[Vignette] Strangely Enough

arrr

Cr. on picture

Strangely Enough | by: siluetjuliet | a Vignette

Main casts: [BTS’s] Min Yoongi and OCs | Rating: G | Genres: family

Rules : no plagiarism !

.

.

When you expect things to happen—strangely enough—they do happen.” —J. P. Morgan

.

.

Jadi pelajar itu sulit.

Setidaknya itu yang Min Aeri pikirkan. Ketika kakak perempuannya sibuk jalan-jalan, ia malah sibuk menempelkan kepala di atas meja belajar—saking capeknya menghayati isi dari buku-buku pelajarannya yang tebal. Pintar-pintar begini, Aeri tetap memaksa diri untuk belajar demi suksesnya ujian akhir semester yang tinggal menunggu hitungan jam.

Hampir menyerah, tapi tidak jadi, lantaran sosok seorang Min Yoongi yang datang bertandang jauh lebih menawan dibanding eksistensi ranjang yang tadinya minta disayang.

Min Yoongi memang kakak paling perhatian. Segelas susu di tangan menjadi bukti kasih sayang yang luar biasa untuk mendukung adik bungsunya, Min Aeri.

“Kalau lelah istirahat saja, Ae, nanti otakmu meledak.” Diusaknya puncak kepala sang adik—pertunjukan kasih sayang a la Min Yoongi pada Min Aeri agak berlebihan, memang. Pasalnya lelaki itu tak pernah berbuat hal serupa pada adik tertuanya, Min Yoonra.

Aeri menggeleng (sok) imut. “Tidak mau. Aku terus belajar karena  ingin dapat nilai terbaik, supaya bisa kencan dengan Kak Yoongi!”

Tawa Yoongi mengudara. Ia ingat janji rutinnya pada Aeri soal mengajak gadis itu jalan-jalan ke mana saja—yang Aeri sebut kencan barusan–jika adiknya mendapat nilai terbaik dari seluruh siswa di kelasnya. “Sebegitu penginnya ya kencan dengan kakakmu yang ganteng ini?”

Aduh, muak.

Pernyataan narsistik Min Yoongi barusan sudah pasti ditanggapi anggukan kepala antusias oleh Min Aeri.

“Ya sudah, tapi jangan berlebihan belajarnya ya, Ae, nanti kamu malah sakit.” Yoongi menaruh segelas susu dari tangannya ke atas meja belajar Aeri, setelah itu berpamitan.

Aeri hanya tersenyum senang sambil memandangi punggung kakaknya hingga Yoongi memegang kenop pintu kamarnya.

Hendak berbalik guna kembali bergumul dengan tumpukan bukunya, namun terinterupsi oleh suara Kakaknya—yang tiba-tiba bertanya sebelum menutup pintu. “Ae, kalau kencannya ditunda hingga kau lulus SMA, tidak apa, ‘kan?”

Si gadis bungsu berjengit heran. “Kenapa kak?”

“….”

Namun, Aeri tak pernah mendapat jawaban atas kuriositasnya.

***

“MIN YOONRAAA!”

Subuh-subuh begini, gelegar suara Jung Hoseok menggema dari pagar, sampai-sampai ayam peliharaan tetangga pun berhenti berkokok lantaran kalah pede dengan suara sumbang Jung Hoseok yang sudah pasti mampu membangunkan seisi komplek. Pun membuat Min Yoonra langsung sigap melompat dari ranjang, mengucek mata dan buru-buru berganti dengan pakaian olahraga. Peduli setan dengan jalur liur yang masih tercetak di pipinya.

Rutinitas yang tak pernah dilewatkan oleh Jung Hoseok adalah menemani Min Yoonra lari pagi. Sementara kewajiban mutlak Min Yoonra adalah nongol di hadapan Jung Hoseok kurang dari lima menit, karena jika tidak maka sahabatnya itu akan menggerutu ngalor-ngidul hingga membuat aktivitas lari paginya menjadi tidak khidmat.

Saking buru-burunya, Yoonra sampai tak sadar jika Min Yoongi telah berdiri di depan pintu kamarnya—menghalangi jalan.

Duh, Kak Yoongi minggir dong! Keburu si kuda ngomel nih!”

“Hoseok udah nggak ada, Ra.” Yoongi bersedekap, sedangkan Min Yoonra terperenyak. “Astaga! turut berduka cita. Cepat banget dia matinya, Kak, padahal barusan aku denger teriak-teriak di depan rumah kita.”

Lantas, sebuah toyoran melayang di dahinya—perbuatan Min Yoongi. Pikiran Min Yoonra memang suka agak di luar nalar hingga membuat Yoongi gemas; ingin menghujani gadis itu dengan ribuan toyoran, tapi tidak jadi karena takut ditoyor balik yang pastinya langsung bisa membuat pria mungil itu melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi.

“Bukan nggak ada terus mati gitu, Ra, maksudnya si Hoseok tadi sudah kusuruh pulang.”

Yoonra agak tidak paham dengan situasi ini (memangnya kapan, sih, dia pernah paham?). Nah, jika Hoseok pulang, lantas siapa yang akan menemaninya lari pagi?

“Kakak yang akan lari bersamamu. Ayo!”

Duh, romantis.

Kalau soal kemampuan membaca pikirannya, sih, Yoonra tidak pernah meragukan kemampuan Yoongi yang satu itu. Namun, soal kemampuan bangun pagi dan berolahraga seorang Min Yoongi, agaknya membuat Min Yoonra cukup terheran-heran. Bagaimana bisa tabiat kakaknya bisa berubah menjadi aneh begini?

“E—eh, tunggu deh, Kak.” Min Yoonra memegang pergelangan tangan kakaknya yang mulus guna menghentikan pergerakan kakaknya (sekaligus modus). “Tumben Kak Yoongi begini? Ada apa?”

“….”

Sama nasibnya dengan si bungsu, Min Yoonra pun tak mendapat jawaban yang berarti.

***

Meninggalkan itu tidak mudah.

Begitu pikir Min Yoongi, padahal semula ia kira pergi tanpa berpamitan pada kedua adiknya akan membuatnya lega dan lebih mampu menerima kepergiannya sendiri dengan lapang dada, tapi ternyata tidak demikian.

Malah hatinya bagai digerus arus terus-menerus (permisalan macam apa ini?), masih terasa sakit jika membayangkan bahwa untuk beberapa waktu yang cukup lama ia tak lagi bisa bertemu dengan kedua adik perempuannya.

Ia berdiri di peron sendirian, dengan sebuah backpack besar di punggungnya serta baju loreng-loreng yang ia kenakan—menunggu kereta yang akan membawanya pergi jauh dari rumah; melaksanakan tugas negara.

Sengaja ia tak memberitahu kedua adiknya perihal surat tugas wajib militer yang ia terima. Ia bahkan memohon pada kedua orangtuanya untuk menyembunyikan hal ini dari adik-adiknya, takut-takut kalau kedua adiknya tak bisa menerima kepergiannya. Yoongi khawatir jika Aeri mungkin akan menangis dan mengunci diri di kamar selama berhari-hari sembari curhat dengan peliharaan-peliharaan anehnya, ia juga khawatir jika Min Yoonra tak mengijinkannya pergi dan bersikeras untuk berangkat wamil sendiri menggantikan dirinya.

Demi kedamaian dunia, maka dari itu sebisa mungkin Yoongi menyembunyikan hal ini, dan selama beberapa hari terakhir ia benar-benar menghabiskan waktu bersama Aeri dan Yoonra, sekalipun kegiatan-kegiatan yang ia lakukan tersebut melanggar kebiasaannya.

Namun, seperti kata anonim: ‘kau tidak dapat memercayai siapa pun selain dirimu sendiri.’ Itu juga berlaku untuk kedua orangtua Min Yoongi. Benar-benar pengkhianat. Lihat saja apa yang mereka bawa sekarang di detik-detik akhir melepas kepergian Yoongi, maka kau akan tahu seberapa besar pengkhianatan yang telah mereka lakukan pada anak sulungnya itu.

Wahai Ayah dan Ibunya Yoongi, terimakasih karena telah membawa kedua cecunguk bertitel Min Yoonra dan Min Aeri hingga membuat ketakutan Yoongi menjadi kenyataan adanya.

Kedua gadis tak tahu diri itu berteriak-teriak dari ujung peron sambil berlari-lari lantas menghambur—memeluk Yoongi hingga si lelaki kurcaci hampir itu jatuh terjengkang ke belakang. Bisa gawat. Bisa jadi tertawaan banyak orang, tentu saja.

“Kak Yoongi jahat, pergi wamil nggak bilang-bilang!” si bungsu mulai histeris, air matanya meluber ke mana-mana, belum lagi ingusnya yang sama sekali tidak dikondisikan. Sementara Min Yoonra tak berkata apa-apa, hanya memasang wajah galak yang … ya ampun cantiknya minta dicium (sama ubur-ubur).

Yoongi makin gelisah ketika suara kereta api datang mulai santer terdengar. Artinya, ia tak punya waktu lebih lama lagi mendengar keluh kesah adik-adiknya—yang membuatnya makin ogah berangkat, jujur saja.

“Maaf. Kalian jaga diri baik-baik ya di sini, harus rajin belajar—“ petuah singkat ia koarkan sabil menatap Aeri, kemudian cepat berpindah tatap pada Yoonra, lengkap dengan mimik muka tak mau kalah galak dengan adik perempuannya yang berandal itu, sambil melanjutkan petuahnya, “—jangan rajin keluyuran!”

Lantas, Min Aeri menyodorkan sebuah toples transparan pada kakaknya. “Ini kuberikan Cliff pada Kakak, supaya Kak Yoongi tidak kesepian di sana.”

Yoongi nyaris berteriak kalap kala melihat sosok hijau berkulit licin di dalam toples sedang menatapnya dengan mata super besar. Cliff, si kodok besar peliharaan Aeri, tak pernah gagal membuat Yoongi menahan ketakutannya setengah mati. Mau bagaimana lagi, demi rasa sayangnya pada si adik, Yoongi rela-rela saja menerima salah satu spesies peliharaan aneh milik Aeri meski dihantui rasa takut yang bertubi.

Sementara adik perempuan yang satunya lagi, menyodorkan sebuah kotak berisi ramuan kesehatan buatan sendiri (yang entah membahayakan atau tidak) sambil melengos. “Aku masih marah padamu, Kak, jadi aku tidak mau bicara!” sahut si gadis preman ketus, sok-sok tak mau bicara padahal sendirinya barusan membuka suara.

Tidak ada yang bisa Yoongi lakukan selain memeluk kedua adiknya dan mati-matian menyembunyikan rasa haru sekaligus sedih. Berharap air matanya tidak keluar tiba-tiba dan membuat image ‘Kakak Keren’ yang dibangunnya sedari dini runtuh, lantaran terlihat cengeng di depan adik-adik yang harus ia ayomi.

“Kakak pergi dulu ya,” ujarnya lirih hingga terdengar seperti lenguhan kutu. Berbekal restu dari kedua orangtua serta tangisan kedua adiknya, Min Yoongi pun pergi demi kewajiban yang harus ia selesaikan.

Setidaknya ia jadi tahu, bahwa meninggalkan dan melepaskan itu sama sulitnya. Namun, setidaknya—lagi—ia jadi tahu bahwa akan selalu ada orang-orang yang mengasihinya dan menunggunya pulang, yakni hartanya yang paling berharga: keluarga.

—fin.

a/n:

Rindu menulis meski hancur. Ngebayangin mas agus wamil kok dede gakuat. Niat hati pengen bikin aestheticnya Min Family, tapi kok ya ternyata hayati tak mampu xD

armysyub

Advertisements

13 thoughts on “[Vignette] Strangely Enough

  1. Huwaaaaaaa kangen kak Siluetjuliet banget aku tuuuhhhh 😭😭😍
    Ini tiba-tiba muncul bawa cerita Yoongi nya wamil duh baper akunyaaa

    Sebenernya kalo Yoongi wamil, aku gak kasian Yoongi nya. Yoongi kan susah dibangunin, kasian temennya entar malah dikasih kata2 kasar LOL :’v

    Tapi itu demi apa si Aeri melihara kodok yaampun, ini anak 😅😅😅

    Like

    1. Ciyee aku ada yg ngangenin ciyee /apasih(?)

      Yoongi bisa kok bangun dengan kecupan ((ngarep))
      Dan yes, peliharaannya aeri bukan cuma kodok, taehyung aja dipelihara sama dia /gak.

      Makasih udaa baca yaa^^

      Like

  2. Masih ada ngga stok “kakak” macem bang agus gini.. Daridulu pen banget punya kakak cowok, ya ini bang agus tipeku banget.. Tapi apalah daya daku anak pertama. Kalo suruh buatin baoak emak yang ada jadi adek, bukan kakak lagi huhuhu pen banget rasanya ngantongin bang agus buat diangkat jadi oppa, ahh suami juga ndak papa wkwkwkwk
    Keren thor ceritanya(y) sukses dehh bikin aku merem-melek, cengar-cengir, jingkrak-jungkrak/weh/
    good luck author-nim kebanggan readers:*

    Like

  3. duhh ini antara pingin ketawa ngakak – pas pingin buka mulut lebar-lebar langsung rapet gitu aja begitu baca paragraf selanjutnya gara-gara si abang wamil – dan akhirnya malah terharu-biru.
    Oke fix, ini komen ga berfaedah banget T__T
    Ga kebayang kalau abang beneran wamil.. gantiin sama yoonra aja deh wakksss ^^

    Like

    1. Wehehhee, iyakan jd sedih kalo keinget lelaki imut nan rapuh macam massyub ntr akhirnya jg bakal wamil juga….
      Kalo bs digantiin yoonra mah eiki rela, biar aja yunra yang baret2 di sana, biar massyub aman ttp mulus di rumah 🙂

      Liked by 1 person

  4. Akutuh ga mau komen kak, asli deh! Lg males bgt ngetik, tp kok hbs baca ff nya aku jd ga kuat pengen buru2 ngetik wkwkwk.
    Plis ya… Aku ketawa mulu. Lg serius2 tetiba ada Anggunlah yg melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi. Kan aku langsung nyanyi jadinya…. 😅

    Like

    1. Wahahha jangan ngetik kalo gitu neng, tidur aja.
      Jangan baca yg beginian, nanti kualat /lah(?)
      Tuh kan, eneng mah hobi nyanyi emang… daftar jadi member keenamnya red velvet gih, mayan menang bandar /apasih(?)

      Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s