[Boys Meet What?] Another Twenty – Oneshot

Another Twenty

By anisaf

Genre : Friendship, Drama

Length : Oneshot

Rating : PG-15

Cast : Jeon Jungkook, Kim Yugeom, Kang Seulgi.

Disclaimer : I just own this plot of this story. All the cast belong to their parents, agency and God.

Summary

“Dan yah, aku belum bertemu dengan hal yang menjadi daya tarik menjadi manusia berusia dua puluh tahun.”

Jungkook menengadah, menyandarkan kepalanya ke pinggiran lengan sofa panjang dengan tangan kiri sebagai tumpuan. Tangannya yang lain berirama memberikan ketukan selaras di atas lututnya yang saling tumpang tindih. Matanya beredar, berusaha mencari objek menarik yang sedari tadi tak kunjung ia temukan. Irisnya terus menelisik diantara rapatnya orang-orang yang sedang menari terbuai dengan lagu yang diputar DJ yang berdiri tak jauh dari Jungkook berada. Sesekali ia menguap, kemudian mengumbar pandang ke arah laki-laki yang masih sibuk memutar piringan cd dan memutar-mutar tombol yang Jungkook sendiri tak mengerti.

Persetan dengan aroma alkohol, kebul asap rokok, keringat manusia  disekelilingnya dan jangan lupakan dengan sorot lampu kerlap kerlip yang sejak setengah jam yang lalu membuat kepalanya pening. Jungkook tak segan-segan memamerkan wajah kebosanannya diaaat yang lain tengah bergulat dengan kesadarannya masing-masing. Lagi-lagi, Jungkook menatap teman sebayanya lagi, Kim Yugyeom, si DJ yang sama gilanya dengan pengunjur bar milik ayahnya itu.

Untuk kesekian kalinya, Jungkook menguap. Rasa kantuk yang berlebihan membuatnya lebih memilih duduk diam daripada memanfaatkan bar ini sebagaimana fungsinya. Toh, Jungkook tak pernah sekalipun menikmati kesenangan duniawi macam ini yang katanya sering dilakukan hyung-hyung-nya. Jika datang kemari, maksimal, Jungkook hanya akan meneguk soda tanpa tertarik menyentuh wanita disaat banyak yang mengantri untuk menemani Jungkook. Dan seperti sekarang, Jungkook hanya duduk ditemani air putih yang sama sekali tidak ia sentuh, karena niatnya, hanyalah untuk menunggu Yugyeom.

Niatnya untuk memejamkan matanya sejenak terintrupsi ketika sebuah suara menyapa pendengarannya yang terdengar setengah berteriak, “Jeon, rindu wajah tampanku?”

“Lama sekali,” runtuk Jungkook tanpa mengindahkan banyolan yang dilempar Yugyeom untuknya itu.

“Asal kau tahu saja, you come too earlier,” sahut Yugyeom dengan nada kesal yang dibuat-buat.

Tanpa menghiraukan Yugyeom, Jungkook berjalan melewati Yugyeom yang masih mengaitkan kancing jaket jeansnya.

“HEY! TUNGGU,” jerit Yugyeom yang sudah tertinggal jauh di belakang Jungkook.

***

Berkendara dengan waktu tempuh lima belas menit untuk jarak 20 km bukanlah hal luar biasa yang pernah Jungkook lakukan, biasanya, ia bisa mengendarai lebih cepat, atau mungkin lebih cepat. Selama perjalanan, ia hanya mendengar celotehan Yugyeom tanpa berniat mengimbanginya. Kepalanya pusing namun dilain sisi ia butuh hiburan. Dan berakhirlah sekarang mereka di tempat bowling pinggiran kota. Jam sudah menunjukkan jam sebelas lebih dua lima, yang artinya, tiga puluh menit lagi, hari sudah berganti.

“Ada apa, sih? Tak biasanya, uring-uringan sekali kau ini.”

Yugyeom benar, Jungkook memang terlihat muram hari ini, bahkan sedari tadi, hanya Yugyeom-lah yang berbicara.

Yugyeom hanya memandang sahabatnya itu dengan tatapan ‘ceritakan, atau kau kubunuh.’ Jungkook menghelas napasnya berat, sebelum akhirnya berkata, “pertandinganku kalah.”

Jungkook menyapu tangannya dengan lap basah sementara Yugyeom telah menggelindingkan bola kuning menyentuh pion yang berjajar. Ia berbalik, memandang Jungkook yang sok sibuk dengan bola di tangannya.

“Aku turut sedih,” ungkap Yugyeom konyol tanpa menunjukkan raut wajah yang tifak ada sedihnya sama sekali, namun berhasil membuat lengkungan sabit dibibir Jungkook. Begitulah gilanya seorang Kim Yugyeom yang entah sejak kapan mendeklarasikan dirinya sebagai sahabat Jungkook.

Sebelumnya, mereka hanya orang yang saling mengenal tanpa ada kemungkinan untuk berhubungan, namun takdir menyembunyikan fakta bahwa tak ada alasan mereka untuk menjalin bromance. Sedikit cheesy memang. Tapi ya, selama ini teman dekat Jungkook hanya anggota tim inti kampusnya dan beberapa sohibnya di high school dulu.

“Dengarkan, kau ini sudah dua puluh tahun, Jeon. Banyak hal menyenangkan yang bisa kau lakukan. Dan yah, tidak pantas untuk seorang Ace sepertimu galau hanya karena kalah tanding sekali sedangkan piala baseball memenuhi etalase ruang registrasi kampusmu,”

Yugyeom mendengus, “masih ada pertandingan lain. Tenang saja.”

Lagi, pernyataan Yugyeom benar, ia sudah dua puluh tahun, yang mana diusia ini ia legal dalam melakukan hal yang sebelumnya tabu untuk ia lakukan. Namun,

“Tapi, Yug ….”

“Tapi apa? Kau bisa minum alkohol sesukamu,”

Jungkook mengangguk menyetujui ucapan Yugyeom namun tak lama ia menggeleng.

“Terlalu malas untuk mabuk, aku tidak suka.”

Yugyeom mendengus lagi, “kau bisa berkencan dengan wanita manapun.”

“Kau meragukanku? I’m a international playboy.”

Yugyeom hampir terjengkal, ia tertawa, terbahak malah.

“Apa yang kau tertawakan?” Jungkook melempar jaketnya ke arah Yugyeom yang masih terbahak.

Setelah menetralkan tawanya, Yugyeom berucap lagi, “berhenti bicara omong kosong, international playboy katamu? Menolak puluhan gadis dalam waktu tiga bulan itu yang namanya playboy? Kurasa kamus hidupmu sedikit bermasalah.” Lagi-lagii Yugyeom terbahak, kali ini karena ucapannya sendiri.

“Aku punya alasan ….”

“Oke, simpan pembelaanmu, tuan sok playboy.”

“Intinya, aku belum menemukan kesenangan menjadi manusia berumur dua puluh tahun.”

Jungkook memilih tak melanjutkan perdebatannya dengan Yugyeom dan memilih bermain dengan ponselnya. Jika dipikir lagi, ucapan Yugyeom hampir semuanya berbobot benar. Minum, kencan, driving licence dan masih banyak lagi, bukankah yang selama ini ia tunggu? Menjadi dewasa? Berumur dua puluh tahun adalah idamamnya. Namun, setelah mendapatkannya, Jungkook bahkan tak berniat melakukannya. Jadi dimana letak titik salahnya?

“Dan yah, aku belum bertemu dengan hal yang menjadi daya tarik menjadi manusia berusia dua puluh tahun.”

Yugyeom menghentikan aktifitasnya, ia membiarkan bola yang menggelinding melesat melewati pion. Ia melangkah, meraih ponsel Jungkook dan duduk di sampingnya.

Setelah beberapa saat, tangan Yugyeom bergerak menekan layar menyala itu sambil sesekali berpikir. Tangannya lihai menggulir layar dengan mata menilisik diantara artikel yang tak Jungkook ketahui.

Kedua alis Jungkook bertaut saat Yugyeom menyodorkan serentetan tulisan di atas layar ponsel hitamnya.

“Apa?”

“Kau butuh bantuan? Bukankah kau ingin bertemu dengan hal yang menjadi daya tarik menjadi manusia berusia dua puluh tahun?” Ucap Yugyeom menirukan monolog yang sempat Jungkook katakan.

“Aku tidak berkata aku ‘ingin’, kau berlebihan.” Ketus Jungkook menatap Yugyeom dengan tatapa  terdatar yang pernah ia berikan pada eksistensi manusia yang pernah ia temui.

“Baiklah apapun itu.” Tangan Yugyeom berayun mengibas-ngibaskan udara dihadapannya.

Jungkook masih memandang heran sahabatnya.

“Baiklah, I’ll help you, brother.” Akhir Yugyeom dengan cengiran sejuta won-nya.

Dan setelahnya, Jungkook masih tidak paham dengan ini semua sampai akhirnya Yugyeom berkata lagi. “Besok, di cafe biasanya, jam makan siang, dan …. “

“Dan, aku pulang dulu.”

Jungkook memandang horor Yugyeom yang berlari meninggalkannya. Dan masih diantara kebingungannya, ia melihat bagaimana Yugyeom berbalik dan berteriak,

“Aku tahu kau ini tampan, tapi berjanjilah untuk lebih tampan untuk besok,”

Jungkook ingin mengikat Yugyeom dan meninggalkannya diantara pintu masuk, namun yang hanya bisa ia lakukan hanyalah tertawa, terlebih lagi saat Yugyeom mengangkat kedua tangannya tinggi sambil benar-benar berteriak,”Jeon Jungkook, fighting!”” Dan diakhiri dengan kedua tangannya yang membentuk hati besar di atas kepalanya.

Dan, Jungkook berharap tawanya tidak sia-sia karena mungkin hal gila akan menimpanya besok.

***

Sekonyong-konyongnya, Jungkook memang bukan si penurut, namun entah mengapa, ia berakhir di cafe yang disebutkan Yugyeom tadi malam, yang artinya ia mengikuti apa yang Yugyeom katakan. Dan parahnya, tentang ucapan Yugyeom untuk lebih tampan, membuat Jungkook khawatir dengan penampilannya sekarang. Beberapa kali ia menghadap ke cermin yang di letakkan di pojok cafe, guna memastikan penampilannya baik-baik saja. Satu dua kali ia membenarkan kemeja putih yang tertutupi jaket jeans yang ia beli tempo hari lalu bersama Yugyeom. Tangannya menyisir halus rambutnya yang sengaja ia beri pelumas rambut kekinian.

“Tenanglah, Jeon Jungkook.”

Entah sudah keberapa kali ia bermonolog, berusaha menenangkan dirinya yang entah mengapa gugup sedari tadi.

Shit,”

Jungkook menyerah, “Aku sedang tidak dikerjai, bukan?” Ia mengedarkan pandangannya, tidak ada tanda-tanda ia akan bertemu seseorang. Cafe pun lengang meskipun jam makan siang telah berlalu dua puluh menit berlalu. Yang artinya juga, Jungkook telah menunggu hampir satu setengah jam lamanya.

“Kim Yugyeom awas kau.”

Tangannya merogoh saku celana jeansnya, mencari keberadaan benda persegi, setelah mendapatkannya ia menekan tombol panggilan cepat. Tangannya terangkat, mendekatkan ponsel hitamnya itu sisi telinganya, namun ia urungkan saat seorang gadis berdiri di depannya.

“Permisi,”

Awalnya, tatapan gadis itu terlihat kesal namun berangsur meluluh setelah Jungkook mengangkat kepalanya.

“Ya?”

Perlahan Jungkook menurunkan ponselnya dan memandang gadis di depannya.

.

Cukup lama gadis itu berdiam, menelisik kedalam iris hitam milik Jungkook.

.

Jungkook berdeham, sekali tidak ada respon.

.

Dua kali,

.

Tiga kali,

.

Bahkan untuk dehaman yang keempat, Jungkoom akhirnya mengibaskan tangannya di hadapan gadis yang ia perkirakan sebayanya itu.

.

“Eh,”

Seakan tersadar, gadis itu tersentak dan mundur beberapa langkah sampai hampir terjengkal ke belakang,

Suara kursi berderak saat Jungkook berdiri aecara spontan untuk menangkap lengan gadis yang ia ketahui namanya dari name tag yang ia gunakan itu.

Gadis itu masih di ambang kesadarannya, ia mundur dan menyudahi kontak mata yang bisa saja dapat membuat ia akan adicted dengan morfin bergerak di depannya sekarang.

.

Gadis itu tersenyum menundukkan kepalanya.

.

Sementara Jungkook berdeham, “Kau …. “

Ucapannya terputus saat gadis itu memilih untuk berucap tak kalah cepat, “andd-d-a be-belum memesan sejak tadi.” Akhirnya meskipun sedikit tergagap.

Jungkook melirik ke arah kanannya dimana terdapat beberapa gadis yang sama terkejutnya dengan gadis berpakaian yang baru Jungkook sadari adalah seragam cafe ini. Bodoh memang. Kemudia kembali lagi menatap gadis yang masih menunduk itu.

“Oh, baiklah, aku pulang saja.”

***

Jungkook melewatinya, melewati gadis yang secara terang-terangan menunjukan ketertarikannya pada Jungkook itu. Namun, ini bukan pertama kalinya Jungkook merasa seperti idol. Sudah sering, terlampau sering malah. Anggap saja Jungkook itu sombong tapi percayalah, Jungkook takkan pernah peduli.

Masih dengan rasa kesalnya yang menggebu-gebu, Jungkook mencoba menghubungi sahabat tololnya itu, ia merasa terkhianati, sungguh.

Dengan salah satu tangan yang berkacak pinggang, Jungkook masih setia menempelkan benda beradiasi itu ke telinganya. Meskipun mendapat penolakan dari sambungan seberang, Jungkook masih telaten menekan kembali tombol hijau saat panggila  terputus.

Mulutnya terbuka, sedikut terengah, menyembulkan kebulan asap putih yang menyumbul keluar dari mulutnya, terkadang ia sedikit memekik, terkadang mulutnya terbuka lagi dengan lidahnya yang berputar di dalamnya, dan hal lain yang dapat menunjukkan bahkan seorang Jungkook sedang kesal tingkat akut.

Tangan Jungkook terulur akan membuka pintu mobilnya, sampai sebuah tangan menepuk halus pundaknya, yang secara spontan membuatnya berbalik dan berteriak, “WAE?

Namun, teriakannya sedikit tertahan di akhir oktaf digantikan lirihan singkat yang membuat pemilik tangan itu tersenyum merunduk, “Yeppo.”

Gadis bersurai coklat kemerahan itu masih tersenyum, namun kali ini, ia ingin tertawa saat pernyataan Yugyeom terlintas di kepalanya.

 “Kau pasti bisa menemukannya dengan mudah, Nun.”

“Laki-laki dendi, bermata besar, hidungnya tak kalah besar, em ….” Yugyeom terlihat menimang, “ah ya, paling ia memakai sepatu coklat ala timberland dan ya paling penting. Ia menyebalkan dan yang uring-uringan.”

Dan benar saja, ia tak bisa menyembunyikan senyumnya saat mengetahui apa yang disebutkan Yugyeom tak ada yang meleset.

“Jeon Jungkook, kan?”

Pertanyaan retoris yang entah mengapa terdengar merdu di gendang telinga Jungkook.

“Aku Kang Seulgi, dan ya, aku di sini karena Yugyeom.”

Jungkook menyambut uluran tangan yang beberapa detik lalu itu ia baru ketahui namanya.

Kang Seulgi.

Ya, Kang Seulgi. Bahkan namanya berkali-kali juta lebih indah dari nama Kim Yugyeom yang menyebalkan.

Jungkook masih belum melepaskan tautannya, masih berusaha meneliti senyum Seulgi yang mirip dengan temannya, Jeon Wonwoo, atau jangan-jangan mereka masih saudara? Pertanyaannya terbuang saat ia merasakan ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk.

From: Pabo Yugyeom

Ta~ Da~ simpan ucapan terimakasihmu untukku nanti saja tuan sok playboy. Sekarang traktir dia makan Jeon! ^^

Jungkook hampir saja melempar ponselnya kalau saja gadis dihadapnya mengeluarkan suaranya lagi, “tidak keberatan masuk lagi kan? Disini dingin.”

Jungkook mengangguk kaku namun masih dengan senyuman setengah miliar won-nya itu dan berjalan mengekori Seulgi.

Saat hampir menyentuh gagang pintu, Jungkook mendapatkan pesan lagi.

kali ini ada beberapa pesan, namun ia yakini itu semua dari Yugyeom. Dengan tergesa ia membukanya,

From: Pabo Yugyeom

Oya, aku tahu kau benci dipanggil  ‘OPPA’

Jadi panggil gadis cantik di depanmu ‘NOONA

OKE BOY? Wkwk

From: Pabo Yugyeom

Buat dia terpesona.

From: Pabo Yugyeom

Btw, ia suka latte bukan mocca.

Oh satu lagi, aku akan mengirimkannya, ASAP, aku janji, serius, setelah ini kau bisa pilih yang mana, dengan senang hati, Yugyeom yang tampan ini akan membantumu. Untuk kasus ini, aku memilih poin nomor 4, Kookie Gluck!

“Mengirim? Mwoya!”

Jungkook tersentak saat sebuah tangan menahan lengannya.

“Duduk sini, di sana sudah penuh.” Dengan tangan yang masih menggenggam ponsel, Jungkook membiarkan tubuhnya di tuntun gadis yang empat tahun lebih tua darinya itu.

“Aku saja yang pesan, em.. Seulgi..  ah… noona.”

Seulgi tersenyum menanggapi Jungkook yang baru ia kenal ini.

“Baiklah, aku ingin ….”

Latte?” Tebak Jungkook.

Lagi-lagi Seulgi tak dapat menyembunyikan fakta bahwa Jungkook memang tampan dari segala sisi manapun.

Seulgi mengangguk pelan dan membiarkan Jungkook berlalu menuju counter.

Dari tempatnya berdiri, Jungkook mencuri pandang ke arah dimana gadis bernama Kang Seulgi itu duduk sambil memainkan ponselnya di atas meja.

Terlihat monoton, tapi entah mengapa terlihat lucu saja.

Jungkook tersenyum, namun lagi-lagi aktifitasnya terganggu karena pesan dari Yugyeom.

Sebuah link?

Jungkook memandang sejenak sebelum menekan tombol pencarian, tak lama sebuah laman web muncul menampilkan artikel yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh Jungkook.

Di sana terpampang dengan jelas,

The 20 Things You Need To Do In Your 20s

Tanpa memperdulikan tulisan lain, Jungkook menggulir layarnya sampai poin yang disebutkan Yugyeom.

Dengan ekspresi yan sama, Jungkook mengetikkan sesuatu untuk dikirimkan ke Yugyeom.

To: Pabo Yugyeom

Baiklah, ku akui kau tetap bodoh tapi aku harus berterimakasih padamu, akan kutraktir, sebungkus rokok cukup kan?

Dalam hati ia Jungkook menahan tawanya, ia tahu Yugyeom anti dengan yang namanya merokok, jadi menawari Yugyeom sebungkus rokok tidak mengkhawatirka pengeluarannya, karena yang pasti Yugyeom tidak akan mau.

Dan inilah usaha yang Yugyeom lakukan untuk mempertemukan Jungkook dengan kesenangan menjadi manusia berusia dua puluh tahun. Setidaknya kesan pertama tidak mengecewakan meskipun tololnya sangat khas dengan persahabatan mereka.

***

Nomor 4.

Tertulis di sana,

Date someone completely wrong for you. Dating is fun! Don’t fear blind dates, or people that don’t fit “your type.” Go out with someone unexpected and see what happens. You could fall in love with that one quality that you never really noticed. You might be surprised at just whom you fall for. Even if you end up turned off and bored with the person, at least you have a funny story to tell.

fin.

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s