[BTS FF Freelance] Fantasy of A Liar – (Chapter 9)

Fantasy of A Liar (Chapter 9)

by zerronozelos

Main Cast :

| Han Hyun Woo (OC) | Min Yoon Gi |

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst (not sure) etc.

SchoolLife!AU

Rate : T

Length : Chaptered

A/N : Ide cerita murni dari imajinasi liar saya. Kalaupun ada kesamaan, saya jamin tidak akan seluruhnya karena ide cerita datang darimana dan siapa saja—atau kita berjodoh 😀 .

Happy Reading and leave a comment please ><

.

.

[ .. Kau tahu apa fantasi terbesar seorang pembohong? .. ]

.

.

Author POV

Hye Ri berlari-lari menghampiri Hyun Woo yang sedang meneguk susu.

YA! Daebak, bagimana kencan kalian kemarin?”

Satu tepukan keras mengenai punggung Hyun Woo. Dalam sekejap ia terbatuk-batuk parah hingga mengeluarkan ingus. Oh, tidak, itu bukan ingus tapi susu yang barusan ia minum keluar dari hidungnya. Hye Ri sendiri tidak mengira kalau tepukannya bisa sekeras itu.

Hyun Woo melempar tatapan pembunuh.

“Ma-maafkan aku. Aku tidak tahu kalau ingusmu bakal jadi susu.”

“Ini susu tahu! Bukan lagi ingus. Kau gila.”

“Tisu, ini tisu.”

Cepat-cepat Hye Ri mengeluarkan tisu sebelum kena marah. Bagaimanapun juga dia tidak bisa menahan rasa penasarannya soal kejadian kemarin. Kalau memang mereka berdua sudah resmi berpacaran, maka Hye Ri harus memberi hadiah yang benar-benar layak. Semua orang tahu kalau belum ada yang bisa mengalahkan ego dari seorang Min Yoon Gi. Siswi tercantik pun dianggap angin lalu.

Mungkin keajaiban datang menghampiri sahabatnya yang bahkan tidak sebanding dengan siswi lain—soal bentuk tubuh ideal.

“Jadi bagaimana? Kau sudah memanggilnya Oppa?” Hye Ri menarik kursi, dia tersenyum lebar.

Oppa? Dia bukan kakakku, kenapa aku harus memanggilnya Oppa.” Hyun Woo meremas tisu.

“Bukankah kalian sudah pacaran?”

“Ha? Kau dengar gosip seperti itu dari mana? Dari siapa?”

“Aku tahu sendiri, kalian kemarin pulang bersama, ‘kan.”

“Ya, memang benar. Tapi pulang bersama itu ya .. hanya pulang bersama.”

Ada suara petir imajiner di telinga Hye Ri. Hanya pulang bersama? Mereka benar-benar pulang bersama tapi tidak melakukan apa-apa? Yang benar saja batin Hye Ri. Tidak ada pegangan tangan dan canda tawa, jadi mereka berdua benar-benar hanya pulang bersama. Hye Ri heran kenapa Hyun Woo dan Yoon Gi masih betah memelihara kata pertemanan di antara mereka. Tidak ada yang salah memang. Tapi Hye Ri hanya ingin melihat kemajuan dalam hubungan ini.

“Tidakkah kau merasa lebih beruntung dibanding anak perempuan lain? Kenapa kau malah menyia-nyiakan kesempatan bagus?” Hye Ri sedikit berbisik.

“Kesempatan bagus apa?”

Tiba-tiba Yoon Gi menyahut. Hyun Woo mengernyitkan dahi, sejak kapan orang ini sampai kelas?  Hye Ri memundurkan kursinya pelan-pelan, menoba meminimalisir suara gesekan antara kaki kursi dengan lantai. Tampaknya telinga Yoon Gi punya kekuatan super saat ada orang yang membicarakan pemiliknya.

“Han Hyun Woo, sepulang sekolah ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Yoon Gi duduk di kursinya sendiri.

“Oke.”

“Kau sama sekali tidak penasaran?”

“Kau sendiri yang bilang ingin membicarakannya sepulang sekolah nanti.”

“Tapi kau tidak ingin tahu mengapa? Kenapa aku ingin membicarakan sesuatu denganmu? Semacam itu.”

“Sepulang sekolah nanti juga akan terjawab.”

 Hyun Woo mengeluarkan kotak pensil lalu mengambil sebatang pensil. Dia bersiap menulis, ujung tajam pensil menempel pada kertas. Tiba-tiba pensil itu diambil seenaknya, Hyun Woo menghela napas. Min Yoon Gi mau cari gara-gara apa lagi? Dia mengambil pensil lainnya dari dalam kotak pensil. Lagi-lagi direbut. Tak mau kalah, Hyun Woo mengambil bolpen. Dan direbut lagi, bersamaan dengan kotak pensilnya.

“Aish, apa-apaan kau ini?!” Hyun Woo menggeram.

“Kau benar-benar tidak penasaran?!” Yoon Gi tampak sedikit kesal.

“Kita akan membicarakannya sepulang sekolah nanti, kenapa aku harus penasaran sekarang??!”

“Pasti ada yang salah denganmu. Saat perempuan diberitahu seperti itu oleh laki-laki biasanya mereka akan memasang wajah terkejut lalu salah tingkah dan mulai bertanya ‘kenapa?’ Bukankah harusnya seperti itu?!”

Tanpa sadar Yoon Gi memperagakan segala yang ia sebutkan. Mulai ekspresi wajah terkejut, kemudian ekspresi salah tingkah dengan cara menautkan rambut di belakang telinga. Sampai memasang wajah ‘kenapa?’ yang sangat sempurna—untuk ukuran perempuan. Mulut Hyun Woo menganga, tidak bisa berkata apa-apa. Pasti Min Yoon Gi keseringan nonton drama batinnya khawatir.

Begini, Hyun Woo bukan tipe-tipe perempuan yang suka tersipu malu karena diajak bicara laki-laki. Dia sudah memutuskan untuk tersipu malu hanya kepada orang ia sukai. Dan semenjak Min Yoon Gi mempermalukan perasaannya, Hyun Woo sedikit demi sedikit mulai kebal terhadap rayuan siapapun. Dia tidak bolah terbawa perasaan.

Tidak boleh.

“Biar kuberi tahu, perempuan yang seperti itu bukan aku. Mengerti.”

“Lalu kau perempuan yang seperti apa?”

“Yang menyatakan perasaannya secara terang-terangan.”

“Terkadang aku merasa kau lebih jantan daripada laki-laki.”

“J-jantan? Apa maksudmu?”

“B-bukan begitu maksudku. Aku merasa kalau kau lebih gagah daripada laki-laki.”

“Terserah kau saja mau menyebut apa. Kembalikan kotak pensilku, sekarang!”

“Ini. Lagipula aku tidak butuh.”

Perasaannya saja atau Yoon Gi ngambek? Hyun Woo mengerutkan dahi saat melihat Yoon Gi pergi meninggalkan kelas—dengan langkah terhentak-hentak? Sungguh mirip anak kecil. Hye Ri yang juga menyaksikan hal menakjubkan itu pun cuma bisa menganga di tempat. Dunia mana yang kutempati? Apakah aku sedang berada di alam mimpi? Wahai siapapun tolong bangunkan aku dari mimpi aneh ini jeritan hati Hye Ri dirasa oleh Hyun Woo. Dia mencubit lengan Hye Ri.

“Ah!!”

“Ini bukan mimpi. Kau baru saja menyaksikan Min Yoon Gi versi anak lima tahun.”

“Kenapa dia jadi seperti itu?”

“Aku sendiri juga tidak mengerti.”

“Sejak kapan dia seperti itu?”

“Sepertinya setelah aku diculik dia jadi aneh.”

“Kupikir saat kau diculik dia takut tak akan bisa melihatmu lagi.”

“Hah. Jangan bercanda. Mana mungkin dia seperti itu.”

Bolehkah Hyun Woo mengabaikan degupan jantungnya yang mulai tak beraturan? Hye Ri menarik kursi mendekat.

“Mungkin kau tidak akan percaya, tapi Min Yoon Gi bersikukuh untuk mencarimu sendirian ketika kau diculik. Dia benar-benar ingin mencarimu sendiri, menemukanmu dengan tangannya sendiri.”

“…”

“Entah berapa kali ia memutari sekolah untuk menemukanmu.”

“…”

“Aku jadi penasaran mengapa ia terus menahan segalanya sampai sekarang.”

“Menahan segalanya?”

“Menahan mengatakan rasa suka, apa lagi.”

“Sepertinya dia tak punya niatan semacam itu.”

“Kau sudah memastikannya? Tidakkah kau melihat bagaimana ia menahan perasaanya?”

“Aku benar-benar tidak mengerti soal dia.”

Tidak ada yang tahu bagaimana sosok sebenarnya dari seorang Min Yoon Gi. Mereka tak akan dibiarkan menembus dinding tak kasat mata yang sudah dibangun olehnya. Bisa dibilang daerah privasi Yoon Gi adalah daerah terlarang untuk siapapun. Hye Ri yang menganggap kalau Hyun Woo bisa mendekati Yoon Gi pun tampaknya belum tahu apa-apa. Sejauh ini orang yang paling dianggap manusia oleh Yoon Gi adalah Han Hyun Woo, yang lain bagai angin lalu. Tidak penting untuk keberlangsungan hidup.

Jangan-jangan Hyun Woo sendiri belum mengetahui  fakta bahwa sebenarnya dia sudah melangkah lebih dari apa yang orang lain bisa. Hye Ri mencoba menyadarkan betapa hebat Hyun Woo karena bisa melangkah sejauh ini. Dan dia berharap sahabatnya bisa mendapat akhir yang bahagia. Bukankah mereka berdua sudah saling menyukai? Apa lagi yang mereka tunggu.

“Aku tidak tahu tanggal lahirnya, tidak tahu dimana rumahnya, tidak tahu siapa orang tuanya. Aku .. sama sekali tidak tahu apa-apa soal dia, Hye Ri.” Hyun Woo mencorat-coret sampul belakang buku.

“Tidak. Kau bukan tidak tahu apa-apa, kau belum tahu apa-apa.” Hye Ri mencoba membesarkan hati sahabatnya.

“Aku suka dia, tapi aku tidak tahu apapun soal Yoon Gi. Bisakah ini disebut rasa suka?”

“Kau tahu, rasa suka tidak melihat siapa. Rasa suka datang tiba-tiba, meski kau tidak tahu apapun soal orang yang kau sukai. Bukankah lebih baik begitu, itu berarti tidak hanya satu faktor yang membuatmu menyukai dia. Hyun Woo, kau menyukai semua tentang Yoon Gi.”

“Aish, kau memang pandai berkata-kata.”

Tawa lolos dari bibir Hyun Woo. Hye Ri sendiri cemberut karena dikatai pandai berkata-kata, seolah-olah dia seseorang yang gemar mempermainkan orang lain. Jika Hyun Woo kesulitan maka Hye Ri akan setia berada di sisinya dan menerjemahkan rasa suka Hyun Woo. Hye Ri berharap dia tidak salah menerjemahkan rasa sukanya terhadap Min Yoon Gi.

“Mau kutraktir es krim sepulang sekolah nanti?” Tawar Hyun Woo.

“Kau tidak ingat? Kau ada janji dengan Yoon Gi.” Hye Ri memukul kepalanya.

“Ah. Aku baru ingat.”

“Kalian benar-benar harus mulai pacaran.”

“Tidak ada yang tahu rencana-Nya.”

“Kau benar. Kudoakan semua berjalan baik.”

“Terima kasih.”

***

Hamparan langit senja yang sungguh menarik hati, burung-burung berterbangan. Yoon Gi menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa. Dia ketiduran lebih dari satu jam di rooftop, baru sadar kalau bel pulang sekolah sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Apakah Hyun Woo masih menungguku? Kekhawatiran menyelimuti hati Yoon Gi. Dia sendiri yang ingin mengajak bicara dan dia sendiri yang lupa. Sungguh bukan laki-laki sejati karena tidak bisa menepati janji.

“Han Hyun Woo.”

Dia mendapati kepala seseorang telungkup di atas meja. Hyun Woo pasti kelelahan saat menunggunya. Yoon Gi berjalan pelan, tidak ingin orang itu bangun. Kelas kosong seakan mendukung situasi mereka berdua. Yoon Gi jadi urung membangunkan Hyun Woo, tampaknya dia lelap sekali. Ponsel di saku diambil, ikon kamera disentuh. Tidak ada yang lebih baik selain mengabadikan momen ini.

CKREK

Sialan, aku lupa mematikan suaranya Yoon Gi mengumpat di dalam hati.

“Hei, kau bisa kena hak cipta.”

Suara Hyun Woo bicara terdengar tidak jelas, meski begitu Yoon Gi masih sanggup mencernanya. Satu dehaman muncul, Yoon Gi duduk lalu memasukan ponsel ke saku. Pura-pura tidak terjadi apa-apa. Diperhatikannya bagaimana rambut Hyun Woo jatuh sedikit demi sedikit ke bahu, entah mengapa seperti ada efek slow motion.

“Bicaralah, aku akan mendengarkanmu.” Dengan mata terpejam Hyun Woo meracau.

“Apakah Sabtu besok kau ada acara?” Yoon Gi memulai dengan hati-hati.

“Tidak. Aku pengangguran.”

“Aku akan memperkenalkan kehidupanku.”

“…”

“Oi, Han Hyun Woo.”

“…”

“Kau dengar aku?”

Yoon Gi mencari wajah Hyun Woo yang menghadap ke luar jendela. Kedua pasang mata itu bertemu tanpa sengaja. Saling menatap tanpa jeda. Ternyata Hyun Woo sudah sadarkan diri. Mereka saling menatap satu sama lain. Tidak tahu sampai kapan, yang pasti waktu terus berlalu. Masing-masing mengamati rupa orang di depannya. Saling mengapresiasi dan mengkritik di dalam hati. Dan dari mata turun ke hati. Jantung mereka pun berdegup lebih cepat.

“Aku mendengarmu.”

Tangan Yoon Gi mampir ke kepala Hyun Woo, sekedar mengusap pelan.

Hyun Woo membelalak, kepalanya mundur mencoba mengelak. Apa yang dia lakukan? Hyun Woo dilanda keingungan.

“Maaf, anggap saja aku tidak sengaja.” Yoon Gi mengibas-ngibaskan tangan.

“Kau—“

Yoon Gi menduga kalau Hyun Woo terkejut karena dia mengusapnya tiba-tiba. Ah, benar juga, memang perempuan sudah seharusnya bersikap seperti itu saat laki-laki mengusap kepalanya. Seperti di drama-drama. Lagi-lagi Yoon Gi kepikiran soal adegan-adegan dalam drama. Apakah aku harus mulai nonton drama agar aku bisa memperagakan hal-hal yang terlihat manis di depan perempuan? Aku bakal kelihatan aneh, tapi mungkin anak di depanku menyukainya. Baiklah batin Yoon Gi sambil tersenyum sendiri.

“—pasti mengusapkan sesuatu ke kepalaku?! Astaga, kau habis memegang apa?! Kalau kau mengusapkan sesuatu yang aneh, kubunuh kau.” Hyun Woo protes dan memarahi Yoon Gi.

Maaf, tapi ekspektasi tak seindah realita. Yoon Gi berharap Hyun Woo terkejut dan tersipu malu, tapi yang ada dia malah dimarahi dan dikatai. Sampai ingin membunuh segala. Hyun Woo masih khawatir lalu mengusap-usap kepalanya sendiri, mengecek apakah ada semacam serbuk kapur atau apapun itu. Tidak menyadari wajah Yoon Gi yang kecewa berat. Siapa bilang Han Hyun Woo sejenis dengan gadis-gadis biasa? Pasti Min Yoon Gi salah terka.

“Kau tidak malu, Han Hyun Woo?” Yoon Gi mencoba mengecek dengan telinganya sendiri.

“Ha? Untuk apa aku malu? Aku tidak melakukan hal yang salah. Katakan kau mengusapkan apa?” Hyun Woo masih berkutat dengan urusan kepala.

“Tangan.”

“Dan?”

“Rasa hangat.”

“Itu saja?”

“Hmm ..”

“Lain kali jangan melakukannya secara tiba-tiba. Aku benar-benar khawatir tahu!”

“Bagaimana kalau aku mau melakukannya lagi?”

“Aku harus mengecek tanganmu terlebih dahulu.”

Tiba-tiba Yoon Gi mengulurkan tangan di depan Hyun Woo. Mencoba membuktikan bahwa tidak ada hal aneh yang menempel di tangannya. Hyun Woo memegang tangan Yoon Gi lalu mendekatkan wajahnya. Mengamati kalau ada sesuatu yang aneh. Dan sempat mengendus juga, tapi tangan Yoon Gi tidak berbau aneh. Yoon Gi  merasa detak jantungnya berdegup lebih cepat saat merasakan hembusan napas Hyun Woo.

“Tidak ada. Aku percaya padamu.”

Setelah mendapat kepastian, Yoon Gi langsung mengusap-usap kepala Hyun Woo. Mereka saling menatap tanpa berkedip. Hyun Woo sendiri hanya terdiam, menocba menahan kelopak matanya agar tidak terjatuh. Seolah-olah jika dia berkedip maka semua akan hilang seperti serpihan awan dalam mimpi. Semua memang terasa seperti mimpi. Terlalu meragukan bila disebut kenyataan.

Apakah perasaan Hyun Woo benar-benar akan terbalaskan?

Min Yoon Gi POV

Aku berjalan pelan menyuri trotoar. Menatap rumah besar di depan sana. Sopir keluarga pasti senang sekali karena sekarang tidak perlu repot menjemputku karena akhir-akhir ini aku lebih senang jalan kaki. Atau lebih tepatnya ingin pulang bersama dengan seseorang. Padahal dulu aku paling malas untuk berangkat sekolah, tapi sekarang entah mengapa menunggu hari esok rasanya lama sekali. Sampai aku kesulitan tidur karena jantungku berdegup terlalu kencang. Aku berpikir kalau aku harus mulai memeriksakan diri ke dokter ahli jantung.

Mobil hitam metalik terparkir, aku langsung bisa membayangkan keadaan rumah. Mereka akhir-akhir ini sering pulang. Aku tidak ingin penasaran karena itu akan membuat suasana rumah jadi berisik.

“Yoon Gi.”

Tiba-tiba Eomma menyambutku. Dan aku merasa aneh.

“Oh, Eomma pulang.”

“Ayo. Eomma sudah masak makanan kesukaanmu.”

“Aku ingin tidur.”

Eomma yang sebelumnya sudah mendahuluiku masuk rumah pun berhenti melangkah. Terdiam tak bergeming. Aku benar-benar ingin tidur, tidak peduli apapun, aku hanya ingin tidur saat ini juga. Dia berbalik lalu menghampiri, tangannya memegangi erat tanganku. Seakan-akan aku mau pergi jauh kuliah di luar negeri.

“Min Yoon Gi. Makanlah apa saja yang sudah dimasak oleh ibumu.”

Abeoji menatap dari kejauhan. Sungguh aku tidak suka caranya mengatakan kalimat tadi. Aku tidak suka suasana rumah ini.

“Aku hanya ingin tidur, Abeoji.”

“Kau harus makan.”

“Aku sudah makan.”

“Kalau begitu cicipi sedikit. Tidak akan membuat perutmu meledak.”

“Aku ingin tidur.”

Aku sedikit memberi penekanan pada kata tidur. Aku tidak mau makan, bukankah sudah kusampaikan secara implisit? Tidak ada yang bilang masakan Eomma tidak enak. Enak—selalu enak. Hanya saja aku tidak terbiasa, semua jadi serba aneh ketika mereka mencoba mengembalikan suasana hangatnya keluarga. Karena aku sudah biasa hidup sendirian.

Tiba-tiba Abeoji menghampiriku. Aku dihadiahi satu tamparan keras di pipi.

Panas. Perih.

“Dasar, Pembangkang.”

“Sudahlah. Baiklah, Yoon Gi, kalau kau memang ingin tidur maka tidurlah.”

Eomma mencoba menahan tamparan yang hendak dilayangkan lagi oleh Abeoji. Aku berjalan meninggalkan mereka. Menulikan telinga soal sumpah serapah yang diucapkan oleh orang yang kusebut Abeoji. Mungkin beliau sedang lelah dan tidak ingin dibantah, maka dari itu aku dihadiahi tamparan keras.

Tas sekolah kulempar ke lantai, sedangkan aku membanting diri ke tempat tidur yang pernya berderit nyeri. Hembusan napas berat lolos dari mulutku. Aku memang anak kurang ajar yang tidak berbakti kepada orang tua. Dan aku tahu betul soal itu. Tapi suasana rumah yang sudah dingin sudah tak bisa dikembalikan jadi hangat lagi. Keluarga bukanlah sepanci sup yang saat sudah dingin bisa dipanaskan kembali berulang-ulang.

Sekali keluarga menjadi sup dingin, sampai basi pun sup itu bakal tetap dingin.

Tidak ada yang bisa kembali ke tahun-tahun dimana kami masih makan dalam satu meja yang sama. Berbincang apa saja, penting atau tidak penting, bermutu atau tidak bermutu. Semua dibicarakan demi memuaskan rasa kasih sayang antar anggota keluarga. Bukannya aku tidak mau berkumpul lagi seperti dulu, tapi sudah terlambat rasanya untuk mencoba menjadi keluarga yang dulu. Kami bertiga sudah tenggelam dalam dunia kami masing-masing. Dimana kedua orang tuaku tenggelam dalam dunia orang dewasa, dan aku tenggelam dalam masa remaja yang suram.

Aku tidak punya siapapun untuk diajak bicara, diskusi, atupun cerita semenjak kematian Da Hyun.

Tapi Han Hyun Woo menyelinap masuk dengan kurang ajarnya. Membuat mulutku gatal bicara untuk menanggapi seluruh kelakuannya. Dialah yang mengembalikan warna dalam hidupku. Menghapus monokrom dalam keseharianku. Menumpahkan segala cat warna yang ia punya untukku. Han Hyun Woo menyukaiku.

Dia masih menyukaiku.

Jelas-jelas kemarin aku dengar sendiri kalau dia bertanya kapan akan menyerah berhenti menyukaiku. Ini buruk. Aku tahu dia menyukaiku. Aku tahu dia menungguku. Untuk sebuah perasaan suka yang sangat yakin kepadaku, dia terus menunggu. Tapi aku masih tertahan, mencoba mangklarifikasi perasaan apa yang menyelinap di dalam hati. Aku masih dalam tahap mencari tahu.

Aku mengambil foto di atas meja, foto itu dalam keadaan telungkup. Ah, entah sudah berapa lama foto keluarga ini telungkup. Tidak ada alasan buatku untuk membetulkannya. Aku menatap senyuman lebar anak berumur lima belas tahun. Apakah memang dulu aku sebahagia itu? Dan baru aku sadari bahwa senyumku terlalu manis, terlalu bahagia. Mengapa sekarang tidak lagi?

Kedua kakiku perlahan turun lalu menapaki lantai marmer yang dingin. Kemana perginya semua album keluarga yang dulu? Satu persatu deretan buku dalam rak kuteliti, mencari kenangan lama yang tak akan pernah bisa kembali lagi. Ketemu. Sampul album itu berwarna meran maroon, dihiasi benang emas yang kontras. Sekali lagi aku bertanya, apakah kami membutuhkan sesuatu yang mewah untuk membalut kebersamaan kami sekeluarga? Ataukah sesuatu yang sederhana namun bisa merangkum kasih sayang kami untuk selamanya?

Aku mencintai keduanya, Abeoji maupun Eomma.

Ponsel kuraih, aku hanya bisa memikiran satu nama disaat-saat tak tentu semacam ini. Ikon hijau bergambar telepon disentuh, terdengar nada menyambungkan memenuhi ruangan. Aku menunggu harap-harap cemas—dan aku tidak mengerti apa yang harus aku cemaskan. Bukankah seharusnya orang yang berada di seberang sana yang cemas?

[“Yeoboseyo?”]

Hampir saja ponselku terlempar karena saking aku terkejutnya.

Yyeoboseyo.”

“Jangan memperlihatkan telingamu kepadaku.”

“Hah?”

Dan aku baru saja sadar akibat terlalu gugup aku menempelkan telingaku ke layar ponsel, padahal aku menelponnya dengan panggilan video.

“Ada apa kau menelponku?”

“Kau .. barusan mandi?”

“Oh, kau benar. Aku baru saja mandi, pasti terlihat dari rambutku yang basah.”

Hyun Woo terlihat mengecek rambutnya, terlihat jelas bagaimana air itu menetes dari ujung-ujung rambut Hyun Woo. Aku menelan saliva berat, rasanya ada yang mengganjal di kerongkongan. Rasa gugup pun membuncah di dalam dada, tiba-tiba saja aku merasa malu. Tidak, tidak lucu kalau aku kelihatan tersipu di depannya. Siapa juga yang mau diledek olehnya?! Aku harus tenang. Tanganku mengelus dada.

“Ada apa?” Hyun Woo mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“…”

“Oi, Min Yoon Gi.”

“…”

“Astaga. Kau mau duel saling menatap sampai larut malam?”

“Y-ya?”

“Kau benar-benar tidak mendengarkanku. Jadi kau mau apa?”

“Aku .. mau apa?”

“Ha? Kau yang menelponku, jadi kau yang mau apa?”

“Aku benar-benar lupa mau apa.”

Serius. Aku lupa kenapa aku menelpon Hyun Woo. Tapi aku tidak apa-apa, tidak ada yang mau kubicarakan. Aku hanya tiba-tiba ingat namanya dan menelponnya tanpa sebab. Mungkin ada satu alasan. Aku hanya ingin melihat wajah Han Hyun Woo detik ini juga. Hyun Woo menatap bingung dari layar ponsel. Tangannya bergerak di depan layar, oh, tidak, jangan akhiri panggilanku dulu!

“Tidak!!!”

Tanpa sadar aku memekik seolah aku akan kehilangan sesuatu yang berharga.

“Kau ini kenapa? Aneh sekali.”

“Aku .. aku ingin kau mengajariku fisika! Ah, ya, aku baru ingat.”

“Yang benar saja?! Sejak kapan kau tertarik dengan belajar?!”

“Lekaslah.”

Dimana buku fisikaku? Aku menaruh ponsel, hendak mencari buku paket fisika. Tapi baru sedetik aku meletakkan ponsel, aku kembali mengambilnya.

“Jangan akhiri panggilannya!” Perintahku.

“Iya, iya.” Hyun Woo tampak terkejut.

***

Batu nisan terdiam membisu, aku menaruh setangkai bunga krisan di atas pusara makam.  Tanganku bergerak memunguti dedaunan kering yang mengotori makam. Tulisan nama orang itu mulai menghilang dimakan waktu, guyuran air hujan membuat keadaan batu nisan itu tampak suram. Padahal aku sudah mencabuti tiap rumput yang tumbuh di sela-sela batunya. Aku bersyukur karena mayat Da Hyun tidak dibakar dan ditempatkan ke dalam guci, karena aku tidak akan bisa merawatnya semacam ini.

Setelahnya aku berniat pulang, baru beberapa langkah aku berjalan meninggalkan makam Da Hyun seorang perempuan berdiri di depanku dengan posisi memunggungi. Aku tidak takut hantu, sebaliknya aku malah penasaran. Dengan langkah berani aku berjalan mendekati perempuan berseragam sekolah itu. Lumayan, ketemu hantu adalah hal langka.

“Min Yoon Gi.”

Tiba-tiba dia berbalik, hampir membuatku jatuh terjungkal karena terkejut. Aku mengernyitkan dahi saat mendapati Hyun Woo yang sudah berada di depanku. Apa-apaan pasang wajah berseri-seri seperti itu? Di daerah pemakaman pula. Lagi pula bagaimana dia bisa ke sini kalau aku sendiri belum pernah mengajaknya kemari? Aneh.

“Kau juga sering mengunjungi pemakaman, ya?”

Pikiranku sendiri sudah melayang kemana-mana saat melihat rambut Hyun Woo yang basah. Dia baru saja kehujanan? Tapi langitnya bahkan cerah sekali. Dia kehujanan di daerah mana sampai basah seperti itu? Astaga, bajunya ..

“Yoon Gi?”

Bulir-bulir air menetes dari ujung rambut Hyun Woo. Bajunya juga basah, padahal seragam sekolah itu bahannya tipis. Aku segera melepas jas sekolahku dan memberikannya.

“Pakai ini.”

“Tapi—“

“Pakai saja, bahaya kalau dilihat orang.”

Hyun Woo menerima dan segera memakainya. Dia memasang wajah bingung. Tidak tahukah dia kalau aku mau melindunginya dari tatapan-tatapan para predator perempuan? Sungguh, kau harusnya senang Han Hyun Woo.

“Tapi kenapa celanamu ..” Dia menunjuk celanaku ragu.

“Huh?”

Aku menunduk guna melihat celanaku sendiri.

“Kenapa celanamu basah?”

Sialan.

Bukankah aku sendiri yang bilang ingin melindunginya dari para predator tapi kenapa—

“Tidak sengaja terkena air di pemakaman tadi ..” Aku mencoba menutup-nutupi.

“Benarkah? Tapi itu kenapa—“

“Jangan diteruskan!!!”

Cahaya matahari menyilaukan mata, aku terbangun dari mimpiku. Argh, cuma mimpi tapi entah mengapa melelahkan sekali. Tanganku mencoba menyingkirkan selimut, tapi aku melihat sesuatu yang aneh dibalik antara kedua kaki.

Bagus.

Aku mimpi basah.

Han Hyun Woo POV

Semalam Min Yoon Gi menunjukkan gelagat aneh luar biasa. Buat apa menelponku malam-malam begitu? Serius, aku malah jadi takut. Saat aku melihat layar ponsel dan tertulis namanya di sana hampir saja aku menjatuhkan ponselku sendiri. Apa lagi dengan format panggilan video yang semakin membuatku penasaran, semalam dia kemasukan arwah siapa sampai jadi super duper aneh?

Aku meletakkan tas di sebelah kaki meja. Situasi kelas masih agak sepi, hanya satu-dua siswa yang baru datang. Apakah aku berangkat sekolah terlalu pagi? Seingatku juga biasanya berangkat jam-jam ini. Aku mengeluarkan ponsel, mengecek kalau-kalau ada notifikasi pesan masuk dari orang lain—bukan berarti aku mengharapkan ada notifikasi dari Yoon Gi seorang. Tapi kalau memang bisa, jujur aku mengharapkannya. Meski hanya sekedar mengirimi emoticon tidak penting.

Oh, ya, benar juga. Kemarin dia bilang kalau mau memperkenalkan kehidupannya padaku hari ini. Astaga, aku sungguh tidak sabar. Pipiku menghangat, membayangkan apa yang terjadi nanti membuatku terbang ke langit ketujuh. Pernahkan aku bermimpi bahwa apa yang kuinginkan akhirnya bersambut? Semuanya nyata.

Tidak pernah terpikir olehku bahwa kami akan bisa dekat. Aku sendiri tak menyangka kalau Min Yoon Gi akan membuka pelan-pelan telapak tangannya, menawarkan sebuah imajinasi indah yang menjadi kenyataan. Bisa berbicara dengannya saja sudah cukup untukku. Aku menyukai dia sampai di titik dimana aku tidak mengharapkan apapun dari seorang Min Yoon Gi.

“Han Hyun Woo.”

Suara orang yang kusukai mengalun indah layaknya musik klasik di telingaku.

“Ya?” Aku menoleh.

“Kau tidak ada acara apapun hari ini?” Tanya Yoon Gi.

“Ada.”

Yoon Gi menatap terkejut, dahinya berkerut tidak nyaman. Tas yang dibawanya perlahan diturunkan lalu dia meletakkan tasnya di atas meja.

“Kalau begitu—“

“Mengenal kehidupanmu, ‘kan?”

“…”

Entah mengapa aku merasa agak gombal. Kupikir dia akan meledekku habis-habisan. Namun nyatanya salah, Yoon Gi menatapku sembari mengulas senyum. Wow. Itu senyuman maksudnya apa? Jangan bilang kalau dia tersipu dengan perkataanku. Aku mengerjapkan mata. Dalam hati mensyukuri gombalan menggelikan ini bisa membentuk kurva langka dari bibir seorang Min Yoon Gi.

“Benar. Kau mau, ‘kan?” Tanya Yoon Gi memastikan.

“Tentu saja. Kapan lagi aku bisa mengulik kehidupanmu?!” Jawabku meyakinkan.

“Untuk hari ini saja .. maukah kau bolos di rooftop?”

“Sepertimu?”

“Hanya untuk hari ini saja.”

“Sepertinya terbalik.”

Aku tidak mau mengikuti drama-drama yang mengajari hal buruk untuk membolos demi orang yang kau sukai. Menghabiskan waktu di sebuah tempat bersama orang yang kau sukai dan melupakan hari efektif sekolah meski sehari saja. Tapi tidak untukku. Kalau kau bisa mendorong orang yang kau sukai untuk melakukan hal positif, kenapa tidak?

“Untuk hari ini saja maukah kau mengikuti pelajaran bersamaku?”

Tanyaku sambil tersenyum geli. Yoon Gi terlihat kaget lalu mengangguk malas.

“Aku akan mengikuti pelajaran untuk hari ini saja bersamamu.”

“Bagus. Kau juga sudah minta tolong padaku untuk mengajarimu fisika, ‘kan? Mari belajar.”

Buku paket fisika kukeluarkan, Yoon Gi menarik kursinya untuk menghadap mejaku. Dia mempersiapkan buku tulis kosong dan bolpen. Semalam aku hanya mengajari beberapa rumus, itupun ditanggapi dengan dehaman singkat. Sepertinya aku harus mengetes apakah Yoon Gi paham dengan rumus-rumus yang aku berikan semalam.

Aku melingkari beberapa soal dengan predikat standar mudah.

“Kerjakan.”

“Apa? Ini susah, kau pasti melantur.”

“Kau bahkan belum melihat soalnya dan sudah berkata seperti itu.”

“Tapi aku benar-benar tidak paham.”

“Lalu semalam kau mendengarkan penjelasanku atau tidak?”

“Aku melihat ramb—“

“Apa?”

“Bukan apa-apa.”

“Kau lihat apa dariku?”

“Sudah kubilang bukan apa-apa.”

Yoon Gi bersikeras menjawab ‘bukan apa-apa’, dia membaca soal lalu mulai menulis data yang diketahui. Bagus. Dia mendengarkanku semalam untuk menuliskan data apa saja yang diketahui dan hal apa yang ditanyakan. Paling tidak dia sudah dapat satu poin untuk essai.

Daebak. Min Yoon Gi belajar.”

Tiba-tiba Hye Ri memekik dari kejauhan. Dia berjalan tergesa-gesa menghampiri kami berdua lalu repot-repot memberi tepuk tangan. Siapa juga yang mengira kalau Yoon Gi bakal duduk di kelas dan belajar. Tidak ada seorangpun yang bisa memaksanya untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar, bahkan seorang guru sekalipun. Dia tidak terlalu peduli dengan kehidupan sekolahnya.

“Aku akan memberikanmu hadiah kalau kau berhasil menyelesaikan satu soal.” Godaku.

“Benarkah?” Yoon Gi menatapku berbinar-binar.

“Tentu saja.”

“Baiklah. Lihat saja. Kau tidak boleh berbohong kalau aku bisa mengerjakannya.”

“Siapa takut.”

Dia kelihatan bersemangat menggores bolpen. Aku mengawasinya, meneliti setiap angka yang tercipta dari guratan tintanya. Kuakui kalau soal penjumlahan dan perkalian dia luar biasa cepat, namun untuk penggunaan rumus dia memang lemah. Aku sempat ragu kalau dia bakal menyelesaikan soal ini dengan benar dan tepat.

“Sudah selesai.”

Yoon Gi menyodorkan hasil jawabannya. Aku terkekeh lalu mencoba melihat satu-persatu jalan pikirnya dan menghitung semua jawaban di dalam kepala. Hebat. Dia benar.

“Kau benar, aku akan memberikan hadiah kepadamu. Tunggu.”

“Baiklah.”

Aku mengambil tas lalu mengaduk-aduk isinya. Kemarin aku sempat menggambar setangkai bunga krisan sedetail-detailnya. Aku melakukan riset meski cuma lewat internet, mengamati setiap kelopak bunga krisan. Menggambarnya dengan hati-hati dan goresan pensil tipis yang terlarang untuk dihapus.

“Untukmu.”

Selembar kertas bergambar bunga krisan kusodorkan di depannya.

Raut wajah Yoon Gi berubah.

“Maaf. Gambarku jelek. Tapi aku ingin kau tahu kalau aku sungguh-sungguh mengembalikannya padamu dan aku tidak bohong.”

“Kau tahu ..”

Yoon Gi mengambilnya, dengan cepitan ibu jari dan telunjuk, Yoon Gi menghadapkan gambarku tepat di depan wajahnya. Mungkin dia sedang memperhatikan detail-detail gambar bunga krisan itu. Namun aku bisa melihat kalau dia mengernyit tidak suka. Apakah gambarku se-jelek itu sampai dia harus mengernyit tidak suka?

“Apa? Aku bilang maafkan aku kalau gambarku jelek.”

SRAAK

Detik berikutnya kertas itu terbagi dua. Aku bahkan tidak sempat terkejut dan mengeluarkan suara kecewa. Tangan kananku spontan menutup mulut. Gambar yang kubuat susah payah untuk membuktikan seberapa seriusnya aku meminta maaf dirobek tanpa penyesalan. Min Yoon Gi. Harusnya aku tahu kalau dia tidak mengenal kata toleran. Tapi apakah harus sejauh ini?

“A-apa yang kau—“

“Buruk. Gambarmu sangat buruk.”

Kertas itu dibuang ke lantai kemudian terjatuh dengan tidak etisnya.

Yoon Gi mengulas senyum.

“Aku tahu kalau sangat buruk namun aku bersusah payah untuk menggambarnya .. dan kau—“

“Kuberi tahu, Han Hyun Woo.”

Dia melipat kedua tangan di depan dada.

“Aku merobeknya bukan hanya karena gambaranmu buruk.”

“…”

Aku membungkuk lalu mencoba mengambil gambaran yang kubuat susah payah.

“Jangan ambil kertas itu.” Perintah Yoon Gi dingin.

“Kenapa—“

“Turuti saja apa kataku.”

Namun aku bersikeras tetap mengambilnya, Yoon Gi segera berjongkok lalu merebutnya dari tanganku. Tapi kenapa? Kalau memang dia masih marah padaku karena dulu aku pernah menyobek gambarannya maka harusnya dia bilang saja. Tidak perlu sampai menyobek segala.

“Turuti saja apa kataku, Han Hyun Woo. Bukankah kau menyukaiku?”

“Itu benar. Hanya saja—“

“Kalau kau terus-terus seperti ini, kapan aku bisa melupakan masa laluku? Aku butuh waktu  untuk melupakan masa lalu. Sudah lama aku tidak pernah mengingatnya lagi. Jangan terus-menerus memanggil ingatanku.”

Yoon Gi menatapku dari bawah, kepalanya mendongak. Tatapan itu meminta pengertian.

“Apa maksudmu?” Tanyaku tidak mengerti.

“Bukankah kau menyukaiku?Harusnya kau langsung bisa mengerti perkataanku. Gambar bunga krisan itu tidak boleh muncul lagi. Aku sudah berusaha keras melupakan masa lalu dengan berhenti melakukan kegiatan yang terus mengundang kenangan. Kau harus mengerti seberapa keras usahaku. Dan .. apakah kau tega untuk menghentikannya?”

“A-aku—“

“Buanglah, jangan menggambarnya lagi. Aku tidak butuh gambarmu. Aku tidak butuh gambar itu lagi,mengerti?”

Aku hanya mengangguk.

Kini aku mengerti mengapa Tae Hyung berkata bahwa Yoon Gi tidak pernah menggambar bunga krisan lagi? Dia mencoba melupakan segalanya. Semua tentang masa lalunya. Yang sudah membelenggu senyuman Yoon Gi selama ini. Mana tega aku menghentikan dia. Han Hyun Woo bodoh. Kenapa aku tidak bisa peka sedikit saja? Kenapa aku malah mengembalikan jurang menganga di antar kami berdua?

Bodoh.

Akulah yang bodoh.

.

.

.

TBC

Halo, maaf saya terlambat update. Saya sibuk ulangan dan mempersiapkan diri untuk ujian nasional tahun ini. Padahal sebenarnya saya menargetkan cerita ini bakal selesai dengan batas waktu bulan april, tapi saya sendiri tidak bisa menjamin akan hal itu. Doakan saya agar bisa menyelesaikan cerita ini tepat waktu, entah mengapa saya jadi merasa dikejar deadline padahal bukan apa-apa. Terima kasih sudah mau membaca dan sampai jumpa di Fantasy of A Liar Chapter 10.

Advertisements

6 thoughts on “[BTS FF Freelance] Fantasy of A Liar – (Chapter 9)

  1. PUTRI RAHMA

    yawlaaa fanfic favoritku akhirnya update juga setelah seian lama ku tunggu chapter selanjutnya btw semangat yaa buat UN nya hihi..

    Like

  2. zulkhi

    Hai author-nim saya reader baru. Maaf ya sebelumnya enggak ngasih komen di chap 1. Saya baru nemu cerita ini siang tadi dan selesai smpe chap 9 beberapa menit yang lalu. Ditunggu chap selanjutnya ya. Trimakasih

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s