[Monochromic Youth] Di Puncak Dahaga – Vignette (White Version)

Di Puncak Dahaga poster

Di Puncak Dahaga

a story by Naulia Kusuma

starring [BTS] Jeon Jungkook & [OC] Jeon Leia │ genre Angst, Hurt/Comfort, Family, AU! │ duration Vignette │ rating PG-13

Disclaimer: Just own this plot.

.

.

Summary:

            Mereka haus akan bentangan laut yang mewartakan satu riwayat pasti, bukan muluk-muluk belaka. Cukup satu lembar yang menyalurkan satu asa: masa muda tanpa keriangan palsu, tanpa senyuman kaku, tanpa angan-angan kelabu.

.

.

 

            Selaksa risalah terbelah, lembaran-lembaran masai semula menggulung berubah telentang. Menyuguhkan santapan bagi para hibrida kelaparan; sebuah cerita tentang kekalutan bumi menjelajah muasal derita. Dari balik serat kertas, bersembulan proyeksi bumi lengkap dengan permukaan kulit terkelupas dan melepuh.

            Bumi yang kita cintai tengah terseok-seok dari lintasannya, terbalut kepenatan mengedari matahari. Polahnya bukan mengindikasikan figur pembangkang, bukan penjilat, bukan penggubah siasat kudeta, bukan pula menentang kodrat sebagai prajurit kerajaan langit. Tapi, dayanya hampir tergerus. Lidah bersurai api milik sang matahari mencambuk punggungnya tanpa permakluman, cangkang alotnya memecah jadi beberapa penggalan, bahkan kehidupan yang bernaung di dalamnya turut kucar-kacir.

            Padahal, bumi ingin mencicipi hari bebas sendirian, tanpa kungkungan penjara dan sipir lalim. Demikian pula dengan bocah laki-laki itu, kebebasan adalah daftar permohonan utama. Namun, arus kehidupan melingkar berlawanan, tidak lagi segaris dengan asanya. Rindunya lamat-lamat menua dan tak terbaca, terkatung gemulai di udara. Entah ke mana ia harus membuangnya, lantas dipersembahkan untuk siapa, tidak ada yang tahu.

Ia mengeluh kering kerontang, membutuhkan setetes hujan lebih daripada apa pun. Namun, hujan hanya sesekali singgah pada daratan tempatnya berpijak, lantaran tidak punya cukup waktu untuk tinggal selamanya. Maka, hatinya pun terlunta mendambakan lautan lepas sepaket dengan langit biru dan gerombolan pasir. Sebagaimana dalam mimpinya malam ini, ia berjalan di gurun yang lapang, gelagapan menggapai-gapai udara. Lalu, entah dari mana, kilatan cahaya bertamu kepadanya, yang menggoreskan sketsa telaga raksasa tanpa batas nyata. Segala sesuatu yang melompat ke dalamnya akan tertelan bulat-bulat tanpa dikunyah. Menjelma buih yang menyatu dengan tarian gelombang. Ia menduga, barangkali itulah bayangan lautan yang selama ini ia cari; wadah bagi varian perasaan dalam hatinya yang kian lapuk.

Bocah laki-laki itu, yang biasa dipanggil Jungkook, tidak pernah memahami mengapa orang-orang yang sejatinya sejak lahir terkoneksi dengan alam, kini diselubungi keangkuhan dan mulai lupa dengan alam, bahkan dengan sesamanya. Mereka terlampau menyibukkan diri dengan gemerlap dunia, hingga menyia-nyiakan sesuatu yang berharga. Anak, misalnya. Begitulah yang Jungkook rasakan, wujud dari kasih sayang orang tua tak pernah sudi mengendap dalam kesehariannya. Selalu melintas ke mana-mana, enggan membiarkan bocah itu menjaringnya. Tak akan ada yang mengerti betapa sukar kedudukannya. Betapa rapuh otaknya berpikir di tengah ketakberdayaan. Orang-orang tidak peka dengan kondisinya, mereka selalu menimpakan kesalahan padanya, menggertak dan mencaci dengan kalimat yang tidak pantas. Usianya baru menginjak 10 tahun, pengidap autis, mungkin orang-orang merasa anomali dengan kehadirannya di lingkungan mereka. Tapi, dia punya satu hal yang orang lain tidak bisa raih. Dia menyadari makna di balik benda yang dia jaga. Sebuah kotak berisi harapan yang sewaktu-waktu akan terbuka bagi mereka yang menerima dia dengan apa adanya.

.

.

            Satu petang ia tuntaskan demi bersembunyi di balik rimbun belukar, kadang ia meringkuk, kadang tatapannya awas, kadang pula ia sesenggukan menahan kencangnya pelukan angin. Telinganya mendadak bertransformasi jadi alat penyadap, punya antena pelacak di mana-mana, terpaksa menampung segala berita yang diliput oleh sulur-sulur tak terlihat.

            Dari kejauhan, benda tanpa tulang yang mereka sebut lidah itu berkoar-koar, begitu tajam bak sebilah belati yang diasah hati-hati. Menggapai hatinya yang lama dalam sekali tebas, mengiris-iris, mencacah, lalu menumbuk halus-halus, hingga hatinya terkoyak dan tak mampu ia kenali.

            Lagi, deru gemuruh mengapung bersama suara bising lainnya. Luapan kalimat sarat murka, gema perabot rumah menubruk dinding, isak tangis, dan tawa menggelak-gelak masih menghunjam liang-liang pendengarannya. Upaya memberi komando agar kompilasi suara itu segera minggat rasanya percuma. Ia tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, sampai kapan ia terus berlari dan bersembunyi.

            Bulir-bulir air menggelontor dari kedua matanya yang kuyu, mengalir tanpa menunggu tergenang, bergerombol mengikuti selembar daun yang mengangkutnya entah ke mana. Barangkali merayap lewat lumpur, barangkali langsung ke laut─tempat segenap kepingan rindunya yang lain memuncak.

            Sayup-sayup, derap langkah seseorang berpacu di atas lantai kayu yang mulai goyah. Telah terbit sayatan baru di sekujur tubuhnya, cairan kental kemerahan meluncur bebas dari sobekan seragam sekolahnya. Pipinya masih basah, rupanya embun dari kedua matanya betah meluap. Tidak diperintah untuk mengering, karena ia masih butuh untuk memadamkan tungku dalam jiwanya.

           “Kook-a…, keluarlah! Ayah sudah pergi!” teriaknya susah payah. Dia adalah Leia, anak tertua keluarga Jeon. Sosok kakak yang rela dirinya didera demi menggantikan posisi adik yang ia sayangi, kendati nalurinya berkata ia tak patut disiksa. Apadaya, janjinya pada sang ibu untuk melindungi Jungkook tak mungkin ia ingkari.

            Hening. Tak ada sahutan.

            “Ayah tidak akan kembali, dia sudah kabur bersama teman-temannya. Kamu tidak perlu takut! Keluarlah, Kook-a…”

Leia tidak menyerah, sisa tenaganya ia kerahkan, berjalan sempoyongan mengitari kebun belakang rumah. Jika sang ayah memulai rutinitas berpesta alkohol dengan temannya, biasanya Leia akan menyuruh adiknya untuk pergi sementara. Karena jika tidak, Jungkook pasti akan jadi pesuruh, dan muncul di hadapannya dengan muka memar. Lebih baik ia yang kena sasaran daripada Jungkook yang tak tahu apa-apa.

Leia menghela napas lega saat menemukan Jungkook bersandar pada sebatang pohon.

“Syukurlah, kamu ketemu,” ucapnya. Satu lengkungan terpahat di kedua ujung bibirnya. Namun, hanya berlangsung beberapa detik saja, lantaran ia menyadari kondisi sang adik tidak beres. Mata menggembung, mulut membiru, dan tubuh demam akibat cuaca buruk.

“Kakak…, Jungkook… takut, Jungkook takut, Kak. Tadi, tadi… ada monster di dalam badan Ayah, ada monster… besar sekali. Sungguh, Kak, ada monster…” ceracau Jungkook. Jemarinya menunjuk-nunjuk ke sekitar, dan ia menggumamkan kalimat tak tertata yang sulit dimengerti oleh Leia.

Perempuan itu mendekati adik kecilnya, meredam gerakan brutal Jungkook dengan merengkuhnya erat. “Ssssttt…, monster itu sudah pergi, dia tidak akan mengganggu kita lagi,” bisiknya.

Jungkook berangsur tenang, tubuhnya merosot di bahu sang kakak. Ia tak lagi berontak, juga tak lagi mengoceh macam-macam. Hawa dingin teraktivasi dan menyengat tubuhnya bagai aliran listrik bertegangan tinggi, memberi efek meriang di luar akal.

Leia segera menggotong tubuh Jungkook ke dalam rumah, sebelum sang adik kejang-kejang seperti tempo hari.

.

.

            Senja telah melayangkan ultimatum pada matahari untuk tenggelam beberapa jam lalu, tinggallah kuntum-kuntum cahaya yang merekah menjadi perpaduan konstelasi. Wajah elok sang rembulan terbias melalui sela-sela bingkai mata. Bohlam berkekuatan kecil satu-satunya penerangan di ruangan itu, malam mendadak remang, pemutaran kisah sedih sebentar lagi akan berlangsung.

            Jungkook beringsut di tepi pintu, mengenakan piyama lusuh bermotif bintang laut kesayangannya. Tangannya menari-nari mengikuti goyangan rumput ilalang, sesekali ia memekik girang saat melihat rembulan benderang, sesekali ia cemberut saat melihat bohlam meredup di langit-langit ruangan. Serangan demam senantiasa bercokol di badannya, sebab ia tidak suka dijejal oleh obat-obat yang membuat pikirannya lumpuh. Membuatnya makin lemah dan merasa tidak berguna.

            Leia bersandar pada birai pintu kamarnya, mengamati sang adik yang tengah sibuk merangkai jutaan kalimat tanya dalam kepalanya. Cairan hangat menempel di pipinya, ia terisak, tak tertahan lagi kesedihan yang menumpuk.

            Rumahnya terasa bagai makam yang dikunjungi peziarah setiap hari, sunyi, tinggal kenangan yang sanggup mendaki dinding hati. Ayahnya telah meninggalkan rumah sejak seminggu lalu bersama pil-pil terlarang, sesaat setelah dirinya diempas ke pintu, lalu mencumbu lantai dan mendapat hadiah berupa luka gores yang cukup dalam. Sang ayah dilumuri murka, dan Leia harus tersedak getirnya duka. Ia tidak bisa melawan, selain karena ia tidak sanggup, juga ia hanyalah seorang perempuan berusia 16 tahun yang tidak pantas durhaka pada laki-laki yang masih dianggap ayah, kendati sang ayah memperlakukannya begitu buruk. Entah ia harus menebarkan air mata yang telah ia pintal dengan sedemikian rupa, atau malah membiarkan ketiadaan mengobrak-abrik selembar catatan tentang masa kanak-kanaknya.

            Barangkali sang ayah tetap menjadi sosok yang istimewa di matanya kalau saja sang ibu masih ada. Kepergian ibunya lima tahun lalu membuat ayahnya depresi. Berlari dari realita dan beroleh penawar dalam sebotol bir. Perusahaan bangkrut, giliran berfoya-foya dengan harta yang tersisa, meloncat dari rumah hiburan yang satu ke yang lainnya. Semua itu dilakukan untuk menghilangkan rasa rindu terhadap mendiang istrinya. Adakah ia menyadari? Bahwa segalanya hanya kepuasan semata, hingga dua anaknya yang masih butuh kasih sayang berakhir menderita. Tiap kali sang ayah hendak berbalik menutup pintu, pandangan laki-laki itu terfokus pada kalender di atas nakas. Jajaran tanggal-tanggal penuh makna, tulisan-tulisan mempertanyakan kapan sang istri pulang, semuanya memadati kalender, berjubel, dan menunggu meluber. Ada kalanya, Leia berpikir bahwa dirinya berada di tubuh yang salah; antara manusia atau bukan. Beribu mimpi konyol yang tak sempat ia utarakan berenang-renang di setiap tidurnya. Terkadang, ia ingin menjelma sebagai ikan agar dirinya dapat menyelami jiwa sang ayah, menyusuri bagian terdalam hatinya, hingga ia bisa menghambat keinginan sang ayah untuk tidak pergi. Namun, Leia terlalu kerdil, ia tenggelam lalu ditelantarkan.

            “Kook-a, ayo masuk! Udaranya dingin, nanti kamu tambah sakit.”

            Jungkook tidak punya opsi lain selain menoleh dan berlari memeluk Leia. Bocah itu mempertontonkan cengiran lebar, persis seperti saat keluarganya masih utuh. Kehangatan yang dulu berupa benih entah bersemai di mana, kini telah tumbuh tunas baru di ladang yang perempuan itu garap dengan sepenuh hati. Leia bersyukur bahwa ada satu benih kehangatan yang mampu membebani hati dan pikirannya tanpa membuat sesak, dan Jungkook merupakan perumpaan benih beruntung yang ia kasihi.

            “Kakak, kenapa Ayah belum pulang? Padahal, pintu sudah Jungkook buka lebar-lebar. Kenapa Ayah belum pulang? Kenapa Jungkook tidak pernah melihatnya?”

            Pertanyaan Jungkook menjadi anak panah yang memperkirakan jarak keberadaannya, sekaligus menancap tepat di ulu hati. Tak akan ada yang mengerti betapa lidahnya terbebani oleh dahaga yang tiada berperi, sulit sekali menyeruakkan kata “tolong”. Satu hari yang tak disangka akan tiba, satu hari bagi sebagian orang adalah nikmat, tapi baginya gundukan elegi berjela-jela. Nama sang ayah pulang kembali lebih dulu, meski jasadnya tinggal dilayati seikat seroja.

            Leia menuntun Jungkook untuk duduk di atas tempat tidur, mulai berucap, “dengarkan Kakak ya, Sayang. Ayah memang pergi dan mungkin tidak sempat menengok kita lagi. Tapi, sebetulnya, Ayah tidak bermaksud jahat. Ayah sangat menyayangi kita, tapi Ayah tidak memahami bagaimana cara yang benar untuk menjaga kita.”

            Mungkin Jungkook tidak sepenuhnya mengerti perkataan Leia, namun Leia yakin bahwa suatu saat Jungkook menyerap isyarat yang disematkan Leia.

            “Lalu, kapan kita bisa bertemu Ayah lagi?” tanya Jungkook, sorot matanya hampa.

            Leia menangkupkan kedua tangannya di pipi Jungkook, memandangnya dengan penuh kehati-hatian.

            “Saat kotak kedap air yang bersekat akan melebar, lalu menciptakan pori-pori besar, kita bisa menyelundupkan air mata agar mengisi kekosongan di sana. Kotak yang semula hanya sebesar kotak mainanmu akan jadi lautan, lautan luas tempat segala kerinduanmu pada orang yang kamu sayangi akan bermuara,” jawabnya tanpa ragu.

            Mendadak, pintu hati Jungkook terkuak. Kenyataan berceloteh bahwa ia tidak bisa menjerat arti dan rasa, tapi hatinya menghayati semua, entah mengapa ia bisa. Bocah itu tahu ke mana arah kesedihannya akan bermuara selepas ini, ke mana akan ia bawa rasa rindu pada orang tuanya, ke mana air matanya akan menguap jadi rintik hujan yang ia damba.

.

.

 

[end]

Advertisements

11 thoughts on “[Monochromic Youth] Di Puncak Dahaga – Vignette (White Version)

  1. Nangis sepanjang baca.

    Dari paragraf pembukanya aja langsung nyesek. Kebayang banget keadaannya, bahkan teksturnya. Udaranya juga.

    Abis baca ini rasanya kayak aku sama sekali ga punya bakat nulis :”)

    Langsung ngefans

    Like

  2. Dzatarisa A

    Bahasa anda sungguh sulit tuk dimengerti, maka dari itu saya berusaha mengertikan apa yang anda tulis :3
    Mengapa pula rangkaian kalimat itu sangat indah? *lupakan
    aku nyoba kek gitu, kok kayak sok bengittz ya? *lupakan

    uwaaa.. Aku suka bingitz ceritanya. Sedih banget 😥
    semoga menang kakak (y)

    Liked by 1 person

  3. Huuuhhhhhhh 😭😭😭😭😭😭
    Sebelumnya congratulations!!! ❤
    Ini karya indah sekali, saking indahnya bikin hati saya, berdesir, berdebar-debar setiap kali baca per satu kata ke kata-kata lainnya. Belajar dari mana ini? Aaduhh hebat X") saya jadi pen nangis wkw. Hati saya jadi ikut terseok-seok karena ceritanya pedih banget. Seni-nya terpapar jelas dari pembawaan emosinya lho!
    / kok saya jadi ikut sok puitis gini XD / digaplok kak becca / apa-apaan bawa2 nama kak becca/ Ampun kak XD /
    Ini seni…. Salam kenal, Berly 97 line.
    Keep writing always! ❤

    Liked by 1 person

  4. Ikramii

    uwaaaa😭*nangis sejadi jadinya
    baca ff author tentang jungkook sedih banget tapi tetap meresapi dan dapat feelnya author dari kata kata nya yang penuh makna 👍👍
    keren author black version sama white version nya 😊😁😁

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s