[Vignette] Guilty Mind

Processed with VSCO with c5 preset

by risequinn

BTS’ Suga  ×  OC’s Nayeon

AU!, slight!Angst, Romance  •  1.2k words  •  T

.

Min Yoongi masih membatu. Maniknya tertuju pada seorang gadis yang kini tengah berlari ke arahnya. Senyum si gadis tak sedikitpun meluntur, meski satu tahun keduanya tidak pernah bertemu pun bertukar kabar.

Terakhir kali melihatnya, Kim Nayeon masih mewarnai rambutnya dengan warna merah jambu. Yoongi ingat betul saat itu Seokjin lah yang meminta sang adik mewarnai rambut serupa dengan miliknya. Tapi kini, rambut itu telah kembali berwarna karamel dan sedikit bergelombang di bagian bawah.

Kim Nayeon masih tampak cantik, seperti satu tahun yang lalu.

“Kak Yoon.” menyerukan nama Yoongi dengan panggilan demikian agaknya membuat si pemuda kini melebarkan senyum. Nayeon yang masih mengatur napas akibat berlarian turut menarik kedua ujung bibirnya guna tersenyum. Dalam jarak sedekat ini, Yoongi dapat melihat bagaimana Nayeon telah kehilangan banyak berat badannya. Pipi tembam gadis itu semakin tirus, dan Yoongi yakin ini semua adalah salahnya.

“Apa kamu sibuk, Nay?”

Nayeon menggeleng dengan cepat. “Ini sudah jam makan siang, aku bisa kembali nanti setelah makan.”

“Kalau begitu bisa kita bicara sesuatu di kafe ujung jalan sana?”

Mimik serius Yoongi serta merta mengendurkan senyum yang masih terlengkung pada bibir Nayeon. Yoongi tahu, mungkin yang akan dibicarakannya dapat menyakiti hati gadisnya. Tetapi, ia harus segera membicarakan hal ini sebelum Nayeon mendengarnya dari orang lain. Meskipun sakit, akan lebih baik jika Nayeon mengetahui semuanya melalui mulut Yoongi sendiri.

Nayeon mengangguk pelan. Sepersekian detik setelahnya, Yoongi berbalik dalam diam. Tanpa mengucapkan apa pun, pemuda Min itu meniti langkahnya mendahului Nayeon. Si gadis lekas menyusul jengkahan Yoongi dan mengekor di belakangnya. Perasaan bahagia yang mendera beberapa saat lalu, kini berganti dengan cemas yang meliputi. Jangankan untuk menyuarakan berbagai macam asumsi dalam pikirannya, berjalan di sebelah pemuda itu seperti dulu pun Nayeon tidak memiliki keberanian.

Sementara, Yoongi juga tidak ingin membawa Nayeon untuk menyejajarkan langkah bersamanya. Ia sudah melakukan sebuah kesalahan besar dan Nayeon tidak berhak dipermainkan lagi oleh laki-laki pecundang sepertinya. Berulangkali, Yoongi mengatur napas pun degub jantung yang kian tidak teratur. Ia takut Nayeon akan berakhir membencinya. Tetapi, ia juga takut Nayeon justru memberinya kesempatan lain karena ia merasa tidak pantas mendapatkannya.

Jujur saja Yoongi merasa bimbang. Gadisnya ini terlampau baik, dan itu lah ketakutan terbesar yang mendera batin si pemuda saat ini. Mungkin akan lebih baik jika Nayeon membencinya, tetapi ia tidak bisa kehilangan sosok ini begitu mudahnya.

Iya, sebegitu egois seorang Min Yoongi.

Lama karena bergumul dengan pikiran masing-masing, kedua muda-mudi ini akhirnya sampai pada kafe yang dituju. Yoongi memilih tempat di pojok guna menghindadi banyak mata yang memerhatikan mereka kalau-kalau Nayeon berteriak marah nanti. Mereka pun mengambil duduk secara berhadapan, dengan masih saling diam.

Pesanan kopi keduanya diantar dalam beberapa saat kemudian, dan sampai waktu itu, belum ada percakapan yang berarti dari mereka. Yoongi memilih menghindari manik Nayeon selagi memainkan ujung gelas kopinya. Sementara, Nayeon yang membenci suasana seperti ini lekas mengatur napas dan bersiap mengucapkan sesuatu.

“Aku tidak bertemu denganmu untuk melihatmu diam seperti ini, Kak. Katakan sesuatu agar aku tidak menerka-nerka lagi apa yang hendak kamu bicarakan padaku.”

“Maaf.” Sebaris kata itu sontak mengatupkan bibir Nayeon rapat-rapat. Ia terdiam dan memilih untuk tidak menyuarakan balasan. Ia menunggu Yoongi melanjutkan kalimat yang tampaknya telah siap untuk diutarakan padanya. “Aku minta maaf dengan semua yang telah kulakukan. Aku pecundang, Nay, aku tahu itu. Aku kabur seolah-olah kamu menerima semua keputusanku. Aku sungguh-sungguh putus asa, dan berniat untuk meninggalkanmu. Tetapi, aku memilih untuk kembali dengan tak tahu malu dan menemuimu sekarang ini. Aku benar-benar minta maaf. Saat aku berkata pergi untuk mengejar mimpiku, tetapi di sana aku justru mempermainkan perasaanmu. Aku sudah nyaris tidur dengan gadis itu, aku bahkan menjanjikan surga padanya dan melupakanmu yang mungkin masih menungguku di sini. Kamu boleh marah, itu hakmu. Kamu bahkan boleh menamparku, memakiku, kemudian mengakhiri hubungan yang kita jalin dua tahun ini. Tetapi, tolong maafkan aku, Nayeon-a.”

Hanya setetes air yang jatuh dari kelopak matanya, namun buru-buru ditepis oleh Nayeon dengan bengis. Tak dapat diselak, ia sakit, tetapi ia masih bisa menunjukkan senyumnya di depan pemuda ini seolah tidak terjadi apa-apa. Ia bisa saja menampar Yoongi detik itu juga, namun gadis ini bukanlah pribadi yang seperti itu. Orang tuanya tidak mengajarkan Nayeon untuk berbuat kasar kepada orang lain.

Nayeon masih memasang senyum piasnya. Satu yang ingin dilakukan gadis itu adalah memeluk Yoongi karena merasa amat rindu pada pemuda ini. Ia tidak peduli dengan seluruh pengakuannya, karena, toh, ia sudah mengetahuinya jauh sebelum Yoongi bercerita demikian.

Ditariknya napas dalam—berharap suara yang ingin dikeluarkannya nanti tidak terdengar serak apalagi bergetar—Nayeon pun menggapai jemari Yoongi dan menyatukan dengan miliknya.

“Aku tahu, Kak. Aku sudah tahu semuanya.” jeda beberapa saat sebelum Nayeon melanjutkan ucapannya. “Aku sudah mempersiapkan diri untuk kenyataan paling buruk saat mengizinkanmu pergi ke New York. Aku yakin ada banyak hal yang menghalangi hubungan kita setelah kamu sampai di sana. Dan dugaanku benar adanya. Beberapa waktu lalu, aku mendapat kabar bahwa kamu berkencan dengan seseorang. Temanku adalah seorang dokter gigi yang sekarang ini bekerja di sana. Dia memberitahuku bahwa Min Yoongi-ku sedang bersama seorang perempuan, bahkan mereka menunjukkan kemesraan di depan umum. Ya, itu adalah New York, dan hal seperti wajar di sana. Kakak tahu bagaimana reaksiku? Aku hanya bilang pada temanku bahwa sudah seharusnya Yoongi seperti itu. Tetapi, aku memiliki sebuah keyakinan bahwa kamu akan kembali dan bersamaku lagi seperti dulu. Jujur saja, aku memang sakit saat mendengarnya. Tapi, ya, bukankah akan lebih baik jika aku tetap berpikir positif? Jika pun saat itu kamu jadi tidur dengannya, aku tidak masalah. Hidupmu adalah pilihanmu, Kak. Aku sedikit lega saat mendengarmu berkata kamu ‘nyaris’ tidur dengannya. Apa dengan kata lain kamu tidak jadi tidur? Dan omong-omong, aku bukanlah seseorang yang bisa memaki apalagi menampar orang lain, terlebih orang itu adalah orang yang sangat kurindukan. Aku percaya setiap jalan yang kamu ambil adalah yang terbaik. Jadi, apa aku masih berhak memintamu untuk tetap tinggal bersamaku? Kita perbaiki semua kesalahan yang telah kita lakukan, dan jangan pernah mengulanginya lagi. Apa Kak Yoongi bisa menjalaninya? Atau sebenarnya, justru kamu yang ingin pergi dariku?”

Yoongi melebarkan matanya dengan tidak percaya. Sejurus, ia menggeleng demi menyahuti pertanyaan Nayeon barusan. Jujur saja, Yoongi masih sangat menyayangi gadis ini. Tidak ada hal lain yang Yoongi inginkan saat kembali dari New York selain bertemu dengan Nayeon dan meminta maaf atas semua kesalahannya. Ia juga sangat berharap Nayeon mau memaafkan. Tetapi, Yoongi masih tidak menyangka jika gadis itu telah mengetahui semuanya.

Yoongi bersyukur karena ia memiliki gadis seperti Nayeon. Gadis ini luar biasa, baginya. Jika orang lain akan menampar dan memaki-maki kekasihnya setelah ketahuan berselingkuh, Nayeon tidak demikian. Yoongi tahu, Nayeon bukan tipikal yang seperti itu. Jadi, meski sempat dilanda cemas, ia kini merasa begitu lega. Kali ini, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Nayeon padanya.

“Sungguh pun, aku belum ingin berpisah darimu, Nay. Oleh sebab itu aku datang dan meminta maaf darimu. Aku tidak sanggup membayangkan hidupku jika tidak ada kamu. Klise memang, tapi aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku berterimakasih, tetapi aku juga minta maaf yang sedalam-dalamnya padamu.”

“Berhentilah berterimakasih dan meminta maaf, Kak. Jika ada seseorang yang mengalihkan perhatianmu dariku, berarti itu salahku karena aku tidak cukup baik. Bukankah begitu?”

“Tidak, Nay. Kamu adalah wanita paling hebat yang pernah kutemui. Aku lah yang seharusnya dihukum karena menyia-nyiakan gadis sebaik dirimu.” Yoongi beranjak dari kursinya. Ia memberanikan diri mendekat, kemudian memeluk tubuh Nayeon erat-erat. Gadis itu membalasnya sejenak, lantas menjauhkan tubuh Yoongi darinya seraya memberengut ke arah si pemuda.

“Omong-omong, Kak, beberapa waktu lalu ada seorang dokter tampan yang menggodaku. Apa menurutmu aku harus menanggapinya?”

Mata Yoongi sontak melebar. “Nay! Cukup aku yang melakukan kesalahan, kamu jangan, oke?”

Nayeon tertawa geli, lantas menyandarkan kepalanya pada bahu Yoongi. “Kakak janji, ‘kan, tidak ada kesalahan serupa di kemudian hari?”

“Aku berjanji, Sayang. Sudah cukup aku menyakitimu, sekarang tugasku hanya membahagiakanmu.”

“Hehe. I love you, Min Yoongi.”

I love you more, Kim Nayeon.”

.

.

.

fin.

Hi, guys~ selamat hari raya idul fitri. Maaf kalo selama kenal sama echa, ada salah kata atau perbuatan yang disengaja maupun gak disengaja ya. Dan makasih juga buat kalian yang udah hadir di hidupnya echa sampai hari ini, ilyall 😚

Advertisements

9 thoughts on “[Vignette] Guilty Mind

  1. DOKTER TAMVANNYA PASTI DOHA INI /woi

    PUJA KERANG AJAIB INI KAPEL GAJADI BUBAR EMALAH BALIK ASIKC ASICK JOSH

    wis drama dramanya wis masyoon jan kerdusan lagi yha bahagiain mbanay ae jan main gila entar dijadiin sop ama masseok loh baru tau lu

    Ehe ehe pin lanjot dong yg romen romen manis getoh pfft aku padamuuuuu 💜

    Like

  2. mbanay astagaa jadi orang jan terlalu baik mbaa :”) kudunya yoongi kena hajar dulu sekali baru dimaafin laah /ga
    minyoongi knp rese bener ya sampe mau bobo sm cewe lain :”) mbanay kuat bener hhh. semoga langgeng ya kaliaan~ :”)

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s