[Boys Meet What?] Langit di Kota Busan – Oneshot

—Boys Meet What?—

Tema : Seseorang yang bertemu dengan jodohnya.

Judul : Langit di Kota Busan

Author : Susi T

Genre : Romance; Hurt; Family

Length : Oneshoot

Rating : PG-15

Cast : Park Jimin a.k.a Jimin.

Kim Yoo Jung a.k.a Yoo Jung.

Kim Taehyung a.k.a Taehyung.

Disclaimer : BTS (Bighit Ent); Kim Yoo Jung (Actress); & Original Character.

Summary : Sebuah kenyataan pahit yang menimpanya seakan membuat dunianya runtuh dan tak menyisakan satu ruang pun. Hingga sebuah cinta yang sederhana tumbuh dan mampu membuat dunianya kembali cerah.

“Langit di Kota Busan”

Di sebuah gedung apartemen dari ketinggian 20 lantai. Seorang laki-laki tegak berdiri di tepi balkon sebuah kamar. Matanya memandang kosong menyaksikan matahari yang mulai bersembunyi di balik bangunan-bangunan yang bertingkat. Pikirannya melayang-layang. Angin lewat menerpa dirinya, membiarkan ia lewat menyeka wajahnya yang mulus.

Matanya terasa dingin dan pedih saat cahaya sinar matahari telah hilang dari pandangannya. Dan yang terlihat hanyalah sebuah bayangan gedung yang masih terselipkan sedikit cahaya berwarna merah madu. Pandangannya beralih melihat keatas awan. Ia mengamati setiap inchi lekukan-lekukan dan sinarnya yang masih bisa menyinari awan tersebut. Ia menghirup dalam-dalam udara yang mulai terasa dingin. Lalu ia hembuskan perlahan, untuk melegakan jiwanya yang terasa hampa.

Hingga langkah seseorang mengejutkannya dan membuat ia harus menoleh kesamping. Ia melihat seorang laki-laki yang sebaya dengan dirinya telah berdiri di sampingnya. Laki-laki tadi mengembuskan nafas kasar sebelum ia mulai berbicara. “Apa yang sedang kamu lakukan disini, Jimin-ah? Yang lain sedang menunggumu di ruang tv. Cepat masuk, disini sangat dingin. Kamu tidak kedinginan?” dan Jimin menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari temannya yang bernama Taehyung.

Jimin merupakan satu-satunya pewaris perusahaan J-Group. Dan sekarang ia harus mengambil alih perusahaan milik Ayahnya di usianya yang sudah menginjak 25 tahun. Ia juga lebih memilih tinggal di apartemen dibandingkan ia harus tinggal dirumah dengan Ibu baru yang menikahi Ayahnya satu minggu yang lalu. Taehyung merangkul pundak Jimin dan menuntunnya untuk masuk kedalam menyusul teman-temannya yang sedari tadi menunggunya di ruang tv. “Hai. Jimin-ah! Lama sekali kamu ke toiletnya! Kamu tidak tahu kalau kita disini sedang kelaparan?” seru seseorang diantara kelima orang temannya yang duduk berjejeran di sofa menghadap tv yang sedang menyala.

“Aku minta maaf. Kalau begitu aku akan mengambilkan makanan dulu untuk kalian,” ujar Jimin. Ia melangkah menuju dapur dan mengambilkan beberapa makanan dan cemilan yang ada dan beberapa botol minuman di dalam kulkas. Taehyung datang menyusulnya dan membantu Jimin menyediakan makanannya. “Kamu tidak perlu bermurah hati seperti ini. Aku merasa kalau kamu sangat terbebani,” kata Taehyung sembari menyiapkan makanan yang akan di bawanya.

“Aku tidak apa-apa, tidak ada yang terbebani. Hanya saja kau harus tahu, hidupku sudah mulai berantakan sejak datangnya wanita itu dikeluargaku. Aku tidak ingin wanita lain menggantikan posisi seorang ibu dikeluargaku selain Ibuku. Dan wanita itu,” kata Jimin terhenti dengan menahan emosi yang akan meluap. “Wanita itu telah merebut posisi ibuku disana! Aku tidak suka!”

“Jimin-ah, kau harus terima. Ibumu sudah lama meninggal, dan kau,” sahut Taehyung dan menggantungkan perkataannya sambil melihat ke arah Jimin. “Dan kau apa, Hah!” teriak Jimin yang menggetarkan seluruh ruangan, sampai-sampai teman-temannya yang berada di ruang televisi mendengarnya lalu serentak menghampiri arah teriakan Jimin.

“Ibuku tidak meninggal Taehyung-ah! Dia hanya sedang pergi dengan kapal pesiar, dia akan kembali! Dia tidak meninggal, aku merasakan kalau ibuku masih hidup Taehyung-ah! Kenapa tidak ada yang mengerti?” lanjut Jimin dan mulai menangis tersedu-sedu. Taehyung mendekatinya dan ingin merangkulnya namun Jimin menepisnya. “Kalian sama saja dengan wanita itu! Pergilah, aku ingin sendiri,” teriaknya dengan menahan tangisnya yang mulai memacah.

“Jimin-ah?” ujar Taehyung. “Pergilah, aku ingin sendiri,” lirihnya yang masih tertunduk dalam tangisannya. Taehyung beranjak pergi meninggalkan Jimin dan di ikuti oleh kelima temannya yang turut merasakan prihatin akan kehidupan yang Jimin jalani.

Jimin mulai menangis dengan sangat kencang saat ia merasa telah sendirian di dalam ruangan tersebut. Kini air matanya mulai mengering, Jimin terdiam. Pikirannya mengingat kenangan bersama ibunya yang selalu ia kasihi. Air matanya mulai terjatuh lagi dan air itu mengalir dengan hangat dipipinya. Hingga ia terlelap dalam posisinya sekarang ini. Duduk bersandar pada dinding yang ada di dapur.

Tak terasa cahaya matahari pagi mulai menyinari ruangan tersebut. Sinarnya mampu menusuk mata dan kulit Jimin yang tertidur dilantai. Matanya mulai bergerak. Perlahan tapi pasti, Jimin telah berhasil membuka matanya. Ia tidak menyadari bahwa dirinya tertidur di dapur. Jimin bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi dengan sesekali menguap dan matanya pun masih terasa berat untuk membuka. Ia membasuhkan wajahnya dengan air keran. Selesai membasuh, ia melihat pantulan dirinya di dalam kaca dan tersenyum masam. Wajahnya sembab dan terlihat pucat. “Bagaimana aku bisa berangkat kerja dengan wajah yang seperti ini?” Kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

Selesai dari kamar mandi, Jimin berganti pakaian. Ia memakai sebuah jas berwarna hitam, kemeja berwarna putih serta dasi dan sepatu yang senada. Ia kembali melihat pantulan dirinya di dalam kaca. Ia memuji dirinya sendiri dengan kata-kata yang sering didengarnya dari para pegawai dan teman-temannya semasa kuliah dan sekolahnya. Jimin bergegas keluar dari apartemennya menuju garansi untuk mengambil mobil yang ia parkirkan.

Sesampainya di kantor perusahaan milik Ayahnya. Jimin berjalan menyusuri halaman depan kantor tersebut setelah memarkirkan mobilnya. Di sepanjang langkah ia berjalan menuju ruangannya, para pegawai di perusahaan tersebut memberikan salam kepada Jimin dengan menundukkan badannya 90o. Jimin membalasnya hanya dengan senyum yang dipaksakaan. Hatinya masih terasa sakit mengingat takdir kehidupannya.

Jimin telah sampai dan segera duduk bersandaran di kursinya. Seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut. “Masuk!” perintah Jimin dengan suara yang sedikit sumbang. Lalu pintu tersebut terbuka dan menampilkan wajah Taehyung yang tersenyum manis. Jimin berdiri dan berjalan menuju dinding kaca yang dapat menembus pemandangan yang menampilkan kota di sekeliling gedung perusahaannya. Taehyung mendekat kearah Jimin yang sedang mengamati pemandangan tersebut.

Taehyung berdehem untuk melegakan tenggorokannya yang terasa mencekik. “Apa kau masih marah atas perkataanku tadi malam?” tanya Taehyung yang menoleh melihat wajah Jimin bagian samping. Jimin menghembuskan nafasnya kasar. “Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak ingin mengingat kejadian tadi malam. Taehyung-ah apa kamu mau menemaniku pergi ke pantai Haeundae?”

Taehyung menatapnya tidak percaya. Ia merasa untuk pertama kalinya Jimin mengajaknya pergi kesuatu tempat. Semenjak ibunya tidak ditemukan akibat kecelakan kapal yang ditumpanginya terguling. “Untuk apa kamu pergi kesana?” tanyanya.

“Hari ini tidak ada rapatkan? Ayo kita pergi kesana.” Taehyung menggelengkan kepalanya. Kemudian Jimin berbalik untuk mengambil kunci mobil yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Lalu melangkah pergi dan disusul oleh Taehyung di belakangnya. Disepanjang lobi yang ia lewati, Taehyung mengalungkan satu tangannya dipundak Jimin. Banyak pegawainya yang berbisik, apa yang telah terjadi kepada keduanya. Pegawainya juga bingung. Sejak tadi pagi, Jimin terlihat murung. Dan sekarang, Jimin terlihat lebih baik dari sebelumnya.

***

Melihat kota Busan sekarang ini sangatlah padat. Dan tak kalah padatnya dengan sebuah kota besar seperti Seoul dan kota lainnya. Kota ini masih terlihat sama seperti saat-saat sebelumnya. Sebelum meninggalkan kota Busan yang memiliki pantai pasir putih, dan lembut seperti kain sutera yang sedang dipijaknya sekarang ini. Matanya yang bulat memandang kosong lautan lepas yang berada di hadapannya tersebut. Desiran suara ombak seakan menjadi sebuah alunan musik yang menghantarkannya.

Angin laut menerpa dirinya dengan kasar hingga membuat rambutnya yang panjang terurai melambai-lambai seperti kibaran bendera. Matanya mengatup saat angin tersebut berhasil menusuknya. Matahari mulai terasa sangat terik. Dan gadis tersebut masih mampu bertahan ditengah-tengah terjangnya angin laut dan panasnya terik matahari yang mampu membakar kulitnya yang putih.

Terdengar suara langkah yang mampu membuyarkan lamunannya. Ia menoleh, dan melihat dua orang laki-laki sudah berdiri lima langkah tak jauh darinya. Gadis tersebut kembali memandang hamparan pantai diikuti oleh ombak dan angin yang menerpanya. Mereka seperti satu keluarga yang tidak dapat terpisahkan.

Laki-laki yang berada lima langkah darinya tak lain dan tak bukan adalah Jimin dan Taehyung. Jimin memandang air pantai ini dengan mengamati air ombak yang berbondong-bondong menuju ke arahnya. Seketika air matanya keluar dari tempatnya. Taehyung yang sedang menikmati angin segar ini menyadari jika Jimin mengeluarkan air matanya. “Kamu tidak apa-apa Jimin-ah?”

“Air ini,” ucapnya terhenti. Ia menggigit bibir bawahnya dengan mata tertutup menahan air matanya yang akan tumpah. Taehyung menepuk pundak Jimin untuk memberikan sebuah ketenangan padanya. “Air ini telah membawanya pergi Taehyung-ah. Air ini telah merenggut nyawanya! Aku sangat membencinya!” teriak Jimin dengan menendang-nendang air yang mendekatinya. Taehyung terlihat sedang menenangkan dirinya. Namun suara seseorang mampu membuat Jimin berhenti menangis.

“Bukan air ini yang merenggutnya. Tapi, Allah-lah yang membawanya menuju alam keabadian,” ucap gadis tadi yang berdiri lima langkah dari mereka. Jimin dan Taehyung melihatnya, mereka tidak menyadari kalau ada seorang gadis berdiri disana. “Apa maksudmu?” kata Jimin dengan suara serak, menyuruhnya untuk menjelaskannya.

“Anda salah Tuan, karena air hanyalah sebagai perantara-Nya saja. Dan Anda membenci air laut ini? Bahkan air ini tidak mengerti kenapa ia dibenci. Anda menendang-nenandangnya pun, air ini tidak akan merasa sakit. Nyawa orang yang Anda maksud itulah yang merasa sakit dan juga sangat sedih. Jika ia melihat apa yang Anda lakukan seperti ini. Anda harus bisa melawan rasa sedihmu itu dan mengikhlaskannya, Tuan. Buatlah nyawa orang tersebut bahagia di alam sana.” Jelasnya dengan menghadap ke arah Jimin dan Taehyung. Raut wajah gadis tersebut terlihat pucat tanpa menghilangkan paras cantiknya. Jimin dan Taehyung mendengarkannya dengan seksama. Taehyung memandangnya dengan rasa takjub saat mendengarkan tutur kata dan cara bicaranya. Ternyata masih ada seorang wanita cantik sepertinya mampu bertutur kata yang baik, batin Taehyung.

Sedangkan Jimin, pikirannya kemana-mana. Ia merasa, apa yang diucapkan gadis tersebut adalah benar adanya. Setitik rasa takjub pun muncul dibenaknya, ia merasa tidak pernah mendengar seorang gadis bisa berbicara seperti itu di depannya. Entah apa yang membuatnya ingin memandang gadis itu lagi, dengan melihat bola matanya. Dan tatapannya pun langsung bertemu dengan gadis tersebut yang masih melihatnya. Dengan sekejap gadis itu memalingkan pandangannya. Ia merasakan sebuah getaran halus yang belum pernah ia rasakan saat menatap dan memandang seorang laki-laki. Detak jantungnya pun juga tidak teratur. Wajahnya yang terlihat pucat tadi, sekarang telah berubah warna menjadi merah.

Jimin juga merasakan hal yang sama. Dan ia berharap tatapan mata sang gadis itu kembali lagi. Karena seluruh jiwanya selama ini terisi penuh oleh pemandangan alam yang selalu ia lihat, serta sesaknya saat berada di kantor apalagi di rumahnya. Hingga beberapa saat Jimin berdiam diri melihat gadis tersebut tanpa ingin berpaling darinya. Gadis tersebut menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berdehem karena perasaan yang kini sedang menggalutinya. Pandangannya pun juga tak tentu arah melihat pantai yang terbentang sangat luas. Ia terlihat canggung, saat merasakan sebuah pandangan melihat dirinya –Jimin. Sekali lagi gadis tersebut menghembuskan nafasnya dengan lambat. “Sepertinya sudah cukup saya berada disini. Saya harus kembali,” ucapnya dengan menundukkan kepalanya memberi salam.

Jimin masih terdiam ditempat. Tidak menyadari bahwa gadis tersebut telah jauh pergi meninggalkannya. Ia menikmati setiap gerakan gadis tersebut. Hingga ia sadar bahwa gadis tersebut sudah pergi jauh. Ia ingin berteriak menghentikan langkah gadis tersebut. Namun ia urungkan. Ia merasa tidak ingin jauh darinya. Hingga tepukan yang berasal dari tangan Taehyung membuatnya mengalihkan pandangan untuk melihat Taehyung. “Kamu tidak apa-apa?” Jimin menggelengkan kepalanya, lalu melihat kembali ke arah gadis itu pergi. Namun, ia tidak menemukan gadis itu lagi disana.

“Kau mencarinya? Dia sudah lama pergi. Apa kamu tertarik padanya?” kata Taehyung untuk menggoda Jimin. Jimin mengelak dan langsung pergi meninggalkan Taehyung. “Jangan berbohong padaku, aku tahu dari raut wajahmu saja sudah terlihat.” Jimin mengabaikan ucapan yang dilontarkan Taehyung kepadanya. Namun, sejenak ia berfikir. Apa benar bahwa dirinya menyukai gadis tadi.

***

Hari demi hari telah berlalu dengan sangat cepat. Semenjak Jimin bertemu dengan gadis yang ditemuinya di pantai Haeundae. Kehidupan Jimin kini mulai berubah. Ia sudah tidak lagi merasa sedih dan murung seperti biasa. Ia terlihat sangat ceria dan bersemangat. Para pegawainya pun kini sudah tidak merasa canggung lagi saat menyapa dan menyalaminya. Ia telah mengikhlaskan ibunya pergi. Dan mengubah kehidupannya jauh lebih baik lagi. Dan berharap kelak ia bisa bertemu dengan gadis itu lagi.

Meski kehidupannya telah berubah. Ia belum pernah kembali kerumahnya untuk menjenguk Ayah kandungnya dan Ibu tirinya. Ia belum siap, untuk bertemu mereka dan menerima ibu tirinya tersebut sebagai ibunya.

Ayahnya tahu jika anaknya –Jimin telah berubah. Dan membuat perusahaannya kembali normal bahkan kini semakin maju dan berkembang. Banyak perusahaan asing maupun lokal yang ingin bekerja sama dengannya.

Dalam perjalanan pulang. Jimin merasakan bahwa dirinya merindukan Ayahnya yang telah dua bulan pekan ini tidak pernah ia temui. Ditengah persimpangan jalan Jimin membelokkan setirnya kearah jalan lain bukan kearah yang biasanya ia lewati sepulang dari kerjanya. Mobilnya berhenti didepan sebuah rumah yang penuh dengan kenangan.

“Jimin-ie! Cepat turun, kamu nanti akan jatuh dari situ!” ujar seorang wanita yang berdiri diluar, dekat gerbang besar tersebut dengan meneriaki seorang anak laki-laki yang berada di atas gerbang dengan tertawa lepas. “Jimin-ah! Ayo turun! Gerbangnya mau Ayah buka!” kata laki-laki yang mengaku sebagai Ayah dari anak tersebut. 

Jimin lalu turun. Ia langsung turun kedalam dan menunggunya di depan pintu rumah yang bercat putih dan berlantai sama dengan dindingnya. Wanita tersebut berlari menuju kearah Jimin setelah memasuki halaman rumahnya. Ia langsung menggendongnya dan mengangkat tubuh mungil Jimin ke atas. Jimin tertawa dengan wanita tersebut. “Ibu, aku sangat menyayangimu! Angkat lebih tinggi lagi ibu!” pekik anak laki-laki tersebut.

Di dalam mobil Jimin menitihkan air matanya saat ingatannya mengenang masa kecilnya yang sangat jahil. Dan saat tersadar ia mengusap air mata tersebut dan mengukir sebuah senyuman disana. Tiba-tiba pintu gerbang terbuka, membuat Jimin harus menoleh. Matanya terbuka lebar melihat gadis yang ditemuinya dulu baru saja keluar dari dalam rumahnya.

Gadis tersebut mengambil sebuah kotak berisi sebuah paket dari dalam kotak pos. Jimin berdiri dibelakangnya dan membuat sang gadis saat berbalik terkejut dan hampir menjatuhkan kotak yang baru di ambilnya. Gadis itu merasa lega saat kotak tersebut berhasil ia raih kembali. Pandangannya lalu menatap Jimin yang membuatnya terkejut. “Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Jimin. Gadis tersebut menaikkan sebelah alisnya dan melihatkan sebuah kotak tadi di hadapan Jimin.

“Untuk apa ini? Kenapa kamu keluar dari dalam rumah ini?” Gadis tersebut menatap tajam Jimin. “Tentu aku tinggal disini. Memangnya kenapa? Bukankah Anda yang di pantai itu?” tanya balik gadis tersebut.

“Lupakan. Siapa kamu?” kata Jimin dengan menatap gadis itu lekat. Tatapan yang selama ini ia rindukan sejak pertemuan dulu. Getaran yang mereka rasakan dulu terulang kembali. “Aku? Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu, Tuan,” jawab gadis tersebut dengan mengalihkan pandangannya dari mata Jimin. Jimin langsung menarik lengan gadis tersebut menuntunya memasuki rumahnya. “Apa yang Anda lakukan, Tuan?” ujar gadis tersebut. Jimin membuka pintu rumah tersebut. “Jimin-ah?”  ujar laki-laki yang duduk disofa bersamaan dengan wanita yang berada di sampingnya.

Jimin melepaskan genggamannya dari lengannya. Gadis tersebut terlihat merasa kesakitan. “Siapa dia!” terika Jimin dan membuat gadis tersebut terkejut. “Jimin-ah, tenanglah nak.”

“Aku tidak bisa tenang! Siapa dia! Apa hubungannya dengan kalian!” teriak Jimin lagi. “Dia, adalah putriku.” Jawab wanita tersebut seraya mendekat dan memeluk gadis tadi.

“Jangan menipuku! Kau bilang kau tidak memiliki seorang anak dari pernikahan pertamamu dulu! Lalu sekarang kau mengaku bahwa dia adalah putrimu?” Jimin mengusap rambutnya kasar. Gadis tersebut melihat Jimin dengan iba. “Saya bukan putrinya, Tuan. Anda bisa lega sekarang,” ujar gadis itu, membuat Jimin dan semuanya menoleh kepadanya.

“Saya memang bukanlah anak Tante. Tapi saya telah menganggapnya seperti ibu saya sendiri. Dan Ayah Anda, saya juga terkejut kalau Tante Hyera telah menikah lagi. Kedua orang tua saya telah lama meninggal saat saya masih berada di London. Saat saya kembali dan mengetahui semuanya. Mengetahui bahwa saudara orang tuaku sendirilah yang telah membunuhnya. Dan saat itu, hanya Tante Hyera lah yang saya miliki. Tante Hyera adalah sahabat dari kedua orang tuaku, Tuan.” Jelas gadis tersebut yang diikuti oleh sebuah pelukan hangat oleh wanita tersebut yang ternyata ibu tiri Jimin yang bernama Hyera.

Jimin tercengang atas penjelasannya. “Siapa, namamu?” tanya Jimin dengan memandangnya yang kedua matanya sudah berkaca-kaca. “Kim Yoo Jung, Tuan Park Jimin,” jawabnya dengan tersenyum manis pada Jimin yang juga menyambut senyumannya.

“Kenapa kamu datang kesini dan marah-marah seperti anak kecil. Lalu, minta penjelesan siapa Yoo Jung itu?” Jimin menganggukkan kepalanya. “Kenapa?” tanya Ayahnya. “Aku malu untuk mengatakannya,” gumam Jimin yang masih dapat didengar oleh semuanya.

“Apa kamu menyukainya Jimin-ah?” ucap ibu tirinya, Jimin terdiam. “Tidak.” Sahut Yoo Jung. “Anda tidak boleh menyukaiku, Tuan.” Jimin terkejut atas kata yang dilontarkan oleh Yoo Jung. Dan membuat hatinya seperti tertusuk pedang yang tajam.

“Karena Anda membenci Tante Hyera. Saya tidak ingin seseorang membenci wanita sebaik dirinya. Seharusnya Anda bersyukur, kalau Tante Hyera lah yang menjadi ibu barumu. Bukannya wanita lain diluar sana yang tidak tahu mereka baik atau bukan. Apakah Anda meningat kata-kataku duluku, Tuan?” jelas Yoo Jung. “Aku mengingatnya,” jawab Jimin kemudian. Jimin hanya memandangnya. Ia sangat mencintai gadis tersebut. Ia ingin bersamanya dan menjalani sisa hidup bersama dengan keluarga kecilnya.

“Lalu? Bersediakah Anda menerima Tante Hyera sebagai ibumu, Tuan?”

Deg.

Jimin merasa detak jantungnya seperti meletup. Tante Hyera dan Ayah Jimin pun juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Jimin. Semuanya seperti sedang menuggu jawaban dari Jimin. Jimin berfikir panjang, “Aku sudah mengikhlaskan ibuku pergi dan berada disisi-Nya.”

Jimin kembali berdiam dan memandangi gadis yang dicintainya tersebut. Jimin berfikir, betapa sedihnya Yoo Jung yang di tinggalkan oleh kedua orang tuanya dan keluarganya yang telah membunuhnya. Ia beruntung masih ada Ayahnya dan keluarganya yang baik, meski ibu kandungnya telah meninggal. Kemudian Jimin menganggukankan kepalanya. Semuanya tersenyum melihatnya. Dan tak terasa air mata tumpah dari Tante Hyera dan Ayah Jimin.

Tante Hyera berjalan mendekat kearah Jimin dan memeluknya yang masih menatap Yoo Jung. Jimin terdiam dan isak tangisnya pun mulai memecahkan ruangan tersebut. “Ibu,” ucap Jimin di tengah-tengah tangisnya kemudian membalas pelukannya. Ayah Jimin juga ikutan memeluk keduanya. Tangisannya semakin menjadi-jadi.

Yoo Jung masih tetap berdiri di tempatnya. Ia melihat sebuah keluarga yang harmonis di depannya. Senyumnya pun terukir dan air matanya yang ia tahan sedari tadi pun berhasil keluar. Di dalam rumah tersebut dibanjiri oleh air mata kebahagiaan.

Jimin mendekat ke arah Yoo Jung. Gadis yang dicintainya dan membuat hidupnya berubah. Mereka hanya saling memandang tak mampu mengucapkan sebuah kata. Hanya mata mereka saja yang mampu menjelaskan semuanya. Yoo Jung tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi wajah tampan Jimin. Jimin langsung memeluknya, tidak tahan hanya dengan memandanginya yang pura-pura tersenyum. Ia tahu bahwa saat ini Yoo Jung sedang memikir kedua orang tuanya. “Terima kasih, Jung-ie. Menangislah jika kamu ingin menangis. Jangan pura-pura kuat. Aku tahu kamu sedang memikirkan mereka.”

Yoo Jung menangis di pundaknya dan menenggelamkannya dileher Jimin. “Percayalah, Ibumu ada bersamamu,” kata Yoo Jung, setelah lama mereka berpelukan. Jimin melepaskannya. Ia memegang kedua pundak Yoo Jung dan menatap kedua manik hitam milik Yoo Jung. Yoo Jung merasakan jarak di antara mereka semakin dekat. Ia mengatupkan kedua matanya menunggu apa yang akan terjadi kepadanya. Jimin tersenyum melihatnya. Lalu mencium bibir Yoo Jung di depan orang tua Jimin.

“Apa-apaan ini?” gumam Ayah Jimin. Wanita yang berada disampingnya hanya mampu tersenyum dan merasa bahagia melihat keduanya.

—SELESAI—

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s