[BTS FF Freelance] A Cup of Coffee – (Oneshot)

A Cup of Coffee

Author: Sherry

Genre: Romance, AU

Length: Oneshoot

Cast:

You (Your Name)

Kim Taehyung

Rate: PG-15

Disclaimer: The plot and OC belongs to me but Kim Taehyung belongs to their family.

-You (Your Name) POV-

Hari ini langit tersenyum dengan indahnya. Warna birunya menenangkan. Sinar mentari yang terik terasa hangat. Itu mungkin yang drasakan orang lain, tapi aku tidak. Kepala ku terasa sangat sakit, hatiku terbakar dalam tangis. Seseorang yang sangat penting di kehidupanku yang kecil ini pergi meninggalkanku sendiri. Disini, di dunia yang seperseribunya pun aku tak tahu.

Tanpa ku sadari aku terduduk lama di depan sebuah Kedai Kopi dengan pandangan kosong ke depan. Sampai tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, menyadarkan aku dari dalamnya pikiran ini.

“Tidak baik tampak murung di hari yang begitu indah seperti sekarang.” Katanya menyadarkanku

“Minumlah”, katanya lagi sambil menyodorkan satu gelas ice coffee.

Senyumnya begitu manis. Aku takt ahu harus bagaimana. Aku tak mengenalnya. Tapi melihatnya dengan senyum yang begitu tulus, aku menerima ice coffee yang ia tawarkan dan meminumnya.

Aku tak salah minum kan? Ini ice coffee, tapi mengapa rasanya sangat hangat?

-You (Your Name) POV-

Tiga bulan kemudian.

Waktu berlalu begitu cepat, tapi aku masih tetap sama. Sakit di hatiku tidak berubah sedikitpun. Tapi aku rasa aku menemukan sebuah bola lampu kecil yang menyala di samping ku. Ia menerangi ku dari gelapnya malam yang ku lewati. Dia itu kamu.

Sejak pertemuan pertama dengannya di depan Kedai Kopi tiga bulan lalu, kami menjadi dekat, menjadi teman (mungkin). Setiap kali dia punya waktu dia akan datang menemuiku di kampus. Seperti sekarang ini, dia sedang menemaniku di taman dekat kampus, mengerjakan tugas-tugasku.

Aku tersenyum. Tanpa ku sadari aku menatapnya dalam.

“Jangan membuang waktu mu hanya untuk menatap ku seperti itu. Bukankah kamu punya banyak pekerjaan yang lebih penting yang harus dikerjakan.” Katanya sambal menunjuk buku-buku dan kertas tugas yang ada di hadapan ku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum getir karena malu.

“Cepat selesaikan. Sebagai gantinya aku akan mengirimkanmu selca setiap hari, jangan khawatir.” Katanya lagi dengan wajah penuh percaya diri.

Dia satu-satunya orang yang berada di dekat ku saat ini. Dia adalah laki-laki dengan kemampuan yang hebat. Kemampuan untuk memberi ku senyuman. Perkataanya tentang mengirimkan selca setiap hari, aku pikir itu adalah sebuah candaan. Ternyata bukan. Ia menepati kata-katanya. Dia selalu mengirimkan selca setiap hari.

Ini foto yang dia kirimkan pertama kali.

“ini foto favorit ku. V sign selca”

“aku terlihat tampak bukan? ^_^”

“jangan lupa tersenyum hari ini”

Itu yang ia tuliskan setelah fotonya.

Ini foto yang dia kirim saat aku akan melaksanakan ujian semester.

“aku yakin kamu pasti sangat tegang sekarang”

“jangan khawatir, ini aku kirimkan lucky charm untuk mu”

“tenang dan fokuslah, kamu apsti bias menjawab semua soalnnya”

“ps: untuk saat ini saja kamu boleh terus menerus memandangi fotoku, berhubung itu akan mebawa keberuntungan o.o”

Aku mendapat begitu banyak foto.

Sampai sebuah foto yang aku tak mengerti apa maksudnya. Aku tertawa dia semakin aneh saja.

Aku membalas kiriman fotonya. “Taehyung-ah, kamu baik-baik saja bukan?”

Dia membalas dengan sangat cepat. “tentu saja. Jika aku tidak baik-baik saja, lalu siapa yang akan menjaga mu nanti. ^_*”

Dia selalu begitu. Membuatku merasa nyaman.

Dan seterusnya dia mengirimkan foto-foto selca yang lain. Setiap kali dia tidak bisa datang menemui ku saat aku meminta ditemani atau setiap kali dia tidak sengaja membatalkan janji bertemu Karena suatu urusan. Dia selalu mengirimkan foto selcanya. Mungkin sebagai ucapan maaf. Tapi selama dia tetap memenuhi janjinya, itu sudah membuat ku tersenyum bahagia.

Suatu hari, ketika ia membatakan janji untuk makan siang bersama untuk merayakan aku berhasil melewati ujian semester. Hari itu dia tidak mengirimkan foto selca seperti biasanya. Selain itu nomornya juga tidak bias dihubungi.

Aku merasa kesal, namun entah mengapa aku juga merasa tidak tenang. Aku ingin tahu kabarnya. Aku ingin tahu dimana dia sekarang. Aku ingin tahu apa yang sedang ia lakukan. Apakah ia baik-baik saja?

Akhirnya aku putuskan untuk mencarinya. Tapi kemana aku harus mencarinya. Selama enam bulan ini aku mengenalnya, aku tidak tahu dimana ia tinggal dan aku tidak tahu siapa yang bisa dihubungi untuk mengetahui keadaannya. aku merasa takut sekarang.

Akhirnya aku putuskan untuk mencarinya ke tempat yang sering kita kunjungi. Aku pergi menuju Kedai Kopi yang sering kita datangi. Namun sebelum mendekati persimpangan menuju Kedai Kopi aku melihatnya duduk lemas di jalan. Wajahnya menunjukkan kesedihan. Dan ada air mata di pipinya. Ia menangis.

Ada apa dengannya? Mengapa ia tampak begitu sedih sampai meneteskan ai mata? Aku ingin bicara dengannya. Aku ingin menghiburnya seperti yang ia lakukan dulu. Tapi aku tidak punya keberanian. Aku begitu sakit melihatnya bersedih.

Satu minggu kemudian.

Aku sedang duduk di bangku tanaman dekat kampusku.

Saat kita bertemu dua hari yang lalu juga saat ini. Aku masih memikirkan kejadian ia menangis saat itu. Dari wajahnya pun masih tampak raut kesedihan meskipun ia mencoba untuk terlihat biasa saja.

Aku masih memikirkannya. “Apa yang sebenarnya terjadi pada mu Kim Taehyung?” Pikirku. Meskipun dia menghubungiku dan mengatakan dia ada urusan di luar kota. Aku tahu ia berbohong, tapi mengapa harus berbohong? Apa yang ia sembunyikan. Tapi bodohnya aku pun tak berani mengatakan apa-apa.

Tanpa aku sadari aku melamun begitu dalam dan menampakan rau wajah yang bingung dan murung.

“Yak, (your name). Jangan pernah lagi menunjukkan wajah murung dihadapanku. Kau tahu betapa aku selalu berusaha membuat mu tersenyum. Mengerti!” katanya sambal memanyunkan bibirnya tanda marah.

Akhirnya, ku beranikan untuk bicara, meskipun sedikit.

“aku memikirkan mu, Kim Taehyung. Kau terlihat sedih belakangan ini” ucapku.

“Hei. Itu tidak mungkin. Aku baik-baik saja.” Katanya meyakinkan.

“Tidak perlu mengkhawatirkan aku begitu. Aku baik-baik saja. Lihat! Kim Taehyung masih terlihat sangat tampan dan mempesona saat ini. Itu tandanya aku baik-baik saja. OK!” katanya lagi.

“Lagi pula, lihat tumpukan buku yang kamu bawa itu. Mereka meminta untuk diperhatikan. Dan bukankah kamu seharusnya lebih rajin belajar sekarang, (your name)-ah. Melihat nilai nilai ujian semestermu yang begitu pas-pasan, kamu harus lebih giat lagi untuk semester depan.” Katanya lagi panjang lebar mencermahi ku.

Mendengarnya, aku hanya bias mengangguk mengiyakan. Di saat seperti ini pun dia masih memikirkan ku. Memperhatikan ku. Meskipun wajahnya tidak bias menyembunyikan kesedihanya.

Kapan aku bisa membalas semua ketulusannya? Kapan aku bisa menjaganya seperti ia menjaga ku.

Belakangan ini karena au sering melamun dan begitu berat dan pusing memikirkan dia, aku jadi tidak bisa tidur dan makan dengan baik. Hingga akhirnya sekarang aku demam. Aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur ku. Ponsel ku berdering. Untung saja letaknya dekat dan terjangkau oleh tangan, sehingga aku bisa mengambilnya tanpa arus bergerak dari tempat tidur. Aku mengangkatnya. Seseorang diseberang sana tengah menggerutu dan terdengar sangat marah. Dia mudah sekali kesal pikirku.

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir, ini hanya demam” hanya itu yang bisa aku katakan.

-Author POV-

Sedangkan di lain tempat. Tanpa aku ketahui. Ada seseorang yang sangat mengkhawatirkan keadaanmu.

“Bagaimana mungkin aku tidak khawatir?” Kim Taehyung

-You (Your Name) POV-

Samar-samar aku mendengar suara bel berbunyi. Kepala ku terasa sakit. Namun aku terpaksa beranjak dari tempat tidurku dan membuka pintu. Seseorang di serberang pintu nemapkkan wajah yang sangat marah. But aku bisa merasakan rasa khawatirnya lebih besar.

“kamu tidak perlu dating kemari. Kamu juga tidak perlu khawatir berlebihan begitu. Lagipula aku bukan siapa-siapa.” Aku mengatakan itu dengan nada bicara yang lemah.

“Apa yang kau katakat, hmm? Ahh, aku yakin demam tinggi membuat kamu menjadi aneh. Ayo, lebih baik istirahat di dalam.” Katanya sambal memaphku ke dalam.

Dia mendudukan ku di Kasur.

“Aku serius Kim Taehyung. Aku bahkan bukan seseorang yang penting untuk mu. Mengapa kamu begitu perhatian?”

“Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan betapa penting dirimu, jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Cukup percayalah padauk.” Katanya sambil memegang pundak ku.

“bagaimana bisa aku percaya padamu, sedangkan kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku. Mengapa kamu Nampak begitu sedih sebelumnya? Mengapa kamu tidak pernah mengatakan pada ku apa yang kamu rasakan? Aku pun ingin menjadi seperti mu. Aku ingin menjadi orang yang bisa meminjamkan pundakku untuk mu bersandar. seperti dirimu Kim Taehyung. Seperti yang kamu lakukan padauk dulu.

Aku menundukkan kepalaku dan menangis. Akhirnya aku bisa mengatakan semuanya. Semua yang belakangan ini ada di pikiranku. Semua yang menyebabkan aku demam seperti sekarang. Aku ingin melihatnya tapi yang aku lakukan sekarang hanya menunduk dan menangis.

Dia mengangkat wajah ku.

“Lihat aku, dan dengarkan. Yang penting sekarang adalah kamu sehat dulu. Aku janji aku akan ceritakan semuanya, tapi besok. Jadi untuk sekarang kamu harus istirahat terlebih dahulu. Aku tidak ingin melihatmu sakit” Ucapnya menyakinkan.

“Janji?” kataku tak percaya

Dia mengangguk.

“Sudah makan?” katanya, aku menggelengkan kepalaku

“Sudah minum obat?” katanya lagi, aku menggelengkan kepalaku lagi.

Dia menggeretakan giginya tanda kesal.

“begini sikap orang yang tidak ingin diperhatikan. Cih, tunggu disini, aku akan buatkan bubut dan kamu harus minum obat”. Katanya lagi lalu pergi dari kamar. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Aku tahu ini terlihat terlalu mudah tapi benar-benar yakin pada saat ia mengatakn akan menceritakan semuanya. Seperti saat pertama dia datang padauk membawa sebuah harapan baru. Aku dengan mudahnya percaya padanya. Hal itu juga terjadi saat ini. Aku juga percaya padanya.

Tidak lama kemudian, dia membawakan aku semangkuk bubur dan obat penurun demand an air. Aku memakan bubur buatannya yang rasanya tidak terlalu enak. Tapi masih bisa untuk dimakan. Aku menyelesaikan makan ku dan meminum obat yang ia bawakan.

“sekarang, tidurlah.” Katanya sambal membantu ku tidur.

“lalu, kau?” kataku bingung

“aku juga akan tidur disini” katanya sambal ikut tertidur disampingku. Aku membelakanginya. Dia memelukku dari belakang dan mengatakan.

“jangan memikirikan apapun lagi. Tidurlah”

Esoknya, saat aku terbangun. Aku merasakan Taaehyung masih ada di belakang ku. Tidak benar-benar tidak pulang dan menjagaku semalaman.

-Author POV-

Taehyung masih memeluk mu dari belakang. Menyadari kamu terbangun, ia mengeratkan pelukannya. Dan meletakkan satu tangannya di dahimu.

“Demamnya sudah turun. Jadi, apa yang ingin kamu tahu sekarang?” kata Taehyung, ia berbicara sambal menutup matanya.

“Kita bisa bicara sambal duduk bukan?” kata mu.

“Hmm, no no. tetap seperti ini, jika kamu ingin mendapatkan yang kamu inginkan, tetap seperti ini.” Ucap Taehyung.

“Jadi, apa yang ingin kamu tahu?” tanya Taehyung

“Se-mua-nya” kata mu penuh penekanan.

“Tanyakan apapun. Aku akan menjawabnya.”  Ucap Taehyung yakin.

“Yakin? Kamu harus menjawab semuanya dengan jujur” ucap mu memastikan.

“hmm” balas Taehyung

“Namamu. Siapa namamu? Yang sebenarnya yang sesuai dengan kartu identias” tanya mu

“Namaku Kim Taehyung. Aku tidak mungkin berbohong tentang namaku sendiri.” Jawab Taehyung yakin.

“umur?” tanya mu

“Mungkin aku terlihat jauh lebih muda dari umurku, tapi kita seumuran. 21 tahun.” Jawab Taehyung.

“Keluraga mu? Siapa saja? Tinggal dima..

“aku tidak punya”. Ucapanmu terpotong oleh jawab Taehyung.

“Bagaimana bisa?” tanya mu penasaran.

“Mereka semua meninggal” jawab Taehyung dengan nada yang melemah.

Aku membalikan badan ku menghadapnya. Melihat matanya.

“Ini kah yang kau sembunyikan sebelumnya? Ini kah yang membuat mu begitu sedih?” kata mu merasa bersalah.

Kim Taehyung, dia hanya menjawab dengan “hm”.

“Apakah kamu akan baik-baik saja jika kita membicarakan tentang ini?” tanya mu ragu

“Entahlah. Tapi janji tetap harus ditepati bukan? Aku tetap akan menjawab semua pertanyaan mu.” Jawab Teahyung yakin. Dia jelas ingin membuatmu yakin padanya.

“Maafkan aku.” Kata mu menunduk.

“Tidak perlu meminta maaf. Lagi pula ini bukan salah mu”. Jawab Taehyung lagi.

Mendengarnya membuatmu semakin menyesal. Betapa kamu merasa tidak bisa memahami seseorang yang sedang berada di hadapan mu sekarang. Betapa kamu merasa begitu egois. Mendengarnya membuatmu mengatakan lagi kata itu. Maaf.

“Maafkan aku.” Kata mu lagi. Kali ini dengan sedikit terisak.

“Cukup. Aku tidak akan menjawab pertanyaan mu jika kau terus menerus minta maaf seperti itu.” Ucap Taehyung geram.

“oke” kamu mengiyakan, jelas kamu tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk bertanya semua hal padanya.

“jadi, apa pertanyaan lainnya?” tanya Taehyung.

“hmm, apa-kah ka-mu per-nah ber-pi-kir ka-mu me-nyu-ka-i-ku atau a-kan me-nyu-ka-i-ku?” tanya mu ragu. Wajah mu memerah, merasa malu, tapi juga menunggu jawabannya.

Taehyung menahan tawanya dan menjawab pertanyaan itu dengan nada yang terdengar begitu sombong dan begitu mempermainkan di telinga mu.

“Tidak pernah.”

“Huaaa, menyebalkan sekali.” Ucap mu.

Kamu bangun dari posisi tidur mu, lalu diikuti Taehyung yang juga ikut bangun dan duduk. Kamu memanyunkan bibir mu Karena kesal dengan jawabannya, dan juga kesal dengan dirimu sendiri, karena dengan bodohnya menanyakan hal seperti itu.

“Jangan menunjukkan wajah seperti itu, atau aku akan …” ucap Taehyung menggantung

“Akan apa?” balas mu menantang.

“Mencium mu” balas Taehyung dengan smirknya.

“Kamu tidak akan berani melakukan itu. Kamu bahkan tidak pernah berpikir untuk menyukai ku, mana mungkin bisa sembarangan begitu.” Ucap mu meledek.

“Aku memang tidak pernah berpikir untuk menyukai mu, karena aku …”

Ucapan Taehyung terpotong karena kau menyelaknya.

“Sudahlah Kim Taehyung, aku tidak serius. Lagi pula aku sudah membaik sekarang, dan kau bisa pulang” ucap mu sambal mendorong sedikit badannya.

“Kau yakin tidak ingin mendengarkan penjelasanku” kata Taehyung membujuk

“Tidak, tidak, tidak perlu.” Ucap mu takut-takut.

Perasaan mu tidak tenang, kamu takut mendengar sesuatu yang tidak ingin kamu dengar. Tapi kamu juga merasa taehyung tidak akan mengetakan hal seperti itu. Kamu juga merasa belum siap menerima ungkapan apapun dari Taehyung.

“Kalau begitu, aku akan langsung mengatakan langsung intinya.” Kata Taehyung bersih keras.

“Mengatakan apa?” tanya mu gugup.

“Perasaan ku yang sebenarnya”. Ucap Taehyung pasti.

“Tidak, tidak, tidak hari ini aku mohon.” Kamu memohon.

Meskipun perasaan baik yang kamu rasakan, tapi kamu tetap tidak ingin mendengarkan sebuah pernyataan cinta di kondisi seperti ini. Setelah bangun tidur dengan wajah yang sangat jelek. Kamu sangat malu.

“oke, kalua begitu, aku akan menurut. Tapi dengan satu syarat. Belikan aku secangkir kopi” ucap Taehyung sambil tersenyum dengan sangat manis.

“hmm, sudah sana pulang” ucap mu mengiyakan. Kamu menggerakan tanganmu mengisyaratkannya untuk pulang.

-You (Your Name) POV-

Waktu berlalu dengan kesibukan ku juga dengan kesibukan Taehyung. Aku baru tahu ternyata selama ini Taehyung bekerja dalam sebuah team marketing di sebuah perusahaan elektronik. Dia juga bekerja sambal menyelesaikan sekolahnya. Pantas saja ketika aku kesulitan memahami materi Manajemen dia bisa membantu ku yang saat ini juga sedang menyelesaikan sekolah ku di jurusan Agroindustri.

Aku jauh lebih baik sekarang. Hamparan salju yang dingin di luar sana mungkin akan membawa aku yang dulu dalam kedinginan yang mencekam. Namun aku yang sekarang, aku bisa melihat kelembutan salju. Aku bisa merasakan kebahagian setiap musim dingin yang banyak orang rasakan.

Yah benar, sekarang sudah masuk musim dingin. Aku disini sekarang di dalam Kedai Kopi yang dulu menjadi tempat pertama pertemuan ku dengan Taehyung. Kedai Kopi ini masih tetap sama. Masih menyimpan kenangan kita. Hari ini aku mengundangnya untuk membelikannya kopi seperti yang ia minta lebih dari sebulan yang lalu.

Di luar sana seseorang melambaikan tangannya padaku. Dan dengan segera masuk ke dalam kedai kopi. Dia, Kim Taehyung masuk ke dalam kedai kopi ini dan menyapaku dengan senyum eye smile nya.

Sesaat setelah ia duduk, seorang membawakan dua cangkir kopi panas. Sesuai seperti pesananku, kopinya harus dibawakan kekita temanku datang.

“Ini, hot coffee milik mu.” Kata ku.

Dia meminum kopi dengan sangat tenang dan terlihat sangat menikmati. Wajahnya terlihat sanagt lucu ketika merasakan nikmat dan hangatnya kopi yang sedang ia minum.

“Aku yakin aku meminum secangkir kopi hangat, tapi mengapa rasanya sangat menyejukan. Padahal di luar sangat dingin, dan aku membayangkan akan menikmati kopi yang hangat.” Katanya membuat ku bingung sampai aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Jangan bingung begitu. Kopi ini tetap terasa enak dan hangat. Hanya saja, ini menjadi terasanya menyejukkan karena aku meminumnya bersama mu. Kamu juga tampak begitu manis hari ini, mungkin itu yang menyebabkan kopi ini terasa sangat menyegarkan” katanya menggoda ku. Aku tidak mengerti maksud perkataannya, tapi aku merasa sangat senang mendengarnya.

“Apa yang akan kamu lakukan pada saat malam tahun baru?” aku mencoba membuka pembicaraan. Sungguh pertanyaan yang sangat asal, aku mendapatkan ide pertanyaan itu Karena sekarang sudah mendekati tahun baru.

“Aku tidak punya kegiatan special untuk dilakukan” jawabnya lurus.

 “Hmm, kalua begitu apakah kamu tidak keberatan menghabiskan malam tahun baru dan menghitung pergantian tahun bersama?” tanya ku dengan tiba-tiba. Entah dari mana pertanyaan semacam itu muncul.

“Itu tergantung pada kegiatan apa saja yang akan kita lakukan untuk menghabiskan waktu. Apa yang bisa kamu tawarkan?” katanya dengan terus menerus menggoda atau mungkin meledek.

“Hanya berbincang seperti terkahir kali” jawab ku yang sebenarnya tidak punya jawaban pasti.

“Aahh, tanya jawab seperti pagi itu. Tidak buruk. Oke, kalau begitu, aku setuju.” Jawabnya santai.

Aku tersenyum bahagia mendengarnya.

“Hmm, Tahun baru mungkin ada setiap tahun, tapi untuk ku tahun ini terasa sangat berharga. Jadi, mungkinkah jika kita bertukar hadiah?” tambah ku.

“Bukan ide yang buruk. Tunggu dan lihat saja nanti” balasnya.

Malam tahun baru

Aku dan Taehyung berjanji untuk bertemu satu jam sebelum malam pergantian tahun di depan kamarku yang kebetulan adalah rooftop.

Dia terlihat sangat mempesona dengan turtleneck yang ia kenakan. Dia terlihat sangat tampan mala mini. Apakah ia selalu setampan ini sebelumnya?

“Kita punya waktu satu jam sebelum tahun baru. Ayo mulai berbincang. Bagaimana aturan mainnya?” Katanya

“Satu orang punya kesempatan bertanya 5 pertanyaan, lalu bergantian, dan begitu seterusnya. Yang menjawab pertanyaan dilarang bertanya kembali sebelum gilirannya, bagimana?” Jawab ku

“Ok. Aku pertama, Karena kamu sudah melakukan sebelumnya”. Pintanya

“Silahkan” jawabku

“Apakah aku telihat tampan mala mini?” tanyanya usil

“yah, sepertinya begitu” jawabku malu

“Apakah itu membuat mu jatuh hati?” tanyanya lagi

“Kamu terlihat keren. Berbeda dari dari sebelumnya. That’s good” jawabku bingung. Jawaban yang aneh menurutku sendiri.

“Kamu tidak menjawab pertanyaanku (your name)-ah. Aku akan ulangi. Apakah aku yang tampan ini sudah membuat mu jatuh hati? Tanyanya semakin usil.

“Hm, bukan berarti aku tidak jatuh hati, tapi aku tidak tahu harus meng…” jawab ku dan terpotong oleh pertanyaanya yg lain.

“Ssstt, itu artinya kamu jatuh hati pada ku. Selain itu, kamu juga terlihat canti malam ini. Ah, mungkinkah kamu berdandan begitu cantik untuk ku? Jawab dan langsung giliranmu bertanya.” Ucapnya terdengan menggoda.

“Yah, ini kan malam tahun baru, setidaknya kita harus melakukan sesuatu yang berbeda bukan. Yak, Kim Taehyung, apakah kamu akan terus menerus bertanya hal tidak penting seperti itu, ckck?” ucapku

“Ho, pertanyaa pertamamu. Dan jawaban ku adalah iya”. Jawabnya.

“Yaaak, Kim Taehyung, kau gila?” ucapku

“sepertinya memang aku sudah gila, karena mu. Pertanyaan kedua mu. Benar-benar tidak produktif.” Jawabnya usil.

“Oke, aku akan lebih serius sekarang. Bisakah kita bicara tentang keluarga mu?” tanya ku lantang. Sebenarnya aku tidak enak hati menanyakan tentang masalah ini, tapi aku benar-benar ingin tahu.

“Tentu, silahkan saja” jawabnya tenang.

“Aku tidak ingin membuat mu sedih dengan pertanyaanku tapi aku hanya ingin tahu. Bagaimana keluarga mu bisa ….” Pertanyaanku terpotong oleh jawabannya yang spontan.

“Karena aku tidak bisa menjaga mereka dengan baik” jawabnya sendu

“Aku piker kau merusak suasana menyenangkan kita mala mini. Maaf” ucap ku merasa bersalah.

“Tidak. Tidak perlu minta maaf. Dan kamu kehilangan kesempatan terakhir bertanya. Giliran ku. Apa yang membuatmu begitu sedih ketika hari pertama kita bertemu?” tanya nya

“Ahh, saat itu seseorang yang sangat penting dalam hidupku pergi meninggalkan aku” ucap ku berusaha tenang.

“Keluargamu?” tanyanya lagi

“Bukan” jawabku

“Apakah mungkin, kekasih?” tanya Taehyung penasaran

“Bukan” jawab ku lagi.

“Teman perempuan?” tanyanya terus

“Bukan” jawab ku.

“Lalu siapa?” tanya nya mulai kesal.

“Hanya seorang teman baik, seorang teman yang sangat baik, teman kecil ku, satu-satunya yang aku kenal.” jawab ku lirih

“Lalu siapa? Namanya? Laki-laki atau perempuan?” tanyanya menuntut

“Yak, giliran mu sudah habis. Tapi sudah bertanya tiga pertanyaa sekaligus. Ok, kita simpan itu sampai giliranmu tiba.” Ucap ku.

“Tidak. Jangan. Jawab sekarang. Sebagai gantinya kamu bisa pakai semua giliranku untuk mu” jawabnya pasti.

“Serius? Tidak akan menyesal?” tanya ku jahil.

“Hmmm.” Jawabnya singkat.

“Okay, good. Aku akan menjawabnya. Dia adalah seorang laki-laki. Dia adalah satu-satunya yang aku punya di dunia ini. Ketika aku kecil, aku tidak tahu siapa orang tua ku. Aku tinggal di sebuah panti asuhan. Saat itu dialah satu-satunya yang selalu memperhatikanku, menjagaku dengan baik. Kita hidup bahagia selama ini sampai akhir tahun lalu dia diponis oleh dokter menderita kanker paru-paru. Ia tidak bisa bertahan dan pergi meninggalkan aku sendiri. Aku benar-benar tidak tahu akan hidup seperti apa tanpanya. Hari itu saat kamu memberikan aku ice coffee, hari itu hari ulang tahunnya. Tepat tiga hari setelah ia dimakamkan.” Jawabku panjang dan rinci.

“Apakah kamu menyukainya?” tanya Taehyung lagi

“Bukankah kamu sudah tidak punya giliran untuk bertanya. Jadi jangan bertanya Kim Taehyung-ssi.” Jawabku

“Huaa, Ok. Kalau begitu apa pertanyaanmu, ayo cepat.” Ucapnya dengan nada kesal.

“Apakah kamu cemburu dengan Jihoon oppa?” tanya ku

“Ah, Namanya Jihoon. Yah, aku cemburu, lalu kenapa?” jawabnya. Dia terlihat sangat lucu ketika kesal.

Aku memanyunkan bibirku mendengar jawabannya. Sejujurnya aku tersenyum dalam hatiku mendengar jawabannya.

“aku sudah menjawab semua pertanyaanmu. Dan satu lagi, kamu tidak perlu cemburu dengan Jihoon oppa, Karena dia sudah seperti kakak, ayah bahkan ibu untukku. Waliku. Huaa. Akhirny semua giliran menjadi milikku. Ok. Pertanyaanku, kapan hari ulang tahun mu?” tanyaku setelah menjelaskan tentang Jihoon oppa.

“Kemarin.” Jawabnya ringan.

“Yaak, kenapa kau tidak memberi tahuku?” tanya ku kesal

“Aku sedang memberi tahumu sekarang” jawabnya lagi.

“Aish, Kim Taehyung, you are soso. Lalu apa hadiah ulang tahun yang kau inginkan?” tanya ku lagi. Dia benar-benar menyebalkan. Bagaimana mungkin dia membiarkan aku melewatkan ulang tahunnya, padahal kita selalu bertemu.

“Kopi.” Jawabnya pasti.

“ckckck. Ok. Pertanyaan selanjutnya. Jika kamu punya pacar nanti, panggilan seperti apa yang kau inginkan?” tanya ku penasaran

“Prince” jawabnya

“Huh? Berlebihan sekali.” Ucapku sedikit pelan.

“Apa kau bilang?” tanyanya

“Tidak ada.” Jawabku

“Kamu harus mempersiapkannya dengan baik. Bukankah kamu bertanya seperti itu untuk mempersiapkan diri.” Godanya

Aku memukul lengannya kecil. Kita terus berbincang seperti itu sampai 10 menit sebelum hitung mundur malam pergantian tahun. Isi perbincangan kita mungkin tidak penting tapi aku rasa aku lebih mengenalnya sekarang.

“Aku pikir kita harus berhenti berbincang, dan mulai mepersiapkan untuk hitung mundur. Untuk itu, aku berbaik hati memberikanku kesempat terkahir untuk bertanya?” ucapku.

“OMO. Baik sekali. Aku akan bertanya setelah kau bertanya.” Ucapnya

“Ok, pertanyaaku, mengenai perasaanmu, kapan kau akan mengatakannya?” tanyaku ragu.

“Entahlah, aku belum tau. Dulu saat aku ingin mengatakannya seseorang menahanku, jadi sebaiknya aku pikir-pikir lagi.” Jawabnya. Dan jawabannya itu membuatku kesal.

“Oke giliranmu?” ucapku kesal sambal memanyukan bibirku.

“Apakah kamu akan terus menerus memanyunkan bibir seperti itu, huh?” tanyanya

“Itu pertanyaan mu? Sungguh pertanyaan yang tidak penting. Jika iya, lalu kenapa?” jawab ku membalas pertanyaanya dengan kejahilan seperti yang dia lakukan sebelumnya,

“Kamu tidak ingat apa yang aku katakana sebelumnya?” tanyanya

“Apa?” tanyaku bingung

Tiba-tiba dia mencium bibirku kilat. Aku sangat kaget. Sangat sangat kaget sampai tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu harus berkata apa.

“Aku akan menciummu setiap kali kau memanyunkan bibir seperti itu. Ingat itu.” Ucapnya pasti.

“Maksudnya?” Tanyaku polos dan tidak mengerti. Mungkin itu hukuman darinya tapi mengapa harus mencium. Bukankah kita, bukan siapa-siapa.

“Aku mungkin bukan Jihoon oppa mu yang selama ini selalu menjagamu. Dia pasti pria yang sangat baik Karena mampu menjagamu selama ini. Aku mungkin bukan pria baik seperti dia tapi aku akan menjagamu, memperhatikanmu. Aku akan menjadikanmu orang yang sangat penting dan berharga di hidup ku. Maukah kau mempercayaiku?”

Apa yang Taehyung katakana barusan seperti menghipnotis ku. Aku tidak bisa memastikan kata-katanya benar atau tidak. Tapi akuu benar-benar ingin mempercayainya. Atau aku memang sudah mempercayainya sejak lama. Sejak kita pertama kali bertemu. Aku tidak bisa mengatakan apapun. Dan mengiyakan kata-katanya dengan sebuah anggukan.

“Hm, oke, klo begitu haruskah kita bertukar hadiah sekarang.” Katanya, aku mengangguk.

Dia memberikan sebuah buket bunga.

“Bunga yang cantik. Apa arti bunga ini?” tanyaku

“Tidak punya arti khusus, hanya saja ini terlihat sangat cantic dan indah.” Jawabnya datar.

“You are so thoughtless” ucaku kesal.

“Lalu, mana hadiahku?” tagihnya

“Tunggu sebentar.” Ucapku, lalu masuk ke kamar dan kembali dengan membawa dua cangkir kopi hangat.

“You are thoughtless than me” ucapnya.

“Setidaknya aku, punya alasan untuk hadihku” balas ku

“Apa alasannya?” tanyanya lagi

“Kopi ini diberi nama Kopi Luwak. Salah satu kopi termahal di dunia. Selain harganya yg menjulang, kopi ini juga punya banyak kelebihan, apalagi untuk kesehatan. Karena kamu sangat menyukai kopi jadi aku berpikir untuk membelikan kopi ini untuk mu sebagai hadiah. Aku bergarap jika kamu meminum kopi ini kamu bisa merasakan hangatnya perasaanku yang ingin memperhatikanmu, menjagamu. Dan satu lagi, kopi ini juga sebagi hadiah ulang tahun mu yang terlewat. Kopi ini terlalu mahal untuk aku beli dua kali. Jadi terima saja.” Ucapku panjang lebar.

“Ya, terima kasih. Aku bisa merasakan semua ketulusanmu. Aku aku meminumnya dengan senang hati.” Ucapnya sambal tersenyum.

-Waktunya untuk hitung mundur-   

5 – 4 – 3 – 2 – 1

“Happy New Year” ucap kita bersamaan

“Mulai saat ini 1 Januari 2017, (your name) adalah milikku.” Ucap Taehyung sambal berteriak.

“Aku mencintaimu” ucapnya lagi, kali ini dengan berbisik ditelingaku.

Sungguh malam yang sangat indah.

Dia yang selalu ada untukku

Dia yang mencintaiku

Dia yang aku cintai

Dia adalah alasan secangkir ice kopi menjadi sangat hangat hangat.

Dia adalah dirimu.

MY PRINCE KIM TAE HYUNG

-END-

Sherry’s Note

“Fanfic ini masih jauh dari kata bagus, karena ini cerita pertama yang aku buat. Ini juga adalah cerita yang khusus dibuat sebagai hadiah ulang tahun BTS V 30 Desember 2016 lalu. Semoga bisa menjadi pengalaman menulis yang menyenangkan” -Sherry-

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] A Cup of Coffee – (Oneshot)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s