[Boys Meet What] My ….. – Oneshot

[Boys Meet What] My ….. – Oneshot

Cast: Jeon Jungkook (BTS) x OC’s Kim Nana // Author : // Genre: AU, Family, Romance // Length: Oneshot // Rating: General // Disclaimer @ BTS

Summary:

Kim Nana, gadis itu kembali. Kembai setelah aku kehilangan jejaknya. Kembali setelah aku menyerah untuk mencarinya. 

Aku tak pernah berharap jika hari ini –hari saat aku memasuki kelas fisika pagi itu, aku akan bertemu dengannya lagi. Dengan gadis berambut panjang yang telah berdiri dengan wajah dinginnya. Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku saat melihatnya. Aku tak pernah salah. Setelah bertahun-tahun lamanya aku tak melihatnya, aku yakin jika itu ‘dia’. Mataku terpaku, terus saja menatapnya intens sampai tak sengaja tatapan kami saling bersirobok. Ia memperkenalakn diri saat pria berusia akhir 50-an di sampingnya menyuruhnya.

“Anyeonghaseyo. Kim Nana imnida. Aku pindahan dari Jepang” Gotcha. Aku benar. Dia Nana. Dia Nana-ku. Gadis itu kembali setelah tiga tahun aku kehilangan jejaknya. Jadi selama itu Nana bersembunyi di Jepang? Beberapa teman sekelasku menatap Nana dengan penasaran dan beberapa lagi mempertanyakannya yang fasih berbahasa Korea sedangkan dia yang pindahan dari Jepang. Konyol! Bagaimana bisa mereka masih mempertanyakan pertanyaan itu saat namanyanya saja nama Korea.

Dia duduk di salah satu bangku kosong yang tak jauh dariku. Aku masih tetap memperhatikannya. Takut jika saat ini gadis itu kembali menghilang dari pandanganku untuk kesekian kalinya. Sepertinya tuhan punya takdir lain untuk kami.

***

Kau tahu? Aku Jeon Jungkook tak pernah membuang-buang waktuku untuk pergi ke kantin kampus yang sesaknya minta ampun saat jam-jam istirahat. Belum lagi para gadis yang sengaja berlomba-lomba untuk menarik perhatianku. Bukan bermaksud sombong tapi memang seperti itu adanya.

“Lihatlah siapa disini. Jeon Jungkook, apa yang terjadi dengan otakmu itu, hah? Tidak biasanya kau mau kesini” Taehyung berceloteh. Pemuda dengan surai brown itu menyikutku pelan. Aku masih bergeming, menatap gadis bersurai hitam yang tengah duduk memakan bekalnya sendirian, menjauhi keramaian yang ada. Tatapannya dingin, membuatku setengah mati penasaran dengan perubahan sikapnya sekarang. Apa yang dia lalui? Kenapa gadisku itu berubah?

“Jeon Jungkook!! Apa yang kau lihat sebenarnya?” Taehyung kembali menyikutku. Mungkin kesal karena aku sesaat mengabaikannya. Lagipula, aku tak kesini untuk menjawab pertanyaannya, aku hanya ingin melihat gadisku, Nana.

“AH, cantik. Seleramu memang tak mengecewakan, kook-ah. Tapi bagaimana jika dia untukku saja? Bukankah kau sudah punya Mirae?” kalimat Taehyung selanjutnya membuatku menolehkan kepala kearahnya yang saat itu tengah menatap Nana. Sialan! Dia tak berhak menatap Nana dengan pandangan seperti itu. Dengan emosi, kurtarik kerah bahunya. Dia terkejut tak terkecuali dengan puluhan pasang mata yang ada di kantin. Dalam sekejap aku dan Taehyung menjadi pusat perhatian.

“Jangan pernah menyentuh gadis itu jika kau berniat menyakitinya. Jika tidak, aku tak akan segan untuk membunuhmu Kim Taehyung” aku berucap dengan penuh penekanan di setiap katanya.

“Yak! Santailah! Kau –“

“Tutup mulutmu” emosiku menggebu-gebu. Hendak saja bogem mentah kulayangkan padanya jika Jimin tak segera meleraiku dengan Taehyung. Napasku dan Taehyung terengah-engah menahan emosi. Untuk terakhir kalinya aku hanya mendengus sebelum berjalan kearah seorang gadis yang masih sibuk mengunyah bekal tanpa perduli dengan keadaan sekitar. Lihatlah! Dia benar-benar hidup di dunianya sendiri.

“Ikut aku!”

Nde?” aku menarik Nana untuk keluar. Ia terus saja memberontak minta di lepaskan, membuatku sedikit kesuliltan karenanya. Aku membawanya kearah taman yang cukup sepi. Ia menatapku benci saat aku sudah tak lagi menariknya.

“Apa maksudmu, hah? Aku sama sekali tidak mengenalmu dan kau tak seharusnya menarikku seperti itu” aku diam. Rasa sakit itu menggerogotiku. Gadis di depanku ini melupakanku. Dia tak mengenalku, tak mengenal Jeon Jungkook didepannya.

“Yak!!!! Kau mendengarku bukan?” Nana masih berteriak. Tentu saja aku mendengarmu. Kau tahu, Nana? Suaramu adalah hal yang kurindukan. Aku ingat saat dia terus saja merengek memintaku membelikan ini dan itu. Aku merindukannya. Sangat.

“YAK!!!!!!!”

“Aku Jeon Jungkook. Mulai hari ini, kita berteman. Arraseo?” aku tersenyum tulus. Ia sedikit terkejut dengan ucapanku sebelum mendelik tak suka.

“Aku tidak mau berteman denganmu” ucapnya galak sembari bersidekap.

Wae?”

“Apa harus ada alasan, hah? Pokoknya, kita bukan teman”

“Aku tidak minta pendapatmu. Mau atau tidak, kau ini temanku. Aku berjalan meninggalkannya dan berbalik kembali setelah mengingat sesuatu.

“Nana-ya. Besok lagi jangan menggerai rambutmu, jangan pakai make up yang mencolok dan jangan pakai dress ataupun baju yang terbuka seperti ini lagi. Mengerti?” aku mengacak rambutnya dan kembali berjalan meninggalkannya dengan senyum mengembang. Rasanya tak ada hari yang membahagiakan selain hari dimana kau ada disisiku, Na-ya.

“YAK!!!!!!! KAU TIDAK BERHAK MENGATURKU” Aku hanya melambaikan tangan tanpa berbalik menatapnya. Yang kutahu saat ini adalah ia tengah mengerucutkan bibirnya kesal seperti kebiasaannya.

‘Aku berhak, Na-ya. Aku berhak. Karena kau adalah gadis-ku’

***

Mungkin sekitar jam 10 malam aku tiba di rumah besar yang sudah beberapa tahun aku tinggali. Beberapa pelayan langsung membungkuk saat aku tiba disana. Dengan tak peduli, aku berjalan melewati pria yang kupanggil ‘ayah’ itu.

“Jeon Jungkook. Darimana saja kau, hah? Apa kau tidak bisa bersikap sopan? Disini ada ayah dan ibumu” pria tua itu berbicara. Aku berhenti dan hanya mengepalkan tanganku tanpa sekalipun memandangnya beserta keluarga kecilnya.

“Bukankah aku memang seperti ini, ayah? Dan sudah kubilang jika wanita itu bukan ibuku” kataku dingin.

“JEON JUNGKOOK!!”

“Aku lelah, aku ingin istirahat” aku berjalan tanpa memperdulikan teriakan ayahku. Persetan dengan semuanya. Bukankah aku sudah di cap sebagai anak pembangkang?

Yeobo, sudahlah”

“Cih”

‘BRAK’

Kututup pintu kamarku dan segera kulemparkan tubuh ini kekasur besar yang telah memanggil-manggilku. Hembusan napas berat terdengar. Aku hanya mengusap wajahku kasar, mencoba menetralkan emosiku. Selalu seperti ini. Jangan pernah tanyakan bagaimana hubunganku dengan ayah kandungku sendiri. Yang jelas, aku tak punya hubungan baik dengan ayahku sendiri untuk beberapa tahun belakangan ini. Mungkin salah satu penyebabnya karena wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Yah, mungkin dan masih ada beberapa alasan lain lagi yang sulit untuk kujelaskan karena hal tersebut hanya membuka luka lama yang selalu kututupi.

‘Tok! Tok! Tok!’

“Masuklah” aku bangkit, duduk diatas kasurku saat salah satu orang yang paling kupercayai memasuki kamar ini. Dia Park ahjussi, salah satu bawahan ayahku yang selalu setia mendampingiku sejak aku menginjakkan kakiku disini.

“Bagaimana ahjussi?” tanyaku to the point.

“Aku sudah menyelidikinya. Benar, dia Nana yang kau maksud, Tuan”

“Ahjussi, sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu” aku protes, merasa terganggu dengan panggilannya. Kita sudah sedekat ini, dan pria paruh baya itu masih saja memanggilku tuan.

“Ma’af, Kookie. Kebiasaanku sulit dihilangkan” ia menjawab. Ikut duduk disampingku.

“Lalu bagaimana? Kenapa 3 tahun lalu Nana bisa pergi ke Jepang?” aku bertanya tak sabaran. Aku memang langsung menghubungi Park ahjussi saat aku bertemu dengan Nana. Aku ingin memastikan apakah gadis itu memang benar Nana yang ku kenal walau tak perlu bersusah payah seperti ini-pun aku sangat yakin jika dia Nana yang kumaksud.

“Ma’af. Untuk yang satu itu, aku tidak tahu. Aku tak bisa mencari tahu penyebab Nana dan ibunya pergi ke Jepang. Yang kutahu mereka mengalami kesulitan ekonomi di Jepang. Untuk beberapa kali mereka pindah rumah karena tak sanggup membayar. Ibunya bekerja serabutan untuk menafkahi Nana. Nana sendiri sekolah sekaligus bekerja untuk membantu ibunya. Dan setelah 3 tahun, ekonomi mereka membaik dan akhirnya kembali ke Korea. Sekarang mereka membuka toko laundry kecil” Park ahjusii menjelaskan. Aku terdiam tak bisa berkata-kata. Disisi lain aku merasakan kebahagiaan yang membuncah saat menemukan Nana kembali, tapi disisi lain aku merasa terluka. Terluka karena selama ini dia dan ibunya hidup berbanding terbalik denganku tanpa aku ketahui.

“Lalu kenapa Nana bisa melupakanku, ahjussi?”

“Kookie-ah, Nana masih terlalu kecil saat itu. Atau bisa saja kau termasuk dalam ingatan yang ingin ia hapuskan sehingga sekarang dia tak mengingatmu”

“Wae? Kenapa harus aku yang ia lupakan?” aku berkata lirih. Air mataku lolos, terisak pelan mengingat kenangan-kenanganku dan Nana. Park ahjussi menepuk bahuku, menatapku iba. Pria itu sudah terbiasa melihat kelemahan terbesarku yang satu ini. Hanya dia orang yang tahu seberapa beratnya hidup yang kujalani.

“Aku juga tidak tau pasti. Tapi mungkin dengan memingatmu, itu sama saja membuat Nana mengingat rasa sakitnya, Kook-ah” aku semakin tersedu. Nana-ku. Gadisku telah berubah. Dia sama sekali tak mengingatku.

***

Besoknya aku kembali menemui Nana yang seperti biasa tengah memakan bekalnya di kantin sendirian. Aku heran kenapa gadis itu memilih menyendiri. Beritaku yang bertengkar dengan Taehyung dan menyeret seorang gadis sukses jadi trending topic di kampus. Tapi toh, aku tak peduli. Dan masalahku dengan Taehyung, kurasa dia akan mengerti.

“Hei” sapaku. Ia terkejut dan mendelik saat sadar itu adalah aku. Gadis itu kembali memakan bekalnya. Sebelum makanan itu masuk ke dalam mulutnya, aku menarik lengannya membuat satu sendok makanan di tangan Nana memasuki mulutku. Aku tersenyum, lain hal dengan Nana yang bersiap berteriak.

“Kau!!!! Jeon Jungkook!!!!!” aku hanya tertawa. Kini malah merebut bekalnya dan dengan lahap memakannya. Makanan ini, aku tahu siapa yang membuatnya dan aku merindukannya.

“K-Kau. Yak! Itu makananku” ia hendak merebut makanannya kembali dan refleks aku menghalanginya. Gadis itu menyerah, menatapku dengan wajah kesal dan memelasnya.

“Pesanlah makanan disini” aku menyuruhnya. Ia hanya diam dan menunduk. Aku mengerutkan keningku bingung. Aku sungguh penasaran dengan apa yang ia pikirkan.

“Nana-ya”

“Uangku tidak akan cukup jika aku membeli makanan disini” ia berbisik pelan masih terdengar olehku. Aku mentapnya. Hatiku hancur. Apa selama ini ia juga seperti ini? Apa hanya untuk membeli makanan saja harus sesusah ini? Tidak. Aku tidak akan membiarkan gadisku hidup susah lagi.

“Pesan makanan yang ingin kau beli. Aku yang bayar. Aku tahu kau lapar”

“Ne? Benarkah?” ia menatapku tak percaya. Bola matanya berbinar. Aku mengangguk sembari mengacak rambutnya. Gadis itu segera berlari membeli makanan dan meninggalkanku yang terkekeh.

Aku masih mengunyah makananku dengan tenang saat suara berdebum yang lumayan keras membuatku menoleh kearah suara. Aku terbelalak, terburu-buru berlari menghampiri Nana yang terjatuh dengan seluruh orang yang menertawakannya.

“Kau baik-baik saja?” aku bertanya khawatir sembari membatunya berdiri. Ia mengangguk tanpa berbicara sepatah katapun. Emosiku memuncak. Kutatap satu persatu gadis-gadis yang tengah tertawa dengan puas melihat Nana.

“Siapa yang melakukankannya?” ucapku terdengar menyeramkan. Mereka semua langsung terdiam membisu. Saling menunduk dan ada beberapa yang saling menyikut. Aku menunggu mereka membuka suara. Tapi seberapa lamapun aku menunggu, tak ada dari mereka yang berniat untuk berbicara.

“Aku akan mema’afkannya untuk kali ini. Tapi jika ada lagi kejadian  seperti ini, aku tidak akan tinggal diam. Kuperingatkan lagi, jangan pernah berani menganggu Kim Nana atau kalian akan berhadapan langsung denganku” Aku memapah Nana keluar kantin. Ia masih terus saja diam saat aku membawanya memasuki ruang kesehatan.

“Bisakah lain kali kau hati-hati? Sampai kapan kau akan membuatku khawatir, hah? Mungkin untuk hari-hari selanjutnya ada lebih banyak gadis-gadis yang akan mengganggumu” aku mengeluarkan semua amarahku padanya. Ia menunduk terdiam dan hal itu membuatku menghembuskan napasku. Tidak seharusnya aku memarahi Nana seperti ini. Ini bukan salahnya. Jika saja aku tak terang-terangan melindunginya, Nana pasti tak akan dibenci oleh seluruh gadis yang menyukaiku.

“Ma’af. Aku teralu emosi”

Wae? Kenapa kau melakukan ini, Jungkook-ssi? Kita baru kenal dan kau memperlakukanku seperti ini. Kenapa?” ia menatapku, menuntutku menjawabnya. Aku mengelus rambutnya dan anehnya dia tak meolaknya. Aku bisa melihat jika ia terlihat nyaman dengan perlakuanku. Apa gadis ini merasakannya?

“Karena ini memang kewajibanku”

***

Hari-hari berikutnya tak berubah jadi baik. Semakin banyak yang mengganggu Nana. Kadang aku menemukannya dengan keadaan basah kuyup dan itu sukese membuatku murka. Kalian tak berpikir jika aku hanya diam saja bukan? Aku tak membiarkan gadis-gadis itu lolos setelah menyentuh milikku. Jimin dan Taehyung juga selalu membantuku. Kabar baiknya adalah aku dan Taehyung dapat menyelesaikan masalah kami walau di awal, lelaki itu masih terlihat kesal. Tapi kabar buruknya adalah Nana masih menganggapku orang lain. Terkadang gadis itu masih bersikap dingin padaku.

Malam ini, malam setelah 2 minggu aku bertemu dengan Nana kembali, aku baru berani berkunjung ke toko laundry milik ibunya. Bukan mengunjungi, menguntit lebih tepatnya. Aku hanya berani berdiri diluar dan melihatnya di balik kaca toko. Udanya dingin, tapi aku masih betah menatapnya. Cukup lama aku berdiri, sebelum tatapan kami kembali bertemu. Ia terlihat kaget. Aku tersenyum dan berkata tanpa suara untuk menyuruhnya keluar.

Kami berada di taman dekat toko laundry-nya. Dia datang setelah 5 menit aku menunggunya disini. Untuk beberapa lama, kami hanya terdiam.

“Apa yang ingin kau katakan, Jungkook-ssi?” dia akhirnya membuka pembicaraan terlebih dulu. Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi dan segera memeluknya erat. Ia terkejut dengan tindakanku dan untungnya aku tak mendapat penolakan darinya seperti biasanya.

“Sejak kapan kau berdiri disana? Tubuhmu dingin” ia berkata lirih. Lagi-lagi membuatku tersenyum dna semakin memeluknya erat.

“Cukup lama. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini” Nana membalas pelukanku. Kami terdiam cukup lama dalam posisi saling berpelukan. Kali ini Nana tak menyembunyikannya. Gadis itu juga merasa nyaman sepertiku.

“Pulanglah. Ini sudah malam, kau pasti kedinginan. Dan ucapkan salamku pada ibumu” aku berkata setelah melepaskan pelukan kami. Aku membetulkan syalnya agar dia tak merasa kedinginan sebelum mengacak rambutnya.

“Terima kasih” katanya malu-malu. Dan untuk pertama kalinya, aku kembali melihat senyum tulus gadis itu yang membuat hatiku menghangat melihatnya.

***

Hari ini puncaknya. Aku melupakan sesuatu tentang Jung Mirae. Gadis itu kekasihku. Hubungan kami baru beberapa bulan dan itupun atas dasar rasa kasihan. Ayahku yang menyuruhku menjalin hubungan dengannya. Aku tak tahu dibalik perintahnya itu. Yang jelas saat itu aku menurutinya. Tapi keputusanku menjadi bumerang sendiri bagiku. Seperti biasanya, pergi ke kantin adalah salah satu kegiatan rutin yang akhir-akhir ini kulakukan. Aku hanya ingin makan siang dengan Nana. Tapi ada yang berbeda disini. Seluruh mahasiswa saling berkumpul di satu tempat. Aku tak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Tapi saat Taehyung berteriak memanggil nama Nana, aku segera menoleh. Aku dikejutkan dengan keadaan Nana saat ini. Tubuhnya basah kuyup ditutupi dengan tepung dan telur yang sengaja di lemparkan padanya. Gadisku hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca sementara sang pelaku terlihat puas. Dia, Jung Mirae. Berani-beraninya ia melakukan hal itu pada gadisku.

“HENTIKANG, JUNG MIRAE!!!” aku berteriak lantang membuat seisi ruangan menatapku. Aku menghampiri Nana. Beberapa orang beringsut menjauhiku bersamaan dengan Jimin dan Taehyung yang berada disampingku.

“Apa yang kau lakukan, hah?” aku menatap tajam Mirae.

“Apa katamu? Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Gadis jalang ini berani-beraninya menggoda kau dan aku tak suka” amarahku memuncak. Gadis manja itu sama sekali tak menyesali perbuatannya. Baik, aku akan membuatnya menyesali perbuatanya kali ini seumur hidupnya.

“Tutup mulutmu. Kau yang jalang disini. Mulai hari ini, kita tak punya hubungan apapun. Dan kau! Jangan pernah melakukan hal ini pada gadisku atau aku akan membalasnya dua kali lipat lebih menyakitkan” Mirae terkejut dengan ucapanku. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Kami jadi tontonan beberapa mahasiswa disini.

“Kau pasti bercanda. Kau tak mungkin mencintai gadis ini-kan, Jung kook?”

“Aku lebih dari mencintainya, Jung Mirae. Aku lebih baik kehilangan beribu-ribu gadis sepertimu daripada kehilangan Nana, mengerti? Kuperingatkan! Jangan pernah menampakkan wajah menjijikkanmu lagi di hadapanku. Taehyung-ah, Jimin-ah, urusi sisanya” kedua sahabatku mengangguk. Aku membawa Nana keluar menuju ketempat sepi. Kami duduk di salah satu bangku. Aku membersihkan kotoran yang ada di tubuh Nana sembari menetralkan emosiku yang menggebu-gebu. Gadis ini hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Aku berlutut di depannya untuk menyetarakan tinggiku dengan Nana yang tengah duduk. Aku menangkup wajahnya, berusaha membuatnya menatapku.

“Ma’afkan aku. Aku tak bisa menjagamu”  dia menggeleng pelan.

“Ani. Ini bukan salahmu. Tapi kenapa Jungkook-ssi? Kenapa kau melakukannya sejauh ini? Aku bukan siapa-siapamu. Aku yakin aku baru mengenalmu, tapi kenapa? Kenapa sulit sekali untuk mengabaikanmu? Siapa kau?” Nana terisak. Aku terdiam mendengar perkataannya. Jadi, selama ini tanpa gadis itu sadari, ia merasakannya. Perasaannya masih mengingatku.

“Aku melakukannya karena itu kewajibanku. Aku memang harus melakukannya. Aku harus menepati janjiku. Kau sendiri yang membuatku berjanji untuk melindungimu, Princess” aku memanggilnya dengan nama kecil yang kuberikan padanya dulu. Ia mengerutkan kening masih tak mengerti.

“Aku tak mengerti. Princess katamu? Sebenarnya siapa kau?”

“Apa kau tak bisa mengingatku sedikitpun, Princess? Apa kau ingat dulu sekali kau selalu berkata seperti ini ‘Kookie oppa, kau harus janji nanti kau akan menjagaku. Kau jangan pernah meninggalkanku’. Apa kau ingat?” Nana terdiam seperti berusaha mengingatnya sementara aku terus berceloteh.

“Apa kau ingat Nayeon? Tetangga pindahan dari Daegu. Saat itu Nayeon mendekatiku dan kau marah untuk beberapa hari karena kau merasa aku mengabaikanmu sejak ada Nayeon. Kau tak mau berbicara padaku dan aku merasa sedih. Saat itu aku sakit dan hal itu membuatmu mema’afkanku. Tapi apa kau ingat? Kau berkata seperti ini ‘Kookie oppa, kali ini aku mema’afkanmu karena kau sakit. Tapi lain kali jangan sakit lagi ya? Dan, jangan dekat-dekat dengan Nayeon. Aku tidak menyukainya. Kau itu milikku’. Lucu bukan?” aku terkekeh mengingatnya. Tanpa sadar air mataku mengalir. Luka itu kembali terbuka. Andai saja waktu dapat di putar kembali, aku ingin kembali ke masa itu. Masa dimana aku dan Nana bersama. Masa dimana Nana masih mengingatku. Mengingatku sebagai ….

“O-Oppa, Kookie oppa? Apa ini benar kau?” dia terbelalak. Dan jika aku tak salah, sepertinya ingatannya kembali. Kembali mengingatku. Aku mengangguk dan setelah itu Nana memelukku erat sembari menangis tersedu.

“Oppa, Kookie oppa. Hiks, oppa. Ma’afkan aku, ma’afkan aku. Aku terlambat mengingatmu” Ia terisak memanggilku. Aku semakin mengeratkan pelukannya. Rasa lega menyelimutiku. Nanaku kembali. Dia mengingatku, mengingat sebagai…

“Tidak apa-apa. Tidaka apa-apa. Aku akan menunggumu mengingatnya karena kau adalah Nana. Nana Princess kecilku. Nana saudara kembarku”

Yah, karena Nana adalah saudara kembarku.

-END-

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s