[BTS FF Freelance] Kwon Jung Min – (Ficlet)

Min

KWON JUNG MIN

 

Author                : Pus

Genre                  : Fluff, Friendzone

Rating                 : Teen

Length                : Ficlet

Disclaimer          : Author hanya memiliki alur cerita bukan cast, jadi jika ingin membuat salinan, menyalinlah dengan santun. Mari saling menginspirasi dan terus berkarya.

Summary            : “Abaikan racauanku semalam jika itu mengganggumu. Aku hanya ingin didengar, tak sepenuhnya butuh jawaban…… “

Cast                     : Min Yoongi (Suga BTS) dan Jung Ara (OC)

 

 

Orang sepertinya bisa jatuh cinta.

Kalimat itu masih terngiang-ngiang di rongga sempit kepalaku. Bukan hanya tak percaya tapi juga sulit untuk dicerna. Otakku tak mampu memberikan respon yang sesuai.

Karena ini yang pertama kali.

 

Jung Ara, gadis didepanku ini memang mabuk. Tapi dia bukan tipe orang yg bicara ngawur hanya karena pengaruh alkohol.

 

Pola pikirnya terstruktur. Dinamis. Taat aturan. Dan kaku. Hanya denganku dia menggunakan banmal. Karena aku satu-satunya teman baginya.

 

Bukan karena dia apatis. Dia pandai bergaul dan menjaring rekan kerja di berbagi bidang. Bukan teman dalam arti sesungguhnya. Hanya rekan kerja. Kolega. Partner. Atau apapun itu istilahnya.

 

“Aku menyukaimu, Min Yoongi.”

 

Aku tak ingin buru-buru mengambil kesimpulan. “Aku tahu kamu tidak membenciku, Ara.”

 

“Sebagai kolega, teman, dan pria dewasa. Aku menyukaimu sebanyak itu.”

 

“Haruskah aku memberimu DVD BTS dengan tanda tanganku.” Kataku mulai ngelantur. Bukan salahku. Ini terlalu tiba-tiba.

 

“Kamu bodoh. Jangan menyudutkanku. Sikapmu membuatku lebih gila.” Desisnya sambil meneguk isi gelasnya yg kesekian. “Dengar baik2.”

 

Dia meletakkan minumannya. Dan menempelkan kedua tangan di pipiku.

 

“Aku, Jung Ara…….Aku mencintai Min Yoongi. Laki-laki yang duduk di depanku.

 

Dan…. BRUKKKKKK. Dia kehilangan keseimbangan. Aku membantunya berdiri. Tapi tubuhnya sudah diluar kendali.

 

Ini pertama kalinya dia mengundangku ke bar tapi melarangku menyentuh alkohol. Dia ingin aku mengantarnya pulang saat mabuk. Hari ini special, karena kita bertukar peran.

 

Aku mengantarnya pulang. Tentu saja. Itu tugasku sebagai teman minumnya. Tapi hari ini pikiranku semrawut. Aku merasa bukan Min Yoongi. Aku mulai memikirkan apa yang harus aku katakan saat kewarasan gadis ini kembali.

 

Satu hal terlintas di kepalaku. Aku hanya perlu berpura-pura tak pernah terjadi apapun. Bersikap layaknya pecundang yang mungkin akan kehilangan sahabatnya.

 

Atau.

Menolaknya dengan alasan yang logis. Karena dia selalu menerima setiap kata yang berdasar logika.

 

Atau.

Menerima cintanya. Apa salahnya? Ara cantik dan Independent. Aku hanya perlu mengubah cara pandangku dari teman wanita menjadi ‘teman wanita’.

 

Tapi itu gila. Aku sudah memiliki kekasih. Dan Ara tahu itu. Karena dia yang selalu mendengarkan curahan hatiku. Keluh kesahku. Dan aku sangat mencintai Im Yoojung.

 

Hah, aku lelah memikirkannya. Aku butuh malam yang lebih panjang. Aku butuh waktu untuk mendengar hatiku. Apa Ara akan mengerti? Dan untuk sementara aku hanya harus menghindarinya. Mengabaikan pesan atau panggilan telponnya.

 

Tapi….. JENGGGG JENGGG

 

Gadis itu muncul di tempat yang tak terduga. Di kantor bossku. Dengan alasan meeting majalah special edition BTS, dia berhasil menyeretku ke ruang meeting.

 

Dia sangat profesional. Dia sangat fasih menyampaikan presentasinya sekalipun di depanku juga di depan kakaknya. Ah, aku lupa. Dia adik Hoseok hyung. Dan selamat aku baru saja akan memulai pertengkaranku dengan Jung Hoseok jika aku mengganggu adiknya.

 

Meeting selesai. Cepat dan efisien. Dia membereskan berkas-berkas dan bersiap menyelesaikan jadwalnya.

 

“Jung Ara.…” teriak Hoseok hyung.

 

“Ya! Min Yoongi. Belikan aku makan siang.” Katanya memotong panggilan Hoseok hyung.

 

“Ya! Bukankah seharusnya yang kamu ajak makan siang itu oppamu?” Sindir hyung.

 

“Oppa, lusa kita akan bertemu di meja makan karena lusa ibu ulang tahun. Jadi jangan mengada-ada.” Sarkasme bukan? Hyung langsung kesal dan mencubit pipinya.

 

“Oppa sedikitlah profesional. Ini tempatmu bekerja.”

 

“Siapa bilang? Ini tempatku bermain.”

 

Tentu saja aku harus bilang “ya” untuk mengakhiri keributan mereka. Tuhan benar-benar tidak adil. Bagaimana aku harus menghadapi gadis itu sekarang.

 

Hyung pergi. Dan Ara terlihat menyadari sikap canggungku. Tuhan tolong selamatkan aku kali ini.

 

“Abaikan racauanku semalam jika itu mengganggumu. Aku hanya ingin didengar, tak sepenuhnya butuh jawaban. Selama kamu masih membelikanku makanan, aku akan baik-baik saja berada di dekatmu.” Kalimat itu mengalir dan menjawab keresahanku. Tidak dalam arti mengobati, tapi memperumit pola pikirku.

 

Karena Jung Ara aku harus bersusah payah menggunakan otakku. Karena dia aku mencoba mengambil sikap yang pantas dan berhenti main-main. Akhirnya akupun memberanikan diriku menjawab, “Baiklah. Apapun maumu.”

 

Aku mungkin harus memilih jawaban yang lebih pantas. Tapi aku tak bisa berpikir dengan baik. Kata-kata itupun aku paksakan keluar bukan karena aku memang ingin mengatakannya.

 

Setelah kejadian itu aku tak benar-benar bisa bersikap dengan baik. Aku beberapa kali mencoba menghindar atau mengabaikan telponnya. Aku cukup mengatakan “aku sedang di studio dan tidak memeriksa ponselku”.

 

Itu awalnya, lambat laun hubungan kita benar-benar berjarak. Dia tak lagi terlihat menggangguku. Dia seperti membuat dunia baru dan tak pernah terlihat lagi di duniaku. Dia berubah. Seperti hipotesisku. Aku mulai merasa kosong.

 

Bahkan disaat bersama kekasihku, aku mulai memikirkannya.

 

“Aku hanya melewatkan kebiasaan. Seperti saat berhenti minum vitamin.” Beberapa kali aku menasehati diriku sendiri.

 

Ara, traktir aku minum. Aku butuh inspirasi. Mungkin alkohol akan membantuku. Beberapa kali aku tertangkap basah mengiriminya pesan. Aku bingung dengan diriku sendiri. Aku benci karena membutuhkannya.

 

Ya Min Yoongi. Mintalah pada oppaku. Jangan menggangguku. Aku tidak bisa meluangkan waktuku hari ini. Aku sibuk. Balasnya.

 

Hari ini dia sibuk. Aku paham jika ‘hari ini’ nya sama dengan ‘hari ini’ kebanyakan orang. Tapi dia berbeda. Hari nya terlampau panjang sampai aku lupa kapan terakhir kali dia meluangkan waktunya untukku.

 

Saat Taehyun bertanya mengapa dia jarang melihat Ara, Hoseok hyung mengatakan “Dia sibuk. Dia harus menaikkan penjualan majalahnya sebelum turun dari jabatannya. Pernikahannya dengan Keluarga Kwon mulai dipersiapkan.”

 

Aku tak bisa berpikir panjang. Aku benci mendengar kabar sahabatku dari orang lain. Sekalipun itu kakaknya.

 

Aku sedang berada di cafe seberang kantormu. Temui aku usai kerja. Aku menunggumu~~

 

Senatural mungkin. Aku masih ingin bertemu dengannya. Aku masih ingin memanggilnya Jung Ara.

 

“Ya aku sibuk. Jika kamu tidak ingin membelikanku kopi jangan coba-coba merenggut waktu berhargaku.” Dia masih sama. Menyebalkan dan to the point.

 

“Kau sudah memikirkannya? Kau sungguh-sungguh?” tanyaku sewajar mungkin sebagai sahabat yang tidak mendapatkan kabar apapun darinya.

 

“Apa?”

 

“Perjodohan itu.”

 

“Aahhh aku sedang menghitung profitnya bagi perusahaan.”

 

“Lalu bagaimana denganmu? Hatimu?”

 

“Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu mendaftarkan pernikahan dan mengganti namaku menjadi Kwon Ara.”

 

“Apa bagimu pernikahan sesederhana itu?” Nada suaraku mulai naik karena logika pecundangnya.

 

“Apa salahku? Kenapa kamu marah?”

 

“Ya! Jika kamu bosan dengan Jung Ara, bagaimana mungkin kamu memilih Kwon Ara? Bagaimana dengan Min Ara?”

 

“Min Yoongi……. Apa yang baru saja kamu katakan?” suaranya melemah karena terkejut.

 

“Apa kamu bodoh? Aku baru saja mengungkapkan perasaanku. Jangan menikah dengan orang lain. Teruslah disisiku dan jadilah teman hidupku. Apa otakmu jadi tumpul setelah jauh dariku?”

 

“Yoongi ya, kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan?”

 

“Aku sangat sadar Ara -ya. Aku sudah terlalu lama memikirkannya. Aku juga siap dengan segala resikonya.”

 

“Kamu yakin? Termasuk resiko bahwa aku akan kehilangan investasi milyaran dolar dari keluarga Kwon?”

 

“Really???????” Aku hampir speechless membayangkan angka nol investasi tersebut. “Haruskah aku memikirkannya ulang?”

 

“Ya! Apakah kamu harus kembali menyebalkan saat aku baru saja ingin berkata ‘aku akan menjadi Min Ara untukmu’?”

 

Aku tertawa.

 

“Min Yoongi, kenapa kamu tertawa? Jawab aku.”

 

Aku memeluknya erat. “Ini jawabanku, Min Ara.” Tak ada hal lain yang bisa aku lakukan lagi. Selain bahagia dan terus membuatnya bahagia.

 

Aku, Min Yoongi, akan segera menambahkan Min Ara dalam keluarga kecilku.

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s