[BTS FF FREELANCE] – Fall For You (Oneshot)

Fall For You

“An Angel”

Author

QUEENX

Genre : FLUFF

Length : ONESHOT

The Cast :

JUNG HYEMI (OC)

PARK JIMIN

Rating : Teen

Disclaimer : PLOT & OC BELONGS TO ME BUT BTS MEMBERS BELONGS TO THEIR FAMILY

.

“Eh? Tunggu dulu, bukankah ini sekolah khusus perempuan?”

.

Asing. Itulah perasaanku saat ini.

Kesekian kalinya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Melelahkan memang, tapi mau bagaimana lagi, sudah menjadi risiko dari anak seorang tentara, yang selalu dipindah tugaskan karena urusan perdamaian negara ataupun dunia.

Bahkan hidup di Norwegia selama lima bulan dan belum memiliki seorangpun teman sudah bukan hal yang baru untukku. Bukan hanya ke Norwegia, ayah juga pernah dipindahkan ke Jepang, Myanmar, Indonesia, Cekoslovakia dan kemudian kembali lagi ke tanah kelahiran kami, Seoul, Korea Selatan.

“Silakan perkenalkan dirimu.” Ucap wali kelas baruku untuk yang ke enam kalinya.

Aku mengangguk patuh.

“Namaku Jung Hyemi. Salam kenal semuanya.” Ucapku singkat.

Beberapa orang tampak tidak menggubrisku, sisanya membisikkanku, mengamatiku dari atas sampai ke bawah dan ada satu siswa yang paling excited melambai-lambai padaku. Mungkin ia mengajakku untuk duduk di sebelahnya karena kebetulan bangku di sebelahnya kosong.

“Baiklah nona Jung, kau bisa memilih tempat dudukmu sekarang.” Ujar sang wali kelas lalu berjalan keluar dari ruang kelas baruku.

Gadis yang tadi melambai padaku langsung berdiri dari duduknya dan berlari menggamit lenganku.

“Ayo, kau duduk denganku saja, ya?” ajaknya antusias. Aku mengangguk saja karena tidak ada pilihan bangku kosong lain lagi selain bangku di sebelahnya.

“Anak baru itu akan menjadi siswa yang sama anehnya dengan gadis aneh itu. Apakah tidak apa-apa?” bisik seseorang dengan rambut berkuncir kuda yang duduk tiga bangku di depanku.

“Biar saja. Kurasa tanpa menjadi anehpun anak baru itu sudah memiliki aura aneh sejak masuk ke dalam kelas kita.” Bisik teman sebangkunya.

“Mereka sama-sama cantik, sayang salah satunya aneh, bagaimana kalau dia tertular anehnya si rambut brokoli itu?” cibir seorang gadis yang duduk tepat di sebelah bangku kami.

Aku memperhatikan rambut gadis yang kini mendudukkanku di sebelahnya, memang terlihat ikal, bukan ikal yang rapi namun ikal seperti benang kusut, apakah ia tidak pernah menyisir rambutnya saat berangkat ke sekolah?

Banyak perlakuan aneh, istimewa dan unik yang aku terima dari bermacam-macam orang yang ada di sekolah yang pernah aku singgahi untuk sekedar menuntut ilmu selama beberapa saat. Misalnya saja saat di Norwegia, semua menyambutku dengan ekspresi yang cerah dan penuh rasa penasaran, apalagi aku satu-satunya siswa pindahan dari Asia yang ada di sekolah mereka.

Sementara saat aku ada di Indonesia, semua orang bertanya apakah aku seorang trainee SM Entertainment, karena mereka menganggap kecantikanku tidak manusiawi, berulang kali mereka bertanya dan memastikan apakah aku melakukan operasi plastik atau tidak, sebagian besar dari siswa perempuan menanyaiku tentang aktor dan akrtis juga grup idola mereka. Padahal, jangankan mengenal, bertemu dengan mereka saja aku tidak pernah.

Dan ketika aku berada di Myanmar, banyak sekali siswa pria yang mengirimkanku surat cinta dan cokelat di loker belajarku. Hal itu membuatku dalam beberapa minggu populer dan dianggap kepopuleranku menyamai kepopuleran Song Hye Kyo di Myanmar. Eumm entah aku harus bagaimana menanggapi hal ini.

Namun saat kembali ke Seoul, aku harus kembali menghadapi kenyataan bahwa semua sekolah di Seoul masih ada beberapa siswanya yang menggunakan sistem kasta, kata-kata kasar, pembullyan bagi mereka yang berkacamata tebal, tidak cantik, suka tebar pesona dan tidak memiliki kekuasaan ataupun teman di kelasnya.

“Namaku Kwon Minah. Kau bisa memanggilku Kwonnie.” Ucap gadis itu membuyarkan lamunanku.

“Salam kenal Kwonnie, aku Hyemi.” Ucapku singkat dan membalas jabatan tangan gadis tersebut.

“Oh ya Kwonnie, maaf jika membuatmu tersinggung, tapi…ini.” Aku mengeluarkan sisir kecil dari dalam tasku dan kuberikan pada Kwonnie.

Kwonnie tersenyum lalu menggeleng, “Tidak apa-apa. Rambutku mau dibagaimanakan juga akan tetap seperti ini, hehe.” Ucap Kwonnie. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan cibiran akan penampilannya oleh siswa lain, makanya tidak tampak sedikitpun perasaan tersinggung saat aku menyodorkan sisir rambut untuknya.

“Itu mereka!” pekik seorang siswa perempuan yang berdiri di depan pintu kelas.

“Mana? Mana?” ucap siswa perempuan lainnya.

Seketika, seisi kelas berebut tempat di dekat pintu dan jendela untuk melihat entah apa itu yang akan lewat di hadapan mereka tidak lama lagi.

“Itu…ada apa?” tanyaku pada Kwonnie yang kini sedang mengunyah permen karet di mulutnya.

“Kau mau?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Paling-paling hanya tiga serangkai itu. Mereka semua selalu begitu setiap pagi, menunggu kedatangan mereka bertiga kemudian kembali ke bangku mereka dan melanjutkan kesibukan mereka.” Jawab Kwonnie lalu meniupkan balon dengan permen karet di mulutnya.

“Mereka bertiga? Siapa?” tanyaku semakin penasaran. Aku mencoba mengangkat kepalaku namun tetap tidak bisa melihat pemandangan di balik kerumunan siswa perempuan itu.

“Park Jimin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook.” Ucap Kwonnie.

“Seperti nama…laki-laki. Eh? Tunggu dulu, bukankah ini sekolah khusus perempuan?” tanyaku heran

“Mereka memang laki-laki.” Ucap Kwonnie santai.

“JINJJA!?” pekikku terkejut.

Beberapa siswa perempuan—termasuk Kwonnie—yang tidak begitu tertarik pada pemandangan tiga serangkai yang akan lewat di depan kelas mereka itu terkejut dan memandangku terkejut.

“Kau tidak perlu terkejut seperti itu.” Ucap Kwonnie kemudian.

“T-tapi…bagaimana bisa?”

Kemudian siswa dengan rambut panjang terurai di belakang bangku Kwonnie berdiri dari duduknya dan duduk di bangku di depan mejaku.

“Ayah dari mereka bertiga adalah pendiri sekolah ini. Awalnya sekolah ini dijadikan sekolah campuran. Namun karena kurang adanya peminat dikarenakan belum ada akreditasi terbaiknya, makanya ayah dari Taehyung memiliki sebuah ide cemerlang dengan hanya memasukkan putranya, putra Tuan Park dan putra Tuan Jeon untuk disekolahkan disini dan sisanya adalah siswa perempuan. Mereka sangat yakin ketiga anak mereka akan menarik minat banyak siswa perempuan untuk bersekolah disini. Dan berkat mereka bertiga, pada akhirnya sekolah ini menjadi sekolah yang sangat diperhitungkan dan termasuk dalam sepuluh sekolah terbaik Korea Selatan.” Jelas gadis tersebut.

“Tapi…bagaimana jika ketiga anak mereka sudah lulus? Bukankah daya tarik dari sekolah ini adalah anak mereka?” tanyaku lagi.

Kwonnie menepuk pundakku, “Percayalah, aku juga memikirkan hal yang sama denganmu saat masuk pertama kali ke sekolah ini.”

“Itu tidak akan pernah terjadi. Ketiga orang tua dari tiga serangkai itu tidak berpikiran pendek sampai disitu. Mereka juga sudah merencanakan untuk ketiga putra mereka berkuliah di sekolah ini. Ada beberapa dosen khusus dari setiap perguruan tinggi terbaik di dunia yang didatangkan ke sekolah ini hanya untuk memberi materi kuliah untuk mereka.” Jelas si gadis berambut panjang itu lagi.

“Mereka sejak duduk di kelas satu, memiliki kelas khusus. Kelas yang hanya diperuntukkan untuk mereka bertiga. Menurut beberapa sumber, kelas mereka sangat luas, ada perpustakaan pribadi untuk mereka, area permainan bilyard dan juga sofa untuk mereka beristirahat. Kelas mereka bersebelahan dengan ruang kepala sekolah dan yang boleh masuk kesana hanya mereka, dosen untuk mereka, dan beberapa guru yang ditugaskan untuk mengajar di kelas mereka saat mereka masih duduk di bangku sekolah. Ah, ya, cleaning service untuk kelas mereka bisa dikatakan mendadak kaya karena sering dibayar mahal untuk mematai-matai kegiatan tiga serangkai di dalam kelas mereka atau memotret isi kelas dari tiga serangkai itu.” Jelas Kwonnie.

Aku ternganga. Kupikir hal tidak masuk akal seperti itu hanya terjadi di dalam komik manga dan drama yang ada di televisi saja. Ini terlalu mustahil untuk bisa dipercaya. Tiba-tiba saja aku jadi merasa penasaran dengan sosok tiga serangkai itu. Apakah mereka sehebat itu sampai harus dikagumi oleh seluruh penghuni sekolah ini?

“Jika kau sedang beruntung, kau bisa bertemu dengan mereka saat berada di perpustakaan sekolah, kantin, atau mungkin jika kau dipanggil ke ruang kepala sekolah. Karena keberuntungan itu hanya bisa dirasakan 1 dari 10 siswa, makanya banyak siswa yang ramai-ramai untuk berebut melihat mereka sepuasnya dengan cara seperti itu. Berdiri di depan kelas atau di sepanjang koridor kelas sebelum bel masuk berbunyi.” Jelas si gadis berambut panjang.

“Angka keterlambatan di sekolah ini sangatlah kecil, semua ini karena siswa-siswa disini tidak mau terlewat barang hanya sedetik untuk bertemu dan sekedar meneriakkan nama ketiga serangkai itu. Meski hanya bermodalkan tiga pria tampan itu, namun sekolah ini berulang kali berhasil meraih banyak piagam penghargaan berkat tingkat kedisiplinan dan kelulusan yang tinggi. Beruntung sebagai siswa baru kau langsung diterima di sekolah ini. Asal kau tahu saja, sekolah ini sangat jarang menerima siswa baru karena kuota untuk masuk di sekolah ini terbatas. Dan juga proses seleksinya sangatlah panjang.” Tutur Kwonnie.

Aku mengangguk mengerti. Meski cukup tidak masuk akal dan merasa tidak percaya dengan semua penjelasan mereka. Toh aku akhirnya penasaran juga dan ingin melihat ketiga pria yang disebut-sebut tampan dan memikat itu.

Namun ketika akan berdiri, Kwonnie menahan pergelangan tanganku.

“Sudahlah, masih ada besok untuk bisa melihat mereka. Kau sudah terlambat karena tidak ada ruang untukmu sekarang. Kau mau sesak napas berdiri diantara kumpulan hyena yang kelaparan itu?” ucap Kwonnie kemudian.

#

Aku menolak ajakan Kwonnie untuk pergi ke kantin dan memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi sekolah baruku. Bentuk bangunannya sangat unik, seperti ada perpaduan kerajaan romawi dan bangunan kuno. Sambil membawa map yang diberikan oleh si rambut panjang terurai bernama Krystal, aku berjalan menelusuri koridor belakang sekolah menuju ke taman anggrek yang hanya dibuka pintu pagarnya saat bel istirahat berbunyi.

Tidak banyak siswa yang pergi ke koridor belakang. Mungkin karena mereka sibuk mencari keberadaan tiga serangkai itu. Awalnya aku memang penasaran, tapi menurutku rasa penasaran ini akan terbayar suatu saat nanti, tanpa harus memburu keberadaan mereka layaknya seorang sasaeng.

Ada suara gemericik air saat aku tiba di taman anggrek tersebut. Ada dua orang penjaga taman yang sedang merawat taman tersebut, dan salah seorang lagi yang sedang berdiri di depan air mancur sambil memerintah kedua penjaga taman itu, ah mungkin dia adalah salah satu guru atau penjaga sekolah ini.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku seragamku dan mengabadikan beberapa bunga anggrek yang sedang mekar.

“Apakah kau tidak tahu ada peraturan dilarang mengaktifkan ponsel saat berada di sekolah ini?” tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakangku.

Aku buru-buru berbalik namun kakiku seperti terpeleset oleh sesuatu dan membuatku nyaris terjungkal. Untung saja dengan sigap ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangku dan menangkap tubuhku.

Mataku yang tadinya kututup perlahan kubuka—

“Hati-hati.”

Mendengar suara itu dan menatap tepat ke dalam matanya, aku langsung menjatuhkan ponselku. Pria yang kusangka seorang guru atau penjaga sekolah tadi, ternyata adalah malaikat yang sangaaaaaaaaaaat tampan. Apakah ia adalah malaikat pencabut nyawa? Apakah malaikat seorang pria dan setampan ini?

Mulutku bahkan tidak bisa kugerakkan untuk mengucapkan sepatah katapun. Namun suara bel masuk berbunyi dan menyadarkanku dari alam bawah sadarku. Aku buru-buru menegakkan tubuhku dan berjongkok mengambil ponselku kemudian menunduk meminta maaf.

“Maafkan aku, aku berjanji akan menghapus foto-fotonya saat tiba di kelas nanti. Ah, tidak, sekarang juga akan kuhapus.” Ucapku tak berani menatap pada si pemilik wajah malaikat itu.

Terdengar tawa kecilnya, “Tidak apa-apa. Kali ini kumaafkan, lain kali jangan kau lakukan lagi, arraseo?” pria itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan menatapku lalu menaruh telapak tangannya di puncak kepalaku.

Aku menatapnya dan mengangguk mengerti, setelah itu ia menjauhkan tangannya dan buru-buru aku berlari meninggalkan taman bunga tersebut.

“Ya ampun jantungku, mengapa kau berdetak sangat keras tadi, huh? Kuharap ia tidak mendengar bunyi detak jantungku.” Gumamku sambil berlari.

*

FIN ?

SORRY FOR TYPO(s)

Coba tebak, siapa cowok cakep yang disangka malaikat tak bersayap yang tidak sengaja ketemu sama si OC?

Advertisements

One thought on “[BTS FF FREELANCE] – Fall For You (Oneshot)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s