[Opposite Attract] Hidden Resolution

Hidden Resolution

Fanfiction by Bebhmuach, Fuseliar, Dyvictory, WLP

Starring [BTS] Kim Seokjin, Kim Namjoon, Park Jimin, Kim Taehyung & Jeon Jungkook || [OC] Naomi & Lee Byunghun

Roller Coaster || Oneshot || Crime, Angst, Mystery, Thriller || PG-17

 

Poster by : lee sinhyo

 sinhyosdorm.wordpress.com

 

Summary:

Mereka mencoba mengambil keuntungan berlebih

.

.

.

 

“Dia mengeruk keuntungan untuk dirinya sendiri.”

Pernyataan ini terlontar dari bibir Jimin ketika Namjoon dan Jungkook masih mengamati berkas di tangan masing-masing. Kebetulan Naomi—adik Kim Namjoon—juga berada di sana untuk mengantarkan secangkir kopi untuk mereka.

“Bukankah sudah jelas, jika keuntungan itu akan dibagi menjadi empat.” Jimin masih saja bicara.

Alih-alih merespon, Namjoon malah memasang senyum yang memunculkan sepasang di pipinya sambil mengamati mimik wajah si pemuda yang sedang menahan emosi.

“Lalu kau mau apa?” Itu Jungkook yang bertanya, ia terlihat mulai jengah

Jimin terlihat ragu barang sejenak, matanya melirik berkas di atas meja.“Aku akan datang padanya. Kalau perlu, kupakai cara kasar agar dia jera.”

Namjoon tak membalas, hanya mengembalikan berkas itu di atas meja. Jungkook memandangi Jimin dengan picingan tajam dari sudut matanya.

“Bodoh,” sahut Jungkook ketus, tapi pemuda yang di depannya nampak oke-oke saja.

“Kau kan tahu, dia memiliki banyak pengawal. Belum sempat menyentuh, mungkin kau sudah dihajar duluan.”

“Jadi, kau akan diam saja dan membiarkannya menikmati seluruh keuntungan?” Jimin bersidekap dan matanya melirik tajam.

Namjoon menghela napas panjang kemudian mencoba perlahan berdiri setelah ia menarik sebuah map kuning di atas meja. “Sudahlah kalian berdua. Yang pasti, kita tidak bisa tinggal diam. Won-won itu berharga untuk kita semua. Jika kita tidak bisa memilikinya, maka dia  juga tidak boleh memilikinya.”

“Kau benar, Joon. Bunuh saja dia, itu akan menghentikan kecurangannya.” Jungkook tertawa puas. “Yah, itupun kalau kau punya nyali dan bisa lari dari hukum.”

Dua pemuda lainnya hanya tersenyum menanggapi kalimat Jungkook. Naomi beranjak dari tempatnya, berniat meninggalkan ruangan. Dengan pinggiran mulut cangkir yang masih menempel di bibirnya, Jungkook berusaha tersenyum pada Naomi. Gadis itu membalas, namun ia tak sengaja menjatuhkan pulpennya.

Jungkook spontan memungut benda itu dan memberikannya pada Naomi. “Hati-hati.”

Naomi buru-buru melesakkan benda itu ke dalam saku celananya, lalu kembali tersenyum. Lain halnya Jimin, wajahnya berubah masai saat melihat pemandangan itu. Jimin lekas bangkit dan mengajak Naomi—dengan merengkuh pinggulnya—untuk meninggalkan ruangan.

 

.

.

 

Seorang gadis manis tahu-tahu sudah berdiri di tepi kursi yang diduduki Jungkook.

“Belum pulang?”

Jungkook hanya menampilkan senyum timpang sebagai jawaban.

“Kau kelihatan buruk.”

Jesus, aku ingin sekali menghabisinya.”

Gadis itu tersenyum kecil ketika derapnya membawa ke arah kursi di sebelah si pemuda. “Take it easy, Kook.” Suara lembut dari gadis itu perlahan menembus gendang telinga Jungkook dan memberikan rasa nyaman.

 “Aku benar-benar tidak menyukai Jimin, Nao.”

“Karena memilikiku atau menjadi saingan bisnis?” Naomi bermaksud bercanda dengan kalimatnyan, namun air wajah Jungkook serius dan dingin.

“Keduanya.” Kentara sekali ekspresi keras yang terpeta pada wajahnya.

Naomi tersenyum tipis. “Kau terlalu keras pada dirimu, Kook.”

Jungkook mendesah. “Jika aku tidak bisa memilikimu maka siapapun tidak boleh memilikimu. Tapi itu terdengar mengerikan, bukan? Ah, sudahlah. Aku pulang dulu.”

Jungkook melangkah pergi dan Naomi masih menatapnya hingga menghilang di balik pintu.

.

.

 

 

“Kim Taehyung-ssi.”

Pria dua puluh lima itu menoleh cepat, tahu bahwa panggilan formal yang ditujukan padanya merupakan pertanda bahwa ia harus setuju klub malamnya diperiksa.

“Ya, ya. Periksalah, Jin. Aku sudah terbiasa. Apa kau butuh sesuatu lagi?” Taehyung menanggapi setelah Seokjin—kepala polisi bagian kriminal—menunjukkan surat perintah.

“Aku dapat informasi, ada seorang pemuda kedapatan membawa ganja. Setelah diselidiki, beberapa jam sebelumnya dia sempat ke klubmu.” jelas Seokjin.

Kedua mata pria itu membesar. “Astaga. Oh ayolah, Kim Seokjin. Aku sudah tiga tahun membuka klub ini, dan kau pun tahu aku tidak pernah menjual ataupun memberikan barang seperti itu.”

Seokjin tersenyum miring, ia memilih mengabaikan Taehyung.“Yibo, periksa semuanya jangan sampai ada cela.” Perintah itu tegas dengan suara dalam yang kasar.

Percuma saja Taehyung menggerutu dan memasang wajah sebal saat Seokjin menyuruh satu anggota timnya ke dalam klub.

“Kau mau kemana?” tanya Seokjin saat Taehyung hendak berbalik meninggalkannya.

“Aku lebih baik pulang. Kerjakan saja tugasmu, dan cepatlah pergi.”

Pria itu menyintas langkah menuju mobilnya. Tepat berhenti di depan pintu mobil Taehyung yang masih disibukkan dengan mengetik sejumlah angka untuk dikirim masuk ke dalam rekeningnya, tiba-tiba merasakan sesuatu menimpa kepalanya. Hingga kepalanya berdenyut kencang serta udara panas melingkari tubuhnya. Ia terjatuh, segala sesuatu di sekelilingnya tampak berputar. Bahkan Taehyung harus memicingkan mata untuk sekedar melihat sosok seseorang yang berdiri di depannya.

Tidak lama kemudian, Taehyung menyadari sosok yang mengenakan serba hitam itu membawa sebuah pisau di tangannya.

“Si—siapa kau?” Taehyung mendengar suaranya tercekat di tenggorokannya sendiri.

Tak ada jawaban.

Pisau itu berayun seperti siap menikamnya. Suara di dalam kepala Taehyung terus menjerit, memerintahkan untuk menyelamatkan diri. Tetapi ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya untuk bergerak banyak. Sosok misterius itu terus mendekatinya, seraya mengangkat pisaunya tinggi-tinggi di atas udara. Taehyung siap berteriak, namun satu-dua mikrosekon selanjutnya sosok menyeramkan tadi sudah tergeletak di tanah dengan pisau yang bersarang di perutnya.

Taehyung yakin kedua matanya sedang tidak berkhianat. Entah kapan atau darimana, muncul kembali satu sosok hitam yang ia yakini adalah pelaku penusukan itu. Setelahnya, sosok itu pergi meninggalkan Taehyung yang masih terlihat syok.

Tiba-tiba Seokjin datang menghampiri Taehyung. “Kau tidak apa-apa?”

Pertanyaan Seokjin membuat Taehyung kembali ke alam sadarnya. Keringat membanjiri tubuhnya dan napasnya tersengal-sengal.“Ji-Jin, dia ingin membunuhku. Tadi, pisau itu diarahkan padaku. Ta-tapi, sosok itu langsung menusuknya.” Taehyung mencoba menjelaskan kejadian meskipun terbata-bata.

Seokjin mengernyit.“Sosok itu? Maksudmu ada orang lain di tempat kejadian?”

Cap, korban sudah terindentifikasi.” Satu anggota tim Seokjin menyela.

Seokjin hanya mengucapkan kata ‘oh’ dan lantas mengekori anggotanya ke tempat korban. Penutup kepala sosok itu sudah dibuka, darah segar pun keluar dari mulutnya. Taehyung bergerak maju dan mencengkeram bahu Seokjin. Kedua pupil Taehyung membesar ketika melihat wajah si sosok menyeramkan baginya itu.

“Jimin?”

“Kau mengenalnya?”

“Ya … tidak terlalu.”

Seokjin membaca gerak-gerik tak biasa dari pria itu, nampak sekali jika Taehyung tak pandai berdusta.

“Bicara saja di kantor polisi nanti. Sepertinya kau dalam bahaya, Taehyung-ssi. Pihak kepolisian akan memberimu perlindungan.”

Taehyung menoleh dan menatap Seokjin penuh keyakinan. “Baiklah, Jin.”

“Yibo, buat surat perlindungan korban untuk tuan Taehyung.”

.

.

 

Yibo memberikan beberapa lembar kertas di atas meja kerja Seokjin.

Cap, coba kau lihat ini.”

Seokjin berdecak kagum melihat jumlah angka yang tertera di setiap transaksi. “Bisnis macam apa yang mendapat pemasukan dua milyar dalam satu bulan?”

“Taehyung mendirikan klub malam di Jepang. Tapi, bisnis ini tidak ia lakukan seorang diri. Kim Namjoon, Jeon Jungkook dan Park Jimin ikut berinvestasi,” jelas Yibo.

Angka-angka bernilai fantastis yang tertangkap indera penglihatannya sedikit menguarkan sebuah dugaan.

“Apakah Taehyung melakukan kecurangan?” tanya Seokjin, punggungnya ia sandarkan pada sandaran kursi.

Yibo tersenyum kecil dan mengangguk. “Taehyung tidak memberikan keuntungan secara merata kepada mereka berempat.”

“Baiklah kalau begitu.” Seokjin tersenyum lantaran ada tanda-tanda bahwa pekerjaannya sudah menemui titik terang.

“Tapi Cap, aku berhasil menemukan hal lain.” Seokjin menoleh ke arah Yibo. “Taehyung memiliki data kejahatan sepuluh tahun silam sebagai pelaku tabrak lari di Daegu. Namun ia berhasil lolos dari hukum.”

Seokjin menautkan kedua alisnya. “Lalu, apa hubungannya dengan kasus ini?”

“Orang yang Taehyung tabrak adalah kedua orang tua Kim Namjoon. Kebetulan di tempat kejadian Namjoon berada di sana dan kakinya harus diamputasi”

Seokjin menyeringai lebar begitu mengenali nama yang disebutkan Yibo. “Aku mulai mengerti sekarang.”

 

.

.

Bruk.

 

Seorang pemuda baru saja menggebrak meja.

“Jimin mati! Ini pasti ulah Taehyung. Benar kata Jimin, laki-laki itu ingin menikmati keuntungan untuk dirinya sendiri.” Jungkook terlihat kesal.

Namjoon hanya melirik dan membubuhkan senyum cuai pada wajahnya. Entahlah, tapi nampaknya Namjoon terlihat tidak begitu tertarik meskipun pemuda itu tahu bahwa ia memiliki hubungan baik dengan Jimin. Ibu Jimin yang seorang pengacara adalah penasehat hukum untuk perusahaan Namjoon. Belum lagi, Jimin adalah kekasih dari adiknya.

“Jimin saja yang bodoh. Tidak becus melakukan pekerjaan, bahkan hal mudah sekalipun,” ucap santai Namjoon.

“Apa? Apa maksudmu, Joon?”

Namjoon tidak segera menjawab, ia malah melipat rapi korannya dan terlihat santai-santai saja. “Kalau begitu, kau saja yang menghabisi Taehyung. Dengan begitu kau juga bisa memiliki Naomi. Menggiurkan, bukan?”

“Kau bilang apa?”

“Bukankah sudah jelas, kita semua menginginkan Taehyung mati dan mendapatkan hak kita?”

“Jangan-jangan, kau yang menyuruh Jimin untuk membunuh Taehyung?”

Namjoon menunjukkan senyum kecil penuh bangga sebagai jawaban.

“Kau gila, Joon.”

“Aku hanya ingin keadilan. Dan kau perlu melakukannya juga.”

“Tidak. Kau kan tahu, aku ikut berinvestasi karena Naomi. Aku ingin dapat berdekatan dengannya. Aku mencintai Naomi.”

“Dasar bodoh. Naomi mencintai Jimin.”

Segalanya terjadi begitu saja; Jungkook yang lebih dulu mengenal dan bersahabat dengan Naomi, kemudian sang gadis memilih Jimin yang baru dikenalnya dengan beralasan ‘ia lebih nyaman bersamanya’.

“Aku tahu itu.” Ditatapnya Namjoon dengan sengit. “Lakukan saja sendiri pekerjaan kotor itu, Joon. Aku pergi.”

Dasar bodoh!

Namjoon tersenyum miring.

Buru-buru Jungkook melangkah menuju mobilnya dan melesat pergi, namun di tengah perjalanan mobilnya di hadang beberapa polisi. Mau tak mau Jungkook menghentikan laju mobilnya.

“Ada apa ini?”

Seorang anggota polisi berkaca mata hitam menghampiri dan memperlihatkan kartu identitasnya. “Saya Kim Seokjin dari kepolisian Seoul, Anda bisa ikut kami ke kantor.”

“Apa? Kesalahan apa yang kuperbuat sam—”

“Anda ditangkap sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan berencana saudara Park Jimin.”

“Apa? Aku tidak membunuh Jimin!”

Teriak Jungkook diabaikan oleh sang polisi. Jungkook langsung diborgol dan diseret paksa menuju ke kantor polisi. Mereka langsung membawa Jungkook ke dalam ruang interogasi.

“Aku bukan pembunuh. Kau tidak bisa menangkap seseorang tanpa bukti.”

Jungkook bersungut, tetapi Seokjin malah tersenyum remeh. Ia menaruh sebuah pulpen di atas meja. Jungkook mengerutkan kening kuat-kuat. Sepertinya ia pernah melihat benda  yang persis seperti itu di suatu tempat. Seokjin pun menekan ujung kepala pulpen.

“Sudahlah kalian berdua. Yang pasti, kita tidak bisa tinggal diam. Won-won itu berharga untuk kita semua. Jika kita tidak bisa memilikinya, maka dia  juga tidak boleh memilikinya.”

“Kau benar, Joon. Bunuh saja dia, itu akan menghentikan kecurangannya.”

 

Rekaman itu berhenti di sana. Jungkook mendelik, ia tahu betul jika suara di dalam rekaman itu adalah miliknya. Tidak, kalimatnya tidak terputus sampai di situ. Karena saat itu Jungkook sedang mencoba melontarkan candaan.

“Masih mau berkelit? Coba kau juga dengar yang ini.” Seokjin kembali menekan ujung kepala pulpen itu.

“Jesus, aku ingin sekali menghabisinya. Aku benar-benar tidak menyukai Jimin.”

“Tidak! Aku tidak melakukan ap—” Jungkook berteriak histeris. Dua polisi yang sudah berdiri di kedua sisinya lekas mencengkeram lengan Jungkook dan membawanya ke sel tahanan.

Tak lama setelah itu ponsel Seokjin berdering. Satu sudut bibirnya menjungkit naik melihat nama yang terpampang pada layar.

“Kau aman sekarang, Jungkook subjek yang bagus untuk menjadi kambing hitam. Siapkan saja bagianku.”

.

.

“Naomi, kau mau pergi ke Jepang?” Namjoon bertanya saat ia memandangi aquarium di ruangannya. “Itu pasti menyenangkan. Aku jadi ingat dulu, ayah dan ibu mengajak kita ke Osaka.”

Naomi duduk di atas meja kerja Namjoon sambil menyeruput kopinya. “Bagaimana dengan posisimu? Aman?” tanya Naomi dengan kuriositas begitu jelas di wajahnya.

“Kau tenang saja, aku dalam posisi aman. Jungkook akan menjadi kambing hitam yang pas untuk kita. Komisaris besar polisi di Korea masih lebih mencintai uang dibandingkan hukum. Jadi ini hal yang mudah. Selebihnya hanya permainan politik. Ranah pasar Jepang bisa kita jangkau, dengan membunuh Taehyung akan sangat menguntungkan. Itu tidak sulit bagimu, kan?”

Naomi tersenyum tipis.

.

.

“Bos Mafia Narkoba, inisial JJK telah ditangkap kemarin. Saat ini pelaku tengah menjalani pemeriksaan di kantor kepolisian Seoul. Pemeriksaan ini dihadiri oleh Komisaris besar kepolisian Korea Selatan.”

 

Laki-laki itu terduduk di depan televisi. Rambut cokelatnya terlihat kusut. Ia memegang cangkir dengan kopi yang telah tumpah di atas paha dan juga perutnya. Mulutnya menganga dan air liur keluar dari sana. Kedua matanya terbelalak tanpa berkedip. Beberapa lalat datang mengunjunginya. Tak ada yang menyadari bahwa televisi sedang menontonnya.

 

End.

Advertisements

One thought on “[Opposite Attract] Hidden Resolution

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s