[Opposite Attract] Jiri’s Cave

Jiri’s Cave

Author : Goa Team (Oh Nara, putripucuk, ARRYLEA, Jung Michan)

Cast : Kim Taehyung & Song Haera

Genre : AU, Romance, Mystery

Sub-Tema : GOA

Rate : PG-15

Leght : Ficlet

Disclaimer : BTS belong to god, their parent, Bighit Ent, and ARMY. This story is dedicated to BTS FF event. Sorry about typo or ambiguisme word. Happy reading…

Summary : Sebenarnya tidak harus mengeksplor tema secara nyata, hanya saja tema kali ini benar-benar sulit dan butuh ekspektasi secara langsung.

.

****

 

“Lusa. Gunung Jiri, potong kontur, bagaimana?”

Haera dan kedua-belas manusia yang sedang duduk mendengarkan arahan pendakian sontak mendongkak. Terkejut dengan arahan Kim Taehyung teramat sadis untuk dituruti; pintanya. Mungkin benar mereka adalah mahasiswa pecinta alam yang senang menaklukan gunung, tapi baru kali ini rasanya tidak sanggup untuk menjinakkan tingginya puncak gunung dengan potong kontur—bahasa pemetaan, istilah garis di bidang ketinggian.

“Kau ingin kami mati?!”

“Kau gila, Taehyung? Ada wanita di tim kita!”

“Tahu begini, aku tidak akan ikut rapat!”

Berbagai protes terus menyulutkan emosi, menjorok kepada si pencetus impresi meminta untuk membatalkan pendakian. Namun Taehyung tetaplah Taehyung dengan seribu ide gilanya, ia bersikeras melanjutkan niat pendakian ke Gunung Jiri dengan memotong kontur. Boys always likes the challenge, right?

“Aku tidak akan memaksa kalian yang tidak mau ikut,” jelas Taehyung. “Untuk yang ikut denganku, acungkan tangan kalian!”

Dari ketiga belas anggota hanya menyisakan enam orang yang akan ikut andil menantang Gunung Jiri dengan potong kontur, hingga obisidian Taehyung menyadari ada hal ganjal dengan anggota pendakiannya.

Song Haera, menempatkan namanya sebagai satu-satunya gadis yang ikut pendakian ekstrem itu, mengacungkan salah satu tangan dengan sangat percaya diri, langsung membuat atmosfer ruangan sunyi senyap.

Bukan apa-apa, Taehyung tidak pernah mempermasalahkan gender untuk pendakian, tapi potong kontur ini sedikit memicu banyak hal yang pria sejati saja belum tentu dapat melakukannya. Lantas impiannya untuk membuktikkan bahwa ia adalah seorang pria sejati harus kandas karena Haera ikut serta dalam pendakian ini.

“Haera! Kau perempuan tidak perlu ikut!” desak Taehyung gusar.

“Aku tetap akan ikut, aku juga ingin menaklukan Jiri-san!” balas Haera, semakin menjatuhkan ekspetasi Taehyung untuk mendaki tanpa perempuan—sesuai tujuan awalnya membuat aturan potong kontur.

“Haera, kau tahu potong kontur itu se—”

“Aku. Tetap. Akan. Ikut. Titik!” tegas Haera langsung pergi meninggalkan ruang kesekretariatan mahasiswa pecinta alam. Meninggalkan kekesalan terdalam pada Kim Taehyung serta makiannya yang tak terhitung pada Song Haera.

“Gadis menyebalkan!”

***

Siang berganti malam, malam berganti pagi, hari pendakian yang sudah disetujui lusa lalu telah tiba hari ini. Ke-enam anggota sudah siap bergegas untuk menaklukan Gunung Jiri—melewati jalan yang sama sekali belum pernah mereka lewati.

Jimin, Jungkook, Hoseok dan Yoongi sudah berjalan terlebih dulu menapaki kaki gunung, disusul Taehyung dan juga Haera—wanita satu-satunya yang ikut mendaki—dengan bawaannya yang cukup berat bagi seorang gadis.

“Kau yakin tidak akan apa-apa, Haera?” tanya Jungkook selagi keduanya berjalan berdampingan, sengaja melambatkan langkahnya.

“Aku akan baik-baik saja, Jungkook, tidak usah khawatir.”

“Jangan dengarkan dia, Kook, sebentar lagi juga akan pingsan!” sinis Taehyung.

“Apa pedulimu‘sih, Kim Taehyung?” sambut Haera tak kalah sinis.

“Tidak ada, hanya memperingatkan padamu saja; kalau kau pingsan, akan kutinggalkan kau di sini!”

Haera nyaris saja menonjok wajah Kim Taehyung kalau saja Jungkook tidak menengahi keduanya yang sangat hobi bertengkar satu sama lain itu. Oh, baiklah, itu bukan hobi, melainkan rutinitas mereka jika bertemu. Saling kenal sejak SMA bukannya membuat mereka menjadi teman yang baik, melainkan rival untuk saling menjatuhkan satu sama lain.

Perjalanan mereka terus berlanjut hingga berada di tengah-tengah pegunungan saat ini. Sang surya terus meninggi. Jalur kian curam, bebatuan, dan tanah gembur menghadang—terutama lagi keinginan Taehyung untuk memotong kontur membuat perjalanan semakin sulit.

Belum terhitung empat jam berjalan, Haera membuat kesalahan fatal, ia tersandung akar besar yang menjorok ke atas tanah; membuatnya terjatuh.

“Aw … sial kakiku,” pekiknya.

Mendengar jeritan itu, Taehyung berbalik dan melihat Haera yang sedang berlutut sambil memegangi salah satu kakinya.

“Ah, dasar gadis itu, menyusahkan saja!” gerutu Taehyung.

“Teman-teman, kalian duluan saja, tunggu aku dan bocah ini di pos lima!” ucap Taehyung, berusaha bertanggung jawab karena ia yang memimpin pendakian, disambut dengan anggukan dari ke-empat temannya.

“Kau baik-baik saja? Sudah kubilang tidak usah ikut, menyebalkan ….”

Haera tidak menjawab, ia hanya meringis kesakitan karena kakinya terkilir. Ia sendiri tidak yakin bisa melanjutkan perjalanan atau tidak, namun dengan tekad yang kuat ia berusaha berdiri kembali meski kakinya tak sanggup menopang tubuh sendiri—membuatnya tumbang lagi.

“Haera, kau—astaga! Biar kubawakan carrier-mu!” kata Taehyung mendekati Haera dengan sedikit panik karena gadis itu keras kepala sekali untuk bangun.

“Aku bisa!” katanya meyakinkan.

“Haera, sekali saja kita berhenti bertengkar dan kau menurutiku, kondisi kita bukan di kampus, tapi di hutan!” tegas Taehyung kesal.

Haera lagi-lagi diam, ia mengangguk sambil mengerucutkan bibir—ikut kesal. Ia memberikan carrier empat puluh liternya pada Taehyung dan langsung berusaha untuk berdiri lagi.

“Pegang tanganku,” pinta Taehyung, mengulurkan tangannya ke belakang tanpa menengok. Butuh waktu cukup lama bagi Haera untuk menerima uluran tangan Taehyung, namun ia juga tidak bisa berkeras kepala seperti ini terus, benar kata Taehyung, kondisinya berbeda.

Mau tidak mau, Haera menggantungkan tubuhnya pada Taehyung sambil terus berjalan menaiki medan yang semakin tinggi, menahan sakit di kaki. Sesekali terdengar Haera mengerang, membuat Taehyung ikut tidak tenang dengan kondisi gadis di belakangnya.

“Kau yakin baik-baik saja?”

“Aku tidak apa-apa. Sudah kubilang, kan, aku ini bukan gadis lemah!”

“Haera, apa yang sudah kubilang padamu beberapa menit lalu? Jangan keras kepala untuk sekali ini saja!” Taehyung akhirnya berbalik, menyentuhkan lututnya dengan tanah, mengecek pergelangan kaki Haera yang sudah ia duga membiru. “Kau terkilir, Haera,” kata Taehyung, mendadak sibuk menurunkan carrier Haera dan miliknya.

“Duduk!” pintanya.

“Apa yang—”

“Duduk! Biar kupijit sebelum semakin bengkak!”

“Tapi Taehyung yang lain sudah meninggalkan kita!”

“Mereka sudah kupinta untuk menunggu di pos depan, cepat duduk!” Tegas Taehyung.

Haera menurut tanpa protes seperti biasanya. Meluruskan kaki selagi membiarkan Taehyung memijiti bagian yang bengkak, sesekali jeritan kecil keluar dari bibir si gadis—tak sanggup mengelak rasa sakit akibat tekanan yang Taehyung berikan.

Mengingat waktu terus berjalan mendekati siang, sepasang pendaki itu kembali melanjutkan perjalanannya sebelum gelap menyapa. Pos demi pos mereka lewati, matahari yang sempat membirukan angkasa kini mulai merundukkan warna. Mereka berdua terpisah dari rombongan.

***

Ketika sore mulai bergerak menuju malam, Taehyung dan Haera masih berjalan menaiki medan, peluh tidak pernah absen melewati kulit keduanya, erangan napas lelah menunjukkan betapa besar usaha mereka untuk menaklukan Gunung Jiri.

“Taehyung, lihat, ada gua di sana!” Haera menunjuk sebuah gunung batu berlubang di antara ribuan pohon, terlihat gelap namun tampak nyaman untuk ditinggali. “Sebentar lagi gelap, aku tidak yakin bisa menyusul yang lain, bagaimana jika bermalam di sana saja?” usulnya.

Taehyung tengah berpikir sejenak, menimang saran Haera. Ia mengangguk dan setuju. Sepasang pendaki itu kemudian bergerak mendekati gua, memerhatikan sekitarnya apakah aman atau tidak. Tenda telah terbangun, api unggun kecil telah dibuat menjadi penerang di malam yang gelap, dan makan malam telah disantap.

Di bawah bintang, Taehyung dan Haera merebah sejenak di mulut gua, kaki dan pundaknya terasa pegal. Belum lama mereka berniat beristirahat tiba-tiba tanah berguncang hebat. Panik. Taehyung dan Haera berusaha melarikan diri namun kalah cepat untuk keluar dari gua.

“Taehyung! Kau di mana?” pekik Haera semakin panik karena mulut gua tertutupi reruntuhan batu.

“Aku di sini!” sambut Taehyung, beriringan dengan munculnya cahaya dari lampu minyak yang berlari memasuki gua ketika gempa terjadi. Haruskah Haera merasa beruntung karena ada Taehyung dan alat penerangnya?

“Bagaimana kita bisa keluar dari sini, Taehyung? Barang-barang kita nyaris di luar semua,” keluh Haera, tidak bisa  menyembunyikan kepanikan.

“Hei, tenanglah, kita akan bisa keluar dari sini.”

“Bagaimana bisa tenang? Jalan keluar kita tertutup oleh batu sialan ini! Apa perlu kita singkirkan sendiri dengan kedua tangan? Yang benar saja?!”

“Haera, hei, tenanglah, emosimu juga tidak akan menyelesaikan masalah.”

Haera menarik napasnya panjang, mencoba untuk tenang dan tidak panik. Mengalahkan rasa takut dan berbagai pemikiran negatif akan tewas mengenaskan di dalam gua ini ia tepis sedikit demi sedikit.

“Ayo kita masuk ke dalam, mungkin gua ini memiliki ujung satunya seperti terowongan,” saran Taehyung memimpin jalan.

Terhitung tiga puluh menit berlalu, mereka masih berjalan menyusuri gua.  Hingga Taehyung menemukan tulisan hanja yang terukir rapi di dinding gua.

“Haera, sebentar,” katanya, mengalihkan lampu minyak dari arah jalan ke dinding gua. Haera terkejut melihat tulisan hanja yang rapi terukir di dinding. Namun sayang ia tidak bisa sama sekali membacanya.

“Taehyung, apa artinya?” tanya Haera meminta penjelasan, mengingat Taehyung sendiri adalah seorang mahasiswa Sastra Korea.

Taehyung terus mengarahkan lampu minyak ke arah dinding, membaca satu persatu tulisan hanja yang terukir.

“Haera, ini, terserah kau percaya padaku atau tidak, tapi tolong percayalah karena ini benar-benar di luar dugaanku,” tutur Taehyung resah.

“K-kenapa? Apa yang tertulis di sana?”

Taehyung mengatur napas, mencoba tenang sebelum menjelaskannya pada Haera, “Jadi … gua ini adalah tempat putri Silla  bunuh diri bersama kekasihnya yang merupakan seorang rakyat jelata. Kau tahu, restu, kerajaan, bla-bla-bla, mereka memilih untuk mati bersama daripada hidup terpisah.”

Haera diam menyimak, matanya tak henti mengerjap cepat. Taehyung kembali melanjutkan, “Gempa yang terjadi barusan bukanlah gempa biasa, melainkan perangkap putri Silla agar setiap orang yang masuk bisa ikut mati bersamanya.”

“Taehyung—”

“Aku belum selesai. Kita bisa keluar jika kita percaya dengan cinta sejati, aku tidak tahu persis apa yang akan terjadi jika kita percaya, di sana hanya tertulis kalau kita akan dituntun untuk keluar.”

“Bagaimana caranya percaya dengan cinta sejati?” tanya Haera.

“Berciuman, mungkin?”

“Kau gila?! Berciuman denganmu?! Aku tidak sudi!” sungut Haera, ia langsung merebut lampu minyak dan menyusuri jalan sendiri. “Aku akan mencari jalan keluar sendiri kalau begitu!”

“Haera, tunggu … kau tidak bisa pergi sendiri!” tutur Taehyung mengejar si gadis.

Mereka terus berjalan menyulusuri gua panjang dan gelap ini. Tak terpungkiri saat ini Haera merasa khawatir dan takut, ia masih memikirkan tentang kisah putri Silla. Gadis itu menggeleng dan meyakinkan dirinya bisa menemukan jalan keluar.

Di tengah perjalanan mereka, mereka dipertemukan dua lorong gelap berlawanan arah. Mereka berhenti dan menimang jalan yang akan mereka pilih untuk bisa keluar dari gua ini.

“Taehyung, kita harus memilih lorong yang mana?”

Taehyung juga ikut berpikir dan memilih lorong mana yang akan mereka pilih.

“Kita masuk ke lorong ini saja.” Ucapnya seraya menunjuk lorong di sebelah kanan.

“Kau yakin? Apa kita berpencar saja?”

“Kau gila?! Berbahaya jika kita berjalan sendirian. Ayo ikuti saja jalan ini!” Taehyung menarik tangan gadis itu dan berjalan ke arah yang ia pilih.

Mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka. Tak perduli sejauh apa mereka berjalan, mereka tidak pernah menemukan jalan keluar dari gua itu. Seperti sebuah labirin panjang yang tidak pernah diketemukan ujungnya.

Haera nyaris menyerah. Mungkin benar kata Taehyung, cinta sejatilah yang bisa menyelamatkan mereka dari gua ini. Namun, lagi-lagi gadis itu menggeleng, pikiran dan egonya tak berjalan searah saat ini. Membuat Haera mendesah pelan, pasrah pada keadaan.

“Taehyung, bukankah ini jalan yang baru kita lewati tadi?”

“Kau benar, ini adalah jalan yang baru kita lalui tadi.”

“Aku menyerah, kita tidak akan pernah keluar dari tempat ini.”

Haera menutup matanya dengan kedua tangan; menangis. Gadis itu sudah lelah berjalan menyelusuri gua ini, namun tetap saja mereka hanya kembali kepada tempat yang sama. Taehyung yang melihatnya langsung berjalan mendekati gadis itu, berdiri di hadapan Haera dengan memegang tangan Haera yang menutupi wajahnya.

“Kau tidak perlu khawatir Haera, ada aku disini … kau tidak sendiri.” ucap Taehyung meyakinkan gadis itu.”

“Tapi, bagaimana dengan ibuku? Dia pasti sangat mencemaskanku, harusnya aku menuruti permintaan ibuku untuk tidak ikut pendakian ini.”

Tanpa sadar Haera menyandarkan kepalanya di dada bidang Taehyung. Menangis dalam diam dalam pelukan Taehyung. Sedangkan pria itu hanya mengelus-elus rambut gadis itu, membuatnya tenang.

“Aku tahu ini gila, tapi kita tidak ada pilihan lagi. Kita harus berciuman untuk bisa keluar dari tempat ini.”

Haera melepaskan pelukan Taehyung, terkejut dengan apa yang dikatakan pria itu. Tapi ia benar, tidak ada jalan lain.

“Tapi petunjuk itu hanya diperuntukkan untuk cinta sejati, sedangkan kita … sudahlah lupakan,”

Bukannya menjawab perkataan Haera, Taehyung malah memegang erat pundak Haera dan memandangnya lekat. Haera gugup seketika karena hal itu.

Pelan tapi pasti Taehyung semakin mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Di detik kemudian bibir mereka sudah menyatu. Taehyung semakin melumat pelan bibir gadis itu, membuat Haera hanya bisa meremas ujung jaketnya menahan gejolak dalam dirinya.

Taehyung melepaskan tautan mereka kala sebuah cahaya terang memekikkan mata. Sontak ia langsung menarik tangan Haera berlari ke arah cahaya terang itu. Sampai dimana ujung cahayanya berhasil membawa keduanya keluar dari gua.

“Taehyung, maaf—”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, terimakasih atas ciumannya.”

“A-apa?!”

“Sshh …,” tegur Taehyung menutup mulut Haera dengan jarinya, “Kalau kuperhatikan lagi, kau cukup pantas jadi seorang gadis, ya, Haera?”

Oh, sial, ia kecurian ide gila Kim Taehyung.

end.

Advertisements

One thought on “[Opposite Attract] Jiri’s Cave

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s