[BTS FF Frelance] Memento Mori (Chapter 3)

Tittle : Memento Mori  (Chapter 3)

Author : TEN

Genre : Brothership, sad.

Rating : Semua umur

Cast : Jeon Jungkook, Kim Seokjin, Park Chanyeol (exo)

Length : 1000+ word

Disclaimer : Kalian tahu menuangkan apa yang ada di otak kedalam tulisan itu susah, dan saya yakin anda tahu bagaimana cara menghargai karya orang lain.

Semalam aku bermimpi. Mimpinya sangat indah sampai aku tidak mau bangun.

Mereka bilang, jika aku setuju untuk tidak bangun, maka semua rasa sakitnya akan hilang.

“Jungkook aku datang!!!!” seru Chanyeol di depan rumah lama keluarga Seokjin.

Ini masih pagi saat Chanyeol sampai di kediaman keluarga Seokjin. Angin dari pantai yang menyapu rambutnya serta bayangan akan pertemuannya dengan Jungkook membuat dirinya menjadi sangat bersemangat. Ia masih ingat suara anak itu yang meminta dirinya datang ke Busan, dan Chanyeol berangkat satu jam setelah menerima telepon. Ia merindukan Jungkook omong-omong.

“Jungkoook!! Seokjin!!!” sekali lagi Chanyeol berteriak karena tidak mendapat jawaban.

Namun setelah beberapa menit tidak juga mendapat respon, akhirnya Chanyeol mencoba membuka pintu rumah itu dengan mencari kunci cadangan yang biasanya selalu berada di bawah pot bunga. Persahabatan ia dan Seokjin yang memang terbilang cukup lama membuat ia hapal kebiasaan keluarga Seokjin.

“Jungkook?” Chanyeol melangkah masuk, ia melihat ke sekitar yang terasa sangat sepi, “Seokjin?”

Sama sekali belum ada jawaban dari pemilik rumah. Apa mereka berdua sedang jalan-jalan pagi? Pikirnya.

Chanyeol terus melangkah masuk dan sedikit terkejut ketika melihat TV yang menyala serta beberapa botol bir yang berserakan dimana-mana. Chanyeol mengernyit ketika aroma tidak sedap dari minuman itu mengusik hidungnya, ia tidak suka minuman beralkohol dan ia juga sangat tahu Seokjin bukan orang yang akan meminum soju bahkan ketika ia ingin.

“Apa ini? lelaki itu mabuk?”

Cklek!

Chanyeol menoleh kearah suara yang berasal dari pintu yang terbuka, “Apa itu kau Seokjin? Astaga!!”

Mata Chanyeol membulat lebar saat mendapati Seokjin dengan Jungkook dipunggungnya dalam keadaan basah kuyup, “Kalian kenapa?” buru-buru Chanyeol menghampiri mereka.

“Apa yang terjadi, hah?” tanya Chanyeol,

“Tolong bawa Jungkook ke kamarnya, dia tidak sadarkan diri dari setengah jam lalu.”

Dengan susah payah Seokjin memindahkan Jungkook ke punggung Chanyeol,”Kau berhutang penjelasan padaku!” tukas Chanyeol sebelum dirinya pergi dari Seokjin.

Sedangkan Seokjin membeku ditempatnya lalu perlahan air matanya menetes saat mengingat kembali hal tergila yang ia lakukan pada Jungkook beberapa saat lalu.

________

“Hyung, aku mohon hentikan!!!” teriak Jungkook.

Langkah Seokjin terhenti saat setengah dari tubuh mereka sudah tertutupi air laut. Lelaki itu berbalik menatap sang adik yang sudah menangis hebat. Ia bisa merasakan tangan Jungkook bergetar menggenggam tangannya dengan erat.

Seokjin sangat tahu seperti apa ketakutan Jungkook pada laut mengingat anak itu mengalami trauma setelah hampir tenggelam di laut saat mereka masih kecil.

“Kenapa?” Seokjin menatap sepasang iris coklat milik adiknya,”Kau tidak ingin mati bersamaku?” tanya Seokjin.

Tangan Jungkook yang bergetar semakin menggenggam kuat tangan Seokjin. Ia menggeleng kuat-kuat ―menolak ajakan gila Seokjin.

“Seharusnya kau senang karena aku akan mati bersamamu! Jungkook, kenapa kau bodoh sekali hah!!” teriak Seokjin bersamaan deburan ombak yang mengahantam tubuh keduanya.

“Aku tidak akan pernah siap menerima kematianmu!! Bahkan kematian orang tua kita…” napas Seokjin tercekat,”Kematian orang tua kita selalu jadi mimpi buruk untukku, kau tahu itu, hah?!” air mata Seokjin menetes.

“Hyung, ayo kita pulang.” ucap Jungkook.

“Kematianmu akan jadi kematianku juga”

“Hyung, ayo kita pulang.”

Seokjin menarik Jungkook menuju ke tengah laut namun ditahan oleh anak itu yang membuat Seokjin menepis gengggaman Jungkook dari tangannya.

Jungkook tersentak, ditatapnya Seokjin yang kini menghadap kearah dirinya. Jungkook mengepalkan kedua tangannya erat-erat.

“Hyung, aku tidak mau mati..” ucap Jungkook lirih dan itu berhasil meruntuhkan tembok pertahanan milik Seokjin.

Seokjin tak bisa lagi menahan air matanya.

“Setiap malam aku selalu takut menutup mataku, aku takut…aku takut tidak bisa lagi melihatmu.” Jungkook menggelengkan kepalanya kuat-kuat,”Aku tidak mau meninggal, hyung tolong aku, hiks” Jungkook semakin menggelengkan kepalanya lebih kuat sambil menangis keras,”Hyung tolong aku.”

Seokjin yang melihat Jungkook memohon-mohon padanya langsung merengkuh tubuh sang adik dalam pelukannya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari melihat Jungkook seperti ini. Meminta ia menolongnya bahkan disaat ia sendiri nyaris putus asa tentang kehidupan mereka.

_______

Seokjin itu tidak suka mabuk. Seokjin tidak suka main air, apalagi jika sampai membuat seluruh tubuhnya basah kuyup. Lihat, Chanyeol bahkan sangat hapal segalanya tentang Seokjin sampai ke akar-akarnya, tapi kenapa semua hal itu rasanya jadi tidak berguna ketika melihat kondisi Seokjin hari ini.

Chanyeol baru tahu hubungan kakak-adik ternyata bisa serumit dan se-menyedihkan ini.

 “Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol yang membuat Seokjin sedikit tersentak.

 “Kau tidak mengganti bajumu? Kau bisa sakit Seokjin.” lanjut Chanyeol sembari duduk disamping si lelaki yang kini berada didepan perapian.

“Sistim imunku lumayan bagus, jangan khawatir.” balas Seokjin tanpa mengalihkan pandangannya pada Chanyeol.

“Tidak usah geer, aku sama sekali tidak khawatir”

“Bagaimana keadaan Jungkook?”

Chanyeol menarik napasnya pelan,“Dia sedikit demam, jika malam ini demamnya tidak turun, kita harus kembali ke Seoul, lagipula prof.Lee sedikit cemas dengan kondisi adikmu.”

Seokjin tersenyum kecut,”Ini semua salahku. Jika saja aku tidak menggusurnya –“

“Kau menggusurnya?!” potong Chanyeol dengan nada tinggi.

“Berhentilah berteriak padaku!” balas Seokjin,”Aku dalam keadaan mabuk, aku tidak sepenuhnya sadar.”

“Tapi, bagaimana bisa kau menggu –“ Chanyeol menjeda kalimatnya sebentar ketika pikiran-pikiran aneh bermunculan di kepalanya. Ia memijit pelipisnya pelan sebelum berucap,”Jangan bilang kau, kau berniat bunuh diri dengannya? Kau membawanya ke laut dan itulah kenapa kalian basah kuyup?”

“Aku setengah sadar Chanyeol –“

“Kim Seokjin kau memang gila! Sial!, seharusnya dulu kumasukkan saja kau ke rumah sakit jiwa.” Sesal Chanyeol.

Seokjin hanya menghela napas pasrah melihat reaksi Chanyeol. Ia yakin Chanyeol akan membunuhnya sesegera mungkin.

“Kenapa kau melakukan semua itu? Jungkook susah payah berjuang agar ia bisa terus hidup denganmu, dan kau malah ingin mati bersamanya, woah!!” Chanyeol memberi tatapan tidak percaya pada Seokjin,”Apa ini juga yang menjadi alasanmu menyerahkan perusahaan pada Pamanmu sendiri?”

“Kau sudah tahu rupanya.“

“Seokjin….”Chanyeol menatap dalam ke iris mata sahabatnya,”Aku tidak tahu sebesar apa ketakutanmu akan kematian Jungkook, tapi, hal yang kau lakukan adalah kesalahan.”

“Ayahku pergi, Ibuku pergi, lalu haruskan Tuhan juga mengambil Jungkook? jika semua orang pergi seperti itu, lalu apa aku punya alasan untuk hidup?”Seokjin menjeda kalimatnya, “Chanyeol, aku terlalu kesal karena membuat adikku membenci diriku seperti ini, aku terlalu kesal pada Tuhan, aku… terlalu takut hidup sendirian.”

“Kenapa? Apa terjadi sesuatu antara kau dan Jungkook?”

“Kemarin dia pulang ke rumah kami yang di Seoul dan mengetahui semuanya.”

“Tentu, itu salahmu, dan kau harusnya minta maaf. Seokjin, kau tidak pantas membenci Tuhan, dan walaupun semua orang disampingmu pergi, pasti selalu ada hal yang nantinya akan membuatmu harus melanjutkan  hidup.”

“Chanyeol –“

“Berhentilah merengek, Seokjin. Kau itu laki-laki dan seorang kakak dari adikmu, kau harusnya membahagiakan Jungkook disisa hidupnya, bukan membiarkan dia menyaksikan kesedihanmu.”

Seokjin terpaku mendengar penuturan Chanyeol. Terkadang memang ia harus bersyukur karena memiliki Chanyeol yang selalu setia menjadi temannya. Dan, Seokjin juga harusnya menyadari bahwa selama ia bersama Jungkook, tidak pernah seharipun Seokjin menunjukan raut bahagia dihadapan sang adik karena ketakutan berlebihan yang ia rasakan.

_______

Bersamaan dengan terbenamnya matahari, Jungkook akhirnya mau bertemu dengan Seokjin. Semenjak anak itu buka mata, selama seharian penuh Seokjin hanya bisa melihat Jungkook dari kejauhan karena Chanyeol bilang kalau Jungkook tidak ingin melihat Seokjin. Seokjin menakutkan, dia bilang.

Maka dari itu, sesaat setelah ia mendengar Jungkook ingin menemuinya, lelaki itu langsung membuatkan jus apel kesukaan si adik, menaruhnya disamping tubuh Jungkook, lalu ia sendiri duduk dengan tidak nyaman dihadapan anak itu. Oke, siapa sih yang tidak malu menemui orang yang hampir meregang nyawa karena emosi sesaatmu. Untuk kasus Seokjin, ia merasa malu berat.

“Hyung, kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanya Jungkook begitu sadar kalau selama ia meminum jus apel yang diberikan Seokjin, kakaknya sama sekali belum bicara.

Apa mungkin kakaknya mengalami bisu sesaat?

“Hyung bicaralah sesuatuu,” Jungkook merengek, sebenarnya ia sendiri merasa bersalah karena sudah memberi batasan pada Seokjin untuk menemuinya.

Seokjin pun akhirnya mendongak pada Jungkook, “Apa jusnya enak?” tanya Seokjin.

“Tentu,” Jungkook mengacungkan gelas yang sudah kosong didepan mata Seokjin dengan penuh semangat,”Ini sangat enak, dan perutku menerimanya dengan baik.”

Seokjin hanya menampakkan senyum kecilnya pada Jungkook.

“Hyung?”

“Hm..”

“Sejak kapan Hyung minum bir?”

Seokjin berdehem sebelum berucap,”Sudah lama.”

“Apa karena aku?”

“Hei!” Seokjin akhirnya mendekati adiknya,”Itu karena aku selalu stress ketika sudah pulang kerja, bukan karenamu.”

“Benarkah?” Sebuah tanya yang Jungkook tujukan untuk dirinya sendiri karena ia tahu kalau Seokjin pasti berbohong.

Seokjin melihat mata sayu Jungkook yang menatapnya dalam, lalu ia pun bertanya,”Kenapa?”

“Hyung…., semua orang pasti mati kan?”

Hening. Itulah yang dirasakan Seokjin setelah mendengar tanya Jungkook. Tubuhnya jadi dingin tiba-tiba, dan detak jantungnya berpacu lebih cepat membuat dadanya sakit.

“Semua orang pasti mati kan?” tanya Jungkook sekali lagi.

Butuh beberapa saat sebelum Seokjin berani menganggukan kepalanya pelan lantas kembali membalas tatapan sang adik.

“Kalau semua orang pasti mati, hyung tidak perlu susah payah membunuh diri sendiri.”

“Jungkook –“

“Hyung,” Potong Jungkook, “anggap saja ini seperti aku menunggu kepulangan hyung di rumah dan hyung sendiri sedang menanti pertemuanmu denganku.”

“Apa maksudmu?”

“Hyung, pada akhirnya kita akan pulang ke tempat yang sama. Bahkan jika aku pergi lebih dulu, aku akan menunggumu, dan kau juga bisa menunggu sesuatu yang bisa mempertemukan hyung denganku.”

“Kematian?” tanya Seokjin,”Sesuatu itu kematian, kan?”

Jungkook mengangguk,”Hyung, jangan khawatirkan aku. Toh kita akan bertemu lagi nanti.”

“Apa menurutmu kita akan langsung dipertemukan? Tuhan akan membuat kita saling mencari, Jungkook. Dan kita tidak tahu seberapa lama kau akan menungguku yang berusaha menemukanmu.”

“Hyung….”

“Aku mengerti apa yang kau bicarakan, mari lakukan itu.” Seokjin menghela napasnya dalam,”Ayo kita saling menunggu dan mencari.”

Air mata Jungkook menetes, “Maafkan aku, hyung.”

Lalu setelahnya Seokjin pergi. Ia berusaha sekeras mungkin menahan gejolak yang bersarang di dadanya saat ini. Namun semua itu sama sekali tidak bisa Seokjin lakukan. Bahkan saat ia melihat pantulan dirinya didepan cermin wastafel, semua itu bohong. Wajah menenangkannya adalah kebohongan, senyum yang ia tunjukan pada Jungkook adalah kebohongan. Ia sadar betul bahwa ia sangat tidak siap untuk semuanya ―semua yang Jungkook bicarakan tadi adalah pertanda buruk.

“Kenapa aku bisa punya adik sepertinya?!” umpat Seokjin,”Menunggu dia bilang? Sial! Memang manusia mana yang mau menunggu kematian sendiri?” Seokjin berdecak sebal.

Ia bahkan merasa kesal sendiri melihat dirinya yang mengomel.

“Kau baik-baik saja?”

“Astaga!” Seokjin terperanjat begitu menyadari ada orang yang sudah berdiri di ambang pintu yang kini tengah menatapnya, “Apa yang kau lakukan disana?!”

Chanyeol memberikan sebuah senyum pada orang yang berhasil ia kejutkan,”Aku merasa tertarik melihat orang yang mengomel sendirian.” Sindir Chanyeol.

“Tidak jelas.”

“Kenapa? Kalian bertengkar?” tanya Chanyeol sebelum ia menghembuskan nafas lelah lalu melanjutkan,”Punya adik itu memang rumit ternyata.” ucapnya dengan wajah sedih yang dibuat-buat.

“Bisa kau tutup mulutmu?”

Chanyeol menggeleng.

“Kenapa?”

“Karena aku harus mengatakan kalau kita akan ke Seoul besok.”

Seokjin mengernyit,”Seoul? Aku dan Jungkook bahkan belum sampai seminggu disini.”

“Sayangnya Prof.Lee sudah menelponku dan menyuruhku membawa Jungkook, itu bukan sepenuhnya keinginanku.”

“Kau pasti senang sekali, huh?”

“Tentu, akhir-akhir ini aku menyukai adikmu itu, serasa aku punya saudara baru.”

“Jangan banyak bermimpi, dia adikku.”

Seokjin berjalan melewati Chanyeol dan menyenggol pundak lelaki itu dengan keras.

“Kim Seokjin!!!”

Mereka pun berakhir dengan aksi saling kejar-kejaran di ruang tamu. Aku rasa kalian perlu diberi tahu kalau Chanyeol dan Seokjin itu punya masa kecil yang kurang bahagia, itulah kenapa mereka jadi seperti sekarang.

TEN

Author note:

Aku cuman mau bilang kalau ff ini dipublish juga di dunia orange.

Dan disana udah sampe chapter 5, satu chapter lagi untuk yg terakhir.

Selamat membaca!

Btw, ternyata semenyakitkan ini ya rasanya cerita kalian dibaca tapi kita gak tau siapa aja orang yg baca, hm.

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s