, ada yang akan dirawat di rumah sakit malam ini.

.

.

.

Lama Yoongi terdiam. Dia sudah duduk di ranjangnya dengan mata bengkak dan membiru. Luka-luka menganganya sudah terbalut perban. Ia meringis pelan saat nyeri menyerang perut sebelah kirinya. Aku berdiri tepat di sampingnya, ingin memeluk namun takut malah akan menambah rasa sakit.

Sebuah lolos napas lelah Jimin suguh, “Sudah tahu mereka pengecut, kenapa tetap datang? Dan kenapa datang sendiri? Setidaknya ajaklah beberapa kawanmu.” Dia tak menatapku karena tahu aku memberi pelototan tak suka. “Apa yang merea lakukan, memangnya?” lanjut Jimin.

Tangan Yoongi terkepal, maniknya menatap lurus ke depan. Dan sebuah kalimat bersirat emosi keluar dari katup bibirnya, “Mereka mengatainya jalang,” dia menarik napas, “mengatainya perempuan murahan, menyebarkan rumor tak senonoh. Tidak ada milikku yang kotor‒apa pun, siapa pun‒jadi kupukul wajahnya. Lalu dia menantangku balik‒yah, kau tahu kelanjutannya bagaimana.”

Lantas giliran aku yang mengepalkan tanganku erat. Menangis tanpa suara untuk mulai menyalahkan diriku sendiri. Sebelumnya kukira aku tak dapat lagi menangis setelah berbagai hal yang kulalui. Namun begitu tahu seberapa besar pedulinya Yoongi padaku, semua dinding sekaan runtuh. Entah dari mana datangnya air mata ini, aku tak ingin susah mencari tahu. Kubungkan mulutku sendiri sementara tangan gemetarku mencoba menyentuh rambut Yoongi, mengusapnya dengan segenap sayang yang kupunya.

Diam-diam Jimin membiarkan air mata menumpuk di kelopaknya saat melihatku, tapi dia tak membiarkannya jatuh di depan Yoongi.

“Min Yoongi,” Jimin bicara, “dia di sini.”

Jantung Yoongi berdegub lebih kencang, membalas tatapan Jimin dengan rasa tak percaya. Kemudian Jimin berucap lebih jelas, “Dia di sini. Di sampingmu. Mengenakan terusan biru langit pemberianmu.”

Lalu ada getar hebat yang Yoongi rasakan. Bibirnya terbuka dengan napas yang patah-patah, “Dia … di sini?” Jimin mengiakan dengan anggukan kecil, “Dia berusaha menghentikanmu sampai memanggilku untuk datang. Kau tahu, dia sedang menangis.”

Yoongi mengatupkan bibir, menolehkan kepala ke samping untuk mendapati ruang kosong di sana―di tempatku berdiri. Makin membuatku ingin menyentuhnya secara langsung, sungguh. Namun yang bisa kulakukan cuma menangis dan memandangnya seperti ini. Bisa kulihat air mata muncul dari sudut matanya. Semakin lama semakin bertambah. Sesak yang dia rasa seperti mengikatku juga. Ia menahan kening dengan satu tangannya, berucap susah payah, “Maafkan aku.”

“Dia mengkhawatirkanmu.” Ini suara Jimin. Aku menatapnya dan berucap, “Aku mencintainya dengan segala yang pernah kupunya. Katakan aku baik-baik saja asal dia pun begitu.”

Jimin meneguk ludah, merasakan sesak dalam dada sebelum beralih pada Yoongi dan menyampaikan pesan dengan baik, “Dia baik-baik saja asal kau pun begitu,” ia bersidekap dan mengusap hidung sekilas, “kau tahu maksudku, Yoongi. Kau yang memahami dia lebih dari siapa pun.”

Tahu jika yang harus dilakukannya adalah merasa rela, tangis Yoongi makin menjadi. Tangis tanpa isak yang terlihat begitu menyedihkan. Tapi aku yakin dia kuat, seperti apa yang pernah ia koarkan padaku ketika kami masih bisa saling berbagi pelukan dulu.

Bibirku tertarik untuk menyuguh lengkungan senyum kala menyadari ada perasaan ringan yang melingkupiku.

Bibir Yoongi masih bergetar kala segelintir ucapan keluar. Aku tahu dia menyesal, aku tahu dia sudah mau merelakanku, aku tahu dia akan selalu menjadi Min Yoongi-ku.

“Maafkan aku, Ibu.”

Dengan begini aku bisa menghilang tanpa rasa sakit mencekam.

.

Terima kasih, nak. Ibu tidak pernah berhenti mencintaimu barang sebentar.

.

.

.

.end

Advertisements

12 thoughts on “[Vignette] Seluas Samudra

  1. Ini kereenn>< tapi jujur aku masih blm ngerti:3 jadi disini ibunya yoongi udah mati ya? Karena di panggil ga nengok nengok gitu kan? Trs si jimin ini punya semacem kelebihan untuk liat hantu? :3

    Like

  2. Parkdongseob29

    Astagahh keren kak(y) kukira si ‘aku’ itu yeochin nye-,- ternyata ibunya yoongi. Pantes aja yoongi ngga trima banget pas “pengecut busuk” ngatain ibunya jalang:3 hoalahoo. Fighting kak!!!(;;

    Like

  3. Yoongi si judes :v ampun deh kalo inget ni cogan rasa tsundere banget :3
    Eh, gua vikir ini ff yaoi yoonmin :v ternyata bukan :”v fix, masih waras berarti #plak
    Suga disini keras kepala ya -.- untung laki gua si Jimin dateng walaupun telat #PahlawanKesianganDia -.-
    Ahhhh, Yoongi gua ngefly sama kata2 lu >..<
    Jimin ada rasa 😮
    Gua kaget cewenya udah mati, lebih kaget lagi dia emaknya Yoongi. Kurang asem banget authornya ya -.-
    Oke, bagus kok ceritanya, pendek tapi alurnya tak terduga :v
    Salam kenal ya, Regita imnida Jimin wifeu Line 97 :3 visit back wordpressku yuk ^^ regitahafnie37.wordpress.com

    Like

  4. ryujin4

    Astagaaaa, ini keren >< Awalnya kukira tokoh 'aku' itu ceweknya Yoongi. Ya ampun Yoongi sayang anak mamaaa, maapin Mama nak 😭😭😭😭😭

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s