[Opposite Attract] Living His Life

Living His Life

a fictional writing by Ravenclaw, Nagi, Babyneukdae_61 & Angelina Triaf

Min Yoongi (BTS) | Childhood, Family, Slice of Life | G | Vignette

.

0o0

 

Sembilan tahun lalu sebuah tangisan bayi mungil yang baru lahir ke dunia memberikan haru pada tiap anggota keluarga. Hujan di luar jendela yang membawa angin sejuk tak luput ambil bagian dalam kebahagiaan mereka.

 

Pria yang sedari tadi mengaitkan jemari berdoa tanpa henti pada Tuhan kini melepaskan pias di wajah, seolah beban dan rasa takut dalam dirinya hilang terangkat rasa syukur yang membuncah. Si kecil lahir diliputi kegembiraan dan perasaan lega. Air mata bercampursenyuman bahagia, tak ada ekspresi lain yang bisa menggantikan hal tersebut.

 

Namun, sang dokter tersenyum tipis menyiratkan sesuatu, mau tak mau menarik atensi sang suami, Tuan Min. Hatinya berkata ada sesuatu yang tidak beres.

 

Benar saja, beliau berkata bahwa bayi lelaki mereka lahir dengan kekurangan. Seluruh keluarga telah diberi tahu untuk selalu memberikan perhatian khusus pada anak itu kelak saat ia tumbuh semakin besar.

 

Min Yoongi, nama si malaikat kecil, penuh doa dan harapan dari ibu dan ayah tercinta.

 

Anak itu bisa berjalan di usia lima tahun, ia tampak menjadi begitu pendiam, pemilih dan tak mudah beradaptasi terhadap segala hal. Berteriak, menangis dan marah adalah ketiga ekspresi yang menjadi pertanda bahwa ia sedang menginginkan sesuatu―dengan skala yang berlebihan, tak seperti anak normal lain seusianya.

 

Ayah dan ibu memaksa ia untuk mengucapkan kata-kata sederhana semacam eomma dan appa, tetapi sungguh disayangkan ia hanya bisa membuka mulutnya dan berteriak tanpa arti. Kata-kata sederhana tersebut sangat sulit untuk keluar.

 

“Anak saya bisa bicara saat berusia lima tahun.”

 

“Anak tetanggaku bisa bicara saat usia tiga setengah tahun.”

 

Ibu muda itu percaya saja akan semua ucapan mereka saat melihat Yoongi tidak dapat berucap sepatah kata apa pun selain teriakan keras yang amat mengganggu. Setiap hari ia dan sang suami memainkan piano untuk Yoongi. Awalnya anak itu marah dengan suara asing tersebut, ia selalu marah dan membanting benda-benda di sekeliling.

 

Seiring waktu berlalu, justru Yoongi mulai terbiasa dengan dentingan piano tersebut, malah ia akan marah jika sang ibu berhenti memainkan piano untuk dirinya. Yang ia inginkan hanyalah ibunya yang bernyanyi sembari bermain piano untuknya.

 

Beberapa hari berikutnya, Yoongi melihat pantulan dirinya di depan cermin besar, mencari cara untuk menggerakkan bibir tanpa suara; mencoba berbicara dengan benar seperti ibunya. Namun bibir tersebut hanya bergetar biasa, tetap tak mengeluarkan kata-kata yang jelas. Pantulan di hadapannya hanya membelalak seolah kesal setengah mati.

 

Belum genap masalah tentang pertumbuhan Yoongi, keluarga mereka ditimpa sebuah musibah yang amat menyakitkan hati. Kursi makan yang biasanya diisi oleh tiga orang kini tak lagi sama. Salah satu kursi harus kehilangan fungsinya. Tuan Min kecelakaan saat mengendarai mobil di jalan raya.

 

“Yoongi, tempat yang ramai ini, tempat yang berisik dengan kendaraan ini adalah tempat di mana sang malaikat menjemput ayahmu untuk pulang ke surga.”

 

Anak berambut cokelat gelap itu tak mengerti dengan perkataan sang ibu, ia hanya bisa memandang bingung pada perempatan jalan raya yang sangat ramai di jam pulang kantor seperti saat ini.

 

Tahun-tahun penuh duka itu  perlahanberlalu. Yoongi terus tumbuh menjadi bocah yang sangat menyukai bunga. Asalkan terlihat indah, ia akan menyukai bunga itu. Ia sangat gemar memetik bunga-bunga tersebut dan menyimpannya. Yang ia ketahui dalam pemikiran polosnya bahwa para kupu-kupu selalu menyukai bunga karena bentuknya yang lucu.

 

Seperti drama-drama yang menggambarkan kejamnya kehidupan, semua orang menghina Yoongi lantaran dirinya yang memiliki kekurangan. Meski begitu, ia tetaplah bocah lelaki lugu yang selalu penasaran tentang banyak hal.

 

Saat itu ia baru tahu bahwa para anak perempuan sangat menyukai bunga. Saat itu ia baru duduk di bangku sekolah dasar, dengan senyuman memberikan salah satu bunga miliknya kepada teman perempuannya di kelas.

 

Namun, tak ada siapa pun yang mau menerima.

 

Sang ibu hanya bersabar melihat kehidupan putranya yang selalu menyedihkan. Mengurus seorang anak yang harus diberikan perawatan khusus memang sangat membutuhkan kesabaran luar biasa. Apalagi dalam kasus ini, ia menjaga Yoongi seorang diri, Tak ada lagi figur sang suami yang selalu menopangnya ketika ia hampir putus asa.

 

Walaupun tak ada teman sekelas yang mau menerima, Yoongi tetap tersenyum dan memberikan bunga kecil berwarna kuning yang ia petik di taman sekolah untuk ibunya saat mereka hendak makan siang.

 

Wanita itu menerimanya dengan senang hati, rupanya dugaan Yoongi tentang perempuan yang menyukai bunga tidaklah salah.

 

“Eomma milip tupu-tupu, tantik.” (Eomma mirip kupu-kupu, cantik.)

 

****

 

Materi pertama hari itu adalah bahasa Korea oleh Jung seonsaengnim yang galak.

“Lanjutkan pada halaman 102, bab tiga, paragraf dua. Kita akan menandai kalimat sifat pada paragraf itu.”

Yoongi sibuk menatap jendela, melihat lapangan olahraga yang tengah menampilkan murid-murid kelas lima bermain bola.
Melihat mereka, mengingatkan Yoongi tentang taman bermain di dekat rumahnya.

“Halaman 102, bab tiga, paragraf dua. Bisakah kau memperhatikan, Yoongi?”

Yoongi tidak peduli, seakan telinganya sudah disumpal dengan kapas, bocah itu terus menatap ke luar jendela tanpa berkedip ataupun bergeming.
Tatapan kosongnya tampak semakin kosong, memisahkan pikirannya dari dunia nyata.

“YOONGI!” bentak guru tersebut hingga membuat seisi kelas ikut terkejut, termasuk Yoongi yang tengah nelamun

“Halaman 102, bab tiga, paragraf dua. Baca kalimat pertama dan tunjukkan kata sifat pada paragraf tersebut.”

Yoongi menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang bodoh.

“Astaga, bantu dia,”

Teman sebangku Yoongi membukakan buku materi milik Yoongi pada halaman yang sudah diberi tau, bahkan dia juga menunjukkan paragraf mana yang harus dibaca.

Yoongi terdiam, ia menunduk menatap buku materi tanpa bergerak ataupun berbicara seakan dirinya adalah patung berjalan. Seluruh seisi kelas menatapnya terus menerus.

“Kalau begitu kita akan mencari kata sifat bersama-sama, tolong kau baca saja kalimat pertamanya.”

Tangan kecil nan putih milik Yoongi mengepal
“Marika manari.” (mereka menari)

Mereka tertawa, namun tidak dengan Jung seonsaengnim, ia tersenyum sinis, mengangguk atas apa yang Yoongi ucapkan.

“Baiklah. Baca huruf yang menari itu.”

Yoongi kembali tertunduk, menatap buku miliknya, baru kali ini ia terlihat sedikit ketakutan, bibir kecil itu bergumam tidak jelas seperti ingin mengucap sesuatu.
Ia melirik pada guru di depan kelas, kemudian kembali bergumam tidak jelas.

“Aku bilang bacalah yang keras dan tepat, Yoongi! KERAS DAN TEPAT!”

“Hihihihihihihi hohohonolnolnolnol,” kata Yoongi, berhasil membuat tawa para murid semakin menjadi-jadi sementara Jung Seonsaengnim melotot terkejut

“Hentikan! Sudah hentikan! Keluar sekarang!”

Dengan langkah lambat dan kepala tertunduk, Yoongi melangkah keluar kelas, ia bisa mendengar suara kikikan tawa dari para murid yang mengejeknya.
Namun bocah itu tidak peduli, ia tetap melangkah menjauh dari kelas dan pergi menuju pojok sekolah, tempat di mana ia selalu menyendiri.

Yoongi duduk, dengan kaki yang ia tekuk dan ia peluk, baru kali ini ia merasa begitu kesepian, ia ingin segera pulang.
Beruntung ia melihat seekor semut yang berjalan di dinding, dirinya merapat, mendekati semut-semut tersebut. Meniup-niup dinding agar semut tersebut berjatuhan.

“Simut-simut, Jung Seonsaengnim mirip simut..” (Semut-semut. Jung Seonsaengnim mirip semut)

****

Nyonya Min harus dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk menemui pada guru, membahas tentang Yoongi yang mungkin tidak dapat naik kelas, lagi.

“Lihatlah, Yoongi tidak mengerjakan apa pun di kertas ulang matematikanya. Bahkan ia juga tidak dapar menulis dengan benar dalam pelajaran bahasa. Belum lagi segala tingkah dan perilakunya yang benar-benar tidak dapat diatur.”

Para guru tersebut memprotes, mereka tidak habis pikir tentang Nyonya Min yang masih saja bersikeras untuk menyekolahkan Yoongi di sekolah anak-anak normal.
Ucapan mereka perlahan menjadi semakin menajam dan tanpa sadar mereka mengatakan bahwa Yoongi adalah anak yang idiot dan pemalas.

“Yoongi memang kekurangan. Dia memang tidak sama seperti anak ibu yang pintar atau anak lainnya. Dia tidak pandai dalam materi, dia tidak bisa membaca, dia tidak bisa menulis, dia kesulitan bicara, saya tahu itu. Tapi, anak saya autis. Saya tahu anak saya tidak sesempurna anak kalian, itu karena IQ dia yang rendah dan tingkahnya!”

Air mata itu berhasil lolos dan mengalir, Nyonya Min menangis di hadapan wali kelas dan kepala sekolah Yoongi serta para guru lainnya.

“Tapi dia anak tetap anakku…”

Apakah Yoongi sebegitu buruknya? Apakah Yoongi tidak pantas untuk hidup?

Hanya karena ia autis, apakah ia harus diperlakukan seperti itu?

Setelah pulang dari sekolah, Yoongi keluar dari kamar dengan membawa sebuah pianika, bocah itu menunjukkan pianika tersebut kepada sang ibu.

Nyonya Min tersenyum dibalik air matanya
“Iya, Nak. Itu adalah hadiah untukmu.”

Yoongi tampak bahagia meskipun dengan ekspresi kosong, mereka menghabiskan waktu hingga dua jam untuk mengajari Yoongi cara memainkan pianika barunya.

****

Sekarang, ke mana pun Yoongi pergi, pianika itu selalu ada di sisinya seperti seorang teman.
Hari ini ia dimarahi oleh guru karena tidak memperhatikan materi, alhasil ia menyendiri di pojok sekolah sendirian. Yoongi begitu menyukai benda tersebut karena mampu mengeluarkan suara yang indah.

Jari-jari kecil dan lentiknya menekan pianika hingga mengeluarkan melodi musik klasik milik Mozart, yakni twinkle twinkle little star.
Ibunya tidak pernah mengajari melodi tersebut, tetapi Yoongi mempelajarinya hanya karena wanita itu selalu memainkan irama dengan piano tersebut hingga ia tertidur.

“Min Yoongi?”

Yoongi terkejut saat Yoon Seonsaengnim menemukannya di tempat ini. Dia adalah guru musik di sekolahnya. Beliau datang karena mendengar suara musik dari pianika milik Yoongi.

****

Acara ulang tahun sekolah adalah acara di mana para murid dapat menunjukkan bakat atau membuat sebuah persembahan untuk guru ataupun kerabat.
Yoon Seonsaengnim tersenyum lebar saat melihat ibu Yoongi datang.

Setelah menunggu satu jam, saat itulah seorang bocah laki-laki keluar dari ujung panggung dengan menggunakan setelan jas kecil yang tampak serasi dengan kulit putihnya.

Nyonya Min terkejut saat menyadari bahwa anak itu adalah Yoongi.

Piano sudah disiapkan di atas panggung, tanpa memberi penghormatan atau salam, Yoongi langsung berlari menghampiri piano seolah-olah benda itu adalah hidupnya.
Ia membuka penutup piano tersebut lalu memainkannya secara asal layaknya seorang bayi memainkan piano untuk pertama kalinya.

Semua orang menonton dengan setengah geli atau mengejek, namun keterkejutan lain terjadi saat Yoongi mulai memainkan piano dengan penuh irama.
Nyonya Min semakin terkejut, irama itu adalah melodi dari Kreisler yakni Kesedihan Cinta.

Walaupun iramanya masih terdengar lebih sederhana, tapi Nyonya Min tau akan iramanya, karena sang suami dulu selalu melantunkan melodi tersebut untuk mereka.

Sebuah irama yang mampu mengingatkan bocah autis akan kehangatan keluarga. Sebuah melodi yang mampu membuat air matanya menetes dan tersenyum secara bersamaan.

****

Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tak peduli siapapun itu.
Pertunjukkan Yoongi waktu itu berhasil menggugah siapapun tentang dirinya yang selalu dipandang sebelah mata.

Malam hari yang indah ini Nyonya Min mengajak Yoongi untuk bermain.
Sepertinya mencoba beberapa wahana permainan akan sangat menyenangkan.
Seperti biasa, Yoongi selalu berteriak dan memberontak untuk diajak kemanapun, beberapa orang bertanya pada Nyonya Min tentang alasan bocah itu menangis.

Namun ia kembali diam saat pandangannya tertuju pada sebuah bola raksasa yang berputar, bukan, benda itu tidak mirip dengan bola.
Bagi Yoongi, benda tersebut mirip seperti kincir raksasa yang berputar.

“Kau ingin naik bianglala? Baiklah..”

Mereka berdua menaiki bianglala tersebut, menikmati suasana menyenangkan, udara pada malam hari yang menyegarkan membuat Yoongi semakin agresif bergerak.
Namun tatapannya justru tertuju ke luar, menatap begitu banyak lampu bangunan yang terlihat dari atas sini.

Tanpa ia sadari, bocah itu tersenyum lebar. Itu adalah senyuman pertamanya yang terpukau akan keindahan dunia ini.
Perlahan senyuman itu menutup segala lubang yang diciptakan oleh rasa sakit, menyibak tirai rajutan tersebut hingga memancarkan hangatnya suasana malam di hatinya.

****

Sekolah musik. Tampaknya ide dari Yoon Seonsaengnim tidaklah buruk.
Setelah melihat bahwa Yoongi begitu berbakat pada musik membuat Nyonya Min tergugah akan pentingnya sebuah kehidupan.

Angka-angka pada rapot tidak akan membuat anaknya merasa bahagia, akhirnya Yoongi pindah dari sekolah tersebut menjadi Min Yoongi murid dari sekolah musik.

Sebelum resmi menjadi murid kelas musik, Yoongi harus di tes tentang kemampuannya dalam memainkan alat musik.
Nyonya Min menunggu di kursi, menatap anaknya dengan penuh senyuman.

Yoongi yang bermain piano tampak terlihat begitu indah, melebihi apa pun di dunia ini.

Setelah memainkan piano tersebut bocah itu berlari dan memeluknya.

“Ibhu? Kalan kita main ke bainlala lagi?” (ibu kapan kita main ke bianglala lagi?)

Nyonya Min tertawa pelan. Yoongi memang tetap putranya meskipun dia autis ataupun memiliki kekurangan pada dirinya.

 

 

Advertisements

4 thoughts on “[Opposite Attract] Living His Life

  1. Hwaaa… sedih banget bacanya, bener bener kena di hati.
    Btw thor ini ff yang menginspirasi banget untuk semua orang diluar sana agar gak ngremehin orang yang berbeda dengan kita

    Like

  2. Aku nangis huwaaa😭😭 tanggung jawab authornya!😁sebenarnya selalu mengingatkan diri untuk tidak membaca topik anak kecil yg menderita. Eum, sepertinya. Krn airmataku langsung tumpah. Sama halnya ketika aku membaca berita seorang anak perempuan kecil berumur 5tahun yg dimarahi petugas keamanan karena berjualan tanpa ijin diacara festival di London. Tolong itu bapak-bapak, dia itu anak kecil!!!

    Berbicara tentang orang/anak autis. Well, jangan coba2 menghina mereka. Karena walaupun mereka ‘tidak mampu’ dihal yg kamu mampu tapi mereka bisa ‘lebih mampu’ dihal lain yg kamu pun mampu. Ibunya Yoongi inu seperti tipikal orang tua yang ingin anaknya bisa melakukan hal yang bukan kemampuannya. Karena menurut mereka nilai rapot, peringkat di kelas dan segala tetek bengek pujian itu lebih penting daripada menghargai usaha mereka, menghargai perasaan mereka. Tapi untungnya, Ibu Yoongi tidak terlalu memaksakan pada akhirnya setelah melihat kemampuan anaknya.
    Kemampuan anak biasanya didapat alami oleh anak tersebut atau bisa seperti Yoongi yang dari kecil selalu melihat dan mendengar orang tuanya bermain piano. Mengajarkan mereka bukan menjejal paksa mereka.
    Terakhir, aku menemukan dua atau lebih typo di sini._.maafkan aku._. Bukan di dialog Yoongi lho ya hehe.
    Terimakasih pelajaran hidupnya^^
    *komen kepanjangan–sudah biasa*

    Like

  3. Cerita tentang anak autis ya?

    Temanya bagus, penggambarannya juga bagus, biasanya aku tau anak autis pasti aktif, baru kali ini aku tau kalo anak autis bisa pasif, tapi ini keren.
    Banyak materi penting disini tentang jangan mudah remehin orang laen dan kebahagiaan bukan dari materi ya? Iya bukan sih? WKWKWK *soktau, jadi kangen emak ;;;;((
    Authornya belajar psikologi nih pasti…….
    Autisnya di ff ini kaya beneran gitu, salut deh, jarang2 ada ff tentang beginian

    SEMANGAT THOR!! FF NYA KEREN

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s