[Opposite Attract] The Boy with Cheese-Bread

BTSFFI 6th Event: Opposite Attracts (Sub-tema Keju)

The Boy with Cheese-Bread

a fic by Orchidious, d’Blank, juliahwang, shiana.

BTS’ Jeon Jungkook

Vignette | Family, Drama | PG 15

Disclaimer: This fanfiction belongs to Cheesy Team.

Jeon Jungkook hanya anak kecil berumur sepuluh tahun yang begitu menyukai keju. Bukan menyukai dalam artian yang sebenarnya, alasan dibalik itu semua hanya karena keju telah menyelamatkan hidupnya.

 

.

.

Menjadi putra satu-satunya dari keluarga terpandang bukanlah hal yang menyenangkan bagi anak kecil dengan mata besar dan gigi kelinci bermarga Jeon itu. Surai hitamnya menari-nari diterpa angin, begitu juga matanya yang semakin sembab memerah akibat menangis. Sejak ia lahir ke dunia, tak ada kebahagiaan yang ia rasakan bersama sepasang suami-istri yang ia panggil ayah dan ibu. Rumah besarnya yang bagaikan istana hanya berisi teriakan, barang-barang yang pecah dan amarah yang tiada habisnya setiap saat. Membawa selalu mimpi buruk baginya dan berakhir duduk memeluk lutut di balkon kamarnya.

Jika ditanya ia lelah atau tidak, tentu ia akan menjawab dengan lantang bahwa raganya sudah tidak kuat. Pria itu memang masih terbilang kecil, masih belum tahu bagaimana kerasnya hidup ketika ia tumbuh besar nanti, tapi saat ini hidupnya bahkan lebih menyedihkan tanpa menunggu ia beranjak dewasa.

Ayah dan ibunya tak henti-henti saling menyalahkan. Saling mengungkit pernikahan muda yang dialami, hamilnya ibu Jungkook sebelum menikah dan adanya pria kecil itu di tengah-tengah mereka. Jika pria kecil itu tahu bagaimana cara bunuh diri, mungkin sudah lama ia akan melakukannya. Terlebih, kerap kali ia merasakan siksaan fisik yang ibu bahkan ayahnya lakukan tanpa sengaja.

Memukul, menguncinya di kamar mandi, bahkan pernah ibunya mendorong tubuh mungil itu hingga terjatuh dari tangga. Jungkook pernah berharap untuk mati, tapi tak ada yang terjadi dan ia akan tetap merasakan sakit.

Untuk sekarang, ia ingin menunggu waktu yang tepat sembari berpikir ke depannya.

.

Pulang sekolah adalah hal yang paling ia benci setiap harinya. Harus pulang ke rumah yang lebih mirip neraka bukanlah sesuatu yang patut ia tunggu seperti kebanyakan teman-teman sebayanya. Tak ada jemputan sedan hitam seperti biasa. Pagi tadi pelayan rumah bilang bahwa paman yang selalu menjemput Jungkook harus izin karena kepentingan keluarga. Dan sekarang, Jungkook berakhir jalan kaki sambil menunggu bus.

Jungkook selalu membawa baju di tas sekolahnya. Hanya dua pasang untuk jaga-jaga. Ia tak pernah tahu buat apa, yang jelas ada saatnya ia ingin pergi meninggalkan sang ayah-ibu. Dirinya berpikir cukup lama ketika sedang menunggu bus. Hanya lima menit yang ia butuhkan, tubuhnya langsung bangkit dan lari sejauh yang bisa ditempuh.

“Gangnam…”

Jungkook bergumam (yang terdengar seperti mengeja) sendiri sambil matanya menerawang segala bentuk bangunan tinggi di sekitar. Entah berada di mana ia sekarang, Jungkook tetap berjalan sambil berusaha membaca tulisan-tulisan asing yang membuat kepalanya sakit.

Setelah hampir dua puluh menit berkeliling dengan wajah bingung, Jungkook akhirnya berhenti di depan sebuah toko kue bertuliskan, “Cheesy Bakery Madam Kim”. Matanya langsung membulat sempurna. Rasa-rasanya perutnya berbunyi nyaring ketika melihat kudapan-kudapan itu terpajang cantik di etalase toko. Ia lupa, belum ada makanan yang sempat terisi ke dalam perutnya entah sedari kapan. Bocah itu pintar dalam mengelabui orang-orang di rumahnya, memilih makanan untuk diantarkan ke kamar sementara ia membuangnya kemudian. Entahlah, nafsu makannya hilang akhir-akhir ini.

Jungkook tak tahan dengan aroma khas toko itu sampai ketika tangannya terulur, ia masih tak sadar telah masuk ke dalam.

Aroma semakin pekat tercium. Dinding toko seakan menggodanya dengan gambar keju berwarna memikat. Segala jenis kudapan manis dengan bahan dasar keju menyambutnya hangat. Dan ketika kakinya berjalan pelan menuju kasir, seorang wanita dengan keriput yang kentara berhiaskan rambut putih di beberapa helai rambut cokelatnya, menyambut Jungkook tak kalah ramah dan hangat.

“Selamat sore, Anak Manis. Ingin membeli cheese cake untuk siapa?”

.

.

Ketika orangtua Jungkook yang mungkin kini sibuk dengan kesibukan masing-masing, acuh tak acuh tentang anak semata wayang mereka, Jungkook justru tengah mengunyah roti lembut hasil pemberian cuma-cuma dari orang lain. Bukan berarti orangtuanya tidak pernah memberi makan. Jungkook hanya terheran tentang bagaimana orang asing bisa sepeduli itu dengannya dibanding sang orangtua sendiri? Bibi si pemilik toko bahkan tidak mungkin pernah bertemu dengan Jungkook, apalagi mengenalnya. Sama sekali mustahil, tampaknya. Akan tetapi, mengapa bibi itu baik sekali menyerahkan beberapa potong roti gratis padanya?

Benar kata orang, hidup ini memang penuh dengan ironi, ya kan?

“Sepertinya ada yang mengganggumu,” ucapan tiba-tiba si bibi asing membuat Jungkook mengalihkan netranya dari pemandangan di luar jendela. “Kau tidak bersama orangtuamu, Nak?”

Mendengar kata ‘orangtua’ saja menimbulkan cubitan kecil di hati Jungkook. Luka-luka bekas maupun yang masih segar di balik pakaiannya terasa ngilu setengah mati. Bocah itu menghela napas. “Bibi”—mata bulatnya menyapa subyek lawan—”bisa ajarkan aku cara membuat roti seenak ini?”

Awalnya, wanita tua di hadapan Jungkook terkejut, lantas senyuman hangat merekah di wajahnya. “Kau yakin ingin belajar dariku?”

Jungkook mengangguk mantap.

“Oh, Nak.” Wanita itu tertawa renyah. “Aku anggap itu sebagai pujian saja, oke? Setelah kau habiskan rotimu, pulanglah. Orangtuamu pasti khawatir.”

Tanpa disadari, Jungkook merengut. Bahunya turun. Kunyahannya melambat. Perubahan di luar ekspetasi itu tentu saja membuat si wanita tua penasaran. Maka detik selanjutnya, wajah mereka  sejajar satu sama lain.

“Aku tidak ingin pulang,” lirih Jungkook dalam nada merajuk, hampir-hampir tangisnya hendak pecah. Ludahnya ditelan dalam jeda. “Aku bisa membantu Bibi di sini, melakukan apa pun. Aku memang tidak bisa memasak, apalagi membuat roti, tapi aku bisa belajar. Aku cakap dalam pelajaran olahraga, guru-guruku semua memujiku. Nilai matematikaku juga bagus. Teman-temanku selalu meminta untuk kuajari.”

Bibi pemilik toko terdiam, namun senyum ramahnya tak pernah pudar. Dielusnya pelan rambut hitam Jungkook, selagi beberapa hal berlarian dalam kepala. Memang selalu menghangatkan sekaligus menyakitkan apabila di suatu waktu, ada saja hal yang membuatmu teringat masa lalu. Wajah polos bocah Jeon di depannya itu memunculkan kembali sebuah potret usang yang masih terbayang hingga sekarang.

“Pokoknya, Bi…” Jungkook kembali mengisi hening, “… aku tidak mau pulang. Orangtuaku … mereka mungkin tidak mencariku. Mereka sudah membuangku sejak lama.”

Siapa yang tidak akan tergerak melihat wajah polos yang memerah karena tengah menahan tangis di depan muka?

“Bibi? Bagaimana, boleh kan? Apa Bibi tidak mau menerimaku karena aku masih bocah?”

Berikutnya, tanpa aba-aba, sang bibi pemilik toko beranjak dari tempat dan menyisakan Jungkook di belakang sebelum menghilang di balik sebuah pintu.

Jungkook termangu, mengusap ujung mata yang basah dan kembali menghabiskan rotinya. Ia kecewa, sudah pasti. Diam-diam ia masih berharap bibi itu mengizinkannya untuk tinggal. Ia rela tidur di mana saja, asal bukan di rumah orangtuanya.

Waktu bergulir cepat, malam perlahan membungkus langit.

Wanita tua pemilik toko mengintip di celah sempit dari pintu yang dibuka sedikit. Ia sudah menutup tokonya, mematikan lampu, tetapi membiarkan pintu tidak terkunci. Siapa tahu, bocah yang tadi datang itu pergi dari tempatnya. Namun, di sanalah ia menemukannya, masih terduduk dengan kepala terkulai di atas meja. Separah apa masalah yang dihadapinya hingga dirinya sekeras baja enggan pulang?

Jungkook tersadar kala sebuah sentuhan mencapai bahunya. Sewaktu menengadah, wajah bibi si pemilik toko membuat Jungkook menerbitkan senyum kecil di bibirnya.

“Bibi?”

Ada jeda. “Apa yang kau lakukan? Kalau ingin bekerja, bangunlah dan bantu aku menyiapkan segala sesuatu.”

.

.

Semenjak itu, Jungkook membantu si bibi baik hati mengerjakan apa pun yang diperintahkan. Ia belajar membuat roti renyah enak yang hampir semuanya mengandung keju. Meski sesekali Jungkook masih sempat memikirkan dan merindukan orangtuanya, pula ada gagasan yang tidak membenarkan keputusannya, Jungkook tidak berpikir lebih jauh lagi. Pikirannya sungguh sederhana: ia berada di tempat yang nyaman dan itu semua lebih dari cukup.

end.

Advertisements

2 thoughts on “[Opposite Attract] The Boy with Cheese-Bread

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s