[Opposite Attract] The Red Story

The Red Story

Author : Goa Team (Oh Nara, putripucuk, ARRYLEA, Jung Michan)

Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Jung Hoseok, Min Yoongi

Genre : Thriller

Sub-Tema : GOA

Rate : PG-17

Leght : Ficlet

Disclaimer : BTS belong to god, their parent, Bighit Ent, and ARMY. This story is dedicated to BTS FF event. Sorry about typo or ambiguisme word. Happy reading…

Summary : Sebenarnya tidak harus mengeksplor tema secara nyata, hanya saja tema kali ini benar-benar sulit dan butuh ekspektasi secara langsung.

.

****

Jeon Jungkook duduk melamun di dalam bus yang ia naiki, seraya mendengarkan lagu IU favoritnya ia menyandarkan kepalanya yang terasa berat. Angin yang berhembus masuk menyentuh lembut helaian rambutnya yang tak sepenuhnya tertutup hoodie.

“Hah….”

Pemuda itu hanya bisa meretas oksigen kuat-kuat. Merelakan hari liburnya yang minim demi sebuah project event yang mengharuskan Jungkook dan penulis lainnya mengeksplor tema yang terpilih, mungkin saja sekarang ia sudah berada di kasur empuknya, tidur sepanjang hari bersama pujaan hatinya—sang guling. Sebenarnya tidak harus mengeksplor tema secara nyata, hanya saja tema kali ini benar-benar sulit dan butuh ekspektasi secara langsung.

Bus yang ditumpangi oleh Jungkook berhenti tepat di depan halte pintu masuk kota di dekat gunung Jiri. Jungkook mengemas ranselnya kemudian segera beranjak dari duduknya, turun dari bus yang sudah membawanya jauh dari Seoul. Di liriknya jam rolex pemberian ibunya saat ulang tahunnya tahun lalu, 08.32 KST.

Belum sempat Jungkook melangkah, ponsel miliknya sudah bergetar di dalam saku celananya. Jemarinya segera meraih benda pipih tersebut dan segera membuka sebuah pesan yang baru saja masuk.

Kami sudah berkumpul di depan gerbang gunung. Kau dimana? -Yoongi

Buru-buru Jungkook menyimpan ponselnya kemudian bergegas menuju titik pertemuan mereka berempat. Hanya butuh 10 menit untuk sampai, obsidiannya menemukan teman satu grupnya yang tampak bercengkraman akrab, hingga menimbulkan rasa gugup pada diri lelaki itu karna untuk pertama kalinya ia akan bertegur sapa secara nyata dengan penulis yang lebih senior darinya.

“Halo.”

Hanya itu saja yang terucap dari bibir Jungkook. Ketiga pemuda itu berbalik dan salah satu dari mereka yang penuh senyum cerah di wajahnya serta penuh semangat berjalan ke arah Jungkook, menyambut tangannya dengan penuh sukacita.

“Kau pasti Jungkook! Woah! Ternyata kau tinggi sekali! Perkenalkan, aku Jung Hoseok.” ucapnya penuh semangat.

Jungkook akui julukan si penulis humoris itu pantas disandangnya, karena cerita jenaka yang ditulisnya membuat orang lain sakit perut akibat tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan untuk dirinya sendiri.

Jungkook membalas senyumnya, “Jeon Jungkook.”

“Aku Kim Taehyung, senang berjumpa denganmu.” Taehyung tersenyum lebar seraya sedikit melambaikan tangan ke arahnya, tak ingin bersalaman karna kedua tangannya masih di genggam erat oleh Hoseok. Kim Taehyung, penulis genre friendship. Pemuda itu lebih banyaknya menulis cerita kehidupan nyata yang mampu memukau meski kadang jalan cerita yang ia tulis terkadang kurang bisa di pahami.

“Min Yoongi.” Lelaki yang lebih pendek dari mereka semua berucap pelan dan tidak memiliki minat sama sekali sebelum akhirnya kembali memakai sebelah headsetnya.

Min Yoongi, merupakan penulis senior diantara mereka bertiga. Jungkook juga sangat mengagumi tulisan miliknya yang menurutnya sangat berkelas. Penulis khusus bergenre romance dengan untaian frasa penuh perih di dalamnya. Jungkook pernah melihat Yoongi sekali dalam acara jumpa penulis blog namun tak berminat untuk bertegur sapa. Selain itu, lelaki itu pula yang menghancurkan liburannya yang berharga demi mendatangi sebuah gua. Dalih mencari inspirasi, katanya.

“Sebaiknya kita langsung berangkat saja sebelum matahari semakin meninggi.” Yoongi mengambil langkah terlebih dahulu kemudian di susul oleh Taehyung, Hoseok dan Jungkook di belakangnya. Yoongi mengambil jalan di depan karna ia yang mengetahui lokasi gua itu.

Yoongi, Hoseok, Taehyung dan Jungkook, mereka mendapat tema ‘Gua’ untuk event menulis di klub menulis mereka bulan ini. Gua yang berhubungan dengan tema dark, dan sialnya ke empat dari mereka tidak ada yang pernah membuat tulisan bertema dark, hanya segelintir cerita kehidupan yang di penuhi kata-kata melankolis. Maka dari itu Yoongi mengusulkan mereka untuk mendatangi gua asli yang berlokasi di gunung Jiri demi mendapatkan ide dan kualitas untuk tulisan mereka mengingat deadline hanya tinggal sepuluh hari lagi.

Dan semua member dalam kelompok mereka setuju saja dalam hal itu.

Hyung tahu dari siapa tentang gua ini?” Hoseok bertanya. Jenis anak yang terlalu aktif dan ramah, bahkan menjurus ke hyper yang kadang membuat Jungkook bingung bagaimana harus menghadapi pemuda yang lebih tua tiga tahun darinya itu.

“Aku pernah sekali ke sana bersama temanku yang hobi hiking.” jawab Yoongi pelan. “Lokasinya tak terlalu jauh tapi tetaplah berhati-hati ketika berjalan, jangan kehilangan fokus karna aku tidak mau di repotkan oleh siapapun.”

Sejemang kemudian, Taehyung, Hoseok dan Jungkook merasa takjub karena Yoongi bisa berbicara panjang lebar pada mereka. Karena pada dasarnya, lelaki itu merupakan jenis manusia yang tidak mau berbicara jika bukan hal penting. Begitu pula di grup chat mereka, Taehyung dan Hoseok adalah sumber kericuhan, bersama dengan Jungkook terkadang juga ikut turut terjun dan Yoongi hanya akan menjadi pembaca. Sesekali bergabung jika dalam pembicaraan serius.

“Sudah berapa lama kalian menulis?” Taehyung bertanya disela-sela mereka berjalan menelusuri jalan setapak yang sepertinya tidak sering di lewati.

“Aku pribadi sudah 3 tahun belakangan ini.” jawab Hoseok sembari menebas rerumputan di sekitarnya dengan sebuah ranting yang ia dapatkan entah dari mana. “Yoongi Hyung?”

“Dari zaman sekolah.” jawab Yoongi singkat, seperti biasa.

“Aku suka menulis dari sekolah dasar, tapi berani mempublikasikannya baru beberapa bulan terakhir ini.” Jungkook menyahut dari belakang, berinisiatif membuka cerita.

“Dan aku sendiri baru menulis setahun belakangan ini, mengisi kekosongan disaat aku muak dengan tugas kuliahku.” ucap Taehyung di akhiri dengan tawa.

Lalu Hoseok bernyanyi sepanjang perjalanan yang diikuti oleh Taehyung dan Jungkook, meninggalkan Yoongi yang bersenandung dalam laranya sendiri. Yoongi tenggelam dalam dunianya sendiri, tidak peduli dengan dunia luar yang ia pikir tidak akan pernah mengerti dengan apa yang ia lakukan dan pikirkan. Bahkan ketika situasi mengharuskan berinteraksi dengan orang lain, pemuda berkulit pucat itu sebisa mungkin menghindarinya.

Keempat lelaki itu tiba di gua yang Yoongi maksud sebelum matahari benar-benar meninggi. Gua itu tidak terlalu besar namun memiliki panorama yang indah di dalamnya sebuah sungai kecil yang mengalir ke desa sekitar gunung Jiri. Terdapat banyak batu-batuan besar disana yang bisa untuk di duduki, yang di sela-selanya banyak di tumbuhi rumput halus dengan bunga berwarna-warni yang tidak di ketahui namanya. Sinar mentari membias dengan baik, menerangi setengah gua yang tampak menyimpan sejuta cerita di dalamnya.

Tak bisa di pungkiri jika gua itu mampu mengundang decak kagum dari mereka, bahkan dari Yoongi yang pernah berkunjung kesana begitupun dengan Hoseok yang benar-benar heboh sendiri. Ia bahkan berteriak dengan lantang kemudian kegirangan mendengarkan gema suaranya sendiri. Jungkook dan Taehyung ikut bersamanya, sedangkan Yoongi duduk di salah satu batu besar di mulut gua, mengeluarkan ponselnya dari saku dan memainkan beberapa games disana.

“Ini menyenangkan!” Hoseok berseru senang kemudian duduk di samping Yoongi. “Setelah urusan kita selesai, kita harus bermain sepuasnya disini.”

“Setuju.” Jungkook dan Taehyung menimpali secara bersamaan.

Yoongi melepas kedua headsetnya lalu menyimpan ponselnya. Ia lalu membuka laptop miliknya kemudian mengalihkan tatapannya kepada ketiga temannya yang telah melakukan hal serupa.

“Sudah mendapatkan apa yang akan kita tulis?” Yoongi bertanya.

Jungkook menggeleng. “Belum. Bahkan gua ini sama sekali tidak menampilkan kesan dark sama sekali!”

“Benar, aku bahkan tidak bisa memikirkan plot apapun yang berhubungan dengan tema dark.” ucap Taehyung.

“Aku setuju. Gua ini menyenangkan, Hyung! Bagaimana bisa kita menulis cerita pembunuhan dengan latar belakang gua indah seperti ini?” Hoseok berkomentar.

Yoongi mengulaskan sedikit bulan sabit di bibirnya dan melempar pandang pada ketiganya. “Sesuatu yang tampak menyenangkan belum tentu baik.”

Ada hening yang kembali secara mengendap-endap di antara mereka berempat ketika Yoongi selesai berucap. Ada sedikit keanehan yang timbul ketika Yoongi menampilkan lengkungan manis di bibirnya yang seolah mengatakan semua ini akan menjadi mimpi buruk yang paling manis.

Taehyung melakukan batuk palsu untuk memecahkan kaca tipis yang terasa dingin, merasa situasi sudah semakin tidak benar. “Sudah memikirkan apa yang akan kita tulis?”

“Bagaimana dengan genre horror?” si bungsu Jungkook bertanya sembari menimbang-nimbang saran yang baru saja ia keluarkan.

“Aku belum pernah menulis genre horror. Membayangkannya saja sudah hampir membuat nyawaku melayang.” kata Hoseok yang sangat di setujui oleh Taehyung.

“Pembunuhan?”

Satu kata dari Yoongi itu mampu membuat ketiganya bungkam.

“Aku pernah mendengar…” Yoongi kembali merangkai frasa. “Seseorang melakukan pembunuhan untuk kepuasan dirinya sendiri. Mereka menjadi lega ketika membunuh orang, menyiksanya dalam kesakitan yang tak pernah berujung dan menjadi pecandu ketika darah orang itu mengalir keluar dari tubuh korbannya. Tampaknya menyenangkan, ya?”

Hyung… Kau tidak perlu mengatakan hal serinci itu.” Taehyung bercicit pelan di tempatnya.

“Aku hanya mengatakan kenyataan.” kilah Yoongi. “Aku mempunyai teman yang sejenis seperti itu. Tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya dengan cara membunuh hewan yang ia temui. Kemarin ia membunuh seekor anjing tetangganya dan menusuknya dengan mengkebu-kebu. Ia berteriak dan merasa puas karena bisa menghilangkan nyawa mahluk hidup setelah sekian lama menahan diri.”

“Kau berteman dengan seorang psycho?” Jungkook bertanya tak percaya, sedangkan yang ditanya hanya mengedikkan bahu tanda tak acuh.

“Aku tidak memiliki batasan dalam berteman.” jawab Yoongi kemudian melempar pandang pada Jungkook dan Taehyung. “Lagipula, entah kenapa aku ingin merasakan kepuasan seperti yang temanku lakukan. Sepertinya menyenangkan.”

Yoongi mengucapkan serangkaian frasa itu dengan tenang dan penuh dengan obsesi di dalamnya. “Bukankah menyenangkan menusuk seseorang dengan pisau tepat ke jantungnya kemudian menghujamnya berulang kali hingga darah mengalir deras dari tubuh orang itu. Aku ingin sekali merasakannya.”

“Darah yang mengalir itu, bukankah itu sang—-“

Ucapan Yoongi terpotong saat dengan cepat Hoseok menghujamkan pisau tepat di jantung Yoongi. Pemuda itu diam barang sejemang dalam posisinya kemudian di ikuti dengan kekehan pelan penuh kepuasan. Tubuh Yoongi ambruk di hadapan mereka kemudian di ikuti dengan liquid kemerahan yang mengairi batu yang di duduki oleh Yoongi. Hoseok memainkan liquid yang membentuk sungai kecil pekat itu dengan jarinya kemudian membawanya ke indera penciumannya. Mencium dalam-dalam aroma yang mampu memuaskan jiwanya yang memberontak liar dan penuh kesakitan.

Diliriknya Jungkook dan Taehyung yang tengah menahan napas, kaget menyaksikan apa yang baru saja terjadi di hadapan mereka.

Taehyung dengan sigap menarik Jungkook kemudian menarik pemuda itu ke arah belakangnya. “Hyung… A-Apa yang—“

“Membunuhnya tentu saja. Bukankah Yoongi Hyung bilang membunuh itu menyenangkan? Aku hanya ingin merasakannya saja.” Hoseok bergelagat santai, seolah yang terjadi barusan bukanlah suatu kesalahan yang besar.

“Kau gila.” Taehyung berujar marah. Ingin sekali menerjang pria psycho yang berselimutkan bulu domba yang penuh keceriaan.

“Salahkan dia yang sudah membangkitkan nafsuku sendiri untuk membunuh orang lain. Aku sudah berusaha menahan selama seminggu ini untuk tidak membunuh apapun tapi dia seenaknya bercerita mengenai kenikmatan itu. Dia harus menerima akibatnya.” Hoseok tertawa sembari menendang kepala Yoongi yang jatuh di dekat kakinya.

Hoseok mencabut pisau yang menghujam jantung Yoongi lalu menghujamnya sekali lagi sedalam yang ia bisa. Giginya beradu, dengan gemetar merasakan kepuasannya yang akhirnya tersalur setelah sekian lama. “Aku menyukai perasaan ketika menusuk orang seperti ini.”

Di cabutnya pisau yang sangat di banggakan olehnya itu kemudian melemparkannya ke arah kaki Taehyung. “Kenapa kau tidak coba sendiri bagaimana rasanya menusuk orang lain? Aku sangat yakin kau jauh lebih mengerikan daripada aku.”

Taehyung menatap ngeri pisau yang bersimbah liquid kemerahan itu lalu kembali manatap Hoseok yang memandang remeh dirinya bak anak kucing kampung yang tak berharga.

“Gila! Kau gila, Jung Hoseok!!” Taehyung berteriak di tempatnya. Fikirannya kalut seiring desiran darahnya yang melaju cepat. Tubuhnya gemetar menahan ketakutan ngeri yang disalurkan Hoseok dengan seringainya.

Hoseok mendelik “Aku tidak gila. Aku normal!” Hoseok balas berteriak.

“Bagaimana bisa kau mengatakan dirimu normal? Lihat apa yang sudak kau perbuat!!” Taehyung kembali berteriak, menggema di seluruh gua.

“Ini adalah hal yang aku suka, dan bagiku ini normal!”

“Kau gila! Dasar breng—“

Tubuh Taehyung ambruk di tempatnya. Sementara pemuda dibelakangnya hanya mendengus kesal, ia melempar batu besar ditangannya ke kepala Taehyung lagi. Membiarkan wajah tampannya berhias liquid merah milik Taehyung.

“Lelaki ini berisik sekali.” Jungkook berkomentar.

Obsidian Hoseok menatapnya penuh kagum. “Kau mempunyai hobi yang sama denganku?”

Jungkook mengalunkan tawa kemudian berjalan pelan ke arah tasnya. Mengambil sebuah pisau yang selalu menjadi kebanggannya. “Tentu saja. Seperti kata Yoongi Hyung tadi, bukankah membunuh itu menyenangkan?”

Hoseok berteriak setuju menanggapi hal itu. Di ambilnya pisau yang sempat ia lemparkan ke arah Taehyung tadi kemudian dengan berbinar bergantian melempar pandang pada tubuh Taehyung dan Yoongi. “Katakan padaku, Jungkook. Kau ingin kita memotong Taehyung atau Yoongi terlebih dahulu?”

-END-

 

Advertisements

2 thoughts on “[Opposite Attract] The Red Story

  1. sesuai ekspektasi kakak2 >,< puas sama pemilihan alur ceritannya. over all keren. but ada beberapa bagian yang typo dan kata 'fikirannya' sebenernya kata bakunya 'fikir' apa 'pikir ya? soalnnya banyak yang pake 'pikir' /maklum bukan anak sastra/ terus kalimat liquid merah/ kemerahan itu keknya lebih ngena kalo to the point deh / cuma sekedar opini dari seorang newbie/ mian kak ngerusuh di kolom komentar 😀 mana ngebacot panjang kali lebar lagi/ karungin jimin/ salam kenal Rhara-iyeyo :v

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s