[Vignette] The Not-So Good Escape

THE NOT-SO GOOD ESCAPE

Kim Taehyung | AU!, dark, angst, family, slight!psychology | vignette (2,7k words) | PG17

warning: this fic’s contained of self-harm, gore, violence and bloody scenes

cr pict. to the right owner

.

.

 “—I’m sorry, I’m sorry. I’m sorry my sister

Even if (I try to) hide it, or conceal it, it can’t be erased

Are you calling me a sinner?

What more do I have to say?”

.

.

Oh, apa kautahu bahwa semuanya terjadi sangat cepat—secepat aku merencanakan, memulai segalanya lantas mengakhirinya?

Aku tidak mengingat apa pun sebenarnya, hanya saja melihat dia yang kini tengah duduk membolak-balikkan satu persatu halaman majalah fashion usang itu bergantian—dia juga sudah duduk di atas sofa itu sejak beberapa jam yang lalu. Sementara semangkuk bubur dan susu (kupikir mulanya itu adalah susu hangat) yang sejak tadi tergeletak di atas nakas di samping ranjangku mungkin sudah tak layak makan. Sudah sejak pagi-pagi sekali, dia membawa sarapan yang sesungguhnya telah dia siapkan untukkku. Dia bilang tidak akan meninggalkan kamarku jika aku belum menuntaskan makanan itu. Kenapa tidak sekalian saja dia memaksaku untuk melenyapkan diri dari dunia ini saja setelah semua yang terjadi, huh? Kukira itu lebih mudah baginya daripada membiarkan kepalanya setiap hari terbakar hanya karena memikirkan diriku dan—well, laki-laki sialan itu.

Gadis muda itu lantas menggenggam secangkir kopi dan bak terperangkap di dalam sebuah repetisi yang memuakkan—dia meneguk kopinya, lalu menghela napas selagi melirik sejenak ke arahku, dan kembali menjuruskan fokusnya pada majalah usang miliknya itu. Demi Tuhan, dia sama sekali tak terlihat seolah  terserang kebosanan. Nyaris sepanjang matahari bercokol di langit sana, selama beberapa minggu ini, dia bagaikan tak punya kesibukan lain selain menungguiku di dalam kamar pengap ini. Dia bilang akan terus melakukannya sampai aku kembali seperti dulu; and though, it’s impossible. Aku merasa tidak ada yang salah dengan diriku, dan kupikir dia tidak perlu memikirkannya berlebihan seperti itu.

Toh, semenjak kejadian beberapa minggu lalu—tepat saat aku menemukan Ibu kami tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan darah yang membanjiri sekujur tubuhnya—lelaki berengsek itu sudah tak pernah menginjakkan kaki di rumah ini. Seharusnya dia tidak perlu terlalu khawatir lagi. Dan sekali lagi; aku sangat baik-baik saja. Well, meskipun sejak saat itu aku memilih untuk memutuskan semua hubungan; aku memilih untuk mengurung diri di dalam kamar, menolak bertemu dengan siapa pun, bahkan aku sama sekali menutup mulutku … pun dengan gadis yang duduk di atas sofa itu. Aku merasa tidak ada yang perlu kubicarakan, aku memilih untuk tidak membuka mulutku, karena aku sangat yakin jika pita suaraku sudah benar-benar kehilangan fungsinya tepat setelah suara terakhirku—lebih tepatnya; teriakan terakhirku—menggema saat melihat ibuku meregang  nyawa tepat di dalam pelukanku.

Aku hanya bergelung di balik selimut sepanjang waktu, bahkan kakiku enggan melangkah meski hanya sekadar pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka atau melakukan beberapa keperluan untuk membersihkan diriku sendiri. Aku melewati setiap detik yang bergulir hanya dengan meringkuk di atas ranjang serta aku merasa jika separuh dari nyawa dan tenagaku sudah lesap. Tetapi, tak jarang saat malam hari—saat gadis itu sudah melangkah ke dalam kamarnya sendiri dan aku memiliki cukup tenaga atau beberapa bagian tubuhku tiba-tiba terserang kram—aku akan berpijak ke atas lantai dan beranjak meninggalkan kasur. Aku melangkah begitu pelan ke arah birai jendela kamar, menatap keluar sebentar, lantas duduk terjatuh di atas lantai yang dingin, menekuk kedua lutut, dan berakhir dengan diriku yang tertidur hingga terbangun di pagi hari. Sementara gadis itu sudah kembali duduk di atas sofa dan mengganti sarapan yang sudah dibawanya untuk hari ini.

“Kau tidak menyentuh makananmu lagi, Tae.”

Aku tak berniat memberi tanggapan. Entahlah aku sendiri tidak terlalu paham apakah kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Cassie—benar, nama gadis itu Kim Cassie—adalah sebuah pertanyaan, atau pernyataan yang sengaja dia beri penekanan. Dia sudah tahu jika aku tidak akan menyahutinya, maka alih-alih mendorongku untuk mengeluarkan suara, gadis itu memilih untuk menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa lantas menguap dan mengutak-atik ponselnya. Dia terlihat sangat bosan. Oh, siapa suruh kau terus menungguiku seperti ini, Cass? Aku bahkan tidak memintamu untuk melakukan semua ini, bukan?

Tok. Tok. Tok.

Kulihat tubuh Cassie menegang sesaat setelah kami sama-sama mendengar bunyi ketukan berulang-ulang dari pintu utama di rumah ini. Mulanya tiga kali ketukan dalam satu waktu, lantas menggema tak beraturan seolah tengah memaksa siapa pun yang berada di dalam rumah untuk lekas membukakan pintu untuknya. Dapat kupastikan jika sebongkah ketakutan merayap begitu cepat ke tenggorokan Cassie lantas mendera kepalanya hingga kulihat dia memejamkan matanya erat-erat beberapa saat kemudian. Aku tahu sesuatu yang mungkin sedang merongrong isi kepalanya, kini. Pikiran tentang pria sialan itu—damn, aku bahkan sudah bersumpah tidak akan mengakuinya sebagai seorang ayah. Ketakutan itu semakin jelas terpancar dari balik sepasang netra Kim Cassie, kendati dia terlihat menghela napas lantas berdiri demi melangkah keluar dan berniat membuka pintu tersebut. Namun, diriku masih bergeming dan memeluk erat-erat kedua lututku sembari menatap lurus ke depan.

Agasshi, ini polisi.”

Well, kupikir gadis itu baru saja mengembuskan napas penuh kelegaan. Dia mengumpat sejenak sebelum akhirnya melangkah sedikit tergesa demi membuka pintu untuk pria-pria berseragam kepolisian yang sejak beberapa minggu lalu rajin menengokku. Sama sekali tak ada yang berubah; semuanya benar-benar seperti sedang terperangkap di dalam sebuah pengulangan adegan yang menjemukan. Cassie akan membuka pintu rumah, mengatakan kepada pria-pria itu bahwa kondisiku masih sama seperti sebelumnya, dan mana mungkin petugas-petugas itu percaya begitu saja? Mereka akan mengabaikan Cassie dan melangkah masuk ke dalam kamarku tanpa perlu meminta izin terlebih dahulu.

“Oh, bukankah aku sudah berulang kali menjelaskannya kepada kalian? Adikku masih syok—demi Tuhan—kapan kalian akan berhenti mengganggunya? Dokter bilang traumanya masih belum bisa membuat ingatannya pulih. Hell, kalian memaksanya mengingat kejadian keji dan menjijikkan itu pada penderita depresi, huh? Dia juga belum bisa mengembalikan suaranya dan kalian bahkan sudah menunjukkan foto-foto ibu kami yang terkapar mengenaskan dengan koyakan pisau seperti itu setiap hari tanpa sedikit pun rasa iba. Apakah kalian seorang manusia, huh?”

Aku tetap bungkam dan masih menatap lurus ke depan. Sejujurnya aku tidak terlalu mengerti apa yang baru saja dibicarakan Cassie, namun aku tetap tidak memusingkannya. Aku hanya perlu menunjukkan ekspresi datarku seperti biasanya. Meskipun salah satu dari polisi itu akan kembali berjongkok di sebelahku—menatapku lekat-lekat lantas menyodorkan beberapa lembar foto ke hadapanku. Aku memberikan sebuah lirikan sekilan, kemudian sorotku beralih pada lembaran foto yang digenggam polisi berambut lebat itu.

“Taehyung-a, apa kau sama sekali tidak ingat satu pun tentang kejadian pada hari itu, huh? Baiklah, mungkin ini memang kejadian tiga minggu lalu tapi, apa benar ayah tirimu yang benar-benar membunuh ibumu? Apa kau melihat laki-laki itu mengoyak perut ibumu dengan pisau atau—“

“Cukup!”

Cassie memekik keras-keras. Kulihat gadis itu menatap geram ke arah polisi-polisi di depanku. Sepersekon kemudian, dia mendorong dan meneriaki pria-pria itu untuk pergi, dia tidak peduli kendati tenaga para petugas itu lebih kuat dibanding dirinya. Tapi, Cassie masih berusaha menjauhkannya dariku. Sementara diriku masih tetap tak bergerak. Aku hanya memerhatikan dalam diam, sampai saat Cassie berhasil mengusir para polisi menyebalkan itu dan menutup kembali pintu rumah.

Gadis itu berlari menghampiriku lantas mengusap-usap pipiku yang sebelah kanan. Aku melihat airmata mengalir deras dari pelupuknya yang membengkak. Sebuah senyuman kecil terpoles di bibirnya tepat saat dia membisikkan sebuah kalimat kepadaku ….

“Kau akan baik-baik saja. Tenanglah, Tae. Dokter bilang kau akan segera sembuh, tidak apa-apa. Jangan terlalu memikirkan mereka, hm?”

Aku tidak merespons. Alih-alih, tetap bungkam dan kurasa pengendalian emosi serta ekspresiku sudah sangat baik dibandingkan beberapa hari lalu. Mungkin Cassie sudah lelah, setelah memelukku selama beberapa menit—dan menumpahkan beberapa airmata di pundakku—dia pun bergegas pergi lantas punggungnya menghilang di balik pintu kamarku. Well, tentu saja aku tidak akan mencegahnya atau bahkan berlari menyusulnya. Tubuhku tidak sekuat itu untuk melangkah dan beranjak dari posisiku, kini. Maka, selepas menarik napas cukup dalam, aku mencoba menegakkan tubuhku untuk berdiri lantas beringsut tertatih ke arah ranjang. Aku merebahkan tubuhku, menarik selimut, dan begitulah sampai aku kembali terlelap beberapa saat kemudian.

Teriakan Cassie yang beradu dengan bentakan seorang lelaki di luar sana membuatku terjaga. Kala itu, aku masih meringkuk di atas kasur—semakin menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhku—sementara mereka masih terdengar beradu argumen. Ketika telapak tanganku sudah menggenggam sebuah bantal dan bersiap menyumpal telingaku yang sebelah kanan … aku mendengar bunyi tamparan yang lantas diikuti dengan debaman yang begitu keras. Sepertinya seseorang baru saja terlempar ke atas lantai. Tepat saat gendang telingaku menangkap isakan tangis Cassie, tubuhku sontak bangkit. Shit! Kurasa lelaki berengsek itu sudah kembali. Dan dengan langkah terhuyung dan sama sekali tidak seimbang, aku bergerak keluar kamar dan inilah pertama kalinya aku melangkah cukup jauh dari tempat tidurku.

Benar. Cassie sudah tersungkur di ujung ruangan, dia terlihat sangat kacau dengan beberapa bercak darah yang memenuhi wajahnya. Aku menggeram lantas mengumpati laki-laki beraroma alkohol itu; aku menyumpahinya agar dia segera mati dan lenyap dari muka bumi, demi Tuhan. Kautahu? Sepasang tungkaiku sesungguhnya sudah ingin berlari menghampiri gadis malang itu, namun—sial—lelaki itu lebih dulu mengikis spasi dengan posisi Cassie lantas menjambak rambut panjang gadis itu dengan sangat keras. Cassie yang menyadari keberadaanku di depan pintu kamar, hanya menggeleng pelan; dia menyuruhku untuk tetap berada di dalam kamar dan menjaga diriku sendiri.

“Berengsek! Kau sudah membunuh ibu lantas sekarang kau juga ingin menghabisiku, huh?”

Cassie berteriak di tengah usahanya meronta demi melepaskan diri. Laki-laki itu belum merenggangkan siksaannya pada rambut panjangnya, dia bahkan memberikan sebuah tamparan (lagi) pada pipi gadis itu. Gigiku bergemelutuk melihatnya, terlebih saat kulihat lelehan kemerahan semakin memenuhi wajah Cassie. Emosiku semakin mendidih, sungguh. Aku nyaris tak ingat bahwa diriku begitu menyukai warna kemerahan darah. Namun, melihat ujung bibir Cassie yang meneteskan darah, seketika sekujur tubuhku kembali menegang dan kegelisahan melanda dadaku saat itu juga. Warna kemerahannya membuatku muak alih-alih menyukainya.

“Bocah sialan! Kau juga menuduhku sebagai pembunuh ibumu, huh? Dengarkan aku, Kim Cassie, adik yang kaulindungi itu; dialah monster yang seharusnya kaumusnahkan dari muka bumi ini, bukan aku. Dialah yang membunuh ibumu—ibu kalian sendiri—dia yang mengoyak perut wanita malang itu dan sekarang kalian hanya menjadikannya sebagai seorang saksi? Hell with it! Ibumu pasti sangat kecewa denganmu, Cass.”

“Diam!” Cassie kembali memekik. Sepasang maniknya menatap penuh kebencian juga tanpa sedikit pun rasa takut. Giginya bergemeretak lantas kembali meronta untuk melepaskan diri. “Kim Taehyung bukan pembunuh. Kau yang membunuh ibu, Berengsek. Kau yang menghancurkan keluarga ini. Shit!”

Tepat saat itu juga, aku berderap menghampiri Cassie, tanganku mendorong tubuh laki-laki itu hingga dia terjungkal beberapa meter. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi, selain memeluk tubuh Cassie dan bergeming di sana cukup lama. Hingga beberapa saat kemudian, kudengar pria itu mendesis kesakitan dan melakukan sedikit pergerakan dari tempatnya tersungkur. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena posisiku yang sedang membelakanginya. Aku hanya mendengar dia sudah melangkah; tautan langkahnya terdengar berat dan kurasa dia sedikit tertatih.

“Oh, monster kita sudah datang, hm? Sekarang katakan sejujurnya kepada kakak perempuanmu ini, apa yang sebenarnya terjadi saat itu, Kim Taehyung. Ceritakan kepadanya bagaimana kaubisa menggerakkan pisau itu lantas membuat koyakan pada perut ibumu hingga wanita yang kalian sayangi itu meregang nyawa di dalam pelukanmu sendiri … ceritakanlah, Taehyung-a. Ayah ingin mendengarnya dari awal, Nak.”

Dalam sekejap, pria itu tiba-tiba saja mencengkeram lenganku, sehingga dekapanku pada tubuh Cassie terlepas begitu saja. Dia menarikku dan menyeret tubuhku ke dapur lantas menamparku sekuat tenaga hingga diriku tersungkur ke lantai. Melihatku hanya bungkam tanpa perlawanan, dia kembali melayangkan punggung tangannya ke wajahku sampai tubuhku kembali terpental ke belakang dan kepalaku membentur bar dapur. Cassie berlari ke dapur dan teriakannya menggema ke seluruh ruangan, namun sekali lagi, tangan penuh dosa milik lelaki itu menghalau tubuh lemah Cassie hingga dia terpelanting keluar dari dapur.

Aku mengangkat tubuhku yang pengar dan kelu lantas membiarkan tangan kananku merayap ke atas bar dapur, sementara laki-laki itu masih mengomeli Cassie dengan ratusan kalimat umpatan. Aku bergerak sedikit cepat dan akhirnya bisa menemukan apa yang saat ini sungguh kubutuhkan. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku lekas berdiri dan meraih sebuah pisau dapur yang tergeletak di atas sana. Tak selang berapa lama, tangan kananku sudah beraksi; melepaskan pisau tersebut dan menancapkannya tepat pada sasaran. Kedua sudut bibirku terangkat beberapa derajat, well, pisau tersebut berhasil menancap pada punggungnya. Dan tak sampai dua detik setelahnya—pun setelah raungan pria itu mengudara—jemariku lekas menggerakkan pisau yang masih bersarang di dalam tubuhnya itu membentuk sebuah garis memanjang. Benar, menyobek bagian tubuh pria sialan itu hingga darah segar mengucur tanpa henti dari lubang yang kubuat lantas dia jatuh ke atas lantai.

Dan aku merasa seperti tengah … de javu ….

Kemudian kulihat Cassie hanya menatapku dengan manik membelalak.

Gadis itu juga menutup mulutnya dengan kedua tangan yang tampak bergetar. Napasku seketika memburu dan lekas jemariku melepas pisau tersebut dan membiarkannya masih menancap pada tubuh pria itu. Aku terhuyung ke belakang dan menguatkan tubuhku sendiri dengan berpegangan erat pada ujung konter dapur. Sepasang netra Cassie masih menatapku nanar dan dapat kupastikan jika kepalanya sedang dipenuhi berbagai macam pikiran mengenai diriku—oh, apa kau akhirnya juga menyadarinya, Cass?

Pria berengsek itu … memang mengatakan yang sesungguhnya.

Bukan dia, tapi aku.

Aku mengingat semuanya—benar, aku yang membunuh ibu, Cass. Bukan laki-laki berengsek itu, tapi aku.

“Maafkan aku, Cass. Maafkan aku,”

Dan seperti itulah bagaimana suaraku akhirnya kembali setelah hampir tiga minggu aku membungkam mulutku sendiri. Benar, Cassie bahkan harus memeriksakanku pada psikiater lantaran kondisiku yang menurutnya semakin menurun sejak ibu meninggal. Aku tidak berbicara dengan siapa pun sejak saat itu dan baru saja aku mengeluarkan kalimat pertamaku sejak hari itu … kalimat permintaan maafku kepada gadis yang terlalu banyak menderita itu. Kedua jemariku masih menggenggam erat tepian konter dapur, sementara Cassie masih belum melepaskan tatapannya kepadaku. Airmata masih mengalir deras membasahi wajahnya—oh, ini sangat kacau.

“Tidak. Ini tidak mungkin. Kim Taehyung … kau ….”

.

.

“—where I can’t turn back

the red blood is flowing down

deeper, I feel like dying everyday

please let me be punished

please forgive for my sins … please ….”

.

Rasa panas dan pengap siang itu membangunkanku seketika. Aku masih belum menggerakkan tubuhku—kurasa beberapa syaraf di dalam tubuhku sudah kehilangan fungsinya. Aku tidak bisa merasakan tubuhku sendiri; tidak bisa merasakan kedua tangan dan kakiku, tidak bisa merasakan degupan jantung dan denyut nadiku. Oh, mungkinkah diriku sudah mati saat ini? Tentu saja kau sudah mati, Kim Taehyung! Mana mungkin kau dibiarkan hidup setelah apa yang telah kauperbuat?

Tatapanku lantas menjalar ke arah kedua lututku yang masih ditekuk dan dipeluk erat-erat oleh kedua tangan. Tepat saat itu, aku merasakan kepalaku begitu nyeri dan agaknya memar di dahiku akibat benturan tempo hari masih belum menghilang. Dengan pergerakan super pelan, aku merangkak ke depan cermin. Kuamati tubuhku yang semakin tak dapat didefinisikan; memar di dahi juga lengan, bekas airmata juga tampak bercampur dengan darah yang mengering di beberapa bagian wajahku. Benar, kulihat ada darah di sekitar bibir dan juga pipiku dan ketika aku mencoba membuka mulut lantas kurasakan perih di dalam mulutku—sudah banyak darah yang bercampur dengan liur di dalam sana. Deretan gigiku memerah dan rasa anyir tiba-tiba saja berhasil dicecap oleh lidahku.

Aku tidak mengingat apa pun—tangisan histeris Cassie setelah melihatku membunuh pria sialan itu adalah hal terakhir yang kuingat. Selepas itu, mungkin aku hanya menghabiskan waktuku dengan mengurung diri kembali di dalam ‘penjara’ ini. Aku juga tidak ingat apakah Cassie masih mengunjungiku ke kamar ini setelah kejadian itu. Well, di atas nakasku tidak terlihat nampan berisi makanan seperti yang biasanya selalu dibawakan Cassie, omong-omong. Sepertinya dia sudah tidak pernah membesukku lagi, huh?

Hei, apa aku memang bersalah? Kautahu, aku sudah memilihkan tempat terbaik untuk ibu—di sisi Tuhan—sehingga lelaki berengsek itu tidak akan pernah menyakitinya lagi, sungguh. Sudah sangat lama aku memikirkan keputusan itu; melihat pria yang hanya bisa mabuk itu menyakiti ibuku … tentu saja hatiku sangat sakit. Aku marah. Itu sebabnya aku memilihkan jalan keluar terbaik untuk menyelamatkan ibu. Tuhan akan menjaga ibu dengan baik di sana, itulah sebabnya aku memilih untuk melakukannya. Aku menyayangi ibu. Sangat menyayanginya. Dan aku tidak ingin melihatnya terus-terusan menderita … kurasa aku tidak menyesal telah ‘menyelamatkannya’.

Cassie tidak akan pernah mengerti hal itu, kurasa. Tidak apa-apa, toh ibu juga sudah pergi dan laki-laki jahat itu juga sudah kukirim ke dalam neraka. Jadi, tidak apa-apa. Cassie akan hidup dengan tenang mulai saat ini, aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Oh, gadis itu sangat berhak mendapatkan kebahagiaan. Kehidupannya sudah sangat kacau dan aku tidak ingin melihatnya menangis, meraung kesakitan seperti dulu. Dia berhak untuk bahagia—meskipun tanpa aku dan ibu.

“Benar. Kau berhak bahagia, Cass, kau akan bahagia. Maafkan aku.”

Aku membalikkan badan dan lekas beringsut ke arah nakas di samping kasur, membuka laci teratas dari nakas tersebut mencari sesuatu. Namun, nihil. Aku tidak bisa menemukan sesuatu yang bisa ‘membantuku’. Bibirku mengukir senyum kecil dan dengan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa, aku melesat ke dapur. Pandanganku beredar dan lekas kulihat pisau dapur yang sempat aku gunakan untuk menghabisi nyawa laki-laki itu tergeletak di atas wastafel. Dengan cepat aku meraihnya dan tanpa berpikir panjang aku sudah mengarahkan sisi tajam pisau tersebut pada nadiku.

Aku akan mengirisnya.

Perlahan sayatan mulai terlihat dan kulit terluar itu mulai sobek. Aku menghela napas dalam-dalam selagi jemariku terus menekan pisau itu semakin dalam. Kurasakan darah juga sudah mulai menetes dan memerahkan lantai yang kupijak. Dan mataku mulai mengerjap sementara napasku semakin tersengal. Aku masih menekan dan menekannya lagi hingga tubuhku semakin terhuyung dan limbung ke belakang. Darah segar itu semakin deras mengalir dan tetesannya mulai membentuk genangan kecil di sebelah kakiku. Mendadak tubuhku seolah sudah benar-benar mati dan—

“KIM TAEHYUNG, APA YANG KAULAKUKAN?”

—gelap.

.

“I’m sorry, Cass.

and please forgive for my sins … please ….”

.

.

-fin.

.

.

the not-so important author’s note:

hi, thereee! ^^ it’s been a while since my last post here, well tbh, i’m not ready to be productive yet because i feel like a dull everyday and idk how to write anything anymore. but, here my very first fic after I got stuck for such a long time—hope you guys like it though it’s kinda awkward, weird, nasty and not-so worth to read tbh. this fic is inspired by Stigma indeed, but the plot is purely mine.

and, i’m still trying my best to continue my abandoned project (with IvyJung) so please don’t give up with us wkwkwkw. I’ll try my best, I promise. eum, that’s all—maybe—and please keep support our blog (BTSFF)! we’ll try to be more active in future. thank you so much!

with much love,

Rizuki.

Advertisements

7 thoughts on “[Vignette] The Not-So Good Escape

  1. Jejangggg.. akhirnya setelah sekian lama, gua akhirnya bisa nyampah (lagi) di blog kesayangan guaaa.. aaa,, kak rijuki, ku rindu padamu… fanfict pertama setelah vakum aja mantap, apalagi yang lain…. aaaaa,,, inikah berkah ramadaaannnnnn >_<^ω^^ω^^ω^o_o"(._.)

    Like

  2. ENGGA MIMPI AKU GA KAYA GINI ASTAGAA KAKDI HHHH INI LEBIH SADISS ><

    JADI INI BENERAN TETET YG BUNUH EMAK YHAA NJIR KAMU TET KUMENANGOSS
    ENTAH KENAPA GAMAU NGUMPATIN TETET LEBIH JAUH DIA KARAKTERNYA MINTA DISAYANGI UNCHH KEKES SANGGUP PELUK SEHARIAN KALO DIA KAYA GITU TERUS KOK 😭😭😭

    DAN RIS INI NGENA BGT KOK SAMPE ADA BACA FOOTNOTE YG NGINGETIN TENTANG PROJECT FIC KITA HAHAH SIAL :")))
    INI AKHIRNYA AU KAN??? SIAPA YG TAU KALO TETET ITU IDUP ATO MATI BIKOS KEKES MERGOKIN YAKAN GITU KAN? /garela sebatangkara/

    POKOKNYA INI ENGGA KELIATAN HASIL WB KOK MENGALIR AJA PLOTNYA. UHUUUYYY KEEP MENULIS BIAR PROYEKNYA CEPET KELAR YHAA SENPAYNIM /pamit pulang/

    Like

  3. SPEECHLESS, MENANGOS, MENGGELINDING, MENGUMPAT, DA MBA KAYANYA PUASAKU HARI INI GA BAROKAH LAGI KAYA KEMAREN ASTAGAAAAA~

    but, srlsly i miss dat sibling. I miss ur fic too. Nulis lagi banyak banyak yha pfft 😘😚

    Rijuki senpai, welkambek! Keep writing, and I’ll wait for ur project with ivyjung senpai. Unch, da aku fans berat kalian. Salken ya thor pfft /ngacir

    Like

  4. SEJAK KAPAN KAMU BISA KRIPIKAN GINI MBAAAA /lembar meja/

    YOKSHIIII TULISAN PERTAMA SETELAH SEKIAN LAMA GANULIS AJA BAGUSGUSGUSGUS BANGET GINI UNCH AH KAMU MBA SESERINGAN NULIS DONGSE

    Jadi ehem ini feelnya berasa banget anjirrrrrr aku merinding kenapa kimtet bisa sesadis ituuu anjay siapa yg ngajarin kamu nak? Siapaaaaa? Bukan reyn kan ya? Ehe /plak
    Terus terus ya naaaaak kimtet kenapa kudu mati juga sih ah elu lemah gitu aja bunuh diriiii entar reyn sama siapaaaa? Mbakekes entar ngerusuhin siapaaa? Muku yang ngasih makan siapaaaa? /dibuang

    Unch unch udah ah aku berhenti ngerusuh ae entar malah komenan lebih panjang timbang fic kamu mba /plak/

    ANJU NAISSSS! Love ya, kimtete, tenang di sana /pulang ay

    Like

  5. First yakan ???? Yoksiiii uri rijukinim yang katanya lagi WB parah dan gatau mau nulis apa tapi hasilnya begini :”)))))))

    Aku merinding dikso baca deskripsi sayatsayatannya mbaaaa.. duuuhh X( ngeray akutuh ngeray… kimtetetoet yang annoying bs sekejam ini yakan.. aktor si ya.. iya lupa aku kalo dia aktor.. ckckckck

    Cassie alone ya skr ??? Uhuk apa janjangan abis gini juga bunuh diri ?? Oh no mba kekes… masi ada bronds yang ‘ono’ ya mba jan lupa… biarkan kimtetet bahagia di surga #RIPKIMTAE 😂

    Loveitasolways rijukinim… ❤

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s