[Boys Meet What?] Guardian Angel – Oneshot

Title : Guardian Angel

Nama Author : Nova Lindah

Length : One Shot

Genre : Romance, Memories.

Rating : PG-15

Main Cast : Park Jimin, Jennie, Na Eun

Others Cats : All Member BTS, Taemin, Ahjumma Jennie, Oemma Jennie

“Cerita ini asli milik saya, jangan mengupload, share atau mengcopy-paste tanpa izin. Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, waktu, dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka. Terima kasih”

“Dia telah menyelamatkan Jimin dari berbagai macam masalah dan bahaya, namun Jimin tidak mengetahui siapa orang itu? Lalu apa yang akan terjadi berikutnya jika Jimin mengetahui siapa dia?”

“Appa! Appa! Appa! Bangun!” teriak seorang gadis sambil menangis.

“Mengapa kau bunuh ayahku?! Mengapa?! Apa salahnya?!”

Seseorang bak malaikat pencabut nyawa itupun mendekatinya dan menuding pisau yang ada di tangannya.

“Pergi dari sini jika kau tak ingin mati!”

“Siapa kau?! Mengapa kau menyuruhku pergi?!”

Pisau itu dengan sekilas menyayat tubuh gadis itu. Ia pun termakan oleh maut.

*

Nam Joon dengan cepat mengambil remot tv dan mematikan siaran itu.

“Ya Hyung! Apa yang kau lakukan?” teriak Taehyung

“Kau ini kenapa Hyung? Kau tau, acaranya benar-benar lagi seru.” Sambung Jungkook

“Ini pertama kalinya aku melihat televisi dan apa yang kau lakukan Nam Joon?” Yoongi berkata

“Mianhae. Tapi ini waktunya kita berangkat.”

“Kita berangkat? Ini masih jam.. hehe” Taehyung melihat kearah jam dan tertawa.

“Apa? Kau mau mengelak lagi?”

“Ani-yo. Mari kita berangkat.”

“Sebentar. Dimana Jimin Hyung?” tanya Jungkook

Di Persimpangan Jalan

“Jimin Oppa! Jimin Oppa!”

“Lihat! Itu Park Jimin!”

Jimin dengan sigap berlari kencang. “Aish, sial sekali aku hari ini. Bagaimana kau lupa memakai masker dan kacamata Jimin. Pabo! Aku harus lari kemana lagi. Ahh, aku terperangkap!” batin Jimin

Dari arah mana pun disana telah berlarian para sasaeng fansnya. Salah satu jalan adalah menuju taman. Tapi ia lupa arah jalan itu. Tiba-tiba saja seseorang yang menggunakan topi dan kacamata hitam menggenggam tanganya.

“Siapa kau? Apa kau seorang sasaeng fans?”

“Aku? Ah, lihat! Itu Jeon Jungkook! Dia sangat tampan hari ini!” Teriaknya sambil menunjuk ke arah toko buku itu dan membuat fans lain melihat ke arahnya. Dengan sigap ia menarik tangan Jimin dan berlari melewati taman. Mereka berhenti di depan sebuah cafe.

“Pabo! Bagaimana kau menjadi seorang artist jika kau sangat bodoh?”

“Apa kau bilang?!” Ucap Jimin tak terima.

“Kau tau jalan arah sini kan? Berhati-hatilah. Aku harus pergi.”

“Ya! Siapa namamu?”

Namun, ia tak menjawab pertanyaan Jimin. Ia langsung berlari pergi meninggalkannya. Jimin yang sudah sangat hafal dengan jalan itu langsung menuju ke arah dormnya.

“Ya! Darimana saja kau?” ucap Nam Joon

Jimin menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. “Aku tadi keluar sebentar.”

“Kau bilang sebentar?! Aish. Kita sudah terlambat.”

“Mianhae.” Jawab Jimin.

“Kau darimana?” tanya Taehyung yang sedang membereskan barang-barang begitupun Jimin.

“Aku pergi untuk membeli kopi. Tapi aku tidak jadi.”

“Wae?”

“Aku diserbu fans. Tidakkah kau tau? Aku lupa memakai masker dan kacamata.”

“Ya! Sejak kapan kau berani pergi kesana-kemari sendiri?”

“Aku ingin mengajakmu, tapi kau lagi asyik menonton tv tadi.”

“Mianhae. Lalu, bagaimana kau bisa kabur dari mereka?”

“Bisakah kalian berdua berhenti bicara dan cepat.” Heosok berkata.

“Ne.” Jawab Taehyung.

“Akan aku ceritakan nanti. Sudahlah kita harus cepat.”

“Oke.”

Ketujuh pria itupun pergi menaiki mobil menuju bandara.

“Berapa lama kita akan ada di Jepang?” tanya Jungkook

“Tiga hari.” Jawab Heosok.

“Hanya tiga hari?” sambung Taehyung

“Ne, kau mau apa lagi? Ini hanyalah fansmeeting. Setelah itu kita kembali ke Seoul.”

“Aku mengerti.”

Mereka pun terbang ke Jepang.

Di Cafe

“Silahkan dinikmati.”

“Ne. Gomawo.”

“Jennie.”

“Ne, ahjumma.”

“Bisa kau layani meja itu.”

“Ne.”

Jennie menuju ke arah meja itu.

“Ada yang bisa saya bantu.”

“Ah, ne. Aku ingin segelas jus jeruk.”

“Baiklah. Tunggu.”

Jennie dengan cepat melayaninya.

“Ini, silahkan dinikmati.”

“Gomawo.”

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, seluruh pengunjung sudah pergi. Jennie pun bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.

“Ahjumma, aku pulang.”

“Ah, ne. Gomawo Jennie-ya.”

“Ne. Aku akan datang lagi besok jika aku tak ada kerjaan di rumah.”

“Kau ini. Sebaiknya kau pergi jalan-jalan bersama temanmu, jangan hanya berada di tokoku saja.”

“Ne.”

Jennie pun tiba di rumahnya, ia segera membaringkan tubunya ke kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya dan terlelap.

Keesokan Harinya

Jennie tampak sangat malas hari ini. Ia kembali membaringkan dirinya ke atas kasur, namun tiba-tiba saja hpnya berdering. Ia langsung mengambil hpnya dan mengangkat telepon itu.

“Nuguseyo?”

“Bisakah aku bertemu denganmu?”

“Ini siapa?”

“Akan aku tunggu di Holly’s Cafe.”

Telepon itupun tertutup.

“Aish, siapa dia? Mau apa dia? Ahh”

Jennie beranjak mandi dan bersiap-siap, setelahnya ia menuju Holly’s Cafe. Ia duduk di bangku dekat jendela. Ia merasakan angin menimpa wajahnya.

“Apa kau Jennie?”

“Ne. Siapa kau?”

Seseorang itu memakai topi dan kacamata sehingga Jennie tak mengenalinya. Namun, dari suaranya dia adalah seorang perempuan.

“Kau tidak perlu tau siapa aku?”

“Mwo? Jadi apa tujuanmu mengajakku datang kemari.”

“Aku hanya ingin tau. Wajah kekasih seorang Park Jimin.”

“Ya! Seolhyun-ssi.”

“Haha.. Kau mengenaliku?” sambil membuka kaca matanya.

“Ah, kau ini.”

“Apa aku sudah mirip denganmu? Yang menyelamatkan Park Jimin.”

“Lupakan. Aku hanya tak sengaja melihatnya saat itu. Lagian dia juga sudah tak mengenaliku.”

“Kau tidak boleh begitu. Dia pasti masih mengenalimu.”

“Ani. Dia bahkan bertanya siapa aku? Siapa namaku?”

“Jelas saja dia betanya seperti itu, kau memakai topi dan kacamata saat itu. Mengapa kau selalu menutupi wajahmu dari dia. Apa kau malu?”

“Ya, aku malu. Kau tau bagaimana dia menolakku saat itu.”

Flashback

“Jennie, apa kau yakin?”

“Ne. Aku sangat yakin.”

“Bagaimana jika kau ditolak?.”

“Aku tidak akan ditolak.”

“Jennie, Jimin itu terkenal di kalangan wanita dan lihat, dia sedang bersama Na Eun-ssi.”

“Aku tidak peduli.”

Jennie menuju ke arah meja Park Jimin. Ia tak peduli bahwa Jimin sedang berbicara dengan gadis lain, ia menganggap hanya ada Jimin disitu.

“Park Jimin!”

“Mwo?”

Jennie menengok ke arah gadis di sebelah Jimin.

“Apa yang ingin kau bicarakan dengan Jimin?”

“Kau tak perlu tau.”

“Jimin.”

“Mwo? Apa yang ingin kau katakan.”

“Mari kita berkencan.”

Sontak semua murid yang ada di ruangan itu terkaget dan saling menatap.

“Kau gila!”

“Ya, aku gila karenamu.”

“Jennie-ya.”

“Aku membutuhkan jawabanmu bukan penjelasanmu. Jadi tinggal jawab ya atau tidak.”

“Tidak.”

“Wae?”

“Karena aku sudah memiliki kekasih.”

“Mwo? Nugu?”

“Aku, Na Eun-ssi. Aku adalah kekasih Park Jimin.”

Jennie yang merasa malu dan sakit hati karena di tolak Jimin. Ia pun pergi dari ruangan itu dan menangis.

*

“Ne, aku tau.”

“Ah, benar-benar. Akan aku buat kau menyesal karena pernah menolakku. Dan akan aku buat kau jatuh cinta padaku. Kau harus tau rasanya di tolak.”

“Sejak kapan kau jadi pendendam seperti ini?.”

“Semenjak aku di tolak.”

Tiga hari sudah berlalu, Jimin cs pun kembali ke kota Seoul.

“Ahh, akhirnya kita sampai. Aku ingin istirahat.”

“Hyung, aku ingin memakan masakanmu. Aku kangen.”

“Kau buat saja sendiri. Aku tidak ingin memasak.”

‘”Yah, Seok Jin Hyung.” Rengek Taehyung

“Sudahlah. Aku ingin pergi istirahat”

Mereka semua pun istirahat.

Esoknya

Jimin menatap ponselnya dengan sangat serius. Ia tak memperhatikan sekelilingnya. Dia dengan sigap menyembunyikan ponselnya ketika Taehyung mendekatinya.

“Ya, ada apa di ponselmu itu? Aku datang kau sembunyikan ponselmu.”

“Ah, ani-yo.”

“Kau bohong.”

“Hyung! Jimin hyung.” Teriak Jungkook

“Wae?”

“Ada tamu untukmu?”

“Nugu?”

“Ini aku.”

Na Eun masuk ke dalam kamar Jimin.

“Ah, kau. Silahkan duduk. Kau mau minum apa?”

“Aku tidak ingin minum apa-apa.”

“Kami permisi.” Ucap Taehyung dan Jungkook

“Ne.”

Taehyung lalu menutup kamar Jimin.

“Ada apa kau kemari?”

“Aku merindukanmu.”

“Kau mau minum apa? Akan aku buatkan.”

“Jimin.”

“Mwo?”

“Aku merindukanmu. Apa kau masih marah padaku?.”

“Ani. Aku tidak marah.” Sambil duduk di sebelah Na Eun.

“Tapi kau harus tau, aku benar-benar sangat merindukanmu.” Na Eun mendekati Jimin, ia hendak mencium Jimin namun Jimin berdiri dan membukakan pintu.

“Jika tak ada lagi. Kau bisa pergi.”

Na Eun beranjak dari duduknya dan menuju ke arah Jimin.

“Aku masih mencintaimu.” Bisiknya, lalu pergi.

*

“Ya!”

“Wae?”

“Aku baru melihatnya lagi datang kesini. Ada apa? Bukankah kau bilang kau sudah putus dengannya?”

“Aku memang sudah putus dengannya Hyung.”

“Lalu, ada apa dia kemari?”

“Dia sudah pasti merindukan sentuhan seorang Park Jimin.”

“Bicara apa kau anak kecil.”

“Ya! Aku seumuran denganmu, meski aku lebih muda darimu 2 bulan. Bisakah kau berhenti menganggapku anak kecil. Aish.”

Jimin menutup pintu kamarnya, ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia menatap ponselnya kembali.

“Aku tidak mungkin memilikimu lagi. Kau sekarang adalah kekasih sahabatku, Taemin. Itu tidak mungkin.” Sambil menatap foto Na Eun.

*

Pagi-pagi sekali Jimin sudah bangun dari tempat tidurnya. Ia pergi lari pagi ditemani dengan Yoongi.

“Apa yang Na Eun lakukan kemarin?”

“Tak ada yang ia lakukan.”

“Mengapa kau sangat arogant terhadapnya. Jelas kau masih sangat menyukainya.”

“Apa tak apa kita tak memakai kacamata dan masker. Jika ada salah satu fans yang melihat kita. Kita bisa saja diserbu.”

“Kau pandai merubah pembicaraan.”

Benar saja, tak lama kemudian mereka diserbu oleh beberapa fans.

“Aku lelah Hyung. Aku lelah.”

“Aku pun lelah. Kita harus bersembunyi dimana?”

Sekali lagi, seseorang menggenggam tangan Jimin.

“Ikut aku.”

Jimin mengikutinya juga Yoongi. Mereka berjalan melewati persimpangan jalan kecil hingga tiba di depan dorm mereka.

“Kau hebat. Bagaimana kau bisa tau jalan ini. Gomawo.” ucap Yoongi

“Sudahlah lebih baik kalian masuk sebelum sasaeng fans itu menemukan kalian.”

“Baiklah.”

Yoongi beranjak masuk namun tidak dengan Jimin. Ia menggenggam tangan orang itu.

“Siapa kau?”

“Kau tidak perlu tau siapa aku.”

Orang itupun melepaskan genggaman tangan Jimin dan berlalu pergi. Jimin pun segera masuk.

“Apa kau mengenalinya?”

“Aku tidak mengenalinya. Tapi aku sudah pernah bertemu dengannya. Ini kali kedua aku diselamatkan olehnya.”

“Jjinja? Daebak.”

“Sudahlah. Aku ingin tidur.”

Sebelum Jimin menuju ke kamarnya, ponselnya berdering lagi tanda datangnya sebuah pesan.

#Ini aku Na Eun, bisakah kita bertemu di Mango six.

Jimin segera menarik jacketnya dan berlalu pergi.

“Kau tidak jadi tidur?.”

“Tidak.”

Di Mango Six

“Selamat datang.” Ucap Ahjumma pemilik Cafe tersebut

Na Eun tersenyum.

Seolhyun yang sedari duduk di kursi segera menghampiri Jennie.

“Ya, Jennie-ya.”

“Wae?”

“Jennie.”

“Ne, Ahjumma.”

“Bisa kau layani.” Belum sempat Ahjumma itu berbicara, Seolhyun langsung mengambil note.

“Biar aku saja yang melayani.”

“Ne, Seolhyun. Gomawo.”

Jimin menutupi dirinya dengan tudung Jacket, ia menghampiri tempat Na Eun duduk.

“Kau datang?”

“Ne.”

Na Eun mengacungkan tangannya, tanda ingin memesan. Seolhyun menghampirinya, ia berpikir siapa yang Na Eun temui.

“Ada yang bisa saya bantu.”

“Ah, ya. Aku ingin memesan kopi dan cake strawberry.”

“Ne. Ada lagi?”

“Ada yang ingin kau pesan?.”

“Aku choco milk saja.”

Seolhyun menatap jelas ke arah laki-laki itu. Dia Park Jimin.

“Ah, hanya itu?”

“Ne.”

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

“Jennie-ya. Tolong antarkan pesanan ini ke situ.”

“Ah, biar aku saja.” Ucap Seolhyun.

“Kau ini kenapa? Kau bukan seorang pekerja disini.”

“Tapi Ahjumma.”

“Biar aku saja.”

“Jennie-ya.”

Jennie mengantarkan pesanan ke meja itu.

“Aku merindukanmu.” Sambil menggenggam tangan Jimin.

“Kau tau. kau sudah memiliki kekasih. Berhentilah merindukanku.”

“Jimin. Aku masih mencintaimu. Aku benar-benar masih mencintaimu.”

“Permisi. Ini pesanannya.”

“Ne, kamsahamnida.”

Jennie belum menyadari kehadiran Jimin, namun ia menyadarinya ketika Jimin berteriak keras.

“Jimin. Aku ingin kita kembali bersama.”

“Aku tidak bisa. Kau kekasih Taemin.”

“Jimin. Aku benar-benar masih mencintaimu. Tidakkah kau masih mencintaiku? Mari kita berkencan lagi. Jimin.”

“Aku tidak bisa.”

“Jimin.”

“Berhentilah memohon! Apa kau lupa bagaimana kau meninggalkanku hanya karena Taemin?! Taemin sukses lebih dulu dari pada aku dan hanya karena dia dapat membelikanmu banyak barang-barang kau meninggalkanku. Sekarang, apa kau baru sadar bahwa aku bisa jauh lebih sukses daripada Taemin. Apa kau berharap kita dapat bersama lagi? Tidak! Aku tak akan menerimamu. Aku masih ingin menganggap Taemin sahabatku, tapi kamu. Kehadiranmu di kehidupanku dan Taemin bisa saja menjadi malapetaka bagi hubungan persahabatan kami. Pergi jauh dari hidupku dan jangan pernah menghubungiku lagi!”

“Jimin! Jimin! Ah, sial.”

Jennie langsung melihat ke arahnya, Jimin sudah pergi berlalu meninggalkan Cafe itu. Jennie dengan sigap mengambil topi dan kacamatanya dan berlalu pergi.

“Ya Jennie, kau mau kemana?” tanya Seolhyun.

“Aku pergi sebentar. Kau gantikan posisiku dulu.”

Jimin berjalan tanpa arah. Air matanya berlinang.

“Pabo! Kau jelas masih mencintainya mengapa kau berkata seperti itu. Pabo!” Jimin berkata dalam hati.

Ia tak melihat tanda jalan, jelas-jelas masih lampu hijau ia malah menyelundup lewat hingga sebuah mobil ingin menabraknya. Jennie yang melihat hal itu segera lari dan menarik Jimin ke pinggir jalan.

“Apa kau gila? Kau baru saja ingin mengakhiri hidupmu.”

“Kau menyelamatkanku lagi. Ini ketiga kalinya. Siapa kau?”

“Kau tidak perlu tau siapa aku.”

“Memang! Aku memang tak seharusnya tau siapa kau?! Dan tak seharusnya juga kau menolongku, pergi!” Jimin melepas genggaman tangan Jennie. Ia menyebrangi jalan.

Jennie kembali menuju Cafe. Ia masih melihat perempuan yang Jimin temui itu di Cafe ahjummanya. Jennie menghampiri perempuan itu.

“Na Eun-ssi”

“Siapa kau?”

“Bisakah kau pergi dari kehidupan Jimin?”

“Siapa kau menyuruhku menjauhi Jimin?”

“Aku Jennie.” Sambil membuka kacamatanya “Pergi jauhi Jimin. Jimin tersiksa karena kau.”

“Hah! Apa kau masih tidak memiliki malu?. Kau bahkan sudah di tolak oleh Jimin.”

“Ya! Na Eun-ssi.”

“Oh, Seulhyun? Kau juga ada disini.”

“Berhenti berbicara seperti itu. Kau bahkan tak punya harga diri, menyuruh orang yang sudah kau khianati kembali dalam hidupmu. Apa kau tak punya malu?”

“Ya!” Na Eun hendak menampar Seolhyun namun tangan Jennie mengenggam tangannya.

“Pergi dari sini sebelum aku menamparmu Noona.”

Na Eun pun pergi dari Cafe tersebut.

*

Jimin memasuki kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sebuah sofa, ia meneguk kopi kalengan. Ia sejenak terdiam dan mengingat kejadian di pinggir jalan.

“Aish. Kau bener-benar pabo Jimin.” Sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. “Dia telah menyelamatkanmu, namun kau malah membentaknya. Sungguh pabonya dirimu Jimin. Aish sial. Aku harus menemuinya besok.”

*

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, Jimin segera pergi ke taman pinggir jalan itu, saat pertama kali ia menyelamatkannya. Jimin dengan topi dan kacamata hitamnya duduk di bangku taman itu, ia berharap dapat menemuinya.

Di Rumah Jennie

“Kau mau kemana?”

“Aku ingin ke Cafe oemma.”

“Sarapan dulu.”

“Tidak usah. Aku akan sarapan nanti.”

“Kau kebiasaan. Mengapa selalu memakai topi dan kacamata itu?.”

“Tak apa. Aku lagi ingin memakainya.”

Jennie berbohong. Padahal ia ingin pergi melihat Jimin jogging.

Jennie keluar rumah, ia menikmati segarnya angin pagi. Ia pergi ke persimpangan jalan namun ia tak melihat Jimin. Akhirnya ia memutuskan untuk langsung pergi ke Cafe, namun sebuah bunga mawar yang baru mekar mengubah niatnya. Ia mendekati dan memetik bunga mawar itu. Jimin yang sadar akan kedatangannya mendekatinya.

“Kau suka bunga mawar?”

Jennie terkaget mendengar ucapan itu.

“Siapa kau? Apa kau akan menculikku?”

“Ya! Apa kau bodoh? Mana ada penculik yang menanyaimu.”

“Benar juga. Lalu siapa kau?”

“Aku? Haruskah aku memberi tahumu.”

Jimin mendekati Jennie, ia mendekatkan mukanya ke muka Jennie.

“Apa yang ingin ia lakukan? Oh, Jennie kau bisa mati disini.” Batin Jennie.

Jimin melepaskan kacamata yang dipakai Jennie.

“Ya! Mengapa kau melepaskan kacamataku?.”

Jimin terkaget mengetahui sosok di balik kacamata itu.

“Jennie?”

“Ne. Aku Jennie. Siapa kau?” Jennie dengan paksa melepaskan kacamata yang lelaki itu  pakai hingga terputus.

“Ya! Bisakah kau hati-hati.”

Jennie terdiam mengetahui bahwa lelaki yang ada di depannya itu adalah Park Jimin. Jennie berniat pergi namun tangan Jimin lebih cepat menggenggam tangannya.

“Jadi selama ini kau?”

“Apa? Aku? Aku memangnya kenapa?”

“Jangan mengelak. Mengapa kau diam-diam menyelamatkanku?”

“Aku. Ani-yo, siapa bilang aku menyelamatkanmu? Kapan? Aku tidak tau kapan aku menyelamatkanmu.”

“Kau bohong.”

“Ya! Aku tidak bohong.”

Jimin mendekatkan mukanya ke arah Jennie. Jennie hanya memejamkan matanya.

“Raut wajahmu mengatakan bahwa kau berbohong.”

“Aku tidak bohong.”

“Berapa lama lagi kau akan berbohong? Haruskan aku menelepon Seolhyun? Dia sahabatmu dari dulu dan aku masih memiliki nomor hpnya.”

“Dia sudah ganti kartu.”

“Lalu mengapa kau ketakutan? Baiklah, akan aku telpon Seolhyun.”

“Iya, aku yang menyelamatkanmu.”

“Ah, benarkah? Mengapa kau menyelamatkanku?”

“Pabo! Aku ini menyukaimu dari dulu. Aish.”

“Jjinja?”

“Ne. Sudahlah aku harus ke ..” tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat di pipinya.

“Gomawo.”

Jennie terdiam bagai patung.

“Tadi kau mau kemana?”

“Ah, a-a-ku. Aku ingin ke Cafe.”

Jennie dan Jimin pun pergi ke Cafe.

“Oh, jadi ini Cafemu?”

“Bukan. Ini Cafe bibiku.”

“Oh.”

“Kau mau minum apa?”

“Aku ingin kopi.”

“Baiklah. Sebentar.”

“Siapa dia?” tanya Seolhyun.

“Dia Jimin.”

“Jimin?”

“Ne. Park Jimin.”

Seolhyun langsung menuju ke arah Jimin dan duduk di depannya. Jennie yang sudah menyiapkan kopi juga langsung ke arahnya.

“Ini. Kau tak usah bayar.”

“Tak apa. Nanti aku bayar.”

“Jimin. Bolehkah aku minta tanda tanganmu. Kau artist sekarang.” Sambil memberikan kertas kepada Jimin

“Seolhyun.”

“Diam kau. Kamsahamnida.”

“Jadi, apa tujuan utamamu menyelamatkanku?”

“Ah, tujuan utamaku itu.”

“Dia ingin balas dendam padamu. Entah apa motivnya namun yang jelas setelah kau menolaknya dulu di SMA dia benar-benar ingin kau merasakan seperti yang ia rasakan.”

“Seolhyun.” Sambil menginjak kaki Seolhyun.

“Aww. Kau tau? semuanya tidak akan berjalan lancar. Kau masih terlihat menyukai Jimin dan aku rasa kau hanya bohong tentang ingin membalas dendam.”

“Ne, aku berbohong. Aku melakukan ini agar Jimin menyukaiku dan berharap dapat menjadi kekasihnya.”

“Nah. Seperti itu.”

“Begitu?”

“Aish, Jennie pabo! Mengapa kau lupa bahwa disini ada Park Jimin. Kau mengatakan sejujurnya. Ahh.” Batin Jennie.

“Ne, begitulah Jimin. Sudah, aku tak ingin menggangu kalian. Aku pulang dulu.”

“Ne. Hati-hati.”

Jennie dan Jimin masih diam-diaman entah belum ada yang memulai pembicaraan. Jimin meneguk kopinya dan siap berbicara.

“Haruskah kita pergin berkencan?”

“Berkencan?”

“Ne.”

“Kau gila?”

Jennie langsung menatap mata Jimin. Ia tak menyangka bahwa Jimin akan mengatakan hal seperti itu.

“Temui aku di Holly’s Cafe besok malam. Ini kartu namaku, hubungi aku.”

Jimin segera pergi dari Cafe itu setelah ia menyadari ada beberapa orang yang menyebut namanya sambil berbisik-bisik.

*

“Ah, baju apa yang harus aku pakai? Aku bingung.”

Jennie keluar kamarnya dengan pakaian yang sangat anggun.

“Kau mau kemana?”

“Aku ingin bertemu dengan temanku. Aku pergi dulu. Da, oemma.”

Jennie menuju Holly’s Cafe. Ia mencari Jimin namun tak dapat menemukannya. Jimin yang sadar akan kedatangan Jennie, menyapanya.

“Jennie.” Jennie menuju ke arah Jimin.

Jennie kira ia akan makan malam berdua dengan Jimin namun disitu ada Na Eun.

“Duduklah.” Jimin menarikkan kursi untuk Jennie.

“Jennie. Ini Na Eun, kau ingat dia?”

“Ne. Aku mengingatnya.”

“Jadi apa yang membuatmu menyuruhku datang kemari?.”

“Aku ingin memperkenalkan pacar baruku padamu Na Eun.”

“Maksudmu?”

“Ne. Jennie sekarang adalah pacarku.”

“Kau bercandakan?”

“Aku tidak pernah bercanda.”

“Hah. Sejak kapan kau jadian dengan Jimin?”

“Kau tak tau? Ketika kau datang ke Cafe bibiku. Itu sebabnya aku menyuruhmu menjauhi Jimin.”

“Kau jahat Jimin!” Na Eun berlalu pergi.

“Apa tak apa?”

“Ne. Tak apa.”

“Kau masih terlihat sangat menyukainya.”

“Ne, aku memang masih menyukainya. Tapi dia telah mengkhianatiku.”

“Tidakkah kau memaafkannya?”

“Aku sudah memaafkannya. Namun kehadirannya lagi yang membuatku tak dapat memaafkannya.”

“Ne. Aku paham.”

“Jennie.”

“Mwo?”

“Maukah kau membantuku?”

“Aku pasti membantumu. Apa yang perlu aku bantu?.”

“Bantulah aku mencintaimu dan melupakan Na Eun.”

Jennie terdiam mendengarkan ucapan Jimin barusan.

“Jennie. Apa kau tak mau?”

“Ah, ne. Aku mau, tapi kau harus berjanji padaku.”

“Apa? Apa yang harus aku janjikan?”

“Jangan menolakku lagi, ne?”

“Ne.”

“Jadi, apa yang harus aku pesan?”

“Pesan sesukamu.” Jimin mencium pipi Jennie.

SELESAI

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s