[BTS FF Freelance] Vanilla Latte – Drabble

Vanilla Latte

by dindaward

BTS members with some OCs
genres romance, Friendship, comedy | length drabble I rating PG-15 |

“Manisnya cinta tak semanis aroma vanilla”

****

Pagi ini angin berhembus dengan sangat cepat membuat seorang lelaki yang sangat tampan kembali merapatkan coatnya, hari ini sudah jam 10 tetapi udara musim dingin hari ini entah mengapa sangatlah dingin.Ia menghampiri sebuah kedai kopi untuk membeli satu cup kopi barangkali, itu akan membantunya untuk menghangatkan badan.

Satu cup vanilla latte panas sudah ada di tangannya, tapi belum juga menghangatkan tubuhnya. Hari ini adalah hari yang penting baginya, ia akan menjalani sidang skripsi dan ia berharap akan mendapatkan keberuntungan.

Tiba-tiba netranya menangkap seorang gadis yang berjalan kearahnya dengan tatapan kosong dan menabrak siapapun yang berjalan berlawanan arah dengannya. Ia mengernyitkan dahinya sepertinya ia mengenal orang itu.

“ sunbae, Haeri sunbae” pekik pria tampan itu. Gadis dengan tatapan kosong itu pun tersadar ketika ada seseorang yang memanggilnya. Ia lalu tersenyum pada pria tampan.

“ Jungkook-aah,” balas gadis bernama Haeri.

“ kau pasti akan berangkat bekerja kan sunbae?” Haeri mengangguk. Jungkook menarik tangan Haeri lalu menyerahkan satu cup vanilla latte yang ia beli tadi.

“ aku baru saja berharap keberuntungan dan bertemu denganmu adalah awal dari keberuntunganku sunbae, semoga harimu menyenangkan. Saranghae” Jungkook kemudian berlari meninggalkan Haeri yang memandangnya tak mengerti.

***

“ kau ingin pesan apa, Hyunji-yaa?” tanya seorang pria pada wanita dihadapannya. Mereka ada disebuah kedai kopi sekarang. Wanita yang dipanggil Hyunji itu pun terlihat sedang berpikir.

“ karena ini adalah hari pertama musim semi dan aku ingin sesuatu yang manis Hoseok-yaa.” Jawab Hyunji pada pria di hadapannya yang ternyata bernama Hoseok. Kali ini Hoseok yang terlihat berpikir.

“bagaimana kalau Vanilla Latte?” Hyunji mengangguk, lalu Hoseok pergi memesan Vanilla Latte. Tak lama ia kembali dengan nampan berisi dua cangkir vanilla latte. Hyunji terlihat bersemangat  sekali.

“kau tahu Hoseok-yaa, entah kenapa aku sangat menyukai vanilla latte.” Ucapnya sembari menyeruput cangkirnya. Hoseok tersenyum.

“ Kau menyukai vanilla latte atau menyukai aku?” tanya Hoseok dan seketika Hyunji tersedak.

“ kau menyukaiku kan, Hyunji-yaa?”

***

“ dengarkan aku Nara-yaa, aku tak mungkin menghianatimu.” Ucap seorang lelaki pada seorang wanita dihadapannya. Wanita itu terlihat mencoba menahan tangis dan amarahnya.

“apa buktinya kurang Jimin-aah?” tanya Nara parau.

“ itu semua salah paham Nara-yaa, kumohon percaya padaku.” Pinta Jimin sembari menatap Nara yang sudah dikuasai amarah. Nara mengalihkan pandangannya dari Jimin. Ia muak.

“ berapa kali sudah aku percaya padamu hm? Tapi selalu berakhir seperti ini. Aku lelah Jimin-aah.” Air mata itu lolos juga. Nara sudah tak mampu menahannya. “ kau selalu menghianatiku dengan cara yang sama, bahkan lebih menyakitkan.”

“ Nara-yaa, aku mohon.” Jimin mencoba meraih tangan Nara tapi dengan cepat ditepis dan menyenggol sebuah cangkir di atas meja yang memisahkan mereka berdua. Cangkir itu pecah menjadi dua.

Nara bangkit “Jimin-aah kau selalu tahu aku mencintaimu, tapi sama seperti cangkir itu hatiku tak mungkin bisa pulih kembali,” lalu ia pun pergi meninggalkan Jimin, secangkir vanilla latte, dan serpihan cangkir.

***

Dentuman bola basket memenuhi pendengaran seorang wanita yang tengah membaca buku dipinggir sebuah lapangan basket mini. Wanita itu sebenarnya jengah tapi entah kenapa menunggu seseorang  sembari membaca buku itu menyenangkan.

“Shinri  dengarkan aku tolong belikan kopi di cafe ujung jalan sana ya, tolong!” teriak seorang lelaki yang tengah mencoba untuk memasukan bola kedalam ring. Wanita yang dipanggil Shinri, wanita yang tengah membaca buku itu pun menatap marah lelaki itu, hanya ada lelaki itu dilapangan basket.

“ dimana perasaanmu sayang? Kau tega menyuruhku membeli itu kesana sendrian?” tanya Shinri.

“lalu apa harus aku? Kau rela kekasih tampanmu ini menjadi pusat perhatian dan dan akhirnya mereka menyekapku, kau rela sayang?” Shinri meringis sebenarnya bukan begitu ceritanya kekasihnya ini hanya melebih-lebihkan.

Akhirnya Shinri menyerah ia yang harus mengalah jika tak ingin berdebat dengan kekasihnya itu. “hey, Min Yoongi kau ingin kubelikan apa?”

Yoongi tersenyum. Lebar sekali dan ingin rasanya Shinri merobek mulut kekasihnya saat itu juga. “seperti biasa sayang,” teriaknya disusul dentuman bola basket. Shinri mengangguk dan berjalan pergi menuju cafe yang dimaksud oleh Yoongi.

Tigapuluh menit sudah Yoongi menunggu kekasihnya itu, hari semakin sore dan tapi Shinri belum juga kembali, ditambah awan mendung yang mulai menghiasi suasana sore itu dan kekhawatiran Yoongi menjadi bertambah parah.

Dimana gadisnya itu berulangkali ia mengirim pesan namun tak dibalas. Suasana sore itu bertambah indah ketika dengan lembut rintik hujan menghujam tanah dan menghasilkan suara yang indah dari lapangan bola basket.

Terhitung tigapuluh lima menit Yoongi menunggu, dan itu mengganggunya jujur saja. Ia bertahan dipinggir lapangan basket, beruntung lapangan ini memilki kanopi.

“ maafkan aku Yoongi-yaa, kau harus menunggu lama.” Ucap Shinri yang tiba-tiba sudah datang dengan payung kuning yang sepertinya tidak ia bawa tadi. Yoongi menatap Shinri lalu memeluknya.

“ kau membuatku khawatir sayang maafkan aku seharusnya aku tak menyuruhmu. Tapi apa kau membelikanku kopi yang biasanya sayang?” tanya Yoongi. Entah Shinri harus berkata apa tapi jujur saja tadi ia cukup senang diawal Yoongi yang mengkhawatirkannya tapi seharusnya Shinri memahami bahwa otak kekasihnya itu terkadang eror.

Shinri melepas pelukan Yoongi “tentu saja, vanilla late kan?” Shinri mengangkat tas kotak berisi dua cup vanila late dan seketika Yoongi tersenyum sumringah.

“kau tahu apa yang aku suka dari vanila latte yang kau bawa? Cintamu Shinri-aah”

***

Kim Tae Hyung begitulah tulisan di nametag blazer lelaki yang duduk di kursi cafe dekat jendela, yang terlihat gusar atau gugup atau panik atau apalah. Terlalu tersirat diwajahnya. Bunyi bel pintu cafe menambah rasa gusarnya.

Terlihat seorang siswi sekolah menengah memasuki cafe dan berjalan menuju Kim Taehyung, setelah beberapa langkah lagi ia mengeluarkan sebuah foto dan mencocokannya dengan wajah Taehyung.

“ah jadi kau orangnya” pekik siswi itu lalu duduk dihadapan Taehyung tanpa dipersilahkan. Jujur saja sekarang ini Taehyung gugup, dihadapannya ada seorang gadis cantik dengan rambut sepunggung berwarna hitam yang kontras sekali dengan kulitnya yang putih.

“Tuan Kim kau hanya akan menatapku saja? Kau sudah tahu namaku belum?” tanya siswi cantik itu mengagetkan Taehyung.

“ ma.. maafkan aku, aku Kim Taehyung. Ibuku bilang kau dari keluarga Choi benar begitu kan?” tanya Taehyung.

Gadis itu mengangguk membenarkan. “jadi kau belum tahu namaku ya? Oke My name is Irene Choi.  Apa ibumu sudah bilang kalau aku ini baru saja pindah dari Australia Taehyung-ssi?” Taehyung menggeleng.

“ ibuku belum bilang, tapi maaf Irene-ssi sebaiknya kau panggil aku V saja.” Ucap Taehyung.

Irene memiringkan kepalanya sedikit. “ Tunggu apa tadi V ? apa itu ah biarkan aku menebaknya. Valentine benarkan?” taehyung tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

Irene mencoba berpikir lagi, Taehyung menatapnya sambil tersenyum. Gadis ini menarik juga begitu yang ia pikirkan. “Vietnam, kau lahir di Vietnam pada hari Valentine. Aku benar kan?” ucap Irene bangga. Taehyung terkekeh dan menggeleng.

“Sudahlah tak usah dipikirkan, aku tadi memesan dua cup vanila latte. Kau suka tidak?” tanya Taehyung. Irene mengangguk.

“aku suka Taehyung-ssi. Terimakasih. Ah apakah V itu artinya Vanilla Latte?” tanya Irene setelah meminum vanilla lattenya.

“tentu saja bukan Irene. Aku akan memberitahukan kapan-kapan saja.” Irene menatap Tehyung.

“Taehyung-ssi apa kau menyukai Vanilla Latte?” tanya Irene dan dijawab dengan anggukan oleh Taehyung.

“ Baiklah V atau Taehyung-ssi aku juga menyukaimu dan aku akan menerima perjodohan ini.”

***

Bertemu dengan seseorang yang baru pertama kali dikenal adalah hal paling mendebarkan bagi seorang lelaki jenius seperti Kim Nam Joon. Hari ini ia berencana bertemu dengan seorang wanita yang ia kenal lewat biro kencan online.

Vanilla Latte. Begitulah nama username dari wanita yang akan ia temui. Menurut foto profil yang ia lihat dan informasi yang ia minta dari Vanilla Latte, gadis ini cukup cantik dengan warna rambut selembut vanilla latte.

Cukup lama Namjoon menunggu, sebenarnya ia juga tak yakin apa gadis itu akan muncul atau tidak. Berulang kali ia mengecek ponselnya masih dengan harapan gadis vanilla itu akan memberi sedikit kabar untuk membuatnya tenang.

Tiga puluh menit telah Namjoon lewati demi menunggu gadis yang membuatnya berdebar itu. Namjoon memutuskan untuk menelpon gadis itu perihal janji mereka. Namun–

nomor yang anda tuju tidak terdaftar”

semenjak itu ia berjanji tak akan percaya pada biro kencan online.

***

Ada banyak sekali cara yang bisa digunakan untuk menikmati espresso, termasuk salah satu cara yang paling klasik yang bisa kamu gunakan adalah dengan menjadikannya vanilla latte.

Hanya dengan berbahan espresso, susu krim, dan menambahkan sedikit vanilla. Bisa menghadirkan sejenak sebuah rasa ringan yang akan membuat hatimu merasa lebih tenang dan rileks. Rasa dari vanilla yang tetap konsisten akan terus menjadi dirinya sendiri yang dipadu dengan kelembutan yang dimiliki susu krim dirasa sangat cocok untuk menjadi sebuah perpaduan.

Kim Seokjin seorang barista dari salah satu caffe terkenal di kawasan Gangnam. Ia baru saja memaknai arti dari secangkir vanilla latte. Selama bertahun-tahun ia menjadi barista hanya Vanilla Latte lah yang paling sulit untuk dimaknai.

Namun sore ini ketika hujan pertama dimusim semi mengguyur ia baru mengerti bagaimana vanilla mengajarkan kita untuk menjadi diri sendiri, aromanya yang khas dan menenangkan jiwa itulah yang mengajarkan kita, untuk tidak terpengaruh dengan perubahan yang terjadi dengan kehidupan hanya perlu konsisten dengan apa yang dimiliki.

Jin seperti merasa deja vu, ia ingat setahun yang lalu ditempat yang sama seseorang memandangnya lembut, selembut aroma vanilla. Jin tahu ia jatuh cinta dan seseorang itupun membalasnya. ‘tapi manisnya cinta tak semanis aroma vanilla’ begitu pikirnya ketika memandang bulir air hujan yang menerpa dinding kaca.

Ia patah hati barangkali. Namun suara bel pintu caffe itu kembali membawa Jin pada pandangan lembut yang pernah ia rasakan dulu. Seseorang itu kembali untuk dirinya.

“ Kim Seokjin-aah bagaimana kabarmu?”

***END***

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s