[Opposite Attract] Filosofi Cokelat

Filosofi Cokelat

Collab fiction by. Wanna-Four Team (Peachnojams, Rijiyo, Nidhyun, zulfhania)

Starring by. Kim Seokjin and the woman

Fluff, Romance || G || Oneshoot (1997 words)

Sub-tema: Cokelat

Disclaimer! Fanfiction ini dibuat dalam rangka event ‘Opposite Attracts’ yang diadakan oleh BTSFFI dengan hak cipta milik Wanna-Four Team (keempat author yang telah disebutkan di atas). Jadilah reader yang baik dengan meninggalkan feedback di bawah. Happy reading and hope you like it 🙂

.

Summary:

‘Apakah kau masih merasakan warna cokelat di dalam diriku?’

.

.

Ada satu hal yang membuat Seokjin merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya.

“Kim Seokjin-ssi, besok aku akan datang lagi ke sini untuk menemuimu,” ucap seorang wanita yang bahkan tak Seokjin ketahui namanya. Setelah membayar belanjaannya, wanita itu keluar dari toko cokelat tempat dimana Seokjin bekerja.

“Sepertinya penggemarmu bertambah lagi, Seokjin hyung,” ledek Namjoon yang sedang membersihkan kaca jendela tak jauh dari meja kasir.

Seokjin menghela napas berat.

Sebenarnya, Seokjin menyukai pekerjaannya. Diterima sebagai salah satu pegawai di toko cokelat ternama di bilangan Gangnam merupakan kabar bahagia untuknya. Ia sangat menyukai makanan manis berwarna gelap itu. Aromanya begitu menggugah rasa dan tak pernah membuatnya bosan untuk menikmatinya. Ia pun percaya kalau dirinya akan dengan sepenuh hati bekerja di toko tersebut meskipun hanya mendapatkan shift kerja di bagian kasir.

Namun, rupanya tak semua hal yang diinginkannya dapat membuatnya nyaman.

Toko tersebut dikenal dengan banyaknya pegawai yang berwajah tampan dan juga banyaknya pelanggan wanita yang membeli. Tentu saja, kebanyakan wanita yang datang tak lain dan tak bukan memiliki maksud tujuan lain; menggoda para pegawai lelaki yang bekerja di sana.

Hal itulah yang membuat Seokjin merasa tidak nyaman, padahal baru seminggu ia bekerja di sana.

Bukannya Seokjin tak menyukai wanita, hanya saja ia merasa tidak nyaman apabila setiap harinya digoda oleh para wanita yang bahkan tak ia kenal maupun ketahui namanya. Bukankah suatu hal yang berlebihan itu tidak baik?

Dan Seokjin merasa ia sudah terlalu overdosis digoda oleh para wanita itu.

“Ah, aku berharap para wanita yang datang ke sini berhenti menggodaku, Namjoon-ah,” ucapnya dengan nada frustrasi.

Ting!

Suara bel di atas pintu kaca berdenting pelan ketika pintu tersebut dibuka oleh seseorang. Seorang wanita berbando oranye masuk ke dalam toko mereka.

“Selamat datang dan selamat berbelanja!” sambut Seokjin dan Namjoon serempak pada pembeli yang baru saja datang.

Wanita itu hanya tersenyum sekilas pada keduanya sebelum mengambil nampan dan memilih cokelat yang hendak dibelinya. Seokjin tertegun. Ini pertama kalinya ia hanya mendapat balasan senyum dari wanita yang datang. Biasanya pasti ia akan mendapat balasan suara teriakan, ‘Hello, my handsome guy, i’m back! Do you miss me?’. Heol, dasar para wanita kurang kasih sayang.

Tapi, wanita yang baru saja datang ini berbeda.

Seokjin sempat bertanya pada Namjoon melalui bisikan, apakah wanita itu pembeli baru? Namun rupanya Namjoon menjawab bahwa wanita itu juga pelanggan tetap yang biasanya datang tiap akhir pekan ke toko ini.

“Oh? Apakah kau pegawai baru di sini?” tanya wanita itu ketika hendak membayar belanjaannya di kasir.

Seokjin hanya tersenyum dan mengangguk.

“Terima kasih telah datang,” kata Seokjin sambil menyerahkan uang kembalian dan struk belanjaan wanita itu.

Wanita itu menerimanya sambil berucap, “Aku merasakan warna cokelat di dalam dirimu.”

“Eh?” Manik Seokjin mengerjap tak mengerti, barusan wanita itu bilang apa?

Ketika Seokjin hendak bertanya apa maksud ucapannya, wanita itu sudah berlalu pergi keluar dari toko. Ia hanya dapat melihat punggung wanita itu yang semakin menjauh sebelum akhirnya menghilang di balik persimpangan jalan.

Untuk beberapa saat, Seokjin terdiam. Ucapan wanita itu terus terngiang di telinganya. Aku merasakan warna cokelat di dalam dirimu.

Sungguh mustahil. Bagaimana warna cokelat bisa dirasakan? Seokjin merasa ada yang aneh dari wanita itu. Tapi entah kenapa hal itu malah membuatnya penasaran dan ingin bertemu lagi dengan wanita itu.

Oh, baiklah. Untuk pertama kalinya sejak seminggu ia bekerja di sana, akhirnya ia menantikan kedatangan seorang wanita.

* * *

Menunggu bukan pekerjaan yang menyenangkan bagi Seokjin, tapi euforia yang sulit diterjemahkan ketika ia memikirkan kalimat wanita yang mengisi pikirannya sejak seminggu terakhir, membuat laju waktu terasa lebih cepat.

Heol, apa dia sejenis paranormal?”

“Ya? Kau bilang apa, Sweetheart?”

“Ah, maaf sepertinya aku sedang melamun tadi. Silakan belanjaan Anda.” Seokjin buru-buru menyerahkan kantong belanja pada seorang pelanggan yang memanggilnya SweetheartSeokjin ingin muntah, jujur saja.

Namjoon menyikut lengan Seokjin ketika denting bel terdengar untuk kesekian kalinya di pintu masuk. Namjoon cukup peka bahwa Seokjin menaruh atensi lebih pada pelanggan berbando oranye yang baru datang.

“Selamat datang dan selamat berbelanja!”

Wanita itu mengangguk dan tersenyum sebagai balasan atas sambutan dari Seokjin dan Namjoon. Seokjin melebarkan senyumnya, berusaha membuat koneksi mata dengan wanita itu.

Wanita itu masih mengenakan hiasan rambut yang sama, juga sweater peach yang sama seperti terakhir kali Seokjin melihatnya. Heol, bagaimana Seokjin bisa mengingat visual wanita itu dengan begitu jelas?

“Kau datang lagi,” kata Seokjin sembari menghitung belanjaan wanita itu.

Wanita itu tersenyum. Ada semburat merah samar tercetak di pipi susunya.

“Karena aku suka cokelat yang ada di sini,” ujarnya sambil menerima kantong belanjaan dari tangan Seokjin.

“Ah, tentang kalimatmu yang kem—”

Sebelum Seokjin sempat untuk bertanya wanita itu sudah berlalu pergi dengan senyuman. Seokjin mendengus geli. Sekarang rasanya bukan hanya kalimat terakhir wanita itu yang berputar di kepalanya tapi juga senyum manis wanita itu.

* * *

Namjoon pernah bilang padanya jika wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling rumit. Jalan pikiran mereka serupa labirin yang perlu perjuangan untuk dapat memahaminya. Tapi ada sebagian wanita yang pola pikirnya sedeharna dan mudah ditebak. Contohnya, wanita-wanita haus kasih sayang yang kerap menggoda Seokjin setiap kemunculannya di toko.

Ngomong-ngomong soal wanita yang sulit untuk dimengerti, Seokjin bahkan tidak tahu nama pelanggan wanita berbando oranye. Biasanya para pelanggan wanita lain bahkan memberikan nomer ponsel mereka dengan senang hati.

Akhir pekan jadi waktu yang paling sibuk bagi Seokjin, tapi juga paling dinanti. Belum pernah selama dua puluh lima tahun hidupnya ia merasa begitu penasaran akan eksistensi seorang wanita. Jika dihitung, ini sudah minggu ketiga sejak pertemuan pertama mereka.

“Selamat datang dan selamat berbelanja!”

Sapaan yang sama untuk setiap pelanggan yang datang, tapi senyum Seokjin selalu merekah lebih lebar jika pelanggan berbando oranye itu datang.

“Hei.” Seokjin membuka pembicaraan ketika antrian wanita itu sampai padanya. Entahlah, Seokjin tidak mengerti mengapa ia merasa perlu untuk membangun komunikasi dengan wanita berbando oranye itu.

“Hai.” Wanita itu membalas dengan canggung.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Wanita itu tersenyum geli. “Apapun.”

Seokjin bertanya lagi dengan lamat-lamat. “Apakah kau masih merasakan cokelat di dalam diriku?”

Alih-alih bertanya apa maknanya, Seokjin lebih ingin memastikan eksistensi dirinya di mata wanita itu.

Wanita itu tersenyum lagi, kemudian mengangguk. Darah Seokjin berdesir. Rasanya ada perasaan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi bolehkah aku tahu namamu?”

Seokjin berniat mengulurkan tangannya setelah wanita itu menerima kantong belanjaannya. Tapi suara protes dari antrian yang mengular di belakang terdengar menginterupsi.

Ya! Kenapa lama sekali?!”

“Apa yang kau lakukan dengan Seokjin-ku?”

Wanita berbando oranye tertawa menanggapinya. Ia membungkuk pelan sebelum meninggalkan Seokjin dengan para pelanggan yang siap mengamuk.

Seokjin mengutuk dalam hati. Selalu saja wanita itu pergi dengan tanya yang belum terjawab. Baiklah, setidaknya mereka akan punya cukup waktu pekan depan, pikir Seokjin.

* * *

Seokjin dengan berat hati membalik papan tanda ‘open’ menjadi ‘closed’ di pintu depan toko. Seharusnya ini menjadi pertemuan keempatnya dengan pelanggan berbando oranye, tapi wanita itu tidak muncul. Seokjin yakin bahwa ia tidak melewatkan kehadiran seorang pelanggan pun di akhir pekan ini.

Seokjin mulai mengutuki diri sendiri karena tidak seberani Namjoon dalam berurusan dengan wanita. Namjoon jadi terus merecokinya mengapa hubungannya dengan pelanggan berbando oranye itu tidak ada kemajuan sama sekali. Hei, memang apa yang diharapkan dari pertemuan singkat seperti itu?

Seokjin mensugesti pikirannya bahwa wanita berbando oranye itu tidaklah terlalu spesial untuk dinantikan seperti apa yang hatinya cetuskan. Tapi gagal. Bohong jika Seokjin bilang ia tidak kecewa karena wanita itu tidak muncul hari ini.

Karena nyatanya, wanita itu telah memiliki tempat spesial di dalam hatinya, tanpa ia sadari.

* * *

Minggu kelima sejak pertemuan pertama mereka. Sampai titik ini, Seokjin sadar bahwa selain segudang tanya, wanita itu juga meninggalkan secuil rindu.

Jika sudah rindu biasanya orang cenderung jadi gelisah. Nah, sisa hari yang Seokjin lewati pun jadi penuh rasa gelisah. Hatinya menaruh harap pada lonceng di depan pintu, berharap bahwa setiap denting yang terdengar akan membawa langkah wanita yang dia nanti.

Tapi lagi-lagi wanita yang senyumnya terus menghiasi mimpi Seokjin beberapa minggu belakangan ini, tidak datang. Seokjin hanya khawatir jika tidak pernah bisa bertemu wanita itu lagi. Ia khawatir jika kisah ini hanya sebatas imajinasi liarnya. Ia khawatir jika ia tidak akan pernah tahu arti kalimat wanita itu untuknya.

‘Aku merasakan warna cokelat di dalam dirimu.’

* * *

Hari ini adalah tepat minggu keenam sejak pertemuan mereka.

Ting!

Seokjin masih menaruh harap pada denting bel itu sebagai pertanda dari kehadiran wanita yang selama ini ditunggunya.

“Selamat datang dan selamat berbe–”

Ucapan Seokjin menggantung di udara ketika ia mengangkat kepala dan tatapannya bertemu dengan senyum manis dari… wanita berbando oranye.

Seokjin tersenyum. Ia selalu tahu bahwa selalu ada harapan bagi orang yang tak pernah berhenti berharap.

“–lanja.” Seokjin menyelesaikan kalimatnya yang menggantung tanpa sedikitpun melepaskan pandangan pada wanita itu yang kini berjalan menuju rak untuk memilih cokelat yang hendak dibelinya.

“Akhirnya kau datang juga.”

Seokjin tak bisa menahan diri untuk mengajaknya berbicara ketika wanita itu kini berdiri di depan meja kasirnya, menyerahkan nampan belanjaan padanya, dan menunggu transaksi jual-beli itu selesai.

“Ya?” Sepertinya wanita itu tidak mendengar suara Seokjin dengan jelas.

Seokjin hanya menggeleng pelan. Alih-alih menjelaskan, ia malah bertanya, “Apakah kau masih merasakan warna cokelat di dalam diriku?”

Wanita di depannya terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk dan berkata, “Ya, aku selalu merasakannya.”

Seokjin menyerahkan kantong belanjaan pada wanita itu sambil bertanya, “Kalau begitu, bagaimana denganmu? Kau merasakan warna apa di dalam dirimu?”

Kembali, wanita itu terdiam. Seokjin cukup tertegun ketika wanita itu malah menunjukkan ekspresi gelap. Apakah ia salah bertanya?

“Aku… tidak merasakan warna apapun.”

Jawaban wanita itu sungguh di luar dugaan Seokjin. Dan belum sempat Seokjin bertanya maksudnya, wanita itu sudah berbalik pergi.

“Tunggu!”

Seokjin buru-buru keluar dari meja kasir dan menahan lengan wanita itu. Sebelum wanita itu kembali pergi dengan meninggalkan tanda tanya untuknya, Seokjin harus mendapatkan jawabannya hari ini. Ia tak ingin kehilangan kesempatan lagi. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Apa maksudmu tidak merasakan warna apapun?”

Wanita itu tak menjawab, malah memalingkan pandangannya dari Seokjin.

“Apakah kau sedang bercanda padaku? Kenapa kau bilang begitu di saat yang sama kau mengatakan padaku bahwa kau merasakan warna cokelat di dalam diriku?”

Wanita itu terdiam untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya bersuara, “Aku penderita sinestia, kelainan psikologis bagi seseorang yang bisa merasakan warna.”

Kali ini Seokjin yang terdiam. Ia baru mengetahui fakta yang satu itu.

“Apakah kau pernah mendengar sebuah filosofi bahwa warna cokelat dipercaya mampu menciptakan kenyamanan, keakraban, serta rasa aman?” Wanita itu kembali berbicara.

“Itu hanyalah sebuah filosofi, tapi aku memang merasakan warna itu di dalam dirimu; yang mampu menciptakan rasa nyaman dan aman. Apakah kau tidak menyadarinya ketika banyak wanita datang ke sini untuk menemuimu? Itu karena kau menciptakan perasaan semacam itu pada mereka.”

Wanita itu mengangkat kepala, balas menatap Seokjin yang tampak tertegun akan ucapannya.

“Kau tanya padaku kenapa aku tidak merasakan warna apapun? Itu karena aku memang tidak dapat merasakannya. Aku mengalami masalah selama dua pekan kemarin dan membuat hidupku terasa tidak aman. Tapi pada pekan ini, setelah datang ke sini, tiba-tiba saja aku merasa aman, karena aku merasakan warna cokelat itu di dalam dirimu. Itulah sebabnya aku selalu datang ke sini, untuk membeli cokelat dan juga merasakan warna cokelat yang ada di dalam dirimu.”

Setelah berkata begitu, wanita itu berbalik pergi. Melangkah keluar toko cokelat, dan meninggalkan Seokjin yang masih tertegun.

Untuk beberapa saat, yang Seokjin bisa lakukan hanyalah diam. Mencerna kembali kata demi kata yang diucapkan wanita itu, hingga akhirnya sebuah sinyum simpul terukir di bibirnya. Ia mengerti sekarang.

Seokjin memandang punggung wanita berbando oranye itu yang semakin menjauh dari pandangannya sambil mengucapkan sebuah harapan baru di dalam hatinya.

Tenang saja, aku akan menjadi warna cokelat dalam hidupmu agar kau bisa selalu merasakannya, Calon Masa Depanku.

 

E N D

Advertisements

4 thoughts on “[Opposite Attract] Filosofi Cokelat

  1. Khaicha

    Awww the last sentence nya bikin meleleh! Mau dong jadi masa depannya mas seokjin jugaaa /jduak!

    Manis sekali tulisannya. Sejauh mata memandang ga menemukan sesuatu yang perlu dikoreksi. Suka sekali sama fiksinya. Sukses terus yaaa!

    Like

  2. Aww untuk kalimat terakhir. nice words, 1997. Hehe.
    Itu pembelinya, yang rata2 wanita, gak takut gemuk ya^^v biasanya kan anti sama makanan gituan(?) tapi kl gak mau gemuk, ini untuk semua, pilih coklat yang gak ada tambahan susunya apalagi white chocolate nonono! Pilihnya dark choco yg pahit :v tapi kita beli untuk dinikmati kan ya hehe.
    Sebenarnya itu bukan hanya filosofi, tapi beneran kl kamu makan coklat kamu bakal merasa good mood, nenangin diri kamu dan bakal ngerileksin diri. Pasti udah merasakannya dong ya.
    Tapi ingat, selain hal positif itu coklat juga ada negatifnya, dan yg kutahu kandungan coklat cukup mengerikan._. Krn mata kita tidak bisa melihat seperti pertumbuhan bakteri di air minum, kita patut bersyukur hehe. Sama halnya dengan minuman bersoda atau junk food maupun camilan tidak sehat lainnya, boleh makan tapi tidak boleh setiap saat. Inget ya! Hehe…

    O ya, ngomong-ngomong itu cewenya gak ada baju lain apa(merujuk pada penjelasan ketika Seokjin bertemu untuk kedua kalinya)-____-
    Satu lagi, jangan heran kalo liat komenan saya yg panjang😁😁 saya selalu begitu, menyampaikan apa yg saya rasakan ketika membaca dan menjelaskan hal2 yg berkaitan dengan topik bacaan padahal gak perlu krn ya gak dibahas:v

    Liked by 2 people

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s