[Opposite Attract] The Life is Yours

a fictional writing by Ravenclaw, Nagi, Babyneukdae_61 & Angelina Triaf

The Life Is Yours

Min Yoongi (BTS) | Slice of Life | G | Vignette

.

*

 

Suga melajukan motornya setelah ia menghabiskan roti panggang yang diapit oleh bibir dan mengunci pintu rumah. Ia tak berpamitan dengan orangtuanya pun Yoonji, sang adik perempuan kesayangan karena mereka bertiga tidak ada di rumah.

Ayahnya sibuk dengan perjalanan dinas yang entah mengapa selalu datang tanpa melihat situasi dan kondisi, sama hal dengan sang ibu yang merupakan seorang pemilik toko kue terbesar di Seoul. Toko kue tersebut selalu hidup dengan segala kesibukannya.

Kalau Yoonji, karena ia diwarisi otak jenius yang setara dengan sang kakak, ia selalu mengikuti lomba dan olimpiade sains mewakili sekolahnya. Kecerdasan dan popularitas Yoonji membuat ia mendapatkan kekasih yang seimbang, yaitu Yang Hongwon. Selain cerdas, ia juga seorang rapper tampan yang menjadi pujaan para wanita di lingkungan sekolah.

Hanya satu penghuni rumah yang mendapat ucapan pamit dari Suga, yaitu Holly, anjing kesayangan yang selalu dititipkan kepada tetangga sebelah rumah di pagi hari dan akan ia ambil di sore hari. Untungnya, sang tetangga menyukai Holly.

I’ll go, sweetheart. Don’t be naughty, okay?” ujar Suga kepada Holly setiap pagi sebelum ia pergi ke kampus.

Saat ini, kehidupan kuliah seorang Suga tidak akan pernah bisa seperti yang telah direncanakan pemuda itu pertama kali. Mungkin sekarang waktunya bagi Suga untuk mengurungkan niatnya mengikuti organisasi-organisasi mahasiswa yang menarik di kampus, mengganti pola keseharian kuliahnya menjadi pola ‘Kupu-Kupu’, yang artinya Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang. Tidak ada acara berkumpul dengan rekan seorganisasi dalam agendanya, yang pasti setelah kuliah, langsung keluar dari kampus.

Percayalah, setumpuk tugas-tugas mata kuliah Suga di meja belajarnya sudah menunggu untuk dijamah. Sebenarnya Suga tidak malas, ia hanya merasa jenuh karena mata kuliah dalam jurusannya cukup sulit.

Kalau ia tahu sejak awal bahwa jurusan yang ia ambil ini tidak semudah yang ia dan orang lain pikirkan, Suga pasti sudah mengambil jurusan lain yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.

“Suga, kau sudah mengerjakan tugas dari Dosen Hwang?” tanya salah satu teman sekelasnya.

“Kau kan tahu aku jarang mengerjakan tugas,” ujar Suga singkat sambil mengedikkan bahu.

Suga yang sekarang memang jarang mengerjakan tugas. Tetapi itu bukan sifat bawaannya, karena saat ia masih duduk di bangku sekolah dulu, ia selalu menjadi orang pertama yang mengumpulkan tugas.

Sudah satu minggu tugas itu ia telantarkan. Andai saja tugas mempunyai pikiran, akal budi dan dapat berbicara, tugas itu akan menilai Suga sebagai pemuda yang sangat tidak peka juga tak acuh, bisa jadi ia akan kesulitan mendapatkan seorang kekasih di kemudian hari. Padahal Suga bukan orang yang seperti itu.

Bahkan Suga yang sangat cuek dan menyeramkan menurut pandangan orang mempunyai seorang kekasih yang sangat ia sayangi, dan ia hanya akan menunjukkan sisi lembutnya kepada kekasihnya itu.

Mungkin itu yang dimaksud ‘look like he could kill you, but he is actually a cinnamon roll.

Tapi itu dulu. Sekarang Suga dan sang kekasih sudah disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Namun, Suga masih menyempatkan diri untuk menghubungi gadis yang sudah menjalin hubungan dengannya selama 4 tahun ini, meski sang gadis lebih menitikberatkan fokus kepada kesibukannya.

Rungu Suga sudah terbiasa mendengar kalimat, “Kita sudahi dulu, Sayang, masih ada hal yang harus aku kerjakan,” untuk menutup perbincangan mereka di telepon.

Suga tahu, kalau ia mengganggu kesibukan kekasihnya akan membuat hubungan mereka menjadi buruk. Jadi ia memilih tetap seperti ini, masih berstatus sebagai kekasih namun minim komunikasi.

Lagi pula, kini sudah saatnya bagi Suga untuk tidak terlalu mengambil pusing segala hal yang berpotensi membuat dirinya sendiri hancur oleh hal-hal yang padahal tidak terlalu penting. Well, pikiran seperti itu baru muncul belakangan ini ketika ia merenung di taman kampus. Udara musim semi memang yang paling enak untuk dibuat bersantai dan berdiam diri memikirkan laju kehidupan di masa yang akan datang.

“O, Suga, kucari kau ke mana-mana ternyata ada di sini.”

Pemuda yang menepuk bahunya tersebut segera duduk di lapangan berumput, di samping ia yang baru tersadar dari lamunan. “Kelasku bubar lebih cepat,” kata Suga sedikit basa-basi. “Bagaimana pagimu tadi di rumah, Aron?”

Entah sejak kapan, Suga justru lebih tertarik untuk mengetahui cerita dari teman-temannya tentang kehidupan mereka di sekolah ketimbang kisah hidupnya sendiri. Bukan apa-apa, tapi apa yang bisa Suga harapkan dari keluarga yang selalu sibuk dengan urusan masing-masing seperti yang ia punya?

“Ibuku membawa Zoey ke dokter hewan karena beberapa hari lagi ia akan melahirkan. Lalu ada ayahku yang tadi pagi sibuk tertawa melihat telur gosong masakanku lantaran ibu tidak ada. Sungguh, kawan, kau jangan pernah sekali-kali menyuruhku memasak. Ingat itu!”

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir Suga.

Ia telah dewasa dan menurutnya iri hati pada teman sendiri itu sangat kekanakan dan tidka keren. Maka Suga lebih memilih tertawa saja, menunjukkan kedua mata yang menyipit sempurna membentuk garis lurus 45 derajat. Kata teman perempuan yang lain, sih, pesona Suga terletak di mata sipitnya yang lucu itu.

“O, by the way, aku mencarimu bukan tanpa alasan.” Aron terlihat mengeluarkan selebaran antah berantah yang Suga curigai pasti berisi hal-hal aneh. “Ini, taman bermain di pusat kota mengadakan festival musik, di dalamnya juga akan ada lomba cipta lagu. Mungkin kau berminat? Secara aku sudah tahu apa isi kepala seorang Suga selain rumus-rumus ekonomi yang menyebalkan itu.”

“Jangan ungkit rumus-rumus di hadapanku.” satu tinjuan pelan Suga alamatkan pada Aron. “Tapi aku sibuk, belakangan ini banyak tugas, dan … kondisi rumah juga seperti neraka.”

Berteman lama dengan Suga sudah membuat Aron jadi pemuda paling peka sedunia. “Kerjakan di studioku saja, bagaimana? Soal tugas itu urusan gampang. Oke?”

Benar pepatah orang dulu bertutur, bahwa sejauh apa pun kau melalang buana ke tiap penjuru dunia, hatimu tetap memegang kendali atas hal-hal apa saja yang kau cintai.

Bagi Suga, musik adalah surga dunia yang ia syukuri Tuhan telah menciptakannya.

*

Suga seorang hiperbolis yang juga melankolis saat sudah berhadapan dengan piano atau organ. Setelah membuat pondasi dasar dari musik yang akan jadi pengiring, atas saran Aron ia akhirnya pergi menuju taman bermain tempat lomba tersebut akan digelar.

Pagi ini agak sepi karena memang hari kerja sehingga Suga bebas untuk memilih tempat yang akan ia jadikan sumber inspirasi. Majas favorit Suga adalah personifikasi. Walau terkesan berlebihan dan sangat tidak masuk akal juga sering kali membuat mual orang yang membacanya, tapi Suga tetap menyukai itu.

Dengan majas tersebut, sedikit banyak ia juga belajar tentang kehidupan.

Ia memilih bianglala, setelah berdebat sedikit dengan lubuk hatinya untuk bermain wahana yang lebih memacu adrenalin. Antrian di sana cukup pendek, jadi tak perlu waktu lama bagi Suga untuk dapat giliran naik.

“Ya, mari kita lihat bagaimana otak dan tangan serta perasaan ini bekerja.”

Menuangkan segala macam beban hidup yang ia miliki selama ini, tentang betapa sangat berbeda menjadi anak-anak dan orang dewasa. Perbedaan yang rumit, kalau boleh memilih ia ngin sekali jadi anak kecil selamanya yang tak akan pernah memikirkan hal-hal menyebalkan pasal kesibukan apalagi percintaan; dua sebab ia menjadi cukup stres akhir-akhir ini.

“Bagaimana kalau mengambil filosofi bianglala ini? Hidup yang berputar bergantian seperti roda ….”

Bahkan lebih dari itu. Ketika Suga memutuskan untuk bermain dengan perasaannya soal musik, maka tak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menghentikannya.

Tring!

From: Darl

 

Kurasa kita sama-sama tahu kalau hubungan ini sudah tak bisa kembali seperti dulu.

Diulangi, tak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menghentikannya.

“… lebih dari itu, ini bukan hanya tentang roda yang berputar. Esensi yang sebenarnya terletak pada proses perputaran tersebut. Semakin hidup kita berputar ke atas, pengetahuan kita akan meluas, pandangan kita akan lebih terbuka lebar, tapi sangat disayangkan yang bisa dilihat hanyalah panorama nun jauh di sana bak miniatur yang rumit. Hm, lumayan.”

Berbeda dengan pemikiran sederhana anak-anak, orang dewasa akan memiliki pola pikir lebih luas. Tetapi anak-anak dapat menikmati dunia kecil mereka di tiap helaan napas yang berembus, melihat jelas dari dekat apa itu kehidupan yang sedang mereka jalani. Orang dewasa hanya dapat melihat sisi buram dari kehidupan, karena mereka sudah menanjak ke tingkat yang lebih tinggi.

Sama seperti Suga yang kini telah berada di bagian paling atas bianglala.

“Pemandangannya sangat indah ternyata ….”

Kekayaan dan paras memang tak akan pernah bisa menuntaskan dahaga manusia akan hidupnya, termasuk Suga. Buktinya, mencari inspirasi dan bersantai seperti ini lebih menyenangkan ketimbang duduk di dalam rumah mewah dengan segala fasilitas lengkap.

Tring!

From: Eomma

 

Kami akan pulang tiga hari lagi. Berkelakuanlah yang baik dan jaga adikmu, ya, Suga. I love you.

“Kupikir Aron tak akan keberatan berbagi kamar di rumahnya denganku, hahaha.”

Bersamaan dengan posisi putaran bianglala yang kembali berubah, Suga sudah berniat akan menyelesaikan lagunya malam ini.

Be a fond of making music all night long and back to be normal person tomorrow, hal itulah yang selalu teman-temannya katakan untuk menghibur seorang Suga yang merasa bahwa hidupnya tak pernah adil.

Terdengar konyol, tapi memang benar-benar begitu.

fin

Advertisements

One thought on “[Opposite Attract] The Life is Yours

  1. Bukan bermaksud menjadi yg pertama hanya saja seseorang telah membunyikan alarmnya padaku._. Sorry not to sorry, tapi aku menemukan satu typo. Bukan EYD ya hehe aku payah dalam hal ejaan seperti itu.
    Tulisan ini mengingatkanku tentang apa yang akan kujalani beberapa tahun kedepan. Aku yg tidak ingin jadi pns tapi selalu di’nasihati’ agar memilih pns. Dan akhirnya begitu:’D berusaha tetap menjalani apa yg kupilih namun tidak melupakan keinginanku, minatku, tujuanku sendiri. Terima Kasih ‘slice of life’nya. Yang menggambarkan kehidupan hampir semua anak-remaja hehe

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s