[Opposite Attract] A Silent Night Before His Eyes

BTSFFI 6th Event: Opposite Attracts (Subtema Keju)

A Silent Night Before His Eyes

a fic by Orchidious, d’Blank, Juliahwang, & shiana

BTS’ Kim Taehyung and Kim Namjoon

Vignette | AU, Dark, Friendhship, Life, slight!Gore | PG-17

Disclaimer: This fanfiction belongs to Cheesy Team.

.

“Life is just like being a cheese.”

:::

 

Malam yang dingin selalu menjadi favoritku. Aku bisa berjalan-jalan dengan bebas setelah seharian bermain tanpa tujuan dengan Jimin. Bocah mungil itu mungkin sekarang sedang berada di markas kami, menunggu kepulanganku dan Namjoon yang masih sering keluyuran di malam hari. Bedanya, kalau Namjoon punya alasan karena ia suka merenung, maka aku nyaris tak memiliki tujuan. Aku hanya suka menikmati embusan angin yang membuat orang-orang sibuk menggosok tangan saat berjalan.

“Kau tahu, tidak ada gunanya pulang.”

Aku mengangkat bahu. Setengah mengiyakan ucapan Namjoon karena aku memang bosan berdiam di markas, sementara setengah lagi menolak. Sudah tahu, kalau bersisian dengan Namjoon seperti sekarang ini sama saja dengan mendengar pidatonya tentang orang-orang yang hanya mendatangkan kantuk untukku. Bersisian itu maksudnya, duduk di atap sebuah gedung sembari menatap lalu-lalang manusia di bawah.

“Jimin akan kesepian di markas,” ujarku kemudian. Mengayunkan kaki, membayangkan sedang apa Jimin yang tengah sendirian di markas saat ini. Mungkin ia akan mulai menghitung ulang ubin lantai.

“Jadi, apa kau menemukan sesuatu?”

Suaraku terdengar lagi saat Namjoon hanya diam saja memperhatikan papan iklan besar yang ada di sebuah gedung yang jaraknya cukup jauh dari kami. Biasanya ia sudah cerewet membagikan pendapatnya tentang orang-orang, tetapi sekarang, ia kelihatan berbeda.

“Aku melihat orang melakukan bunuh diri, beberapa jam lalu.” Akhirnya Namjoon menyahut. Aku menolehkan kepala, ingin mendengarkan lebih lanjut—untuk saat ini saja. Ia mendesah sebelum berbicara lagi. “Seorang lelaki. Aku sudah sering bertemu dengannya. Ia tampak buruk. Berbagai masalah menimpanya dan ia sudah tak tahan lagi. Pada akhirnya, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya.”

Mendengar itu, aku sedikit bergidik.

“Seharusnya ia tak seperti itu. Masalah yang ia alami sesungguhnya adalah proses untuk membuatnya menjadi seseorang yang lebih baik. Bukan alasan untuk segera mengakhiri segalanya. Kau mengerti?”

Sesaat, aku memikirkannya. Tetapi, tetap saja. Secara teknis, Namjoon lebih tua enam tahun dariku. Ucapannya terkadang sangat sulit untuk dimengerti.

“Baiklah jika tidak. Bukan masalah,” kata Namjoon yang sudah hapal dengan diriku. Aku meringis.

“Kita pulang saja. Aku sudah merindukan Jimin.”

:::

Esoknya, aku bersyukur tidak bertemu dengan Namjoon lagi. Sudah cukup kemarin malam aku tak sengaja berpapasan dengannya yang mengakibatkan diriku harus mendengar ucapannya yang menurutku absurd.

Aku berjalan di antara kerumunan, kembali menikmati malamku yang sendirian. Meski sudah merasa bebas, lautan manusia ini tetap membuatku risih. Aku menepi. Melangkah masuk ke dalam sebuah gang sempit tanpa penerangan yang seolah tak memiliki ujung. Mungkin kalau aku membawa Jimin, ia pasti sudah merapat di sampingku dengan gemetar. Setidaknya, aku lebih berani daripada dia.

SREK!

Bunyi gemerisik samar menyapa runguku. Aku sudah nyaris berada di akhir gang gelap itu ketika melihatnya. Seorang wanita dewasa, sibuk memasukkan potongan-potongan tubuh berlumur darah ke sebuah kantong plastik berwarna kelam. Raut wajahnya yang sendu semakin terlihat menyedihkan saat ia membelah dua pasang tangan secara bersamaan dalam sekali tebas. Darah menyiprati mantel merah yang dikenakannya saat langit bahkan sangat cerah malam ini. Matanya menyalak saat ia menyelesakkan bagian terakhir—sebuah kepala gadis berkepang dua yang matanya membeliak.

Aku kenal betul wanita itu.

Penyebab dari semua penderitaan yang saat ini kualami. Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat, omong-omong.

Ia membereskan aksinya. Melepas mantel itu dan memasukkanya ke dalam kantong plastik, lalu mengikat talinya erat. Ia mengeluarkan kantong lain, membungkus hasil kegiatannya dengan rapi. Tempat yang sepi dan gelap memang selalu menjadi favoritnya. Hal yang membuat belasan tahun menjadi tak berarti baginya—karena tidak ada seorang pun tahu. Ia kemudian menumpahkan tempat sampah yang ada di dekatnya, lantas membakar sisa-sisa buangan tersebut. Tak sampai asapnya membumbung ke angkasa, ia sudah meraih jeriken berisi air yang bertengger di samping kakinya. Menuangnya hingga habis, menghanguskan api yang sempat berkobar sembari mencuci tangannya yang berlumur cairan pekat.

Jejak dan bercak darah lenyap.

Wanita itu berhasil lagi. Aku tersenyum kecut. Ia memasukkan kantung plastiknya ke dalam tempat sampah yang sudah kosong lantas berjalan pergi meninggalkannya. Diam-diam aku mengikuti langkahnya dengan berjalan merapat di tembok. Di tikungan, aku menjulurkan kepala, melongok dari balik tumpukan batu bata. Ia sudah kembali ke tokonya. Tampak baik-baik saja seolah tak merasa bersalah sedikitpun telah membunuh gadis malang korban penindasan teman-temannya yang ia jumpai kemarin siang. Muak melihatnya, aku memilih untuk kembali ke markas.

:::

Dua minggu berselang kemudian.

Setelah berhasil mengabaikannya dalam kurun waktu tersebut, pada akhirnya aku kembali mengawasinya. Itu karena suatu alasan. Sore tadi, ketika aku mengantar Jimin pulang ke markas sebelum berkeliling lagi, aku melihatnya. Bersama seorang lelaki yang berumur sama denganku. Bukannya tatapan berkilat yang biasa ia tunjukkan, kali ini wanita itu memandang si bocah dengan keibuan.

Hal yang tidak masuk akal itulah yang kemudian membawa langkahku ke rumahnya. Aku mengelilingi sepetak bangunan sederhana itu hingga sampai ke jendela ruang makan; tempat di mana mereka berdua sedang bersiap menikmati hidangan. Aku memilih mengintip lewat celah di jendela sembari memasang telinga. Tetap mencoba mencuri dengar apapun yang mereka bicarakan, tetapi nihil. Hanya terdengar bunyi piring yang berdentang.

Wanita itu menaruh makanan di atas meja namun celah di jendela tidak membuat mataku tahu apa yang sedang hidangkan. Satu hal yang jelas, aroma sedap keju seketika menusuk indra penciumanku, membuat tanganku tanpa sadar mengelus perut. Sudah lama sekali sejak aku makan hidangan yang lezat.

Mataku memicing untuk melihat lebih jelas. Wanita itu memandang si bocah lekat, sebuah kerlingan yang belum pernah kulihat tujuh belas tahun terakhir. Tidak mungkin! Bagaimana bisa tatapan sayang menyorot dari mata gelapnya?! Selalu yang kulihat adalah nafsu membunuh yang membara darinya. Tapi ini…

“Kau terlihat menderita, Jungkook.” Suara sang wanita mengalun lembut usai santapan mereka tandas. “Tidurlah. Percaya padaku, setelah ini kau akan bebas dari semua penderitaan.” Wanita itu tersenyum selagi mengantar si bocah bernama Jungkook ke sebuah ruangan. Aku mengikutinya dari luar dan terus menatap mereka dari celah kecil di jendela.

“Terima kasih, Bibi. Kau baik sekali, seperti Ibu yang sedang kurindukan.” Jungkook berujar lemah sembari membaringkan tubuh ringkihnya di kasur. “Selamat malam.”

Aku terus mengamati dari luar setiap gerak-gerik mereka. Wanita itu membelai surai hitam si bocah. Bibirnya terus menyenandungkan sebuah nada lembut, mengantarkan Jungkook ke alam mimpi.

Entah berapa lama aku berdiri di sini. Ketika wanita itu keluar dari kamar, suara Namjoon tiba-tiba saja menyapa ruang dengarku. “Sudah kubilang jangan tiba-tiba menghampiriku!” omelku padanya. Namun cengiran singkat yang kudapat sebagai balasan.

“Kapan kau akan berhenti?”

Mungkin orang lain tidak paham, tapi aku sangat mengerti maksud dari pertanyaan Namjoon.

Aku tidak berniat menjawab. Irisku hanya terfokus pada wanita yang kembali memasuki kamar dengan sebuah tali di tangan. Tanpa sadar aku mendengus. Ternyata semua pancaran sayang hanya trik belaka. Wanita itu masih sama, persis dengan sifat yang kukenal bertahun-tahun belakangan.

Ia duduk di pinggir kasur,  wajah cantiknya menghadap ke arahku saat ia mengalungkan tali itu ke sekitar leher Jungkook. Dahiku mengernyit melihatnya menghela napas panjang sambil menyembunyikan mata di balik kelopak. Kristal cair mengaliri dua sisi pipi. Hei, ini tidak seperti biasanya saat dia akan membunuh!

SRET.

Masih memejamkan mata, ia membelitkan tali, mencekik leher Jungkook yang kemudian bangun dengan kelopak mata terbuka lebar dan mengerang kesakitan.

“Bersabarlah. Semuanya akan selesai, Taehyung.” Dia membisikkan sebuah nama yang tidak pernah lagi meluncur dari bibirnya sejak tujuh belas tahun yang lalu.

Wanita itu membuka mata.

Napas Jungkook terhenti.

Semuanya berakhir.

Kukira begitu.

“Sekarang aku bisa bersamamu, anakku.” Wanita itu mengusap wajah tenang Jungkook, lalu memeluknya. Dia menarik benda tajam berkilat dari sebuah laci di samping kasur. Mataku membulat ketika tahu-tahu saja tangan kiri sang wanita memuncratkan darah, mengenai wajah pucat Jungkook, tembok, dan segala hal di dekatnya. Ia lantas tergeletak begitu saja di atas tubuh si bocah. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, ia berujar, “Aku menyayangimu, Taehyung.”

Aku tak bisa melepaskan pandangan dari keheningan dalam kamar. Namun aku bisa merasakan, Namjoon sedang menatap lekat ke arahku. Bisa kudengar helaan napas panjangnya sebelum ia berkata pelan.

“Kau tahu keju?” Namjoon memulai keabsurdannya. Membuatku teringat akan hidangan makan malam terakhir mereka. “Kau tahu apa saja yang telah dilalui susu untuk bisa menjadi keju yang lezat dimakan?” sambungnya lagi. Aku hanya terdiam, toh dia juga pasti akan terus berbicara. “Semua proses menyakitkan telah susu lewati. Pemanasan, pengasaman, penambahan zat-zat lain dia jalani supaya bisa menjadi keju.

“Seperti itulah kehidupan. Untuk bisa menjadi seseorang yang berhasil, dia harus melewati banyak cobaan. Tergantung individu, apakah dia mau menerima tantangan atau menyerah di tengah jalan. Kalau dia bisa bertahan, dia akan berhasil. Kalau dia lemah, dia hanya akan menjadi keju gagal yang berakhir di tempat sampah.

“Lihat wanita itu. Tak bisa kau pungkiri, dia gagal menerima kenyataan telah kehilangan anak yang dia cintai dan berakhir menjadi pembunuh remaja yang serupa dengan putranya. Sekarang dia berakhir di tangannya sendiri hanya karena seorang bocah yang mirip dengan anakanya. Miris sekali.”

Lagi-lagi Namjoon menghela napas panjang. Ia tersenyum.

“Sekarang kau bisa pergi dengan tenang, Taehyung.”

Suara Namjoon menghilang begitu juga dengan sosoknya.

Sekali lagi aku menatap dua mayat di hadapanku. Semuanya telah berakhir. Namjoon benar, aku bisa pergi dengan damai sekarang. Tak ada lagi gunanya aku tinggal di dunia yang bahkan tidak menyadari keberadaanku. Aku berbisik pelan.

“Sampai jumpa lagi, Ibu.”

end.

Advertisements

One thought on “[Opposite Attract] A Silent Night Before His Eyes

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s