[BTS FF frelance] Memento Mori (Chapter 4)

Tittle : Memento Mori  (Chapter 3)

Author : TEN

Genre : Brothership, sad.

Rating : Semua umur

Cast : Jeon Jungkook, Kim Seokjin, Park Chanyeol (exo)

Length : 1000+ word

Disclaimer : Kalian tahu menuangkan apa yang ada di otak kedalam tulisan itu susah, dan saya yakin anda tahu bagaimana cara menghargai karya orang lain.

Sepertinya rasa takut Jungkook pada Seokjin bukan main-main. Dilihat dari bagaimana ia lebih memilih untuk ikut mobil Chanyeol daripada Seokjin, membuat Seokjin menggertakkan giginya karena kesal. Memang semenakutkan apa sih dirinya sampai membuat Jungkook seperti itu?

Ingat, kau menyeretnya ke laut

Siapa yang tahu kalau-kalau hyung akan menabrakkkan mobil kita ke sebuah truk besar, atau semacamnya.

“Truk besar? Memang segila apa diriku sampai harus mati mengenaskan?!” ucapnya kesal sendirian. Hampir beberapa kali ia harus membanting setir hanya untuk menenangkan dirinya sendiri.

Sepertinya Seokjin memang agak gila.

_______

“Bagaimana kabarmu, anak nakal?” tanya seorang dokter dengan perawakan yang sedikit agak tua, tidak, maksudnya memang sudah tua. Sangat tua malah.

Jungkook mangut-mangut, “Tidak baik, Prof.”

“Kenapa?” kini dokter itu memasukan sebuah jarum ke lengan kiri Jungkook, membuatnya sedikit meringis.

Seokjin yang sedari tadi memperhatikan perlakuan sang dokter hanya bisa tersenyum miris.

“Seseorang membawaku pergi ke LAUT.” ucap Jungkook dengan sedikit tekanan  diakhir kalimatnya sambil mengarahkan tatapan sindiran pada sang kakak,”Dan membuatku harus kembali ke rumah sakit ini.”lanjutnya

Merasa tersindir, Seokjin pun memberi senyumnya pada sang dokter,”Sepertinya adikku sudah punya semangat, ya, dok?”

“Semangat itu ada, tapi kondisinya tidak memungkinkan.”

Raut muka Seokjin pun berubah setelah mendengar hal itu,”Kenapa, dok?”

“Bisa kita bicara? Kurasa sudah lama kita tidak bertemu, Seokjin?” dokter itu tersenyum hangat pada Seokjin, lalu beralih pada Jungkook,”Kau bisa istirahat, aku ingin mengajak kakakmu kencan dulu.” lanjutnya lantas pergi setelah itu.

Untuk beberapa detik  Seokjin terpaku –mencoba mencerna ajakan sang dokter padanya. Lalu setelah itu ia menoleh pada Jungkook dengan mata elangnya, “Sepertinya kau punya dendam padaku, hm?”

“Tentu, hyung hampir membunuhku kemarin, dan sekarang hyung membuatku kembali ke rumah sakit.” Jungkook memberi tatapan intimidasi pada sang kakak,”Hyung bahkan tidak minta maaf.”

“Baiklah, baiklah aku minta maaf. Maafkan hyung, ya?” ucap Seokjin dengan manisnya,”Kau, puas?”

Melihat itu membuat Jungkook terkekeh. Ia senang melihat kakaknya seperti ini, ia terlihat lebih santai dari sebelumnya.

“Istirahatlah, karena aku akan pergi kencan.”

“Hyung, jangan lama-lama.”

Seokjin mengulas senyum tipis,”Tentu, aku akan segera kembali.”

________

Seokjin salah tebak. Bayangan tentang pembicaraan serius yang memenuhi   otaknya selama berjalan menuju ruang Prof. Lee langsung menghilang begitu saja saat sang dokter mengajaknya main catur.

Oke, Seokjin tidak pernah membayangkan ini sebelumnya. Kendati ia tahu Prof.Lee seorang yang humoris, tapi jika harus bermain catur dengan si dokter dalam keadaan serius seperti ini adalah hal aneh. Serius.

“Aku tidak pandai main catur, omong-omong.” ucap Seokjin sembari memajukan kuda miliknya.

“O, benarkah. Berarti aku salah tebak.”

Seokjin melongo tatkala tangan si dokter kembali mengambil salah satu anak buah milik Seokjin. Sudahlah! Sepertinya Seokjin memang bodoh dalam urusan catur.

“Dokter berhenti saja!” katanya.

Si dokter terkekeh, “Sejujurnya, aku ingin membuatmu lebih santai dengan bermain catur.”

“Aku malah jadi tambah stress.”

Dokter itu terdiam memandang Seokjin dalam beberapa detik, “Seokjin?” panggilnya.

“Hm?” tanya Seokjin tak acuh.

“Relakanlah Jungkook pergi.”

Samar-samar Seokjin bisa merasakan sesuatu tak kasat mata menghantam ulu hatinya kala mendengar kalimat tersebut, membuat napas yang tadi ia hirup menjadi sangat berat. Seokjin tidak membalas perkataan dokter karena ia kehabisan kata-kata.

“Tidak mudah bagi Jungkook untuk bertahan sampai selama ini, ditambah kau yang menghilang 2 tahun lamanya. Jika aku lihat, alasan mengapa Jungkook masih hidup adalah tidak adanya keikhlasan dari dalam dirimu.”

Seokjin menelan ludahnya beserta udara sekitar yang terasa memanas. Mendadak ia jadi mati rasa.

“Jujur, sebagai dokter aku sangat senang ada pasienku yang mampu melawan penyakitnya, tapi bukan berarti aku tidak sedih. Aku melihat banyak orang melawan rasa sakit mereka karena mereka memang benar-benar ingin hidup. Tapi, untuk kasus Jungkook, dia berbeda.”

Seokjin menoleh, menatap ke dalam iris mata sang dokter.

“Anak itu hidup karena keegoisan seseorang.”

“Adikku bilang dia ingin hidup.”

“Kau tidak benar-benar mengenal adikmu.”

“Aku mengenalnya dengan baik!”

“Coba lihat ia dengan mata hatimu, Seokjin. Anak itu menderita.”

“Apa anda Tuhan? Anda  bicara seolah-olah tahu semuanya.”

“Relakanlah dia.”

Seokjin mencoba menahan emosinya. Ditatapnya sang dokter lamat-lamat sebelum ia melangkah pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun. Seokjin bahkan menutup pintu dalam sekali banting karena perasaan kesal yang teramat dalam.

Lelaki itu lantas meniti langkah menuju kamar adiknya dengan cepat. Langsung ia raih knop pintu, membukanya dan membeku saat melihat apa yang terjadi pada sang adik.

Anak itu kembali muntah darah. Chanyeol membantunya, membiarkan kedua telapak tangannya menjadi wadah penampung bagi darah sang adik. Kali ini Seokjin mencoba untuk tidak terpancing emosi.

Ia berjalan pelan menuju Jungkook dan berjongkok ―mensejajarkan tingginya dengan sang adik yang duduk ditepian ranjang.

“Keluarlah, Chanyeol. Biar aku saja yang mengurus Jungkook.”

“Aku akan tetap disini dan –“

“Aku bilang keluar.” ucap Seokjin dingin, membuat Chanyeol terdiam.

Seokjin mendongak kearah Chanyeol,”Kau tidak dengar aku?” tanyanya.

Chanyeol sangat tidak percaya dengan apa yang dilakukan Seokjin. Ia tersenyum miring lantas pergi meninggalkan Seokjin berdua dengan Jungkook.

Lantai yang penuh bercak darah adalah hal pertama yang Seokjin lihat sebelum ia mengelap darah disekitar mulut Jungkook.

“Maaf.” ucap Jungkook.

“Jika sakit, katakan padaku.” ucap Seokjin.

Jungkook tidak lagi bisa menahan air matanya.  Ia sudah tidak bisa bohong. Dadanya sakit karena ia terbatuk beberapa kali, bau amis darah disekitar mulutnya sangat tidak ia suka. Kepalanya juga terasa lebih sakit dari sebelumnya.

“Sakit, hyung.” ungkap Jungkook lirih.

Gerakan tangan Seokjin terhenti. Area di sekitar matanya mulai memanas. Tak ada yang bisa Seokjin lakukan selain menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kuat.

“Jika kau ingin menyerah, katakan juga padaku.” Seokjin tidak berani menatap mata sang adik. Ia pengecut.

“Katakanlah semuanya agar aku bisa berusaha merelakanmu.”

Sebenarnya Seokjin mengatakan ini dengan setengah hati sambil berharap bahwa Jungkook tidak akan merespon apapun. Namun, dugaannya salah.

“Bolehkah?” tanya Jungkook.

Kedua mata kakak adik itu pun  saling berhadapan, menatap satu sama lain dengan rasa takut. Tidak, Seokjin tidak mau mendengar lanjutannya. Ia belum siap.

“Bolehkah, aku menyerah?”

______

Ada banyak hal yang ingin Seokjin tanyakan pada dunia yang ia tempati saat ini.  Tentang mengapa harus ada bahagia dan sedih, mengapa harus ada hidup dan mati. Apa yang biasanya seorang kakak lakukan untuk adiknya? Memberi apapun yang adiknya suka? Membiarkan adiknya melakukan hal menyenangkan?

Jika memang itu semua yang harus dilakukan sang kakak, maka Seokjin gagal menjadi hal itu.

Karena ia tidak pernah sekalipun  membahagiakan adiknya.

“Kau mau kemana?” tanya Chanyeol ketika melihat Seokjin keluar dari kamar rawat sambil menggendong Jungkook yang melingkarkan tangannya dengan erat dileher Seokjin.

“Kau mau kemana, Seokjin?!” tanya Chanyeol lagi karena tidak mendapat respon.

“Jalan-jalan.” jawab Seokjin sekenanya.

“Dengan membawa adikmu? Hei, kau gila?! Kondisinya sedang tidak baik.”

Seokjin melanjutkan langkahnya tanpa membalas perkataan Chanyeol.

“Berikan Jungkook padaku,” Chanyeol berdiri dihadapan Seokjin guna menghentikan langkahnya.

“Minggir.” ucap Seokjin.

“Berikan dia padaku selagi aku masih bersikap baik!!” teriak Chanyeol.

“Aku bilang minggir!!!” balas Seokjin tak kalah kuat, membuat atensi orang-orang berfokus pada mereka.

“Kau kenapa, hah?!”

“Aku gila, seperti yang kau katakan.” katanya,”Jika kau tidak mau melihatku bertambah gila, maka minggirlah.”

“Seokjin….”

“Jangan menghubungiku, jangan berkunjung ataupun mencari kami berdua. Aku akan datang sendiri kesini nantinya.” ucap Sokjin sebelum berjalan melewati Chanyeol yang terpaku ditempat.

Chanyeol membeku. Ia tidak bisa mengejar Seokjin –seolah ada sesuatu yang menahan kedua kakinya. Ia  lupa bagaimana cara berbicara bahkan hanya untuk memanggil kembali nama sahabatnya yang kini menghilang diujung koridor pun ia tidak bisa.

“Apa yang anda katakan pada Seokjin?” tanya Chanyeol beberapa menit setelah ia memutuskan menemui Prof. Lee.

Chanyeol yakin, sikap Seokjin tadi pasti ada hubungannya dengan Prof. Lee.

“Aku mengatakan padanya untuk merelakan Jungkook.”

“Haruskah anda mengatakan hal itu? inikah alasan kenapa anda menyuruhku membawa Seokjin dan Jungkook kemari?”

  Prof. Lee menoleh pada Chanyeol,”Kita semua tahu apa yang terjadi, sudah saatnya Seokjin tahu dan melakukan tugasnya.”

“Dokter!”

“Aku hanya ingin Jungkook melepas rasa sakitnya.”

“Anda seorang dokter, anda menyerah begitu saja?”

“Bukan menyerah, tapi merelakan.”Prof. Lee menarik napas dalam, “Aku merasa bersalah karena terus menyuntikan berbagai cairan pada anak itu, menyuruhnya bertahan lebih lama dan mengatakan banyak hal. Ini hidupnya, tapi kita memaksa dan mengatur hidup anak itu hanya untuk keegoisan kita.”

Mereka berdua saling tatap. Chanyeol kembali kehilangan kalimatnya.

“ Aku tahu kau menyayangi Jungkook, kita semua menyayangi anak itu. Biarkan Jungkook melepas semua bebannya.”

TEN

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF frelance] Memento Mori (Chapter 4)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s