[Chapter 5] The Dark Wings: The War on Pain

The Dark Wings

[Chapter 5]

The War on Pain

by ayshry

Kim Taehyung or Louis Kynse Archelaus | Baek Juho as Lachlan Gent Leviathan | Ko Shinwon as Earl Rehuel Beelzebub | Kim Hyojong as Owen Jarl Asmodeus | Kim Seokjin as Carl Hansel Beelzebub

 genres AU!, Fantasy, Adventure | length 3.1k words | rating PG-15

Prev:

Prolog & IntroductionChapter 1: The KnightsChapter 2: New Dimension, Chapter 3: On the Earth, Chapter 4: The Secret

***

“Jadi … kau ingin mengatakan sesuatu Kak Seokjin?”

Keadaan canggung yang berubah hening kini memaksa Reyn untuk membuka suara. Usai tanpa sengaja mencuri dengar percakapan mereka yang membuatnya dirundung tanya, kini tak satu pun dari keempat pemuda di hadapannya yang terlihat akan lekas mengakhiri keheningan.

Reyn masih saja melempar pandangan pada mereka yang tetap bungkam. Bahkan Seokjin yang seharusnya menjadi penengah justru tak berani membalas tatap si gadis yang dikuasai rasa penasaran. Seram memang, mengingat Reyn tipikal gadis yang tak bisa diusik. Jadi, jika sudah ada hal yang ingin ia ketahui, mau tak mau, siapa pun harus menjelaskan sedetail-detailnya pada gadis Park tersebut.

Memutar bola mata tanda kesabarannya hampir mencapai limit, Reyn bangun dari duduknya lantas melipat tangan di dada. Manik cokelatnya ia arahkan pada Seokjin kini, yang masih saja bungkam pun tak bereaksi apa-apa.

“Jika tak ada satu pun dari kalian yang membuka mulut, maka aku akan bertanya langsung kepada Taehyung perihal yang kalian bicarakan barusan!” Reyn berdecak keras lalu mengayunkan tungkai hendak pergi dari situasi yang membuatnya kesal kini. Namun baru saja langkah keduanya berjejak, tangannya yang bebas kini ditahan oleh Seokjin erat. “Sudah memutuskan untuk menjelaskan semuanya, Kak?” tanya Reyn sembari mengalihkan pandang pada si pemilik tangan.

Ada rasa bimbang yang menghampiri pemuda berambut baby pink tersebut. Tetapi tatap dari si gadis membuatnya gelisah juga tak enak hati. Mencoba untuk berkomunikasi dengan yang lain pun tak memungkinkan untuk saat ini. Jadi, mau tak mau, pada akhirnya Seokjin mendesah pelan sebelum bibirnya mulai merangkai kata.

“Kau … tidak bisa menceritakan apa saja yang sudah kau dengar kepada Kim Taehyung. Tidak untuk saat ini, mengerti?”

Masih dilanda bimbang, Seokjin kini melayangkan tatap pada tiga pemuda lain yang masih bungkam. Meski begitu, si pemuda Kim itu tahu jikalau mereka  semua yang berada di sana sangat menentang untuk membiarkan gadis tersebut mendapatkan penjelasan yang ia inginkan.

“Oke, aku akan menceritakannya padamu. Setidaknya aku memercayaimu.”

“Hei, kau yakin?” Lachlan yang tadinya bungkam lekas membuka suara dengan cukup lantang dan secara gamblang menolak keputusan Seokjin barusan. “Kita tak bisa membuka rahasia. Kau tahu itu.”

“Tapi keadaannya berbeda. Reyn sudah terlanjur mendengar percakapan kita. Mengelak pun tidak bisa, karena aku tahu bagaimana sifat Reyn, dan gadis ini takkan mau tinggal diam sebelum mendapatkan kemauannya.”

Lachlan bungkam. Memang benar yang dikatakan Seokjin barusan. Mereka tak memiliki pilihan lain lantaran tertangkap basah. Akan tetapi, rasanya mustahil untuk menceritakan yang sesungguhnya. Dan apakah perkataan mereka akan benar-benar didengarkan? Bukannya lebih terdengar seperti bualan ketimbang kenyataan?

“Sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan dariku, huh?” Reyn lagi-lagi mendesak. Menunggu bukanlah hal yang ia sukai. Jika dalam beberapa menit ke depan tidak juga mendapat penjelasan, maka ia sudah bertekad untuk pergi dari sana dan bertanya langsung kepada Taehyung yang pastinya akan langsung menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari bibirnya.

“Untuk kali ini saja … percayakan padaku,” ujar Seokjin kemudian. “Kita bisa percaya pada Reyn, karena aku sudah mengenalnya sejak lama. Lagi pula, kita bisa meminta bantuan darinya.”

“Bantuan?” Kali ini Earl yang membuka mulut.

Seokjin mengangguk. “Reyn adalah orang yang paling dekat dengan Taehyun gselain aku dan Ayah. Jadi, setidaknya kita bisa mengandalkan dia untuk menjaga Taehyung ketika kita tak bisa. Kalian mengerti? Sepasang kekasih bukannya lebih sering menghabiskan waktu bersama-sama?”

“Oh, aku mengerti,” sahut Owen. “Ya, yang dikatakan Seokjin tidak ada salahnya. Kita bisa memanfaatkan Reyn selagi kita mencari cara untuk mengatakan kebenaran padanya.”

“Kau yakin?” tanya Earl. “Kita bisa mempercayai dia?”

Raut Reyn berubah galak. Tatapnya makin sangar, namun kali ini hanya terpaku pada Earl yang baru saja melontarkan pendapatnya.

“Oke-oke. Aku mengerti. Untuk sementara? Lagi pula, Owen bisa membuat ramuan untuk melupakan lalu setelahnya—“

“Aku tak bisa membuatnya, Earl,” potong Owen tiba-tiba.

“Maksudmu?” Meski suara bernada tanya itu keluar dari bibir Earl, namun kedua pemuda lainnya sama-sama menatap Owen penuh tanya.

“Ini Bumi, bukan Venus. Aku tak bisa membuat ramuan atau apalah itu di sini. Dari mana aku mendapatkan bahan-bahannya? Hei, kalian tak ingat jika kita hanya pendatang tak diundang, huh?”

“Aku melupakan soal itu. Maaf,” lirih Earl. “Jadi, bagaimana?”

“Bagaimana apanya? Cepat jelaskan padaku semuanya! Kalian bahkan membuatku lebih bingung lagi dengan percakapan tidak masuk akal barusan! Venus? Hei, jangan bilang kalau kalian itu—“

“Ya. Seperti yang ada dipikiranmu,” potong Owen. “Kami bukan makhluk Bumi. Kami berasal dari dimensi lain yang tidak pernah kau pikirkan sebelumnya, atau kau bisa menyebutnya alam yang berseberangan. Pernah mendengar soal malaikat? Nah, kami adalah salah satu makhluk yang berkebalikan dari mereka. Masih ingin mendengarkan kelanjutannya?”

“Kalian ini benar-benar …. Ah sial! Berhenti bercanda dan lekas ceritakan semuanya padaku! Kak Seokjin!”

Tatap geram diarahkan si gadis kepada Seokjin yang kini mendesah perlahan. Ada raut ragu yang tiba-tiba terpancar jelas usai melihat respon Reyn yang sudah seharusnya ia perkirakan. Memercayai tentang ia dan tiga pemuda yang tiba-tiba muncul itu dari dunia yang berbeda adalah hal yang tak masuk akal, terlebih bagi seorang terpelajar seperti Reyn. Tetapi kenyataan tetaplah kenyataan. Dan mereka yang seharusnya menjaga rapat-rapat perihal asal-usul dengan terpaksa membocorkannya lantaran terlanjur ketahuan. Well, Seokjin hanya berharap setelah ini Reyn tak mencap dia sebagai pemuda gila yang suka membual.

“Aku—maksudku, yang dikatakan Owen itu adalah benar. Tidak ada unsur canda atau apa pun itu, jika kau benar-benar ingin tahu. Mungkin segala sesuatu yang akan kuceritakan padamu nanti terdengar tak masuk akal, tapi percayalah, aku meceritakan yang sejujur-jujurnya. Perihal siapa kami sebenarnya, juga keadaan Taehyung yang tiba-tiba menjadi tidak stabil. Tapi aku butuh kepercayaanmu. Jika setelah ini kau masih meragu, maka lebih baik aku tak perlu membuang-buang waktu untuk menjelaskannya. Kau … bisa memercayaiku, ‘kan, Park Reyn?”

***

Langkah Reyn terasa berat. Tangannya yang memegang botol air mineral pun menjadi lemah seakan kehilangan kekuatan. Apa yang baru saja ia dengar dari Seokjin dan kawan-kawan anehnya itu sungguh tak bisa dicerna dengan akal sehat. Tetapi justru, segala yang terdengar seperti dongeng itu terasa semakin nyata dengan keadaan yang ada kini. Oh, apa Reyn benar-benar bisa menerima kenyataan yang tak terduga itu?

“Hei, sedang melampunkan apa, hm?”

Reyn tersentak ketika suara familier menelusup indera pendengarannya. Hampir saja sang gadis terjatuh ke belakang jika sebuah tangan tidak menahannya.

Oops, aku mengagetkanmu, ya?”

Reyn mengulas senyum canggung sebelum kemudian menggelengkan kepala pelan. Pemuda di hadapannya tak lain dan tak bukan adalah Kim Taehyung yang seharusnya masih berada di kamar perawatan, tapi, kenapa pemuda itu berada di lorong rumah sakit sekarang?

“Ya, Kim Taehyung! Siapa yang menyuruhmu keluar dari kamar, huh? Kau ini! Tidak bisa menunggu sebentar saja? Kau masih butuh istirahat sampai waktu pulangmu. Kenapa malah berkeliaran di lorong begini?”

“Aku bosan,” keluh Taehyung. “Kenapa kau lama sekali?”

“Oh? Aku singgah ke minimarket di depan sana sebentar, membeli sesuatu. Maaf, karena membuatmu menunggu lama.”

Kim Taehyung mengulas senyuman. “Lagi pula di dalam sana terasa sangat menyesakkan. Kau tahu sendiri, ‘kan, kalau aku tidak bisa berdiam diri lama-lama di dalam ruangan tertutup seperti itu?”

“Tapi keadaanmu … yeah, aku mengerti.” Pada akhirnya Reyn memutuskan untuk mengalah. “Kak Seokjin masih mengurus administrasi untuk kepulanganmu, mungkin sebentar lagi ia akan kembali. Jadi, sembari menunggu, lebih baik kau kembali ke kamar dan mengganti pakaianmu, oke? Ayo.”

Reyn menyambar lengan Taehyung yang menguntai lantas menyeretnya. Si pemuda tertawa pelan lantas tungkainya pun turut mengikuti langkah gadis di sampingnya. Baru beberapa langkah yang berjejak, Taehyung tiba-tiba mengambil alih air mineral dari tangan si gadis yang satunya sembari menghentikan langkah.

Reyn pun memberi tatap penuh tanya.

“Sebentar. Aku haus.” Taehyung lekas membuka tutup botol lantas menenggak isinya hingga tersisa kurang dari separuh.

“Pelan-pelan.”

“Iya-iya, Cerewet. Ayo! Kau harus membantuku mengganti pakaian, oke?”

Ya! Mesum!” Lantas keduanya sama-sama tertawa sembari kembali mengatur langkah.

Rentetan tawa yang menguar dari bibir Reyn terdengar sedikit sumbang karena si gadis masih syok dan belum bisa berpikir dengan baik. Seharusnya ia tak sampai begitu, tetapi mau bagaimana lagi? Selain karena sedikit canggung dengan kehadiran Taehyung yang tiba-tiba, gadis itu juga masih ragu apakah benar pemuda yang tengah cengengesan itu adalah seorang calon raja? Terlebih lagi raja dari suatu kaum yang mendengarnya saja sudah cukup membuatnya bergidik ngeri. Tidak. Semuanya terlalu mengada-ada. Memangnya alien itu benar-benar ada? O, Kim Taehyung bukan alien, tentu saja. Karena yang didengar oleh Reyn tadi adalah tentang si lelaki yang sudah ia kenal sejak kanak-kanak berasal dari Kerajaan Dionaea, yaitu kerajaan para kaum Lucifer.

Oh, God! Apa hari ini Reyn belum kembali dari dunia mimpi sehingga mendapatkan kenyataan yang membuat kepalanya pusing tak karuan begini?

***

“Apa kubilang, gadis itu tidak akan percaya!” Earl mendengus kasar. Raut wajahnya tampak tak bersahabat. Entahlah, sepertinya ia masih kesal karena Reyn meragukan segala kejujuran yang telah mereka ungkapkan.

“Ya mau bagaimana lagi, ketimbang dia membocorkan apa yang didengar kepada Taehyung, lebih baik menjelaskan semuanya meski kedengaran tak masuk akal bagi manusia,” timpal Owen.

“Lagi pula, kenapa kau yakin sekali pada gadis itu, Kak? Apa dia benar-benar bisa diandalkan?” tatap Earl kini teralih kepada Seokjin yang tengah sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.

“Jujur, aku juga meragukannya. Gadis itu maksudku,” sahut Lachlan. “Kau memang sudah mengenalnya sejak lama, tapi dari yang aku ketahui, manusia itu tidak ada yang bisa benar-benar dipercaya. Bagaimana jika ia malah menyebarkan rahasia kita ke orang lain? Jika hal-hal buruk terus-terusan terjadi, kurasa hanya sia-sia saja kedatangan kita ke sini.”

“Kita tidak memiliki pilihan lain, dan kalian semua tahu akan hal itu. Setidaknya, mencoba untuk percaya bukan hal yang sulit bukan? Aku akan berbicara lagi dengan Reyn nanti, untuk berjaga-jaga agar dia tidak mengocehkan hal yang tak seharusnya kepada Taehyung.”

“Kurasa kita juga harus mengawasi gadis itu.”

“Ya, aku setuju. Sampai kita benar-benar bisa memercayainya.”

Seokjin lagi-lagi mendesah. Well, segala kekhawatiran yang ada memang wajar-wajar saja. Apalagi ketiga pemuda itu pendatang yang belum mengenal Bumi sepenuhnya pun manusia-manusia yang hidup di sini.

“Baiklah, aku yang akan mengawasi gadis itu,” ujar Seokjin kemudian.

“Bagaimana aku bisa memercayaimu?” Pertanyaan yang terlontar dari bibir Lachlan itu membuat pemuda lainnya mengerutkan kening.

“Hei, Lach! Tidak bisakah mengenyampingkan egomu dan memercayai Seokjin sekali saja? Kau terlalu banyak melancarkan protes, sepertinya.” Earl yang tak terima lantaran sang kakak tampak diremehkan, lekas bersuara. Tatapnya berubah seram, membuat Owen yang berada di dekatnya lekas menariknya menjauh sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Perkelahian dua prajurit Luficer di Bumi? O, bisa-bisa akan ada kehancuran di sana-sini.

“Jangan memakai kekerasan, oke? Bumi bukan tempat yang pas untuk bertarung. Ingat, kita datang ke sini untuk menjalankan misi penyelamatan sang pangeran., bukan untuk menghancurkan Bumi. Jika kalian terus-terusan bertingkah seperti ini, apa yang akan terjadi dengan misi, huh? Beradu pendapat saja tidak masalah selagi tak memakai kekuatan. Oke?” Entah bagaimana pemuda secuek Owen bisa berubah menjadi bijak. Mungkin pemicunya adalah rasa bosan pun cemas karena dari awal kedatangan bahkan perkenalan, Earl dan Lachlan sama-sama tak bisa menunjukkan sikap bersahabat. Dan di sinilah si Asmodeus muda itu, terperangkap bersama keluarga Leviathan yang terkenal kuat dan bengis dan keluarga Beelzebub yang selalu menjadi abdi setia kerajaan.

“Aku tidak kenapa-kenapa, Earl. Tahan emosimu. Lachlan tidak salah. Menaruh curiga kepada seseorang yang belum dikenal dengan baik adalah hal yang normal, bukan? Aku mengerti maksud Lachlan itu baik,” ujar Seokjin. “Dan kau, Lachlan, ya, aku tahu kau ditunjuk sebagai pemimpin dari misi kali ini dan tanggung jawabmu memang amat dibutuhkan. Tapi, percayalah, aku pun menginginkan hal yang terbaik untuk kita semua, untuk kerajaan kita pun Taehyung, calon raja kita.”

“Oke, aku akan memercayaimu. Tapi, jika ada sedikit saja kekacauan yang membuat kita kesulitan membawa pulang sang pangeran, maka kau adalah orang pertama yang akan berhadapan denganku. Mengerti?”

Lachlan mendesis lantas bangkit dari duduknya. Pemuda itu lekas mengayunkan tungkai demi beranjak dari sana, mencoba memendam amarah sekaligus meredakannya. Risiko menjadi orang yang temperamental adalah hal yang sudah mendarah daging. Mengalah atau hadapi. Dan kali ini, Lachlan memilih untuk mengalah demi kebaikannya, juga kebaikan yang lain dan sang pangeran yang masih belum mengetahui kenyataan yang tengah menunggunya.

Jujur saja, terlalu banyak keraguan yang memenuhi kepala pemuda Leviathan itu. Bukan hanya bagaimana cara membawa kembali sang pangeran, tetapi lebih ke bagaimana cara menjelaskan segala sesuatunya kepada pangeran yang telah lama melepas jati diri aslinya dan hidup sebagai manusia di Bumi. Mungkin, mendengar perihal Lucifer dan segala sesuatu yang berkaitan pun tidak pernah, lalu, bagaimana caranya kelak ia memimpin kerajaan? Terlebih lagi keadaan Dionaea sungguh kacau kini. Pemberontakan di mana-mana, pengalihan kekuasaan dengan kecurangan pun melanda.

Seiring dengan langkah yang membawa tubuhnya menjauh dari sekumpulan pemuda lainnya, tumpukan-tumpukan beban yang memusingkan pun kian bertambah. Terkadang, bahkan ada ragu yang bercampur penyesalan. Akan misinya yang sungguh sulit pun dirinya yang tak mampu melindungi sang raja. O, apakah pilihan untuk menyelamatkan diri sendiri demi melaksanakan titah raja adalah hal yang paling baik? Entahlah, Lachlan masih belum yakin dengan segala sesuatu yang tengah mengitari hidupnya kini.

***

“Ayo kita pulang!”

Seruan yang berasal dari ambang pintu membuat Taehyung yang tengah bercengkrama dengan Reyn mengalihkan pandang gembira. Di sana ada Seokjin yang tengah berjalan memasuki ruangan disusul tiga pemuda lainnya.

“O, kami tidak menganggu kalian, bukan?” tanya Seokjin dengan nada menggoda, membuat Taehyung cengengesan sementara Reyn justru tengah berusaha menyembunyikan rasa canggungnya.

“Tidak-tidak, kami hanya berbincang ringan saja. Dan, yeah, seperti biasanya, Reyn memarahiku dan memintaku untuk lebih menjaga kesehatan. Oke, aku juga tak mau berada di ruangan serba putih ini. Pengap rasanya.”

“Ya sudah, kalau begitu ayo kita pulang.”

Taehyung lekas berdiri disusul Reyn yang masih bungkam.

“Kau ikut dengan kami juga, ‘kan, Rey?” tanya Taehyung tiba-tiba, membuat si gadis sedikit tersentak namun cepat-cepat menganggukkan kepala.

Well, jika aku tak membebani kalian.”

“Tentu saja tidak. Lagi pula kita searah! Kecuali kau ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.”

“Tidak, aku akan langsung pulang. Tidak ada kelas hari ini dan, yeah, ayo pulang. Kau harus banyak-banyak beristirahat”

Reyn yang sejatinya bersikap sesikit kaku membuat Seokjin merasakan bahwa si gadis masih dirundung keraguan. Tak apa. Semuanya butuh proses dan Seokjin percaya bahwa memberitahukan Reyn tentang rahasia yang sudah ia tutupi rapat-rapat adalah pilihan yang terbaik.

“Bagaimana kalau kita pergi makan terlebih dahulu?” usul Seokjin kemudian.

Taehyung menetap Reyn guna meminta persetujuan dan sang gadis pun membalas tatapannya dengan senyuman.

Call!” sahut Taehyung semangat.

“Oke! Jadi … adakah sesuatu yang kau inginkan untuk makan siang kita, Kim Taehyung?”

***

“Kau sedang ada masalah dengan Kak Seokjin?”

Pertanyaan yang tiba-tiba menelusup rungu Reyn membuat si gadis tersentak. Tangannya yang tadinya sibuk memain-mainkan surai Taehyung berhenti tanpa disuruh. Tubuhnya menegang.

Reyn sadar saat acara makan-makan tadi ia memang terlihat sedikit kaku pun acuh tak acuh pada Kim Seokjin, padahal biasanya ia tak pernah berpolah seperti itu. Jadi, normal saja jika Taehyung mengetahui pun menaruh curiga. Karena Reyn memang tipikal gadis yang mudah di tebak.

“Hei, jadi kau benar-benar sedang berkelahi dengan si rambut pink itu, hm?”

Taehyung cepat-cepat bangkit dari tidurnya. Hari sudah menjelang sore dan ia tengah beristirahat di kamarnya kini, bersama sang gadis yang menemani—atau lebih tepatnya menjadi pesuruh lantaran Taehyung yang memanfaatkan keadaan dengan amat baik untuk menahan Reyn agar tetap bersamanya.

Kini posisi keduanya sama-sama duduk dan saling berhadapan namun Reyn tak berani menatap manik cokelat milik kekasihnya. Entahlah, perasaannya campur aduk kini. Terlebih Taehyung tak mudah untuk dibohongi, kurang lebih seperti dirinya sendiri. Jadi, apa yang harus ia katakan?

“Astaga, ada apa? Kau marah padanya karena tidak membiarkanmu menginap di rumah sakit semalam?”

“Oh?”

“Kudengar, kau bersikeras untuk menemaniku sampai siuman tetapi Kak Seokjin melarangnya. Jika benar karena hal itu, hei … jadi kau benar-benar khawatir padaku, huh? Duh, sejak kapan Reyn berubah menjadi gadis manis begini?”

Satu pukulan—sangat—pelan mendarat di puncak kepala Taehyung. Reyn geram namun merasakan lega sekaligus. Lega karena ia memiliki alasan lain untuk dijadikan jawaban. Wah, sepertinya gadis itu masih dikelilingi keberuntungan-keberuntungan miliknya.

Aish, kenapa malah memukulku, sih? Lupa, ya, kalau aku ini masih berstatus pasien dan—“

“Diam kau, Cerewet!” Reyn berdecak. “Mana ada pasien yang menyebalkan sepertimu, huh! Dan ini, ck, kau sengaja menahanku agar tidak pulang, bukan? Kak Doha bisa-bisa merasa kehilangan jika ia tiba-tiba pulang dan tidak ada siapa-siapa di rumah.”

“Kak Doha tidak akan pulang hari ini. Tadi aku bertemu dengannya di rumah sakit, tenang saja. O, aku bahkan meminta izin darinya untuk membiarkanmu menginap di rumahku, sekalian menjagaku, hehe. Daripada kau harus berdiam diri di rumah besar itu sendirian, lebih baik menemaniku di sini, ‘kan?”

Reyn sungguh kehilangan kata-kata. Kim Taehyung menyebalkan, tetapi dibalik semuanya ada perhatian yang tak tergantikan. Well, terkadang Reyn memang dibuat kesal olehnya, tetapi tak jarang pula Reyn merasakan bahagia tak terhingga. Dan entah kenapa, jika biasanya ia merasa senang bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama si pemuda, justru untuk kali ini terlalu banyak rasa cemas yang tak bisa ia jabarkan.

“Kau melamun, huh?”

“Oh?”

“Astaga Park Reyn, kau sedang memikirkan sesuatu yang—“

“HEH, DIAM KAU MESUM!” Semburat merah menghiasi pipi Reyn tiba-tiba sedangkan Taehyung yang mulai cengengesan terlihat semakin menyebalkan di hadapan si gadis kini. “Jangan berpikiran untuk melakukan hal yang tidak-tidak, mengerti?”

“Bukannya seharusnya aku yang mengatakan hal itu, hm?”

“Kim Taehyung!”

Tawa keras menguar. Taehyung tampaknya puas menggoda gadisnya hingga membuatnya merona. Di sisi lain, Reyn pun tak bisa menahan diri untuk tak tertular tawa ceria milik Kim Taehyung. Gelak lepas pun mengisi udara kamar yang kosong, menggantikan semu yang terkadang membuat jenuh.

Ketika kedua pasangan kekasih itu masih larut dalam kebahagiaan, tiba-tiba Taehyung merasakan sentakan di sekujur tubuhnya. Awalnya terasa seperti tekanan-tekanan pelan, hingga kemudian berubah menjadi sesuatu yang membuatnya dilanda sakit yang luar biasa yang membuat tawanya terhenti seketika, berganti dengan erangan-erangan pelan yang membuat Reyn dirundung cemas.

“Hei-hei, kau kenapa?”

Taehyung tak menjawab. Hanya erangan yang terdengar semakin dan semakin jelas. Kini Taehyung telah berakhir berguling-guling di atas kasur sembari memeluk tubuhnya sendiri erat-erat, seakan tengah menahan sesuatu yang membuatnya merasa nyeri. Sementara si pemuda meringkuk kesakitan, Reyn yang panik hampir kehilangan akal sehat. Apa yang harus dilakukan? Apa yang terjadi pada kekasihnya?

Ketika semua pertanyaan itu tertumpuk di kepala, tiba-tiba sebuah ingatan memaksanya menyeret tubuh keluar dari kamar. Berlari secepat yang ia mampu semabri berteriak panik, Reyn kini tengah mencari di mana keberadaan Kim Seokjin.

“KAK SEOKJIN, KAU DI MANA?!”

Tak ada jawaban. Reyn pun memutuskan untuk berlari ke lantai bawah dan mendapati Seokjin tengah berkumpul bersama yang lain yang memaku tatap padanya kini.

“Kim Taehyung … dia … sesuatu terjadi padanya dan kurasa kau harus menolongnya, Kak. SEKARANG!”

Suara ribut-ribut itu membuat Seokjin bereaksi dengan cepat, terlebih ketika melihat Reynn datang dengan wajah yang hampir menangis saking cemasnya. Tanpa menunda-nunda, pemuda dengan iris biru itu lekas berlari menuju lantai dua, disusul ketiga pemuda lainnya dan Reyn yang berada paling belakang.

“Kurasa waktu benar-benar tidak bisa diajak kompromi lagi. Sekarang … atau tidak sama sekali. Kau yang harus memutuskannya, Kim Seokjin.”

Di tengah kepanikan, Lachlan menguarkan pernyataan yang membuat mereka semua mematung sejenak.

“Maksudmu?”

“Katakan kebenarannya atau kita takkan pernah bisa membawa pulang sang pangeran dengan selamat.”

-TBC.

Halo! Mbaay comeback, yeay! Still remember with this fanfic? Sorry for sooooolateeee update, ehe, enjoy it! And dont forget to leave a reviews.

with love,

-mbaay.

Advertisements

6 thoughts on “[Chapter 5] The Dark Wings: The War on Pain

  1. Well, aku paling nunggu moment ini! Akhirnya Taehyung bakalan bertransformasi. Please kak..jangan lama2 updatenya. Kutunggu loh!

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s