[BTS FF Freelance] The Academy of Vampire – (Chapter 13)

unnamed

Tittle: The Academy of Vampire

Scriptwriter: Carishstea

Genre: Fantasy, Action, School Life, Mystery, Friendship, Romance

Main cast:  Go Aerin (OC), Kim Taehyung/V (BTS), Park Jimin (BTS), Min Yoongi/Suga (BTS), Jung Soojung/Krystal (f(x)).

Support cast: Choi Junhong/Zelo (BAP), Song Yunhyeong (iKON), Kim Jinhwan (iKON), Jung Eunji (APink), Jung Daehyun (BAP), Park Chanyeol (Exo), Byun Baekhyun (Exo), Kim Mingyu (Seventeen), and Jeon Jungkook (BTS), Son Naeun (APink), Oh Sehun (Exo), Kim Jongin/Kai (Exo), Yook Sungjae (BTOB), Kim Namjoon/RapMonster (BTS), Hong Jisoo/Joshua (Seventeen), Kim Jiyeon/Kei (Lovelyz), Lee Mijoo (Lovelyz), Yoo Youngjae (BAP), Park Jin Young/Junior(GOT7), Mark Tuan/Mark (GOT7), Bae Suzy (Miss A), Do Kyungsoo/D.O. (Exo), and other (some will coming soon and maybe some will disappear).

Duration: Chapter

Rating: PG-13

Disclaimer: All the cast is owned by God. This story is pure mine. Inspired by my imajinaton. Sorry with typo and other. Please no bash, no plagiat, and don’t be siders. Okee, HAPPY READING!!!

***

 “Aku… aku mengutuk semua orang yang berada di sini. Orang-orang di sekitar tempat ini, ketika aku pertama kali tiba (maksudnya biar dua vampire tadi kena kutukan juga, soalnya tempat itu sepi banget). Kalian tak akan bisa bertambah tua. Dan kalian akan selalu bermimpi buruk tentang hari ini. Bagaimana pengeboman itu terjadi, dan bagaimana kau membunuhku.”

“Aku mengutukmu menjadi werewolf immortal.”

***


The Academy of Vampire – Chapter 13

.

SLASH

KRRK

PYARR

Angin, api, air, guntur, tanah, kemudian es melayang memenuhi udara di atas rumput hujau akademi itu. Api melawan api, air melawan air, atau api melawan air, dan tanah melawan guntur. Mereka para fighter melawan dan menghadang werewolf menyentuh para pengendali ilusi. Para pengendali ilusi itu menyerang pikiran. Monobots, tengkorak kepala yang bisa mengeluarkan api, air, dan apa-apa itu, juga dikendalikan dengan bagus sekali untuk menyerang. Singkatnya, pengendali ilusi juga harusnya melawan pengendali ilusi. Namun dengan puluhan vampire dibanding dengan tiga orang, Zelo, Suga, dan Aerin, kalian juga tahu mana yang lebih kewalahan.

“Sialan kau, sunbae,” maki Suga kesal. Pasalnya para sunbae yang tentu berlevel tinggi itu terus saja memusatkan serangan mereka pada Suga.

“Rin, fokuskan pikiranmu ke para werewolfnya! Jangan sampai pikiran mereka kacau,” teriak Zelo yang balas diangguki Aerin. Tangan Zelo masih bekerja lebih ekstra dengan puluhan monobotsnya untuk menyerang.

“Yaaa! Kenapa banyak sekali graver lain yang mengganggu?!” keluh Zelo seperti perempuan.

Tanpa ada yang mengetahui ini sebelumnya, Zelo mengeluarkan laptopnya begitu saja.

“Kalian kurang pengetahuan soal teknologi, bukan? Dasar vampire kuno, lihatlah yang bisa kulakukan,” Zelo perlahan menaikkan kurva bibirnya ke atas, menghasilkan sebuah senyuman miring.

Dengan jemari lincahnya, Zelo mengeluarkan lebih banyak monobots yang sengaja disimpannya di akademi hanya dengan bantuan keyboard. Karena tak mungkin untuk mengendalikan semua monobots itu, ia telah memprogram sebuah software untuk menyelesaikan semuanya. Kini ia bisa mengendalikan semua tengkorak terbangnya lebih maksimal.

“Junhong! Bantu aku juga dengan semua senior ini!” teriak Suga mulai tak tahan.

Kali ini bukan hanya sunbae satu sekolahnya, tapi orang-orang ilusi pengadilan vampire ikut menyerang Suga.

“Wae?!! WAE!! Kenapa kalian hanya mengincarku?!!” Suga berteriak geram.

“Jika kau menghilang, tak akan ada yang bisa memengaruhi menteri,” ujar salah seorang dari mereka, “Kau pikir kenapa ibumu menghilang?” lanjutnya dengan nada menyebalkan

“Kau benar-benar percaya,  ia pergi dari rumah karena tak tahan dengan menteri? Meninggalkanmu dengan tega?” seorang lainnya menyahut begitu saja.

Selaput bening air mata sontak menyelimuti mata hitam Suga.

“A… apa?” tanyanya tak percaya.

“Ia sudah mati, Suga. Kudengar kau minta bantuan werewolf untuk menemukannya. Percuma saja. Ia sudah lama tak bernyawa,” jelas salah seorang dengan sinis.

“Andai saja kau hanya mematuhi apa yang dikatakan ayahmu, kau mungkin akan dilindungi seperti menteri di tempat yang aman. Tak perlu lelah bertarung begini,” ujar salah satu lagi.

Suga hanya bisa membuang nafasnya tak percaya. Memang benar semua vampire adalah penghianat yang hebat. Mereka bilang penyanderaan adalah sebuah perlindungan? Yang benar saja.

“Seharusnya ibumu mendengarkan, ketika kami beri peringatan. Tapi lihat? Ia malah menikahi menteri dan akhirnya mati,” ejek seorang lain.

“Ibumu adalah orang terkonyol yang pernah ada. Apa kau masih menghormatinya?”

“Hanya bermodal paras cantik, beraninya ia- blablabla,”

Semuanya tiba-tiba menjadi senyap. Kehangatan menyelimuti daun telinga Suga dengan tiba-tiba. Pria itu lantas menoleh ke sampingnya, mendapati Go Aerin tengah berdiri. Kedua tangan Aerin menutup telinga Suga erat-erat agar ia tak bisa mendengar cemohan para vampire sialan.

“Kalian pikir bisa menyerang mental seorang ahli ilusi?!” bentak Aerin dengan berani. Ia pun menyeringai lantas melanjutkan kalimatnya, “Hah! Kalian lebih tua, tapi kalian juga tahu pasti Suga tetaplah lebih hebat dari kalian.”

“Apa?” tanya para vampire senior mulai terpancing emosi.

“Kalau alasannya bukan karena Suga lebih hebat, kenapa kalian antusias sekali menyerangnya yang seorang diri?” ejek Aerin dengan ekspresi menyebalkan. Karena Aerin adalah ratunya membuat ekspresi menyebalkan.

“Hah,” Daehyun yang sempat menoleh ke tempat Suga dan Aerin, pun refleks tertawa puas.

Aerin perlahan menurunkan tangannya dari telinga Suga. Pria itu pun tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Tentu Aerin membalas senyumnya. Kini Aerin menggenggam tangan Suga erat, membuat pria itu malah kebingungan. Tapi tak lama setelah itu, Aerin pun bersuara,

“Kita serang mereka bersama,” ujar Aerin antusias.

Suga pun balas mnganggung dengan rekahan senyum senang.

“Apa kalian pernah tahu, bagi menteri Suga adalah segalanya. Karena kalian sudah benar-benar menghancurkan hatinya,” ujar Aerin sesaat sebelum ia mengeluarkan kristal-kristak es miliknya

.

.

.

GRRR

TYARRR

V dengan geram menyerang Jimin yang hanya memiliki tatapan kosong. V telah berubah ke wujud serigalanya dan kini berusaha menang dengan kuku dan taringnya. Sedangkan Jimin, ia masih dengan santai menghadang serangan V menggunakan es dan tanah sebagai perisai.

“Sadarlah, Jimin!! Kau kenapa begini?!!” V berteriak setelah Jimin menghantamnya dengan angin.

Jimin tak memberikan balasan apapun. Ia hanya diam, dan bahkan tak menatap musuhnya sama sekali.

“Jika itu yang kau mau,” ujar V sesaat sebelum ia kembali bertarung melawan Jimin. Harapannya, tak ada satu pun dari keduanya yang akan terluka. Tapi apakah itu mungkin?

.

.

KRRRK

Tanah di sekitar Eunji terus saja bergetar. Tanah-tanah itu bahkan terpecah menjadi bagian-bagian yang runcing, dan salah satunya telah berhasil menggores kulit Eunji.

“Awas saja Kei!” Eunji lantas menajamkan tatapannya. Tanah-tanah itu dengan sendirinya terperangkap dalam serabut-serabut hitam milik Eunji. Dalam sekejap, serabut itu mencekik leher Kei erat.

“Yaa!”

Serangan tiba-tiba Naeun memutus serabut Eunji.

“Ck, kau tak akan bisa menang dengan mudah,” remeh Naeun setelah memutar-mutar tulang atlasnya.

Sementara itu, tepat di depan gerbang akademi, Chanyeol bertemu dengan Kim Jeha. Salah seorang petinggi yang berpengaruh di pengadilan vampire. Ia kepala keluarga Kim. Dan ia jugalah yang menangani kasus dark phantom.

Keluarga Kim terkenal dengan pengendalian airnya. Sedangkan Chanyeol, ia harus terjebak dengan apinya. Tak ada pilihan lain selain bertarung menggunakan fisik. Mereka memecah angin dengan pedang air dan api masing-masing. Saling menghunuskan benda tajam ke lawannya. Juga melontarkan makian satu sama lain.

“Kau harusnya menjaga Jimin baik-baik. Siapa sangka ialah penyebab ayahnya menjadi buronan,” ejek Jeha.

“Kau tutup mulut saja, Jeha Kim,” Chanyeol membalasnya dengan sinis.

Kini satu per satu goresan mulai nampak baik di wajah Chanyeol maupun Jeha. Mereka berjanji untuk saling bertarung hingga ada satu yang mati. Mereka tak akan berhenti sebelum berakhir.

.

.

WUSSH

Shuriken dan jarum-jarum angin terus saja menghujani tempat Daehyun berpijak. Yunhyeong tak henti-hentinya mengeluarkan angin dari jemari tangannya. Tapi beruntungnya, Daehyun selalu memiliki cara untuk menghindar. Dengan klincahannya yang begitu bagus, ia terus saja berhasil  menghindari angin-angin tajam itu.

“Kau apakan teman-temanku, Dae?!” Yunhyeong bertanya dengan tatapan tajam.

“Bukankah aku temanmu?” balas Daehyun santai seraya tersenyum.

“Kau apakan Jimin? Apa yang kau lakukan pada Sehun, Mark, Jinyoung, dan Kai? Kau apakan Lee Mijoo?” Yunhyeong langsung menghujani Daehyun dengan pertanyaan marahnya.

“A, maafkan aku soal yang itu. Aku iri kau berteman dengan anak selain yang ada di kelompok kita. Soal Jimin, dia sendiri yang memintaku untuk membawanya. Dan Lee Mijoo, bukan aku yang membunuhnya,” Daehyun masih membalas dengan teramat santai.

“Mereka juga sahabatmu. Lalu akan kau apakan aku, Aerin, dan Jinhwan jika berbeda jalan denganmu?” Yunhyeong bertanya tanpa sadar.

Baik Daehyun maupun Yunhyeong, keduanya sama-sama membulatkan mata mereka terkejut.

“Di mana Kim Jinhwan?” tanya keduanya bersamaan.

.

.

@Seoul

BRUK

“Maafkan aku,” Jinhwan membungkuk minta maaf kepada anak yang baru saja ia tabrak.

Gwenchana,” balas anak itu abai, lantas meninggalkan Jinhwan.

Jinhwan pun melanjutkan langkahnya dengan cepat. Memang saat ini ia terburu-buru. Ia takut hidupnya akan berakhir. Entah itu di tangan werewolf maupun para vampire sendiri.

Jinhwan memasuki pekarangan sebuah gubuk tua di tepi kota. Ia langkahkan tungkainya memasuki gubuk itu, lalu duduk di lantai berdebunya. Disamping mencari tempat sembunyi, ia juga butuh waktu untuk menenangkan diri. Tanpa terduga, Jinhwan menghabiskan air matanya di lantai dingin itu. Menenggelamkan diri sendiri di antara kedua lututnya.

“Aku tak tahu di pihak mana harus beridiri,” gumam Jinhwan.

“Aku tahu keluargaku adalah keluarga terburuk yang pernah ada. Memanipulasi menteri vampire, hingga perencanaan untuk menguasai dunia ini sendiri. Mereka sudah banyak membunuh. Mereka banyak menyiksa dan menyakiti. Lalu aku… ah, kenapa Jung Daehyun tak mati saja waktu itu?” mata Jinhwan berbinar penuh air mata setelah bermonolog.

“Aku menyayangi mereka. Aku menyukai Aerin, Eunji, Jimin, Yunhyeong, dan Daehyun. Tapi aku tak ingin durhaka kepada Eomma,” Jinhwan lantas tersenyum miris.

Tiba-tiba saja, berbagai suara mulai melayang-layang di kepalanya.

“Dia adalah yang paling suka mengomel di dunia kami,”-Yunhyeong.

“YA!”

“Ck, kau cukup hebat kali ini. Setidaknya kau bertahan di kelas lima menit lebih lama dari sebelumnya.”

“Ia menambahkan lebih dari dua paragraf pagi ini dalam pidatonya,”

“Ck, itu bukan pidato. Master hanya menerangkan materinya sebelum praktik. Bertahan apanya, ck.”

“Terserah katamu, Nona Go. Lagipula kau juga ikut membolos, bukan? Hahaha”

“Dari dulu aku tak pernah menyukai pengadilan vampire yang menentang Phantom. Jadi aku akan ikut menyelidikinya kelak,”- Aerin.

“Oho, Go Aerin.”

“Ya, Aerin. Percaya diri sekali kau. Hidup Go Aerin!”

“Kau itu sesuatu. Yaa, buktikan semaumu.”

“Kenapa menurutku ini berlebihan? Hei di mana Eunji? Harusnya ia tak menjadi serajin itu di kelas. Dia harus membatasi pikiranmu yang suka berkhayal itu.”

“Ya! Ini bukan khayalan kau tahu?”-Aerin.

“Jinhwan!”-Yunhyeong.

“Kau kemana saja?”-Jimin

“Apa yang terjadi?”

“Kenapa dia selalu berteriak saat aku yang bertanya?”-Daehyun.

“Karena kaulah yang paling menyebalkan di sini,”-Aerin.

“Hei, hei, menurutmu siapa yang lebih menyebalkan di sini, huh?”

“Setidaknya aku cukup pintar dibanding Si Cerewet ini.”

“Dan kau tahu aku lebih popular karena ketampananku ini.”

“Tampan apanya? Kalian dengar? Bukankah dia menyebalkan?”

“Rin!!”

“Hei, nenek sihir!”

“Cobalah,”

“Akh, kalian mengerjaiku, eoh?! Rasanya benar-benar busuk,”

“Kenapa semuanya cepat sekali berubah?” gumam Jinwhan sambil tersenyum membayangkan masa lalu.

Ia kembali menenggelamkan tubuhnya lebih dalam. Namun tiba-tiba,

“Tapi… semua ini tak akan terjadi jika vampire sialan itu tak membunuh ibu Daehyun,” tatapan Jinhwan berubah menjadi kosong. Pikirannya melayang ke masa lalu. Jinhwan punya kekuatan spesial. Ia bisa tahu masa lalu orang lain dari melihat matanya. Sebelum peperangan besar ini terjadi, di saat-saat terakhir, Jinhwan sempat menatap mata Daehyun dalam. Menelisik setiap misteri dalam diri anak itu.

 

Flashback

“Appa! Jung Chaeyon bangun. Ia tak mau berhenti menangis lagi. Di mana Eomma?” Daehyun kecil terus saja mengoceh menatap ayahnya yang sibuk dengan wadah besar berisi ramuan.

Pria yang dipanggil ‘Appa’ oleh Daehyun itu tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Daehyun gemas. Langsung saja ia mengikuti Daehyun yang berlari menuju kamar adiknya.

Pria paruh baya itu, pun membawa Chayeon keluar untuk ditimang. Ia mengajak Chayeon dan Daehyun bermain bersama. Daehyun terus saja tertawa, dan sesekali mencubit pelan adik bayinya. Sungguh, ia sangat, sangat, dan sangat menyayangi Chayeon. Dari dalam kandungan ia sudah menunggu kehadiran si adik perempuan itu. Adik keduanya, setelah si adik kembar.

“Chayeon-a, saranghae,” ujar si Daehyun kecil.

Tak lama setelah itu, seorang wanita paruh baya mendekati tempat Daehyun bersama dengan seorang gadis yang seumuran Daehyun.

“Eomma! Eunji-ya!”

.

.

“Hiks… hiks,” wanita paruh baya itu tak bisa berhenti meneteskan air mata. Dunia seakan sudah hancur baginya. Bayi kesayangannya baru saja menghilang.

Menurut berita yang beredar, bangsa vampire melakukan penelitian illegal untuk membuat gen baru bagi bangsa mereka untuk digunakan melawan werewolf.

Sang ayah tentu tak membiarkannya. Ia bersama mahluk-mahluk lain yang merasa dirugikan, akhirnya memaksa bangsa vampire menyerah pada penelitian mereka.

Yah, usaha itu berhasil menghentikan penelitiannya. Para vampire itu bahkan berjanji untuk menghilangkan efek samping dari bahan kimia yang telah mereka gunakan.

Namun selama setahun, memang benar beberapa mahluk telah dikembalikan. Tapi kecurigaan muncul begitu saja di benak ayah Daehyun. Akhirnya setelah diselidiki bersama para penyihir lain, ia mendapat fakta bahwa vampire-vampire itu masih melanjutkan penelitian kejam mereka.

Setelah melakukan pertemuan kecil bersama beberapa mahluk yang dirugikan, mereka pun sepakat untuk langsung melakukan serangan mendadak di laboratorium tempat para vampire itu meneliti.

“Appa kau mau ke mana?” tanya Daehyun yang tiba-tiba saja terbangun.

Si ayah diam, tak membalas pertanyaan Daehyun. Sebaliknya, ia berjalan mendekati ranjang Daehyun, lantas memeluk Daehyun erat. Ia mengelus kepala Daehyun lembut, menyalurkan kehangatan kepada si anak yang sepertinya kebingungan.

“Appa kau kenapa?”

Pria paruh baya itu masih tak memberikan balasan apapun. Tiba-tiba saja, ia melepaskan pelukannya, lalu berjalan keluar dari kamar Daehyun. Baru beberapa langkah ia menjauh, akhirnya ia berbalik dengan rekahan senyum yang dipaksakan.

“Appa akan menjemput Chayeon. Jangan menunggu Appa. Jika Appa lama, berarti Chayeon sedang rewel. Jika Appa tak kembali, Chayeon mungkin tak mau pulang. Appa akan menjaga Chayeon di tempat itu. Sampaikan salam appa ke yang lain. Appa menyayangimu, Daehyun-a,” ujar ayah Daehyun lantas berlari meninggalkan rumahnya.

“Appa? Appa!! APPA!!!”

Beberapa hari berlalu, dan ayah Daehyun tak segera kembali. Jika benar yang ia katakan adalah untuk menjaga Chayeon, ibu Daehyun pasti hanya akan diam mematuhinya. Tapi ibunya terus saja mengorek informasi dari mahluk lainnya. Ia terus saja bertanya apakan ada yang selamat setelah kejadian pengeboman Athena.

Anak kecil selalu mudah penasaran. Dan Daehyun cukup pintar untuk membaca semuanya. Ia tak ingin dibodohi untuk yang kedua kali. Ketika ibunya berpamitan ingin menengok Chayeon, Daehyun tak mau hanya tinggal di rumah. Diam-diam, ia mengikuti ke mana ibunya itu pergi. Benar saja, bersama Eunji, Daehyun melihat ibunya malah bertemu dengan sekelompok vampire.

“Kalian peneliti di tempat itu pula, bukan?” tanya ibu Daehyun yang telah berlinang air mata.

“Maafkan kami,” ujar salah seorang berpawakan tinggi.

“Kenapa bangsa kalian melakukannya?”

“Kami diancam akan dibunuh jika tak melanjutkan penelitiannya. Kami bisa apa?” bela seoang pria cukup pendek.

“Para mahluk lain berusaha menyelamatkan kalian waktu itu. Mereka masuk ke markas kalian diam-diam untuk menyelamatkan mereka yang kalian teliti. Kami berusaha membuat perdamaian sebenarnya. Jika kalian dipaksa, kami akan membantu kalian untuk keluar dari kendali orang itu. Tapi… pengeboman? Kalian tak hanya membunuh korban penelitian, kalian juga membunuh mereka yang ingin menyelamatkan kalian,” jelas ibu Daeehyun emosi.

Daehyun dan Eunji yang mendengarkan semuanya hanya bisa membulatkan mata mereka tak percaya. Jadi… Chayeon dan ayah mereka… mati?

“Maafkan kami,” ujar si vampire perempuan.

“Hanya kami yang selamat di pengeboman itu. Bahkan teman-teman kami, aku tak tahu nasib mereka,” tambah si vampire yang berpawakan tinggi.

Namun ibu Daehyun melihat dua mahluk percobaan berada di dekapan mereka.

“Kalian yakin menyesal dengan penelitian kalian?” tanya wanita paruh baya itu memastikan.

“Apa maksudmu?” tanya si vampire pendek.

“Seberapa banyak aku bisa memercayai kalian, huh? Kalian para vampire hanya mementingkan kaum sendiri. Jadi kalian masih akan melanjutkan penelitiannya bahkan setelah tragedi pengeboman itu,” ringkas ibu Daehyun.

“Kurasa anda salah fah-“

GRRRK

Tanah di sekitar tempat itu tiba-tiba bergetar. Serabut-serabut hitam menyeramkan mulai keluar dari dalam tubuh ibu Daehyun.

“Jika teman-teman kalian mendapat balasannya, karena melanjutkan penelitian itu, apa kalian pikir bisa menghindar dan melarikan diri dengan mudah?” tanya ibu Daehyun penuh penekanan.

Langsung saja serabut hitam itu menyerbu ketiga vampire di sana. Merasa situasi ini berbahaya, si vampire pendek menginterupsi dua vampire lainnya untuk meninggalkannya sendiri. Ia menyuruh kedua temannya membawa objek percobaan yang masih bayi. Mereka pun melarikan diri. Kini hanya tersisa si vampire pendek dan si penyihir cantik.

“Hah! Sebegitu inginnya kah kalian melanjutkan kekejian ini?!” teriak si penyihir marah.

“Sudah kubilang kau salah paham!” bentak si vampire pendek mulai emosi.

GREP

Serabut hitam sihir tiba-tiba saja sudah memerangkap vampire itu. Si penyihir wanita dengan linangan air mata, pun mulai berjalan mendekati musuhnya. Sang vampire pendek terangkat ke udara oleh serabut hitam. Ia mungkin hampir kehabisan nafas. Tapi penyihir itu tak mau melepaskan serangannya.

“Keluarga adalah segalanya bagiku.  Kalian mengambil bayi kami, Jung Chayeon. Lalu ketika kami ingin menyelamatkannya, kalian malah membunuh ayahnya. Jika kakak-kakak Chayeon tahu, menurutmu bagaimana reaksi mereka? Bagaimana perasaan mereka?! Aku harus mencari keadilan. Aku harus menghentikan penelitian bodoh kalian ini,” ujar si penyihir yang kini tepat di hadapan si vampire pendek.

“A…ku… benar-benar… min…ta… maaf!!”

Percikan petir keluar begitu saja dari tubuh si vampire. Ia juga tak bisa mengendalikannya. Si penyihir yang tepat dihadapan vampire itu, juga terkena percikan petir mematikan itu. Sekarang, keadaannya berbalik.

“Eomm-“ Daehyun cepat-cepat membungkam mulut Eunji yang ingin berteriak. Keduanya telah berlinang air mata. Namun Daehyun berusaha terlihat baik-baik saja.

“Sialan kau, vampire jahat!” umpat si penyihir.

Kini mulutnya telah mengeluarkan darah segar. Ia terbatuk sendiri mengeluarkan darah.

Sedangkan si vampire, ia masih nampak terkejut akan apa yang baru saja diperbuatnya. Tapi ia mencoba untuk tegas,

“Aku akan merawat objek percobaan itu dengan baik.”

Mendengarnya, si penyihir tersenyum miring. Setelah diam beberapa saat, hujan mulai turun. Titik-titik  air itu jatuh ke tanah tandus Athena. Menciptakan bau khas hujan di mana-mana.

Linangan air merah mengitari ibu Daehyun. Ia sendiri tahu ia sekarat. Tapi ia tak ingin mati sia-sia. Dengan sisa kekuatannya, bibir si penyihir tergerak,

“Aku… aku mengutuk semua orang yang berada di sini. Orang-orang di sekitar tempat ini, ketika aku pertama kali tiba (maksudnya biar dua vampire tadi kena kutukan juga, soalnya tempat itu sepi banget). Kalian tak akan bisa bertambah tua. Dan kalian akan selalu bermimpi buruk tentang hari ini. Bagaimana pengeboman itu terjadi, dan bagaimana kau membunuhku. Untuk yang terakhir, kupikir kau sangat membenci werewolf. Kau yang notabene-nya vampire, ingin menang melawan werewolf. Dan setelah kulihat, kau juga tak bisa mengendalikan kekuatan vampiremu. Jadi…,” si penyihir menggantungkan kalimatnya,

“Aku mengutukmu menjadi werewolf immortal,” si penyihir menyeringai setelah mengatakannya. Ia tak pernah tahu bahwa Daehyun dan Eunji yang berada di sekitar tempat itu juga terkena kutukan yang pertama, karena mereka juga di sekitar tempat itu.

Puluhan tahun berlalu, si Daehyun kecil masihlah menjadi Daehyun kecil. Begitu pula dengan Jung Eunji. Mereka tak bisa tumbuh karena kutukan ibu mereka. Selama waktu yang lama itu, Daehyun terus berlatih ilmu sihirnya. Ia harus bisa memecahkan kutukan itu, agar ia dan Eunji bisa hidup normal. Karena anak kecil selalu dianggap tak bisa melakukan apapun. Ayolah, kini seharusnya Daehyun dan Eunji telah beranjak dewasa. Tapi mereka tak bisa.

Hingga akhirnya setelah sekian lama, Daehyun berhasil memasuki perpustakaan rahasia milik para tetua bagi semua kaum. Perpustakaan itu tersembunyi di kepulauan Bermuda. Dan ya, ia berhasil. Ia mematahkan kutukan itu. Efeknya, itu berlaku bagi semua yang terkena kutukan. Kutukan tersebut hilang.

Seterusnya, Daehyun ingin mencari semua vampire yang terkait dengan penelitian illegal itu, hingga akhirnya ia dan Eunji masuk ke akademi vampire dengan menyamar. Dan mereka berhasil mendapat banyak informasi di sana. Bahkan mereka bertemu dua objek percobaan yang puluhan abad silam mereka lihat sebagai bayi-bayi kecil. Juga, ia bertemu dengan Jinhwan. Bagian termuda dari keluarga Kim, yang setelah diselidiki, keluarga itulah yang meminta percobaan dilanjutkan secara illegal, tanpa pengetahuan pengadilan dan menteri.

Dan sekarang, keluarga itu berusaha mengambil Aerin dan Jimin, dua objek penelitian mereka dulu, untuk dijadikan sebagai senjata terkuat untuk menguasai dunia. Maka werewolf harus lenyap dulu sebelum semua itu terwujud. Sehingga tak ada yang mengganggu.

-Flashback off

Jinhwan tertawa lepas seperti orang gila. Ia benar-benar tak percaya ia terlahir dari keluarga sekejam itu. Walau ia ingin berdiri di sisi V dan yang lain, darahnya masihlah dari keluarga Kim. Bagaimana jika ia tiba-tiba malah menghianati para werewolf?

“Harusnya kau mati saja gara-gara serangan graver itu, Kim Jinhwan,” gumam Jinhwan kembali menenggelamkan dirinya sendiri dalam.

.

.

@akademi

“AAK!” V mengerang kesakitan setelah terkena es milik Jimin. Kini ia harus berada di barisan belakang untuk meminta sedikit pengobatan. Joshualah yang kini menggantikannya berhadapan dengan Jimin. V harap ia akan baik-baik saja.

Dari kejauhan, ia menangkap bayangan seorang Go Aerin berlari mendekat ke arahnya. Gadis itu langsung saja melayangkan tatapan sebal sesaat setelah ia tiba.

“Ya! Ada apa dengan ekspresimu, bodoh?” ujar V yang merasa mendapat tatapan mengerikan Aerin.

Seperti biasanya, si putri es tak memberikan balasan apapun. Ia seolah tuli dengan semua hal, lalu dengan ekspresi datar, ia mengobati V begitu saja.

“Ck,” V kembali dibuat kesal Aerin. Anak itu mengabaikannya lagi.

Dengan sengaja, V pun mendekatkan wajahnya pada Aerin. Membuat Aerin merasa seolah ada sesuatu yang ingin meledak di dalam dirinya. Ia sungguh gugup. Sekali lagi, V berhasil membuat Aerin merubah ekspresi datarnya. Aerin pun menunduk berusaha menenangkan hatinya sendiri.

Setelah cukup lama, gadis itu berniat membentak dengan mengarahkan tatapan tajamnya ke V untuk memarahinya. Tapi kali ini ia tak bisa. Begitu manik hitam mereka saling bertemu, V langsung mengunci Aerin dalam tatapannya. Sebelumnya Aerin tak sadar jarak keduanya begitu dekat.

V tiba-tiba tersenyum. Membuat jantung kecil milik Aerin itu semakin menggila dibuatnya.

Perlahan, V menggerakkan tangannya, mengusap sebelah pipi Aerin,

“Ada noda tanah di mana-mana. Kau pasti kelelahan. Apakah aku salah?”

Aerin dengan cepat memalingkan wajahnya. Ia sungguh tak bisa menatap V untuk sekarang. Namun dengan egonya yang tinggi, ia memberanikan diri untuk menatap V balik. Tangannya tergerak perlahan menuju dahi V.

Lalu dalam beberapa detik,

“YA!!”

“Jangan menggangguku.”

Ya, Aerin mendorong dahi V cukup keras. Lantas ia kembali fokus dalam pengobatannya.

“Sial, Rin,” ujar V jengah. Namun Aerin tak memberikan reaksi apapun.

Tak lama setelah itu, Aerin selesai membalut luka V. Gadis itu berpikir cukup lama sebelum pergi. Lalu dengan tiba-tiba,

“Jangan terluka lagi.”

V membulatkan matanya terkejut. Si gadis es tiba-tiba mengecup pipinya begitu saja. Cukup memberikan semburat merah di wajah keduanya. Setelah itu, Aerin langsung saja pergi tanpa mengucapkan apapun. V rasa mungkin Aerin terlalu malu untuk menatapnya dan hal semacam itu.

“Ck, bodoh,” gumam V, “Kupikir ia tak menyukai hal semacam itu. Kkkk…”

Dengan senyum yang masih merekah, V kembali berdiri berniat mengakhiri peperangannya dengan pihak lawan. Joshua nampak sangat kewalahan. Namun beruntungnya, ia terlihat baik-baik saja.

.

.

“Hei, Jim! Bukankah cukup sandiwaranya?” V menahan tawa melihat ekspresi kosong Jimin.

Jimin diam tak membalas apapun. Bahkan tatapannya masih sama. Kosong.

“Kalau kau ingin berakting, setidaknya jangan mnyakitiku. Kenapa kau membuat tanganku perih begini? Apa jadinya kalau aku tak bisa menangani yang lain,” keluh V. Joshua ikut tertawa kecil mendengar celotehan anak serigala itu.

Masih sama. Jimin tak mau merespon.

V pun berjalan mendekati Jimin tanpa takut. Ketika tungkainya telah berada di sebelah Jimin, ia mendekatkan kepalanya ke telinga Jimin, lantas berbisik,

“Go Aerin tadi barusan menciumku.”

“Apa?” Jimin tak bisa mengendalikan ekspresinya lagi. Ia menatap V setengah marah.

V pun menjauhkan kepalanya dari Jimin.

“Makanya jangan terlalu keras padaku,” bela V. “Aerin tak tahu apa-apa soal kebohongan phantom junior ini. Ia pasti sangat menghawatirkanku,” ujar V seraya menyeringai.

“Tapi bagaimana ia bisa-“ Jimin tak menyelesaikan kalimatnya, “HAH!” Jimin melipat tangannya di dada dengan ekspresi kesal.

“Sebaiknya kau serang aku lagi. Ada yang melihat,”-V.

Dalam sekejap, V terdorong oleh angin Jimin. Pandangan Jimin kembali menjadi kosong. V juga langsung berubah ke wujud serigalanya. Ia kembali memasang tampang menyeramkan. Dan Joshua yang di belakang mereka hanya bisa menahan senyum dan tawa. Tanpa sepatah kata apapun, ia beralih mencari lawan lainnya. Biarlah kedua orang itu melakukan pertempuran bodoh mereka.

“Aku masih penasaran,”-V.

“Apa?”-Jimin.

“Bagaimana kau bisa lepas dari pengaruh ilusi para vampire di sana. Mungkin Daehyun membantumu. Tapi bukankah itu masih mustahil untuk menanganinya?”-V.

“Kenapa Daehyun membantuku? Ia yang menangkapku. Aku lepas dengan kemampuanku sendiri. Bahkan Phantom tak membantu sama sekali,”-Jimin.

“Eish, jangan membuat candaan. Aku serius,”-V.

“Aku juga, bodoh. Menurutmu kemampuanku yang dilatih legenda vampire bertahun-tahun ini seberapa? Aku mulai belajar sejak bayi haha. Aku hampir menguasai semua teknik pengendalian. Aku belajar dari perpustakaan rahasia seumur hidupku di Bermuda. Aku bisa memanipulasi pikiran. Sesaat sebelum mereka mencuci pikiranku, aku memanipulasi pikiran mereka di waktu yang bersamaan. Aku membuat mereka berpikir seolah mereka telah mencuci otakku. Sederhana, bukan?”-Jimin.

“Jika sesederhana itu, kau tak sehebat yang kukira,”-V.

“YA!”-Jimin. “Tunggu! Kau belum menjelaskan soal Aerin. Secara tak langsung aku adalah kakaknya. Dan aku menganggap diriku demikian. Bagaimana ia bisa meny-rrxrtgbs”

Sial V!

V tiba-tiba saja memutus telepatinya. Membuat Jimin makin memaki pria itu di dalam hati. Yah, tapi yang bisa berakting sebagus ini dalam bertarung adalah V. Jimin rasa semua orang akan percaya mereka saling beradu kekuatan. Keduanya berharap tak ada yang terluka. Tapi untuk membuat pertarungan ini seolah nyata, mereka harus sengaja terkena beberapa goresan. Itu konsekuensinya.

Dan V akan sangat senang ketika Aerin menghawatirkannya lagi. Mungkin sesuatu yang mengejutkan akan terjadi lagi. Ia harap.

.

.

Di sisi lain, Krystal dan Kyungsoo berusaha mencari Tryzienna dan menteri vampire. Mereka pergi ke Roma untuk mencaritahu semuanya. Semuanya tengah bertarung. Karena Krystal adalah perempuan cerdas, yang tentu fisiknya tak terlalu bagus, bersama Kyungsoo yang pintar, Baekhyun melarang mereka ikut bertarung untuk kebaikan diri mereka sendiri.

Kini mereka memasuki kediaman menteri diam-diam. Melakukan pencarian rahasia, atau sekedar mencari jejak, di mana menteri vampire disembunyikan. Mereka benar-benar butuh bicara dengannya.

DAK! DAK!

Trdengar suara ketukan cukup kas dari bawah. Kystal rasa itu mungkin saja seseorang yang disandra. Lalu mungkinkah?

TAP…TAP…TAP

Krystal dan Kyungsoo bergegas mengayunkan tungkai mereka menuruni tangga bawah tanah. Mereka terus saja mengikuti arah suara ketukan itu, hingga sampai di gudang penyimpanan. Dengan kekuatan mereka, pintu yang terkunci itu berhasil didobrak. Segera setelahnya, Krystal cepat-cepat menghampiri seseorang yang diikat di sudut ruangan.

“Tryzienna!” teriak Krystal seraya memeluk Tryzienna yang penuh luka.

Kyungsoo cepat-cepat membuka tali yang mengikat Tryzienna. Mereka pun lekas mengobati luka-luka Tryzienna di kamar Suga. Gadis itu sudah tak sadarkan diri. Beruntung Krystal dan Kyungsoo bisa mendengar ketukan lemah itu. Beruntung Tryzienna masih punya sisa kekuatan untuk mengetukkan tangannya.

“Oppa! Ini artinya, mata-mata kita sudah tertangkap. Mereka tahu semuanya,” ujar Krystal setelah berhenti berputar-putar tak jelas.

“Kita tunggu ia sadar. Dengarkan penjelasannya,” tenang Kyungsoo.

Krystal pun balas mengangguk.

Tiga puluh menit berlalu sudah, dan akhirnya Tyzienna mulai bisa membuka kelopaknya.

“Kau sudah bangun? Apa yang terjadi? Lukamu bagaimana bisa?” Krystal langsung menghujani Tryzienna dengan pertanyaan khawatir.

Tryzienna diam tak menanggapi Krystal. Namun ia malah bertanya,

“Apa adikku ada di pihak kita?”

Kystal dan Kyungsoo saling berpandangan sejenak. Lalu mereka menggeleng bersama, tak mengerti maksud Tryzienna.

“Kalau begitu kita harus cepat mencari Jinhwan. Hanya ia yang bisa menyelamatkan menteri,” jelas Tryzienna lantas lekas beersiap-siap keluar.

“Hei, bisa kau ceritakan lebih jelas? Apa maksudnya?” tanya Krystal seraya menahan tangan Tryzienna.

“Keluargaku yang menyandera menteri. Menteri tak sadarkan diri oleh obat. Ia tak tahu apa yang terjadi. Kunci untuk membukanya hanya ada dua. Pemimipin Kim dan anak termuda dari keluarga Kim, Jinhwan. Ia tak tahu ia adalah kuncinya. Aku juga tak tahu kenapa ia yang dijadikan kunci. Kurasa ia tak ikut pertempuran besar itu. Makanya ia tak akan mati. Entah ia disembunyikan atau ia hanya melarikan diri. Tapi kurasa, keluargaku tahu semuanya,” jelas Tryzienna.

Krystal dan Kyungsoo menggulum bibir mereka khawatir. Jadi keluarga Kim memang sesuatu.

.

.

“D… Dae? Kau yakin Jinhwan tak bersamamu tadi?” tanya Yunhyeong yang mulai panik.

Daehyun hanya balas menggeleng, “Aku belum melihatnya seharian ini.”

“Jung Daehyun katakan kepadaku!” Aerin tiba-tiba berteriak sambil berjalan ke tempat Daehyun dan Yunhyeong, “Kau apakan Kim Jinhwan, eoh?!”

“W…wae?”

“Dia menghilang. Aku tak bisa merasakan auranya lagi. Aku bisa merasakan aura semua orang yang kukenal. Sama seperti pengasuhku, lima tahun silam, aura Jinhwan menghilang begitu saja,” jelas Aerin.

“APA?!”

.

.

-TBC

Well, this is part 13. Hope you enjoy it

Don t forget to leave your like & comment :v

Thx 😁😁😁

 

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] The Academy of Vampire – (Chapter 13)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s