[Boys Meet What?] 00.34 – Oneshot

Judul: 00.34

Nama Author: hazelnutj

Genre: romance, fantasy

Length: Oneshot

Rating: PG-15

Cast: Jeon Jungkook, Yoo Nara

Disclaimer: Ide cerita sepenuhnya milik saya, Jeon Jungkook milik Yang Berkuasa, orangtuanya, dan orang-orang di sekitarnya. Yoo Nara…hanya Tuhan yang tahu milik siapa.

Summary: Jungkook menaikkan nada bicara, Nara kabur. Pukul 00.24, Nara kembali. 00.34, Nara kembali. 00.44, Nara kembali.00.34

30 Desember 2016

Tipikal malam-malam ujung tahun lainnya. Salju agak lebat, pohon yang bergoyang, halaman yang putih, dan secangkir coklat hangat. Oh, tidak terlalu tipikal kalau dipikir. Jungkook, yang biasanya duduk bersama di meja makan bersama keluarga dan tetangganya, sekarang sendiri. Orangtuanya dan orangtua gadis sebelah rumahnya merupakan sahabat semasa sekolah yang memiliki ikatan yang menurut Jungkook kelewat erat sampai mereka memutuskan membangun dua rumah dalam sebidang tanah luas.

Pula itu alasan yang menyebabkan cemas menemani Jungkook sekarang. Nara belum pulang, padahal lengan yang lebih pendek di jam dinding rumah Jungkook hampir menumbuk angka sepuluh. Orangtuanya dan Nara pergi menghabiskan akhir tahun bersama ke Jerman, baru berangkat kemarin subuh. Tidak pamit, kedua pasangan tersebut meninggalkan catatan di meja makan rumah masing-masing.

Kami liburan! Jaga diri baik-baik, ya! Saling menjaga dengan tetangga sebelah. Mengundang teman boleh, tapi jangan buat pesta! Selamat tahun baru! Kami pulang hari kedua 2017., bunyinya begitu. Nara langsung lari ke rumah Jungkook dan menunjukkannya. Sama persis setiap tanda seru dan komanya. Mereka memang sekongkol. Dan begitulah, Nara menginap di rumah Jungkook sampai tahun baru.

Pukul 22.14, pintu depan rumah Jungkook terbuka, hampir bersamaan dengan Jungkook yang langsung menyambangi.

“Kau…dari mana saja?” tanya Jungkook sembari memperhatikan Nara dari ujung kepala ke ujung kaki, agaknya terkejut karena Nara pergi tanpa kabar, tanpa keterangan. Yang Jungkook dengar tadi hanya pintu tertutup. Riasan, dress hitam di atas lutut, stocking, dan sepatu tinggi yang tebal di bagian depan–Jungkook kurang tahu jenis apa itu. Yang jelas, ini sangat…tidak Nara.

Yah, meski Nara terlihat berbeda dan membuat lidah Jungkook hampir kelu. Tapi, sama sekali tidak Nara. Dan, oh, apakah ini bau bir?

“Pesta Namjoon.”

“Kau ke pesta? Dan tidak bilang padaku?” Naik nada bicara Jungkook.

Nara memutar bola matanya jengah, “Ya, lalu kenapa?”

“Sangat bukan dirimu!”

“Kapan lagi aku bisa ke pesta tanpa izin? Hanya sekali ini, ‘kan, lagipula.”

Jungkook menatapnya tidak percaya. “Tapi, Namjoon? Ya ampun, aku tidak keberatan kalau itu milik siapapun selain Namjoon. Ia menawarimu bir, ‘kan?”

Nara menatapnya dengan alis berkerut, tidak terima Jungkook mencurigai Namjoon. “Memang kenapa sih, kalau Namjoon? Ya, dia menawariku tapi aku tahu batasku.”

“Kenapa kau tidak bilang padaku? Aku mau menemanimu ke sana, kok.”

“Memangnya kau siapa?”

Nara menatapnya malas dan memutar tubuhnya. Ia berjalan keluar dan melewati gerbang, yang bodohnya tidak Jungkook hentikan karena dia sibuk berpikir. Siapa dia? Siapa dia bagi Nara? Nara baginya memiliki banyak definisi, namun ia bagi Nara? Tidak ada yang tahu.

Jungkook tidak mengejar. Ia membiarkan pintu terbuka dan duduk di sofanya, mengundang cemas yang lebih ramai dari sebelumnya. Ponselnya ia genggam, takut-takut Nara akan memintanya menjemput. Jungkook berpikir dan bercemas dalam diam. Apakah barusan ia terlalu kasar? Apakah seharusnya tidak seperti itu? Tapi, wajar ‘kan Jungkook cemas? Dan cemas selalu terimplementasi seperti itu.

Dan ‘apakah’ serta ‘tapi’ lainnya bergiliran bertamu di kepalanya. Diselingi Jungkook yang mencoba menelepon Nara beberapa kali. Sampai sudah berganti hari, Nara belum pulang. Jungkook juga belum mengantuk.

31 Desember 2016

00.24, pintu terbuka. Dilanjutkan dengan, “Jungkook!”

Jungkook bergegas menghampiri, “Kau…tidak apa, ‘kan?” Dibalas dengan sebuah pelukan. Jungkook mematung. Nara tidak pernah memeluknya. Nara meminta maaf bertubi-tubi, dibalas dengan maaf Jungkook yang sama banyaknya dan sebuah elusan di kepala yang akhirnya berani dilakukannya.

“Di mana kau ganti baju?” tanya Jungkook setelahnya, menanggapi celana tidur dan mantel besar entah milik siapa.

“Di rumah Jena. Aku ke sana dan meminjam bajunya karena kedinginan.”

Jungkook meminta Nara duduk, membawakan selimut untuk Nara, dan ke dapur membuat coklat ekstra hangat untuk Nara. Jungkook memberikannya pada Nara, bersamaan dengan suara pintunya yang terbuka. Jungkook berjalan mendekati pintu, mengira pintunya tertiup angin. Namun, ia salah.

“Hei,” ucap gadis di pintunya. Nara, masih dengan dress hitamnya dan menenteng sepatu tingginya, menatapnya bersalah. “Aku kedinginan.”

Jungkook membuka dan mengatup mulutnya beberapa kali. “Nara? Yoo Nara?”

“Apa?” Nara yang duduk di sofa menghampirinya. Kedua gadis itu bertatapan, sama-sama membulatkan mata.

“Kau siapa?” tanya keduanya bersamaan.

“Kalian siapa?” tanya Jungkook.

“Nara!” ucap keduanya bersamaan. Jungkook merasa agak hilang kewarasan. “Yang mana Nara yang sebenarnya?”

“Aku!” ucap keduanya, lagi-lagi bersamaan. Jungkook menatap keduanya bergantian dan meminta mereka duduk di sofa. Jungkook kemudian menutup pintunya. Ketiganya duduk di sofa dalam hening yang membingungkan. Jungkook terbangun tiba-tiba, mengingat ia belum memberi selimut pada Nara yang lain. Bahkan kalimat itu seharusnya tidak ada.

“Kau…mau coklat hangat?” tanya Jungkook. Nara yang barusan diberi selimut olehnya mengangguk. Jungkook ke dapur dan membuat secangkir lagi, bersamaan dengan terdengarnya ketukan di pintu. Siapa yang tengah malam datang?

“Jungkook,” sapa pengetuk pintu setelah Jungkook membuka pintunya. Jungkook mengusap matanya. “Maaf, aku terlambat pulang,” lanjut Nara yang berdiri di depan pintunya. Pakaiannya masih utuh dari ujung kepala ke ujung kaki. Jungkook menggaruk kepalanya, dibuat terlalu bingung. Yang di depan pintu ia persilakan masuk. Dua Nara di sofa menoleh serentak, membuat Nara yang baru masuk terdiam. Ia menunjuk mereka tidak percaya, lalu menunjuk dirinya sambil menatap Jungkook. Berkali-kali diulangnya. Jungkook hanya mengangguk lemas dan mempersilakannya duduk di sofa. Jungkook–lagi-lagi–terbangun tiba-tiba, mengambil sebuah selimut lagi, memberikannya pada Nara yang baru datang, dan menawarinya coklat hangat. Ia pergi ke dapur dan memberikannya kepada Nara. Nara menerima gelas berisi coklat tersebut, namun Jungkook tidak melepasnya.

“Terakhir kali aku memberikan coklat hangat, seorang Nara datang lagi,” ucap Jungkook. Ia melepas gelas tersebut hati-hati dan menunggu. Satu menit. Tidak ada yang terjadi. Bagus, tidak ada lagi yang datang.

Jungkook menenggelamkan wajah di kedua tangannya sesaat, lalu menatap ketiga Nara bergantian. Ia mengembus napas agak keras. Tiga Nara. Jungkook sih, senang saja kalau ada banyak Nara yang parasnya manis itu jika situasinya masuk akal. Contohnya ketika Nara menemaninya di ruang latihan, cerminan Nara pada dinding kaca yang ada di mana-mana membuat perasaannya meletup-letup. Tidak seperti sekarang ini. Ia setengah mati dibuat bingung.

“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Jungkook.

“Aku Nara, Kook!” seru Nara yang datang pertama. Nara yang datang kedua hanya menatap Jungkook dan menghembus lelah. Nara yang datang ketiga menyandarkan kepalanya. Jungkook kemudian mengambil baju-baju Nara yang berbeda warna dan memberikan masing-masing pada setiap Nara. Nara pertama diberinya warna biru langit, Nara kedua warna putih, dan hijau lumut untuk Nara ketiga.

“Kalian ganti baju saja, ya. Aku mau tidur,” ia masih tidak percaya dengan kalimatnya sendiri. Ia hendak tidur saja, berharap semua hanya terjadi karena ia kurang tidur.

Pagi harinya, Jungkook keluar kamar dan menggerutu diam-diam. Nara masih ada tiga. Nara Satu, dengan baju biru langit, berbaring di sofa. Nara Dua, dengan baju putihnya, menekuk lutut dan meletakkan kepala di atasnya. Nara Tiga dan baju hijau lumutnya bergelung dalam selimut, berbaring di bawah. Ketiganya masih terlelap. Jungkook menatap mereka lelah.

Ia menuju kamar mandi dan tersandung rak buku pendek yang baru dibeli minggu lalu. Ia mengumpat diam-diam. Ia menoleh dan mendapati Nara Dua sudah menatapnya dengan mata setengah terbuka. Jungkook meringis.

“Pasti sakit, ya,” ucap Nara Dua dengan suara yang masih agak serak. Jungkook masih meringis dan melanjutkan niatnya ke kamar mandi.

Jungkook menyibukkan diri dengan empat bungkus ramen setelah ia berbicara pada dirinya di cermin dan memikirkan apa yang harus ia lakukan hari ini. Oh, bagaimana caranya mengembalikan Nara? Bagaimana kalau masih ada tiga Nara sampai orangtua mereka pulang? Pertanyaan terakhir itu membuatnya ngeri.

Sementara ia membuat ramen, Nara Satu dan Tiga mulai bangun. Nara Tiga menghampiri Jungkook segera, “Pagi Jungkook. Harum sekali.”

Jungkook tersenyum tipis, “Pagi juga. Maaf, ya, pagi-pagi sudah kubuatkan ramen.”

Nara Satu menimpali, “Jangan bilang itu buat sarapan? Oh, Jungkook, kau tahu ‘kan tidak baik untuk makan ramen sebagai sarapan.”

Jungkook mengedik bahu, namun diam-diam bertanya-tanya. Biasanya memang ia dimarahi tapi Nara selalu satu otak dengannya dalam hal ini. Nara Dua mengambil segelas air dan menghabiskannya. Jungkook meletakkan ramen yang dibuatnya di mangkuk-mangkuk karena pancinya tidak cukup. Ia kemudian meletakkan di meja makan, diikuti Nara yang duduk di kursi. Ia berdoa dan mulai makan.

“Mau jalan-jalan hari ini?” tanya Jungkook. Konyol.

“Kau mau membawa kami bertiga?” tanya Nara Satu. “Tolong deh, Jungkook,” sambung Nara Tiga. Nara Dua masih berfokus pada ramennya namun sudah menggeleng dari awal. Jungkook mengangguk-angguk dan meringis, kemudian melanjutkan ramennya. Setelah semua selesai makan, Nara Dua segera membereskan mangkuk dan mencucinya dalam diam. Jungkook mengikuti di belakangnya dan menemani.

“Menurutmu,” Jungkook membuka konversasi diikuti Nara Dua yang menoleh ke arahnya, “Siapa Nara yang sebenarnya?”

“Aku juga tidak tahu,” Nara Dua menutup responnya dengan sebuah senyum yang agak lemah. Jungkook menunduk, mulai mengeringkan piring-piring yang sudah bersih. “Semangatlah. Pasti akan terpecahkan,” ucap Nara Dua, sengaja menyenggol Jungkook. Jungkook tersenyum.

“Kalau kau sangat mengenal Nara, harusnya kau tahu,” ucap Nara Dua lagi. Jungkook menoleh dan menatap Nara Dua, tenggelam dalam pikirannya. Ia sadar ia tidak begitu mengenal Nara mengingat sampai sekarang ia belum tahu mana Nara sebenarnya. Ia menghela napas. Nara Dua mematikan keran air dan mengeringkan tangannya, menepuk lengan Jungkook yang melamun. Kemudian, ia pergi.

Menjelang siang, Jungkook mengajak semua Nara menonton film. Ketiganya duduk di sofa. Nara Satu menyilang kakinya. Nara Dua menyilang satu kaki dan menjepitnya di bawah kaki yang lain. Sedangkan, Nara Tiga menekuk lututnya. Jungkook menatap ketiganya dan berkedip sebentar.

Itu dia! Nara selalu menyilang satu kakinya! Jungkook hampir terkesiap dengan kesimpulannya sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk memberi satu tes.

Ia memasukkan DVD Spectre, seri terakhir James Bond sejauh ini. Ia duduk di sebelah Nara Dua yang kebetulan duduk di pinggir. Jungkook, yang biasanya akan fokus pada filmnya, kali ini siaga. Memperhatikan ketiga Nara di sampingnya.

Sudah setengah film. Nara Satu masih fokus. Nara Tiga sesekali melihat ke arah jam. Nara Dua sudah tertidur, kebetulan tidur di bahunya. Dan kebetulan lagi, sama persis seperti prediksinya. Jungkook diam-diam tersenyum. Nara memang tidak terlalu menyukai James Bond. Kalau dipikir, ini memang benar-benar Nara miliknya. Nara paling tidak suka menyebut namanya, entah apa alasannya. Sejak semalam, yang menyebut namanya adalah Nara Satu dan Tiga. Ya, semua terasa tepat.

Tapi, sekarang, bagaimana caranya agar hanya ada satu Nara? Ia menghela napas agak keras. Nara di bahunya mengangkat kepala dengan mata setengah terbuka. Jungkook buru-buru mengusap kepalanya dan membiarkannya tidur lagi. Jungkook melanjutkan pemikirannya sampai ia tidak sadar filmnya sudah habis. Nara Satu memasukkan DVD lain yang Jungkook tidak begitu peduli. Nara Dua sudah bangun. Ia ikut menonton. Empat film yang mereka tonton membawa mereka pada pukul setengah tujuh malam.

“Ayo kita siapkan ritual,” ucap Nara Tiga bersemangat. Ritual tahun barunya, barbeque dan kembang api. Jungkook kemudian beranjak setelah menatap Nara Dua. Ia menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.

Mereka asik menghabiskan berjam-jam di halaman belakang, bakar-bakar sambil bercerita. Tentang Namjoon, sekolah, Guru Hong, proyek Jungkook tahun depan, dan sebagainya. Jungkook memang sering ikut tertawa, namun ia tambah bingung mengingat sebentar lagi tahun baru. Apa yang harus ia lakukan? Pukul 22.17, Jungkook ke dapurnya, ia bilang akan membuat minuman. Ia membuat minuman dengan lambat karena pikirannya teraduk seperti minuman yang sedang dibuatnya.

“Hei,” panggil Nara Dua dari pintu halaman belakang. “Kau kenapa?”

Jungkook menggeleng, tersenyum dengan gigi-giginya, dan segera membawa minuman keluar. Ia kemudian nimbrung kembali. Namun, seiring waktu berjalan, pikirannya semakin kacau. Ia izin masuk sebentar.

Pukul 23.49, Nara Dua menghampirinya. “Kenapa sih?”

Nara memang menghampiri kalau ia sadar ada sesuatu yang tidak beres. Jungkook menatapnya lamat-lamat.

“Kau Nara yang sebenarnya, ‘kan?”

Nara Dua menghadapnya, dekat. Jungkook sampai melihat coklat kedua binernya. “Aku juga tidak tahu. Aku pikir begitu. Bagaimana kalau bukan?”

Oh, sudah jelas ini Naranya! Mengapa ia tidak sadar juga?

“Maaf,” ucap Nara, tertawa pelan, setelah hening yang terasa lama, “Aku pikir aku sudah cukup terbuka padamu. Ternyata belum, ya, sampai kau belum mengetahui mana aku yang sebenarnya?”

Jungkook menatap gadis di depannya, tidak berniat menanggapi.

“Kalau aku bukan aku–kau mengerti maksudnya ‘kan? Aku tidak tahu mana aku yang sebenarnya. Maksudku, aku berpikir begitu, pasti sama dengan yang lain, ‘kan? Yang lain juga pasti berpikir begitu. Tapi, untuk membuktikannya, aku juga tidak–” Nara berhenti dan menatap Jungkook. “Aku berbicara terlalu banyak, ya? Kau tidak mengerti, ya?”

Jungkook sadar. Ia, yang dulu berpikir paling mengenal Nara, ternyata memang tidak mengenalnya. Ia baru mengetahui Nara serumit ini. Nara jarang membagi pendapatnya karena ia takut Jungkook menganggapnya terlalu rumit. Ya, mereka memang sering bercanda, malah waktu itu sampai Jungkook tercebur di kolam. Tapi, aman mengatakan Jungkook memang kurang mengenalnya.

Entah mendapat bisikan dari mana, Jungkook mendekati wajah Nara.

Pukul 23.59, Nara mendapat ciuman pertamanya. Jungkook menutup mata, meresapi segala kerumitan Nara yang menggantung dan tidak pernah sempat diutarakannya. Nara menutup mata, antara hampir histeris dan takut Jungkook hanya melakukan ini untuk membuatnya diam.

1 Januari 2017

Jungkook menjauhkan bibirnya dan membuka mata. Nara menatapnya, diselingi dua kedipan. Di luar, suara kembang api terdengar banyak dan lantang. “Selamat tahun baru, Jeon Jungkook.”

“Biarkan aku mengenalmu dan memahami semua rumitmu, boleh?” tanya Jungkook, tanpa membalas ucapan Nara. Nara perlahan mengembangkan sebuah senyuman, salah satu yang entah sejak kapan memang menjadi kesukaan Jungkook.

“Yuk, keluar. Keburu habis kembang apinya,” ajak Nara. Keduanya berjalan beriringan, sampai di pintu terkejut dan sama-sama senang melihat halaman belakang yang sekarang hanya diisi alat memanggang dan asapnya.

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s